Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

Air Mata Sahabat Mudaku-2

Aku mulai menata beberapa perlengkapan mengajarku ketika pintu ruanganku diketuk seseorang. Aku melihat ke arah pintu. Seorang siswi berdiri di sana. Di tanganya tergenggam selembar kertas.

"Masuk, Len," suruhku pada siswi itu. Len, siswi yang tadi mengetuk pintu ruanganku, bergegas mendekatiku.

"Mau menanyakan tugas rumah yang saya kerjakan. Boleh, Bro?" katanya setelah mendekat. Aku menyingkirkan beberapa buku dan laptop ke sudut meja sambil melihat ke arah kertas yang disodorkan Len. Waktu aku hendak meraih kertas itu, sekilas mataku melihat ke arah pintu. Aku terhenyak sebentar. Bayangan tiga murid tadi sekilas tertangkap sudut mataku. Masih mau apa lagi, batinku.

"Mana tugasmu," kataku mengalihkan perhatian pada kertas Len yang masih terulur. Aku melihat sejenak dan kemudian memberikan beberapa koreksi.
"Yang salah ini masih perlu diperbaiki."
"Terima kasih, Bro." Aku mengangguk dan Len pun meninggalkan ruanganku. Kuikuti langkah-langkahnya dengan maksud ingin melihat ketiga muridku masih berdiri di pintu ataukah telah pulang setelah aku berdiskusi dengan Len. Ternyata mereka masih ada di sana. Begitu Len meninggalkan ruanganku, mereka bertiga masuk. Rasa pepatku mulai muncul lagi.
"Ada apalagi?" tanyaku. Lyanti yang berjalan paling depan membuka suara.
"Kami minta maaf. Kami tahu kami salah. Tapi kalau Bro tak mau lagi masuk kelas kami, kami makin merasa bersalah...," katanya pelan. Kutatap mata muridku ini. Semburat warna merah telah membayang di bola matanya. Kedip-kedip kelopaknya, akhirnya menumpahkan butiran-butiran air mata yang mengalir cepat di pipinya. Aku tercekat. Aku belum sempat menjawab, ketika sayup-sayup terdengar isak tangis. Baru aku sadar bahwa Lyanti tidak sendiri. Dia bersama Riestia dan Hellen. Mereka berdua tanpa dikomando, bagaikan kor tanpa dirigen menumpahkan air mata dan isak tangis.
Ruangan panas. Dengung kipas angin serasa menyobek-nyobek rasa. Aku hanya menghela nafas. Melihat mereka menangis, rasanya aku tak ada lagi alasan untuk menolak mereka. Akan tetapi, aku harus nyata memaparkan situasi yang ada bagi mereka.
"Maaf kalian aku terima. Aku juga tidak menyalahkan kalian. Lebih-lebih, kalian sudah mau menemuiku. Tapi, ini tidak menyelesaikan masalah."
"Tapi kami mau Bro masuk kelas kami lagi," sela Riestia di sela isak tangisnya. Aku terdiam. Aku mesti menyampaikan segala alasan. Barangkali ini sekedar alasanku saja. Barangkali ini sekedar kekerasan hatiku saja. Akan tetapi, aku memang benar-benar tak bisa menerima. Kelas yang selama ini kurasa tidak ada masalah, kenapa di akhir tahun tahun pelajaran ini mencoreng arang?
"Aku tahu. Aku menghargai usaha kalian. Tapi, cobalah kalian mengerti. Kelas kalian ini bagiku tak pernah ada masalah yang cukup menggangguku. Tapi kenapa hampir selesai dan tinggal satu minggu saja, sikap kalian bisa serti itu? Seingatku, hanya kelas kalian ini yang justru paling lengkap jumlah jam tatap mukaku dengan kalian dibandingkan kelas lain. Sayangnya kalian seolah-olah tidak menganggap perlu."
"Ya, kami salah, Bro. Tadi kami ngobrol."
"Itu aku telah tahu. Masalahnya, ini tak cukup hanya dengan cara kalian ini. Aku paham maksud kalian membantu kawan-kawan lain dengan datang kepadaku dan meminta maaf padaku. Tapi, coba nanti kalian lihat, apakah usaha kalian ini bagi mereka memiliki makna? Apa mereka, paling tidak dengan sikap, mereka mau menunjukkan terima kasih kepada kalian yang telah menemuiku dan mewakili mereka untuk meminta maaf?"
"Terus, Bro memang tak ingin mengajar kami lagi?"
"Seperti kata-kataku tadi. Lebih baik kalian belajar sendiri saja. Hari Jumat depan, aku hanya ingin meminta tugas yang mesti kalian kumpulkan. Selebihnya, silakan kalian belajar sendiri."
"Ya sudah kalau itu yang Bro inginkan. Kami tak bisa maksa. Kami hanya ingin Bro mengajar kami," sahut Hellen yang suaranya berjibaku dengan isaknya yang mendera.
Aku menghela nafas. Diam. Isak tangis mereka masih terdengar. Manusia apa aku ini, kok tidak luluh juga dengan upaya murid-murid itu. Mereka membuang rasa malu mereka dan terpaksa harus meledakkan perasaan dengan isakan tangis yang tak kunjung berhenti.
"Sudahlah. Tak perlu menangis lagi. Sudah selesai. Tidak apa-apa. Kalian boleh pulang sekarang. Lihat, sudah tidak ada kawan-kawan lain. Sekolah sudah sepi," kataku memecah kebekuan. Aku tak tahu lagi, hal apa yang bisa kusampaikan kepada mereka.
"Tapi Bro belum janji mau masuk kelas kami," kata Riestia.
"Ya, nanti melihat keadaan. Aku masih akan meminta tugas dari kelas kalian. Begitu, ya? Sekarang kalian boleh pulang." Aku bangkit dari kursiku dan mereka pun bergegas melangkah ke luar ruanganku. Sisa-sisa isak tangis itu masih terdengar. Sambil berjalan, tangan mereka sibuk menyeka air mata yang belum mengering di kelopak mata dan bersimbah di pipi mereka.
Kuantar mereka sampai di pintu. Sekali lagi kupesankan agar tak lagi memikirkan hal ini lagi. Kuanggap semuanya telah selesai. Ketika mereka hilang di balik pintu gerbang, aku berjalan ke arah ruang Tata Usaha. Ada sedikit urusan dengan Pak Marijo, karyawan TU sekolah kami.
Mengingat air mata mereka itu, aku serasa ditampar berkali-kali. Apa yang bisa aku lakukan sebagai guru? Terlebih, dengan kejadian ini, aku merasa tak bisa mengatasi suatu persoalan di kelas yang sebenarnya hal sepele. Murid berbicara dengan kawan dan tak mendengarkan guru menjelaskan. Itu kan hal yang umum terjadi? Terlebih, jika penjelasan guru tak mengena pada hati mereka, tentu mereka akan mengalihkan perhatian pada aktivitas lain. Mengapa aku bisa menjadi begini kalut?
Kalau dipikirkan lebih mendalam, tindakan yang dilakukan oleh murid-muridku itu benar-benar upaya yang jempolan. Jujur saja, seusia mereka ini, aku yakin tak memiliki keberanian untuk menghadap guru dan mengakui kesalahan. Mungkin aku dan teman-teman waktu itu hanya akan diam saat kena marah dan tak menyadari bahwa kami tak berusaha berubah lebih baik. Akan tetapi, mereka ini memiliki keberanian untuk datang dan meminta maaf. Tak hanya ucapan semata. Tangisan.
Ah, rasa-rasanya aku sungguh melukai hati mereka. Mungkin benar kata-kataku bahwa tangis mereka ini tak berarti apa-apa untuk kawan-kawan yang lain. Mungkin kawan-kawan yang lain itu sikapnya masih seperti diriku yang pengecut dan tak mengakui kesalahan. Namun demikian, mereka ini telah diwakili oleh tiga orang siswi yang dengan upaya sendiri rela datang kepadaku, meminta maaf dengan disertai tangisan.
Masih memiliki jiwa welas asihkan aku, dengan membiarkan tangis mereka pecah membuncah dan berhamburan di pipi-pipi mereka? Masih memiliki maknakah aku sebagai pendidik jika aku tak bisa memberikan sikap yang tepat di hadapan mereka. Marah. Diam. Tak menegur. Kemudian meninggalkan kelas dan tak mau mengajar murid-murid itu?
Itukah tindakah seorang guru? Pendidik?
Kadang terselip rasa jengah, bosan, putus asa. Aku ingin mengakhiri tugasku yang tak bisa menunjukkan jiwa sebagai pendidik ini. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada hiruk pikuknya dunia sekolah. Hiruk pikuknya kelas. Gelak tawanya orang muda dengan jiwa mudanya yang sulit ditebak.
Diam dan berhenti. Aku ingin berhenti dan kemudian menyepi di tepi sungai. Di sebuah lembah sunyi dan hanya suara gemericik air sungai serta kicauan burung yang menemani. Kemudian, mati dengan tenang. Entah diketahui orang atau tidak tak perlu kucemaskan.
"Msh marah dg kmi? Bro prnh ksih semngat aq bwt gak putus asa & slalu blajr brani bicara d dpn umum. Tapi knapa Bro mlah b'sikap ptus asa kaya' gini?"
Aku tercekat. Pesan singkat itu kuterima beberapa waktu lalu dari salah satu muridku. Tamparan itu datang lagi. Kini semakin pedas di pipiku sendiri. Sekarang, apa yang musti aku lakukan? Sebuah persimpangan ada di depanku! (tamat)

