Asyiknya anak-anak! Bisa bermain sesukanya! Dari pagi sampai sore! Di sekolah, bermain! Di rumah, bermain! Barulah ketika bunda mereka datang dan mengajaknya untuk segera mandi, mereka menghentikan permainan yang seru itu. Bubar! Kemudian pulang ke rumah masing-masing! Asyiknya anak-anak yang bermain!
Ah, itu kan anak-anak yang bermain-main. Namun pernahkah ada permainan yang benar-benar tidak menyenangkan? Ada ya? Ada! Ya, tentu saja ada. Aku ingin bilang padamu bahwa permainan yang tidak menyenangkan ini biasanya yang melakukan adalah kita, orang yang sudah mengaku besar, gede, dewasa! Disadari atau tidak, permainan ini selalu ada, ada, dan ada! Apa yang ingin kusampaikan? Ya permainan yang tidak menyenangkan itu! Apa ya?
Main hati! Wa? Iya! Hati kok diajak main-main! Tapi ada yang mengalami lho! Coba aja simak!
...........
Tak pernah sebelumnya
Tak pernah kuduga
Kuakui ku main hati
Kutak bisa tuk memungkiri
Ku main hati
.........................................
Tahu, kan? Itu syair, aku ambil dari lagunya Andra & The Backbone berjudul “Ku Main hati” Tidak usah menunjuk-nunjuk, main hati itu nyatanya selalu berkait dengan hati, hati, hati, dan hati! Yang penting, diakui sajalah! Gitu.....
Pernahkah kita benar-benar masuk ke dalam permainan “hati” itu? Tidak ada yang bisa mengakui, apakah dirinya pernah bisa benar-benar masuk. Alasannya, sekedar sedikit main-main saja, lebih sering terasa tidak menyenankannya. Apalagi kalau masuk dalam permainan itu? Bisa-bisa hangus kebakar oleh hati itu sendiri! Wa....ha....ha...!
Sayangnya, permainan ini akan selalu ditemui dalam kehidupan. Karena, setiap dari kita masih memiliki hati. Hati inilah yang tak pernah bisa kita ajak untuk mengikuti pikiran kita. Hati memang ingin merasa senang, bahagia, gembira, puas! Karena hati yang tidak merasakan itu semua, lambat laun akan menjadi menciut dan bisa beku sendiri. Hati yang ingin merasa senang, bahagia, gembira, dan puas itu biasanya selalu mencari banyak cara. Salah satunya adalah bermain itu tadi!
Apakah salah untuk sekedar bermain? Tidak ada sih! Bahkan kita yang mengaku sudah besar, dewasa, gede pun tetap ingin melakukan permainan. Masalahnya, karena kita merasa seperti itu, antara permainan dan hati dijadikan satu dan bener-bener disrempet-srempetkan! Alhasil, permainan yang menyentuh hati, bisa membikin dua sisi. Bahagia dan sedih! Gembira dan susah! Puas dan kecewa! Itulah manusia dewasa!
Jika sudah demikian, seperti aku katakan di atas, permainan menjadi tidak menyenangkan. Permainan bisa menjadi licik, diam-diaman, tidak jujur, dan sebagainya! Hati siapa yang ingin merasa dikecewakan? Karena tak ingin kecewa, maka perlu diselubungi kelicikan dan ketidakjujuran! Alhasil, jika semua ini terbongkar, hancurlah semuanya! Permainan yang ingin dipakai sebagai pembuat rasa gembira, senang, bahagia, puas itu malah justru membuat sedih, kecewa, dan bisa saja patah! Iya, patah! Patah hati! Woooo.........!
Tapi, siapakah yang benar-benar mau masuk dalam permainan yang menggunakan ”hati” ini? Tak ada yang mengaku! Namun, namun, namun.........kita selalu saja bersinggungan dengan itu. Diakui atau tidak! Disadari atau tidak! ***
Semaranga, 26 Maret 2009 (di hari Raya Nyepi)
Tampilkan postingan dengan label sembilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sembilu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 Maret 2009
Bermain-main!