Sabtu, 18 Juni 2011

Aku Bangga Kalian

Udara panas bulan Mei masih menggeliat di sekitarku. Ketika itu, aku masih sibuk mengoreksi lembar-lembar kertas hasil ulangan murid-murid. Ketika aku masih mengoreksi kertas-kertas itu, sebuah ketukan di pintu terdengar di telingaku. Kuhentikan pekerjaanku dan kulihat ke arah pintu. Hendry dan Eko bergegas masuk ke ruanganku.

"Ada apa?" tanyaku sambil melihat wajah dua muridku itu. Hendri sang ketua kelas tampak malu-malu hendak menyampaikan sesuatu kepadaku.

"Gini, Bro. Kelas X G akan rekreasi bersama nanti sebelum kenaikan," kata Hendry segan-segan. Aku hanya tersenyum. Kegiatan rekreasi bersama seperti ini kadang menjadi kehendak beberapa kelas sebelum kenaikan. Maklumlah, mereka merasa bahwa kebersamaan selama dua semester bisa jadi akan berubah karena terpisah dengan kelas yang berbeda di kelas XI nanti.

"Sudah dipikirkan belum? Acaranya apa? Pengeluarannya bagaimana? Jangan sampai memberatkan nanti," sahutku.

"Kami iuran, Bro. Jadi sejak sekarang kami sudah mengumpulkan uangnya," kata Eko.

"Rencananya, kami nanti rekreasi ke pantai," tambah Hendry.

"Kalian kan banyak. Berangkatnya dipikirkan juga," timpalku.

"Ya, rencananya kami menggunakan bus, Bro. Makanya, kami iuran dari sekarang."

"Yang penting direncanakan sungguh-sungguh. Tapi, kalau rencana kalian nanti tidak disetujui Kepala Sekolah, jangan kecewa. Maka, selain saya sebagai wali kelas, kalian nanti tetap menyampaikan kepada Kepala Sekolah," tambahku sedikit panjang.

"Baik, Bro. Nanti kami rencanakan dengan kawan-kawan."

"Baiklah. Yang penting jangan memberatkan kalian."

"Ya, Bro. Terima kasih. Kami kembali ke kelas." Kedua muridku itu kemudian meninggalkan ruanganku. Aku mengangguk dan melanjutkan kegiatanku.

Rupanya, rencana itu memang mereka rencanakan. Dari beberapa murid lain, aku mendengar bahwa mereka memang ingin rekreasi sebelum penerimaan raport.

Juni, ujian akhir semester usai. Sekolah sibuk dengan pengolahan nilai raport para murid. Aku pun hanyut dalam kesibukan pengolahan nilai yang selalu menjadi pekerjaan lemburanku dan juga rekan-rekan guru yang lain.

Seperti siang-siang yang sama, siang itu aku juga tengah sibuk mengolah nilai mata pelajaran yang kuampu. Saat itulah, Ance dan Netty, dua muridku yang lain mengetuk pintu dan masuk ke ruanganku. Tak seperti Hendry dan Eko yang langsung menuju ke tempat dudukku, Ance dan Netty malah saling dorong untuk datang ke tempatku.

"Ada apa ini?" sapaku terlebih dahulu. Kuhentikan pekerjaanku dan melihat ke arah mereka. Dengan sambil tetap mengumpulkan keberanian, (ah, apa mereka ketakutan? tidak juga. hanya malu-malu) mereka berdua kemudian datang ke tempatku.

"Bro, gini...kami mau rekreasi ke Pantai Pulau Datok. Bisa menemani?" Ance memulai perbincangan.

"Oh, rencana rekreasi itu jadi?"

"Iya. Kami sudah menyiapkan. Bro ikut, ya? Kan wali kelas memang kami minta," tambah Netty.

"Wah, kalau aku tak ada kegiatan lain, bisa ikut. Tapi kalau ada, ya...tidak bisa ikut," sahutku.

"Yaa, ikutlah, Bro. Nanti tidak ada yang menemani kami. Bro kan wali kelas kami."

"Usahakanlah, Bro."

"Baik. Nanti aku pertimbangkan. Yang penting, saya tidak hanya ingin pergi sendiri. Kalau bisa, ada guru lain yang menyertai."

"Ada kok. Kelas lain kan juga ada rencana ke sana dengan ditemani wali kelas."

"Baiklah. Yang penting, rencana ini mesti dimatangkan. Tidak asal pergi." Mereka mengiyakan dan kemudian meninggalkan ruanganku.

Tak mudah memang membuat sebuah rencana yang dilandasi dengan kebersamaan. Akan tetapi aku menyadari bahwa mereka mau melakukan banyak hal karena dilandasi suatu kehendak yang menyenangkan. Wajar saja karena mereka masih remaja.

Meski demikian, aku ingat benar bahwa membentuk kebersamaan di awal perjumpaan dengan mereka bukanlah hal yang mudah. Murid-muridku di kelas XG berasal dari berbagai sekolah dengan latar belakang hasil pendidikan yang sangat beragam. Inilah hal yang selalu "berat" di awal semester jika harus memegang kelas X. Seakan-akan, di kelas X ini segala hal akan diolah dan dibentuk. Di kelas X inilah yang menjadi dasar di kelas berikutnya, kualitas murid itu akan tampak. Mutu tak selamanya dilihat dari hasil akademik yang mereka raih. Mutu juga akan terlihat bagaimana mereka berproses dalam kebersamaan dan menyusun suatu rencana, meski rencana itu dilandasi rasa kesenangan belaka.

Aku percaya bahwa dihadapkan pada suatu masalah tertentu, seseorang pun akan digiring kepada suatu pemecahan. Seperti juga yang terjadi pada murid-muridku itu.

Rencana itu telah mereka persiapkan. Mereka telah mengumpulkan uang jajan mereka sedikit demi sedikit. Mereka telah menyampaikan rencana itu pada orang yang dianggap sebagai wakil orang tua. Mereka sudah memberanikan diri untuk mendiskusikan dengan wali kelasnya.

Akan tetapi, kendala itu pun ternyata mereka hadapi. Satu kendala yang disampaikan kepadaku adalah sarana transportasi. Banyak pihak, termasuk kelas lain, yang memesan bus. Ini pulalah yang membuat murid-muridku pun terpaksa pontang-panting. Bus pesanan mereka, telah diambil oleh pemesan lain. Anak yang bertugas mencari bus mengatakan kalau pemesan itu berani membayar lebih mahal lagi. Ah, inilah sebuah pembelajaran bagi mereka. Siapa yang memiliki lebih banyak, itulah yang mendapat. Akan tetapi, murid-muridku jauh lebih memiliki daya. Meski mereka harus kalah, ternyata mereka masih memiliki usaha untuk mendapatkan pengganti. Kekalahan yang menyakitkan. Sama seperti situasiasi saat ini. Siapa yang memiliki banyak uang, dialah yang bisa membeli keadilan. Adilkah jika muridku yang sudah memesan terlebih dahulu, terpaksa gigit jari karena uang panjar mereka ditolak lantaran pihak penyedia layanan sewa kendaraan lebih menunggu pihak lain yang mau membayar lebih mahal?

Sampai menjelang malam, mereka masih terus mencari beberapa tempat yang bisa menyewakan kendaraan. Mereka masih mendiskusikan banyak rencana yang lebih matang.
Dari segala pengalaman itu, aku sebenarnya ingin memberikan penghargaan pada mereka. Inilah proses lama yang dulu tak mungkin akan berhasil jika tidak mereka alami dalam keberbedaan selama mereka menjadi satu kelas. Dari latar belakang sekolah dan tempat tinggal yang berbeda, mereka belajar untuk menyatukannya. Tak mudah memang. Perbedaan itu selalu ada. Mereka mengalami itu, entah sadar atau tidak, dan terus mengikuti dalam proses pembelajaran selama dua semester tersebut.