Label:
cinta,
sembilu,
ungkapan hati
Selasa, 24 Maret 2009
Barisan Kata-kata
”Sorry aku baru ke kamar lagi. Tadi komputer kutinggalkan on karena ada mahasiswa yang curhat. Maaf beribu maaf, mungkin besok malam kita bisa curhat. Maaf, ya!” (3/27/2008)
Awalnya, malam itu aku hanya ingin melihat apakah dia sedang on line atau tidak. Maka, kubuka sarana chatting-ku dan kulihat dia sedang on line. Aku pun segera menuliskan satu baris ucapan padanya. Kubiarkan sebentar sambil aku browsing di internet. Beluma ada dua menit, tiba-tiba dia meninggalkan pesan padaku. Intinya, dia memang agak jarang untuk on line karena merasa tidak nyaman jika sedang on line ada beberapa sapaan lain yang masuk dan ini membuatnya ruwet. Kemudian ditinggalkannya pesan untuk lain kali menghubunginya.
Tiba-tiba saja, hatiku disergap rasa tersinggung. Rasa tersinggung yang tidak terlalu besar, namun cukup membuatku untuk segera mungkin memutuskan koneksi chatting-ku itu. Sepertinya, ketika aku on line, kehadiranku hanyalah menjadi salah satu dari pengganggu itu baginya. Mengapa bisa demikian? Aku tidak tahu.
Keesokan harinya, ketika aku iseng untuk melihat sarana chatting-ku lagi, kulihat beberapa baris pesan yang ditinggalkan kepadaku. Itulah pesan yang tertulis di atas!
Rasa tersinggungku belum sirna. Ada desakan dari dalam diriku untuk tidak mengacuhkannya. Meski dia mengajak untuk berbagi di lain waktu, aku tak ingin menanggapinya. Biar saja!
Di dalam hatiku, muncul dua kubu yang berperang. Satu kubu ingin mempertahankan perasaan tersinggungku. Satu kubu ingin memahami situasinya. Tak mudah. Perasaanku benar-benar terluka. Jujur saja, setelah lama aku tak berkontak dengannya, baru malam itu aku mencoba untuk menghubunginya. Itu pun tidak aku paksakan. Artinya, saat itu aku hanya menyampaikan sedikit ucapan. Terasa sekali, betapa tak diharapkannya sapaan dan kehadiranku baginya. Betapa tak berartinya kehadiranku malam itu baginya.
Sementara di sisi lain, setelah aku mengerti alasannya, aku berusaha untuk mengerti akan keberadaannya saat itu. Malam itu dia memang sedang diperlukan oleh sesama yang barangkali jauh lebih memerlukan dirinya. Itu artinya dia memiliki arti bagi sesama di sekitarnya.
Akan tetapi, entah mengapa aku masih sulit untuk bisa menerima itu. Mungkin pada saat kutuliskan ungkapan ini, perasaanku sedang larut dengan suasana ketiadaan arti dalam diriku sendiri. Barangkali aku masih dilingkupi rasa kecil karena memang tak mampu untuk hadir bagi sesama. Barangkali aku masih terkungkung dengan rasa iri akan talenta orang lain.
Dengan rendah hati, aku sungguh meminta maaf jika ungkapanku ini kemudian membuatnya merasa bersalah. Aku hanya ingin bersikap jujur atas perasaan yang tiba-tiba saja muncul.***
Semarang, 25 Maret 2009
Awalnya, malam itu aku hanya ingin melihat apakah dia sedang on line atau tidak. Maka, kubuka sarana chatting-ku dan kulihat dia sedang on line. Aku pun segera menuliskan satu baris ucapan padanya. Kubiarkan sebentar sambil aku browsing di internet. Beluma ada dua menit, tiba-tiba dia meninggalkan pesan padaku. Intinya, dia memang agak jarang untuk on line karena merasa tidak nyaman jika sedang on line ada beberapa sapaan lain yang masuk dan ini membuatnya ruwet. Kemudian ditinggalkannya pesan untuk lain kali menghubunginya.
Tiba-tiba saja, hatiku disergap rasa tersinggung. Rasa tersinggung yang tidak terlalu besar, namun cukup membuatku untuk segera mungkin memutuskan koneksi chatting-ku itu. Sepertinya, ketika aku on line, kehadiranku hanyalah menjadi salah satu dari pengganggu itu baginya. Mengapa bisa demikian? Aku tidak tahu.