Tak ada yang bisa kukatakan kecuali rasa bangga. Kebanggaan ini bukan karena aku merasa berhasil mendampingi mereka. Aku lebih merasa bangga bahwa mereka akhirnya bisa melewati proses kebersamaan dalam pembelajaran itu dan menemukan banyak pelajaran bagi mereka.

Tak berlebihan jika aku ingin menyampaikan hal ini. Berproses itu tak gampang. Aku pun setiap saat selalu ada dalam situas tersebut. Bersama mereka ini pun aku berproses. Proses yang masih belum jelas akan berbuah seperti apa. Akan tetapi, melihat mereka itu, aku selalu mendapat harapan bahwa proses tersebut akan membuahkan nilai.

Sebentar lagi, mereka tak akan bersama dalam satu kelas. Mereka akan membentuk komunitas baru di kelas yang baru dengan tuntutan dan tantangan yang baru. Aku hanya berharap pembelajaran di kelas X ini nanti dapat menjadi bekal di kelas berikutnya. Semoga mereka masih tetap bertahan.


Aku bangga pada kalian. Aku mencintai kalian. Meski aku lebih sering bersikap bukan sebagai seseorang yang pantas membimbing kalian. Aku benar-benar bangga kepada kalian. Berkembanglah terus meraih asa di masa depan, Nak.

Sabtu, 04 Juni 2011

Air Mata Sahabat Mudaku-1

Apa yang bisa kubanggakan?
Itulah pertanyaan kekecewaan yang mengikutiku di hari Rabu, hari pertama di bulan Juni ini. Sebuah peristiwa yang benar-benar membuatku serasa ingin mengutuki bahwa aku bukanlah orang yang pantas menjadi mengajar, apalagi sebagai mendidik. Jauh sekali dari kesan itu.

Dua jam terakhir, aku memasuki kelas yang saat itu hendak kuajar. Kelas ini, selama aku mengajar, belum pernah "bermasalah" dengan diriku. Ada satu kejadian, namun masih merupakan hal yang wajar dan masih bisa kuatasi. Akan tetapi, entah mengapa, peristiwa yang tak menyenangkan terjadi di kelas ini. Terlebih, ini adalah minggu-minggu terakhir aku mengajar kelas ini karena minggu berikutnya sudah memasuki masa ujian akhir semester.

Sehari sebelumnya, Selasa, murid kelas ini sudah kuminta untuk mengumpulkan tugas dariku. Tugas tersebut telah kuberikan satu minggu yang lalu. Hari itu, aku bermaksud mengumpulkan tugas itu. Begitu masuk kelas, aku menyampaikan kepada mereka untuk menyiapkan tugas yang musti dikumpulkan. Sayangnya, separo lebih murid ternyata salah di dalam mengerjakan tugas. Ketika kertas demi kertas kuperiksa, aku merasa kecewa. Beberapa murid kupanggil ke depan dan kutanya tentang perintah atau instruksi yang kuberikan kepada mereka. Ternyata, tak ada kesamaan jawaban. Tak ada! Maka, aku memutuskan bahwa bagi murid yang salah mengerjakan tugas, mereka wajib mengganti tugas baru yang bahannya hendak kubagikan hari itu. Sedangkan murid yang benar mengerjakan tugas itu, mereka lolos dan kuanggap memenuhi tugas dengan baik.

Inilah titik awal "bencana" pada diriku di hari Rabu itu. Mungkin salah mereka, mungkin bukan salah mereka. Aku yang bersalah. Bisa jadi! Aku yang tidak dapat menjelaskan tugas itu kepada mereka, sehingga mereka tak mampu mengerjakan sesuai permintaanku. Permintaanku! Berarti mereka mengerjakan tugas tersebut sesuai dengan kekuasaanku. Benar kan?

Rabu siang itu, aku masuk ke kelas itu lagi. Sesuai dengan "kuasaku", aku kemudian mengundi tugas untuk murid-murid yang harus mengganti tugas mereka. Setelah masing-masing murid mendapatkan undian tugas, barulah aku menjelaskan tugas tersebut kepada mereka. Sampai di sini, tak ada masalah. Aku memberikan penjelasan kembali agar mereka tidak keliru. Mereka kuberi kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal teknis berkaitan dengan tugas mereka.

Ketika tak ada lagi yang bertanya, barulah aku menjelaskan materi-materi yang nantinya memperkaya mereka di dalam mengerjakan tugas mandiri. Selama proses itulah, menit demi menit aku merasakan suasana yang berbeda. Murid-murid yang biasanya bisa berkonsentrasi (konsentrasi atau terpaksa?) mendengarkan penjelasanku, siang itu tidaklah demikian. Di sudut sana, dua murid berbincang. Di sebelah sini, dua murid berbisik-bisik. Di sana, seorang murid sibuk dengan sesuatu di tangannya. Di situ, sono, sana, sini, hampir semua sudut, tampak murid berbincang. Tak ada yang peduli dengan aku!

Aku diam. Ingatan tentang kejadian sehari bahwa mereka keliru mengerjakan tugas itu terbayang lagi. Rahangku terkatup. Aku menahan diri.

Kemudian aku melangkah ke meja guru dan duduk. Kutunggu beberapa saat, namun suara dengungan bagai lebah itu masih menggema di kelas dan diseling suara "sstttt" dari beberapa murid yang mulai menyadari situasi.

Kuraih buku jurnal kelas dan kutandatangani. Kulirik arlojiku. Waktu mengajar jam terakhir ini masih menyisakan waktu 45 menit. Masih cukup lama, pikirku. Entahlah, perasaan kecewa, jengkel, tak mampu apa-apa, menyusup ke ruang dadaku. Terasa sesak.