Keesokan harinya, ketika aku iseng untuk melihat sarana chatting-ku lagi, kulihat beberapa baris pesan yang ditinggalkan kepadaku. Itulah pesan yang tertulis di atas!
Rasa tersinggungku belum sirna. Ada desakan dari dalam diriku untuk tidak mengacuhkannya. Meski dia mengajak untuk berbagi di lain waktu, aku tak ingin menanggapinya. Biar saja!
Di dalam hatiku, muncul dua kubu yang berperang. Satu kubu ingin mempertahankan perasaan tersinggungku. Satu kubu ingin memahami situasinya. Tak mudah. Perasaanku benar-benar terluka. Jujur saja, setelah lama aku tak berkontak dengannya, baru malam itu aku mencoba untuk menghubunginya. Itu pun tidak aku paksakan. Artinya, saat itu aku hanya menyampaikan sedikit ucapan. Terasa sekali, betapa tak diharapkannya sapaan dan kehadiranku baginya. Betapa tak berartinya kehadiranku malam itu baginya.
Sementara di sisi lain, setelah aku mengerti alasannya, aku berusaha untuk mengerti akan keberadaannya saat itu. Malam itu dia memang sedang diperlukan oleh sesama yang barangkali jauh lebih memerlukan dirinya. Itu artinya dia memiliki arti bagi sesama di sekitarnya.
Akan tetapi, entah mengapa aku masih sulit untuk bisa menerima itu. Mungkin pada saat kutuliskan ungkapan ini, perasaanku sedang larut dengan suasana ketiadaan arti dalam diriku sendiri. Barangkali aku masih dilingkupi rasa kecil karena memang tak mampu untuk hadir bagi sesama. Barangkali aku masih terkungkung dengan rasa iri akan talenta orang lain.
Dengan rendah hati, aku sungguh meminta maaf jika ungkapanku ini kemudian membuatnya merasa bersalah. Aku hanya ingin bersikap jujur atas perasaan yang tiba-tiba saja muncul.***
Semarang, 25 Maret 2009
Label:
cinta,
sakit hati,
sembilu,
ungkapan hati
Jumat, 20 Maret 2009
Rasa Sakit Itu…
Kamu pernah tersayat sembilu? Nanti dulu! Jangan terburu-buru kamu jawab: sudah! Kamu sudah tahu apa itu sembilu? Bagi yang belum tahu, tidak ada kelirunya bila kuberi tahu. Meski aku tidak bermaksud untuk menggurui. Sembilu itu kulit buluh yang dibuat tajam sebagai pisau yang bisa saja dipakai untuk meretas perut ayam, memotong tali pusat, atau membelah usus ayam. Nah, buluh itu sendiri adalah bambu. Sudah tidak terlalu bingung kan?
Lalu apa hubungan pertanyaanku dengan judul tulisanku ini. Ya....pasti kamu sudah paham. Yang kumaksudkan adalah perumpaan. Kita sering mendengar bahwa kalau kita sakit hati, sakitnya bagaikan tersayat sembilu. Sayangnya, aku belum pernah tersayat sembilu. Kamu sudah pernah? Jika kita belum pernah merasakan tersayat sembilu, bagaimana kita merasakan sakit hati yang teramat sakit itu? Apakah kita mesti mengiris kulit tangan kita dengan sembilu hanya untuk membandingkan rasa sakit hati dengan sakit diiris sembilu? Tidak perlu kan?
Kalau sakit hati, tentu kamu sudah pernah merasakan. Aku pun sudah pernah. Tidak perlulah kuberi contoh. Kamu tentu punya pengalaman sendiri. Tapi baik juga jika kamu mengingat petikan lagu milik Ungu berjudul ”Demi Waktu” berikut ini: Maafkan aku/Menduakan cintamu/Berat rasa hatiku/Tinggalkan dirinya/Dan demi waktu/Yang bergulir di sampingmu/Maafkanlah diriku/Sepenuh hatimu/Seandainya bila/Kubisa memilih.