Kutata buku catatanku di meja. Dengan pelan, tanpa berkata, aku keluar kelas. Senyap. Aku melangkah di koridor sekolah. Gagal lagi, gagal lagi. Perasaan itulah yang kuat kurasakan.

Aku masuk ke ruanganku dan mulai mengerjakan tugas lain yang masih tersisa juga. Daripada omonganku tak mereka pedulikan, lebih baik aku mengerjakan tugas yang masih menumpuk ini. Harus membereskan administrasi pembelajaran, mengoreksi tugas, dan seabrek tugas lain.

Beberapa saat, kudengar ketukan di pintu. Beberapa murid sudah berdiri di sana dan siap masuk ke ruanganku. Aku sudah menduga, mereka adalah murid-murid yang datang dari kelas yang baru saja kuajar tadi. Pelan-pelan mereka masuk.

"Bro, maafkan kami. Kami tadi ribut. Kami mohon Bro mengajar di kelas lagi," kata salah seorang murid perempuan berambut panjang yang diikat di belakang, Lyanti.

"Iya, kami tahu, kami yang salah," sambung seorang murid perempuan gemuk murah senyum, Inez.

"Kami harap Bro ngajar lagi sekarang," tambah sang ketua kelas, Hansen. Aku masih terdiam. Kubiarkan mereka menyampaikan keinginannya. Ketika tak ada lagi yang berbicara, aku mulai bicara.

"Sudah? Kalian sudah selesai bicara?" tanyaku.

"Bro, jangan gitu. Masuk kelas lagi, ya?" sahut seorang murid berkacamata, Hellen. Kawan-kawannya yang lain pun menimpali. Aku menghela nafas.

"Kalau kalian sudah selesai berbicara, silakan masuk kelas," sahutku. Mereka masih tetap memintaku untuk masuk kelas lagi.

"Tidak," jawabku,"kalian sudah ada bahan yang bisa dipakai untuk belajar."

"Tapi kalau tidak diajari, nanti salah. Sedang kami diajari saja masih salah," sahut Lyanti yang memang paling banyak berbicara.

"Sudahlah. Masuk kelas sekarang," kataku tegas. Mereka berjalan keluar ruangan. Aku pun melanjutkan lagi membuka file pekerjaan di laptopku. Belum sempat aku membuka file yang ingin kukerjakan, pintu ruangan terdengar diketuk kembali. Mereka datang lagi. Lyanti, Hellen, dan sang juara kelas, Riestia.

"Broo....masuk kelas, ya?" suara Riestia mengawali kawan-kawannya. Kulirik wajah dengan pipi bulat itu masih menyisakan senyuman.

"Lho, kan tadi sudah kukatakan, tidak. Silakan kalian belajar lagi," sahutku.

"Yaaah, kami jadi merasa bersalah. Kami tadi memang tidak memperhatikan ketika Bro menjelaskan. Tapi, kami ingin Bro mengajar lagi," tambah Lyanti yang sejak awal paling keras untuk memintaku untuk masuk kelas. Pintar dan keras! Itulah yang kukenal tentang dia. Hellen masih belum berucap. Justru Riestia yang kembali berbicara.

"Jangan gitulah Bro. Masuk kelas, ya," mintanya pelan. Anak ini memang tak pandai berkata-kata banyak, namun otaknya yang encer mampu menutupi kekurangannya ini.

"Sudahlah, hari ini aku tidak masuk kelas. Termasuk nanti hari Jumat," kataku cepat. Mataku yang menatap file pekerjaan di laptop semakin menambah galau perasaan. Pekerjaan yang harus selesai kukerjaan secepatnya dan ditambah lagi dengan keributan di kelas mereka ini.

"Waaah, jangan! Masa Jumat juga tidak masuk," sahut Lyanti. Aku tidak mampu menahan senyum.

"Ihh, Bro bikin kami takut. Jangan marahlah," tambah Hellen.

"Hmm, gini aja. Bahan sudah ada di tangan kalian. Kalian bisa belajar sendiri. Jumat besok aku hanya ingin mengumpulkan tugas. Gitu ya? Jelas?" sahutku. Huh, aku ini memang kepala batu! Tak bergeming meski yang datang adalah murid-murid terbaik di kelas itu.

Lyanti dan Riestia hanya berpandangan saja. Bayangan kelegaan yang tadi sempat menyelinap di wajah mereka, hilang kembali. Senyumku tadi, rupanya bukan akhir dari semuanya.

Senyap. Tak ada lagi suara. Tiba-tiba bel jam terakhir berbunyi.

"Sudahlah, kembali ke kelas. Hari ini 'kan kalian piket kebersihan kelas," kataku. Mereka meninggalkan ruanganku.

Aku menghela nafas. File yang baru saja kubuka kututup lagi. Aku ingin cepat-cepat pulang. Sesak, jenuh, membosankan! Tiba-tiba, pintu ruanganku diketuk kembali. (bersambung)

Rabu, 15 September 2010

Kev

Aku mengenalnya satu tahun yang lalu karena dia termasuk salah satu anak didikku. Waktu belum mengenal, kurasa tidak ada yang istimewa dari dirinya. Satu yang masih kuingat, dia sempat kuberi sanksi karena tidak membawa buku pelajaran. Itu awalnya.

Lama kelamaan, ada sesuatu yang menarik perhatianku dari dirinya. Tanpa kusengaja, aku membaca sebuah buku milik salah satu kawannya. Di salah satu buku itu, terselip sebuah gambar tangan yang sangat bagus. Gambar Legolas, tokoh peri dalam serial buku "The Lord of The Ring". Benar-benar indah! Ketika kutanya pada kawannya itu, dia memberi tahu kalau gambar itu hasil buah tangan si Kev! Aha, spontan ada ide yang memantik keluar.

Di waktu yang lain, aku berbincang-bincang dengan salah guru. Guru itu adalah mantan guru si Kev di SMP. Saat berbincang di kantornya, tanpa kusengaja aku melihat gambar tangan terselip di balik kaca bening di meja kerjanya.

"Wah, gambarnya bagus, Pak. Gambar ini mirip Bapak. Siapa yang menggambar?" tanyaku pada rekan guru itu.

"Oh, ini kalau tak salah, yang menggambar Kev," jawabnya.

"Kev yang sekarang murid saya?" tanyaku.

"Iya, benar!" sahutnya.

Aha! Pantikan ide spontan yang dulu sempat muncul di benakku pun akhirnya semakin membesar. Seperti telah menyulut ujung lilin yang segera memancar dan membentuk pendaran cahaya.

Anak itu benar-benar memiliki tangan yang indah. Mampu menggambar indah. Gambarnya benar-benar mengena. Aku menyukai gambarnya. Meski, yang kulihat baru dua contoh gambar. Angan-anganku waktu itu benar-benar terbang.

Di waktu-waktu yang senggang, di luar jam mengajarku, aku sempat ngobrol dengan Kev. Aku bertanya tentang kepandaiannya dalam mengolah jemarinya yang menghasilkan gambar-gambar sketsa orang dengan bagus. Gambar bentuk-bentuk kartun dan karikatur yang tentunya sangat menyenangkan bila bisa dikembangkan. Pada akhirnya, dia sanggup jika aku meminta tolong suatu saat untuk menggambarkan sesuatu yang nantinya bahannya akan kuberikan kepadanya.

Selang beberapa waktu, kesempatan itu pun tiba. Waktu itu, aku memberi tugas pada anak didikku untuk membuat laporan observasi. Waktu itu sudah memasuki tahun baru. Hal yang paling dekat pada bulan awal di tahun baru adalah hari raya Imlek. Beberapa kelompok siswaku mengumpulkan tugas dengan tema hari raya Imlek. Beragam hasil kubaca, hingga aku menemukan satu tulisan laporan yang sangat menarik. Isinya berupa cerita singkat asal mula hari raya Imlek. Sangat menarik. Tulisan itu kemudian aku ketik ulang dengan kuperbaiki sehingga membentuk sinopsis. Sangat bagus menurutku. Sinopsis itu telah kubagi menjadi beberapa paragraf. Nantinya, paragraf demi paragraf dapat dibuatkan ilustrasinya. Kev yang kuharapkan!

Setelah selesai, aku menemui Kev untuk membantuku. Aku memberikan sinopsis itu dan memintanya untuk membuatkan gambar ilustrasinya. Aku membayangkan, jika gambar itu selesai, gambar dapat ku-scann. Kemudian dapat kubuat menjadi urutan cerita menarik dengan diolah pada program video amatir seperti Window Movie Maker. Jika gambar itu jadi, kemudian disusun, diberi ilustrasi musik, kemudian ada rekaman narasinya, aduhaaiii.....! Aku membayangkan sebuah kolaborasi hasil karya anak didikku sendiri. Terus terang, bukan diriku. Aku sekedar memberi jalan saja. Dalam bayanganku, jika Kev ini berhasil, akan 'kupamerkan' di hadapan kawan-kawannya atau adik-adik kelasnya nanti. Ini hasil karya yang spektakuler yang telah dibuat oleh kakak kelas. Inilah impianku.

Kutunggu beberapa waktu dari Kev. Saat libur tiba, aku ingatkan agar gambar itu dibuat lebih cepat sehingga tidak mengganggunya. Kev menyanggupi. Aku dengan sabar menunggunya karena aku benar-benar berharap ilustrasi itu menjadi karya perdananya yang spektakuler bagiku.

Satu kesempatan, saat kutanyakan kembali hasil itu, dia tiba-tiba bilang, "Maaf, Bro. Tulisan yang Bro beri dulu ilang. Saya minta lagi, bisa?" Aku menarik nafas, "Bisa. Aku masih membawanya."

Aku berikan copy tulisan itu kepada Kev. Dengan harapan, tulisan baru itu sebagai pengganti dan nanti akan mempermudah pengerjaannya. Yah, bisa kumaklumi, dia anak muda yang memiliki kesibukan bermacam-macam. Siapa tahu, tulisan dariku dulu itu terselip dan dia tidak tahu entah di mana.

Saat ada perjumpaan di kelasnya, dia menemuiku di meja guru. "Bro, ini hasilnya. Tapi belum semua jadi. Gimana?" katanya sambil menyorongkan hasil gambarnya. Mataku mengerjap senang. Aha, akhirnya gambar itu jadi. Akan tetapi, gambar itu baru jadi beberapa lembar. Belum semua.

"Ah, tak harus tergesa-gesa. Kalau begitu, selesaikan saja. Oh, ya. Bisakan beberapa bagian kamu pertebal dengan warna merah?" sahutku.

"Bisa," jawabnya.

"Kalau demikian, selesaikan semuanya hingga nanti semua kelar. Begitu ya?" kataku penuh keyakinan. Dia mengangguk, kemudian mundur ke tempat duduknya sambil membawa hasil yang belum selesai.

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga ujian kenaikan kelas pun tiba. Masa-masa itu, aku tak begitu ingat karena siswa-siswi juga pasti konsentrasi pada ujian. Saat jumpa sebelum libur, setelah penerimaan raport, aku masih bertemu Kev.

"Gimana gambarnya? Tahun depan, aku sudah tidak mengajarmu lagi lho," kataku.

"Ah, tak masalah, Bro! Kan saya masih di sini juga," jawabnya.

Liburan tiba. Kupikir, selama libur gambar itu akan dia selesaikan. Dengan demikian, kalau selesai, gambar itu dapat aku olah di tahun ajaran baru untuk adik-adik kelasnya. Selama libur itu, aku sudah kurang begitu ingat karena ada tugas lain yang menyita perhatian yaitu penerimaan siswa baru.