Sekarang, apa yang kamu rasakan jika kekasihmu meminta maaf di hadapanmu karena kedapatan menduakan cintamu? Apakah dengan cepat kamu melupakan? Apa yang kamu rasakan? Bisakah maafmu bergulir kepada kekasihmu itu, sementara kekasihmu terang-terangan bilang berat meninggalkan rivalmu yang dia sayangi juga? Dan pada akhirnya, jika kekasihmu lebih memilih rivalmu itu, perasaan sakit apalagi yang akan kamu tanggung?
Jangan jawab pertanyaan-pertanyaanku ini jika memang kamu tidak mengalaminya. Cukuplah rasakan betapa sakitnya hatimu. Hatimu! Hati yang telah dengan tulus memberikan cinta, namun kekasihmu telah mengkhianatimu.
Sakit bukan? Sakitnya seperti apa? Apakah seperti diiris sembilu? Ya, tidak tahu! Kamu akan merasakan sakitnya seperti perasaanmu. Aku akan merasakan sakitnya seperti perasaanku. Perasaan sakit itu tidak bisa dibandingkan. Sulit rasanya! Sama halnya aku bertanya padamu yang belum pernah dikhianati kekasih hati. Tak akan bisa menjawab.
Dari pelukan malam, kusampaikan selamat merasakan rasa sakit itu. Semoga waktu demi waktu, sang rasa sakit itu memberikan kenikmatan demi mendapatkan rasa tak sakit yang lebih abadi. ***
Smg, 1 Mei 2007
Lalu apa hubungan pertanyaanku dengan judul tulisanku ini. Ya....pasti kamu sudah paham. Yang kumaksudkan adalah perumpaan. Kita sering mendengar bahwa kalau kita sakit hati, sakitnya bagaikan tersayat sembilu. Sayangnya, aku belum pernah tersayat sembilu. Kamu sudah pernah? Jika kita belum pernah merasakan tersayat sembilu, bagaimana kita merasakan sakit hati yang teramat sakit itu? Apakah kita mesti mengiris kulit tangan kita dengan sembilu hanya untuk membandingkan rasa sakit hati dengan sakit diiris sembilu? Tidak perlu kan?
Kalau sakit hati, tentu kamu sudah pernah merasakan. Aku pun sudah pernah. Tidak perlulah kuberi contoh. Kamu tentu punya pengalaman sendiri. Tapi baik juga jika kamu mengingat petikan lagu milik Ungu berjudul ”Demi Waktu” berikut ini: Maafkan aku/Menduakan cintamu/Berat rasa hatiku/Tinggalkan dirinya/Dan demi waktu/Yang bergulir di sampingmu/Maafkanlah diriku/Sepenuh hatimu/Seandainya bila/Kubisa memilih.
Sekarang, apa yang kamu rasakan jika kekasihmu meminta maaf di hadapanmu karena kedapatan menduakan cintamu? Apakah dengan cepat kamu melupakan? Apa yang kamu rasakan? Bisakah maafmu bergulir kepada kekasihmu itu, sementara kekasihmu terang-terangan bilang berat meninggalkan rivalmu yang dia sayangi juga? Dan pada akhirnya, jika kekasihmu lebih memilih rivalmu itu, perasaan sakit apalagi yang akan kamu tanggung?
Jangan jawab pertanyaan-pertanyaanku ini jika memang kamu tidak mengalaminya. Cukuplah rasakan betapa sakitnya hatimu. Hatimu! Hati yang telah dengan tulus memberikan cinta, namun kekasihmu telah mengkhianatimu.
Sakit bukan? Sakitnya seperti apa? Apakah seperti diiris sembilu? Ya, tidak tahu! Kamu akan merasakan sakitnya seperti perasaanmu. Aku akan merasakan sakitnya seperti perasaanku. Perasaan sakit itu tidak bisa dibandingkan. Sulit rasanya! Sama halnya aku bertanya padamu yang belum pernah dikhianati kekasih hati. Tak akan bisa menjawab.
Dari pelukan malam, kusampaikan selamat merasakan rasa sakit itu. Semoga waktu demi waktu, sang rasa sakit itu memberikan kenikmatan demi mendapatkan rasa tak sakit yang lebih abadi. ***
Smg, 1 Mei 2007
Label:
cinta,
sakit hati,
sembilu
Langganan:
Postingan (Atom)