Saat masuk tahun ajaran baru, aku tak begitu memikirkan pesananku itu pada Kev. Terlebih, ketika hari-hari perjumpaan di sekolah, Kev seolah sudah lupa dengan gambar yang kumintai itu. Pelan-pelan, aku tak lagi berusaha mengingatkan lagi padanya. Kev juga sudah memiliki perhatian lain di kelas yang baru ini. Gambar itu tak selesai!

Aku terlalu berandai-andai. Aku terlalu melambungkan mimpi. Memang, apa salahnya jika aku bermimpi, Kev suatu saat menggunakan keahliannya itu menjadi seorang pembuat "storyboard" film? Atau menjadi seorang kartunis yang hebat? Atau mungkin, dia memang tidak di bidang itu, namun masih menyempatkan waktunya untuk menggoreskan pensil dan pena warnanya di kertas?

Mungkin memang aku terlalu berandai-andai. Sedih sebenarnya. Jujur saja, aku tak bertujuan negatif dengan memanfaatkan Kev bagi diriku sendiri. Tidak! Bukan itu. Aku hanya ingin berusaha mengembangkan dirinya melalui salah satu bakat yang dia punya dan kebetulan aku tertarik pada bakatnya itu. Atau, barangkali enam batang coklat "Silverqueen" yang telah kusediakan baginya, jika gambar itu telah jadi, tak cukup untuk membangkitkan semangatnya.

Aku hanya tercenung membaca tulisannya di dinding "facebook"-ku, "Maaf, ya Bro, udah kukecewain." ***

Jumat, 05 Juni 2009

Dentingan Selembut Sutra

Ada pengalaman menarik saat aku pulang dari peliputan acara 50 tahun Sendang Ratu Kenya di Giriwoyo hari Minggu (24/5) yang lalu. Aku nebeng kendaraan saudaraku yang rumahnya Klaten. Rencananya, aku akan menginap di sana, agar perjalanan ke Semarang lebih dekat ketimbang aku masih bercokol di Giriwoyo. Meski, masih ada wayangan semalam suntuk. Ah, tak apalah untuk tidak nonton wayang kulit kali ini!

”Kalau gitu, nanti pulangnya lewat Solo Baru,” kata Mas Step. Akhirnya, karena akan melewati Solo Baru, perjalanan tentu membelah jantung kota Wonogiri. Perjalanan siang yang lumayan jauh dengan udara panas. Maklumlah, mobil sewaan murah, jadi tanpa pendingin udara. Panas plus lapar! Jadilan ngantuk! Penumpang lain seperti Mas Har, Mas Jito, Dik Djoko, termasuk aku, segera terbuai!

Selepas kota Wonogiri, tepatnya ketika melaju di Jalan RM. Said, aku memelekkan mata. Dik Djoko pun ternyata sudah bangun. Mas Step berceletuk, ”Mau mbakso, gak?” Tentu saja tawaran menggiurkan ini tak kulewatkan. “Mau! Kapan lagi kalau tidak sekarang,” jawabku cepat.

Beberapa saat, mendekat jalan pertigaan yang membagi arah antara terminal, arah Solo, dan kota Wonogiri, mas sopir membelokkan kendaraan ke sebuah warung. Hmm...warung bakso! Lewat Wonogiri, serasa tak lengkap tanpa masuk dan mencicipi bakso! Jamak! Di mana-mana, sering bertemu penjual bakso dari Wonogiri. Jika lewat Wonogiri tak langsung mencicipi, betapa ruginya! Itu menurutku.

Begitu mobil diparkir, aku segera keluar dan melihat warung bakso itu. Bakso Raksasa! Wah! Apa baksonya segede-gede gigi raksasa? Ato apa yang raksasa? Tak tahulah! Aku juga baru sekali itu diajak mampir!

Inilah pengalaman menarik itu! Bukan masalah bakso dan warungnya ternyata! Namun, ada adegan yang benar-benar berbeda! Di pintu masuk warung, yang terbagi dua ruangan, satu ruang lesehan dan satunya ruang meja kursi, duduk dua orang kakek-nenek. Mereka bukan pengemis! Sang Kakek berpeci. Jemarinya asyik bermain-main di atas benda yang kutahu itu sebuah alat musik. Sebuah siter, alat musik Jawa! Jempol dan jari-jemari lainnya dengan lincah memetik-metik dawai siter itu, sehingga mendentingkan nada-nada lembut nan menggoda telinga. Merayu kaki untuk segera masuk dan berleseh di hamparan karpet. Seakan menarik kepala untuk disenderkan di dinding warung sambil menunggu pesanan datang.

Di sebelahnya, duduk sang Nenek sambil melantunkan tembang-tembang Jawa. Raut tuanya tak menggoreskan lagu fals! Nada-nadanya pas dan indah, seiring dengan petikan dawai siter itu. Terdengar kompak, serasi!



Saat aku menikmati bakso pesanan dan minuman dingin, kudengar ”senggakan” dari sang Kakek. Beberapa saat, ketika dentingan berhenti sementara, suara sang Nenek pun terdengar lembut, merdu. Tembang Caping Gunung mengalun dari mulut keriputnya.

Ah, paduan nuansa yang tak pernah kubayangkan akan kutemui di tempat ini!

”Kurang lebihnya tiga tahun saya di sini,” jawab Mbah Soyo, sang pemetik siter itu saat kuajak berbincang sejenak. Sementara, sang Nenek, Mbah Siti Suwarni, menimpali dengan sebuah senyuman tipis.

Menurut Mbah Soyo, kebiasaan menghibur para pembeli itu tak hanya di Warung Bakso Raksasa. Mereka juga menghibur pembeli di Warung Pecel Bu Sum, sebuah warung nasi pecel yang letaknya tak begitu jauh dari Warung Bakso Raksasa ini.

”Gantian harinya,” tambahnya sambil menghentikan permainan jemarinya di sela-sela barisan dawai siter dan menyambut uluran tanganku. Mbah Soyo kemudian menjelaskan hari-hari kapan dia berada di Warung Bakso Raksasa dan hari-hari kapan di Warung Pecel Bu Sum. Kuanggukkan kepala dengan timpalan sepotong-potong kata.

Aku hanya bisa menjabat tangan mereka dan hanya bisa menjatuhkan selembar uang seribuan di kotak yang ada di depan mereka. Sebenarnyalah, itu sungguh-sungguh bukan upah yang setimpal. Aku hanya bisa menambah dengan jabat tanganku.

Panas terik. Akan tetapi, dentingan siter itu serasa mengirimkan berlaksa angin segar dari puncak bukit hijau di punggung Pegunungan Seribu! Masih sampai kapan, Mbah Soyo dan Mbah Siti Suwarni bertahan untuk mendentingkan nada-nada jiwa selembut sutra itu? ***


Mei, 2009

Kamis, 02 April 2009

Upik Kecil


Lebaran tahun 2008 lalu, aku datang ke tempatmu. Sambil menyusuri jalanan beraspal kasar, ingatanku melayang ke masa sebelas tahun silam. Masa ketika aku tinggal di rumahmu untuk bisa berbaur dengan warga masyarakat karena sebuah tugas. Ah, suasana dusun yang selalu menyebarkan aroma alam: ladang, singkong, cabai, bebatuan, ternak, rumput!

Begitu aku tiba di depan rumahmu, suasana tampak sepi. Sejenak aku menunggu. Apakah kamu dan keluargamu sedang pergi? Aku mengetuk pintu, lalu kutunggu. Ketika aku hendak memutari rumahmu, barangkali ada anggota keluargamu yang berada di belakang rumah, pintu depan terbuka. Bapak! Ya! Ayahmu membuka pintu. Dengan tawa riang, ayahmu menyambutku dengan penuh kegembiraan. Tanganku disambutnya dengan erat. Jabatannya terasa kuat di jari-jemariku. Sesaat kemudian, ayahmu masuk dan mengundang ibumu. Ternyata, ibumu ketiduran di depan televisi. Dengan masih menahan malu, Emak (kebiasaan memanggil ibumu) menyambutku. Ah, pertemuan yang terasa menyenangkan dan menghangatkan.

Siapakah yang berbaring di depan televisi itu? Yang pasti tubuhnya adalah seorang gadis remaja. Namun siapa? Genduk, kakakmu? Namun, ayahmu yang kemudian menemaniku duduk bercerita bahwa kakakmu pada lebaran ini tidak pulang. Setelah sesaat berbincang-bincang, barulah aku tahu bahwa sosok yang tidur di depan televisi itu adalah dirimu. Upik!

Ah, Upik! Sudah besar rupanya! Beberapa tahun lalu, ketika aku tinggal di rumahmu, usiamu belum memasuki masa taman kanak-kanak. Dengan gerak badanmu yang menggemaskan, potongan poni rambutmu, dan kadang masih ada ingus yang meleleh di hidungmu, dirimu tak pernah bisa kudekati. Lari ke pelukan Emak dengan wajah memerah malu! Aku hanya bisa mengulurkan sebungkus permen kepadamu. Itupun kamu menerimanya dengan cepat dan segera bersembunyi.

”Eh, bilang terima kasih dulu,” tegur ibumu. Kamu hanya menatapku dengan mata jernihmu dan segera pula menyembunyikan wajahmu di punggung Emak. Tanpa kupikir panjang, kupanggil dirimu dengan ”Upik”. Nama tokoh dari sebuah film boneka lama yang dulu pernah diputar di salah satu stasiun televisi.

”Sejak itu, dia dipanggil Upik oleh semua orang,” kata Bapak dan Emak. Oh ya? Tidak akan terlintas dalam pikiranku bahwa panggilan spontan itu kemudian akan selamanya tersandang dalam dirimu. Ah, Upik, Upik!

Kini, kamu sudah remaja. Tak ada lagi sisa-sisa ingatan masa lalu tentang dirimu. Meski, rasa malu-malu itu masih ada, namun dirimu telah berubah. Tentu secara fisik adalah yang paling tampak. Upik, jika aku bertanya kepadamu, ingatan apakah yang muncul dalam dirimu tentang diriku? Aku tak akan pernah tahu. Akan tetapi bagiku adalah aku pernah menjadi bagian dari keluargamu. Aku pernah hidup di antara kamu, kakak-kakakmu, dan kedua orang tuamu. Aku pernah menikmati guyuran hujan tatkala pulang dari ladang bersama ayahmu. Aku pernah menikmati nafas ngos-ngosan ketika harus membawa rumput dan naik di tebing-tebing bukit. Aku pernah duduk mengitari meja makan bersama keluargamu. Bersenda gurau, berdoa bersama, berbincang bersama keluargamu. Ah, namun waktu itu kamu masih sangat kecil, Upik!

Seiring dengan beranjaknya waktu, kamu semakin besar dan aku telah lama meninggalkan desamu. Jika aku mengingatmu, aku hanya ingat bahwa kamu masih seorang anak kecil yang polos dan pemalu. Kini Upik kecil itu telah beranjak menjadi seorang remaja yang mulai menata perjalanan barunya. Berkelana dengan sebuah sepeda motor di jalanan terjal. Setiap hari menyusuri aspalan pecah menuju ke sebuah sekolah lanjutan tingkat pertama. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih bahwa nama ”Upik” itu masih tetap kamu sandang sampai hari ini. Ah, Upik, Upik!***


Semarang, 2 April 2009