Aku gak tau lagi gimana caranya menghubungimu. Aku kirim email, gak ada balasan. Aku ke tempatmu, gak ada. Aku telpon, kamu pergi. Apa aku benar-benar sudah kehilangan seseorang yang pernah dekat dengan aku. Yang selalu panggil aku ”Teteh...” Aku memang pernah meninggalkanmu waktu aku ke B dulu. Aku berharap tidak ada yang berubah meski aku jauh (saat itu). Tapi ternyata harapanku hanya tinggal harapan. Aku gak tau apa ini hanya perasaanku saja, tapi yang jelas aku merasa kamu semakin jauh. Dulu aku yang pergi jauh, tapi hati kita dekat. Sekarang jarak kita sudah dekat, tapi kenapa justru ada rasa yang jauuuh banget. Sekali lagi, apa aku benar-benar sudah kehilangan seorang sahabat, seorang yang pernah dekat di hati? Maafkan, kalau aku sudah mengganggu ketenanganmu.
Dear my beloved Bro. Your email make me love you more. I will love you always. I knew now, how much you hate me. I'm so sorry. Membaca tulisan Bro membuatku tersentak. Aku tersadar atas semua kekhilafanku. Entah kenapa, aku benar-benar tak bisa menahan emosi jiwa saat itu. Apa yang Bro tulis sangat aku butuhkan. Selama ini aku belum pernah bisa untuk mengaca. Aku selalu egois. Selalu memikirkan diriku sendiri. Once again, thank you. I love you more...
Dua email itu aku terima dalam waktu yang berbeda. Jaraknya pun sangat berjauhan. Kedua-duanya aku dapatkan dari dua temanku. Mereka pun dua teman yang kukenal berbeda waktu dan berbeda tempat. Akan tetapi, pertemuan dengan mereka itu bener-benar memberi bekas bagi diriku. Bekas yang mendalam. Ah, ah!
Pribadi yang menulis pertama itu, ketika aku membaca emailnya, jujur saja aku terkejut. Mengapa bisa memiliki dugaan seperti itu? Selama ini, aku tidak pernah memiliki pemikiran yang terlalu jauh tentang kedekatan ini. Dulu memang, ketika masih dalam masa kebersamaan, ada saat-saat menyenangkan bersamanya. Aku masih ingat persis, perhatiannya banyak banget. Lebih-lebih kalau saat makan. Apa saja disiapkan, ditanya mau makan apa, minum apa. Semua diambilkan. Wah, dimanja banget. Ya..., senang juga sih! Lambat laun, cerita demi cerita pun mengalir. Akhirnya kami begitu dekat. Setelah acara kebersamaan itu, beberapa waktu memang masih ada kontak, namun juga tidak terlalu sering. Hingga suatu saat, dia pindah ke B. Selama dia di B itu, kontak juga jarang. Sempat juga menghubunginya ketika dia ulang tahun. Tidak lama dia di B, balik lagi. Meski sudah satu kota lagi, kontak pun jarang.
Sedangkan pribadi yang satu lagi, itu baru saja aku kenal. Mengikuti sebuah training yang akhirnya mengharuskan menjadi satu kelompok dengan dia. Justru ketika satu kelompok itu, kedekatan selama proses training dan latihan jarang terjadi. Hanya pada saat-saat tertentu saja, aku berkontak dengan dia. Masalahnya, di akhir training, ketika mendekati selesai, ada tugas yang harus diselesaikan bersama, dirinya terlalu memikirkan perasaannya. Ada hal yang jauh lebih indah, sehingga banyak waktu yang dihabiskan diluar kelompok. Untuk hal ini pun, aku tidak terlalu menyalahkan karena aku sendiri belum tentu benar. Rasa kecewaku sebagai penanggung jawab tugas dalam kelompok itu dirasakan. Memang kecewa! Karena pada saat selesai training, aku pergi di hadapannya dengan rasa dingin. Dirasakan itu!
Beberapa hari, dia kemudian mengontakku. Aku sendiri masih menyimpan perasaan tidak nyaman. Jengkel yang belum longgar. Kesempatan itulah yang kugunakan untuk menyampaikan beban yang ada dalam pikiranku. Segalanya kusampaikan dengan terbuka, termasuk penilaianku atau perasaanku pada dirinya selamat proses pembuatan tugas terakhir training itu. Barangkali, karena keterusteranganku atau apa, dia kemudian membalas dengan email pendek seperti itu. Aku juga tidak menyangka bahwa dia bisa menanggapi sedemikian dalam.
Mengenal banyak orang itu mudah. Begitu aku mau membuka mulut untuk menyapa, akan hadir di depanku orang yang mau berkawan. Akan tetapi, mengenal hati orang yang mau berkawan denganku itu tidak mudah. Tidak setiap orang yang menjadi kawan, akan memiliki perasaan untuk mampu membuka hati di hadapanku. Mengapa aku harus menyia-nyiakan hati yang sudah terbuka untuk berbagi denganku? Mengapa anugerah pribadi yang unik ini tidak aku pupuk sebagai kekayaan di dalam membentuk persaudaran dengan orang lain? Terkadang, dengan bersembunyi pada kesibukan, aku telah melalaikan hati yang telah terbuka itu. Padahal, jika hati itu terluka, tak akan mudah untuk sembuh dan menerima kehadiranku lagi.***
Semarang, 28 Maret 2009
Tampilkan postingan dengan label suport hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suport hidup. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 April 2009
Dua Email
Label:
kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Selasa, 31 Maret 2009
Surat Tak Sampai
Tahun 2003, saat aku masih kuliah, ada program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang harus kuikuti. Dalam KKN itu, aku bergabung dengan kawan-kawan dari berbagai jurusan. Jadilah satu kelompok dengan kawan baru. Yang lebih beruntung jika dalam kelompok itu, ada kawan yang memang sudah dikenal, meski berbeda jurusan. Namun bagiku tidak demikian. Aku sendirian dari jurusanku. Namun, begitu bisa gabung, aku pun dapat menemukan berbagai pengalaman yang memperkaya aku. Berbagai kegiatan dapat kulakukan dan kuselesaikan dengan kawan-kawan baru ini.
Di saat perjumpaan terakhir dan pembubaran kelompok, aku dan kawan-kawan sempat makan bersama-sama di sebuah rumah makan. Saat itulah, kuberikan ungkapan-ungkapanku kepada kawan-kawanku dalam bentuk tulisan. Sayang sekali, seorang kawan berhalangan hadir, sehingga dia tak sempat menerima coretan tanganku. Namanya biasa dipanggil Ani.
Sayangnya, aku tak pernah tahu kemana dirinya melanjutkan kariernya, setelah kami sama-sama lulus tahun 2004. Jika dia menemukan tulisanku ini, semoga dia bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Jika tidak, tulisan yang telah kupindah dalam blog ini, semoga tidak hilang.
Buat Ani
Salam hangat penuh persahabatan,
Rasanya tidak mungkin aku mengungkapkan kesanku kepadamu hanya dalam jangka waktu yang sedikit dan terbatas. Maka aku sempatkan untuk memberikan ungkapan kesan dan terima kasihku kepadamu melalui tulisan ini. Sebelumnya, aku minta maaf jika nanti ada kesan pribadiku yang ternyata tidak berkenan di hati.
Waa..., ini dia temanku yang paling seger penuh tawa! Gimana, masih sanggup untuk tertawa panjang lagi sampe ujung barat dan timur mendengar, Dik? Ha...ha...ha...! Masih kuat ngisi TTS? Atau masih mau main kartu? Yah, mudah-mudahan semuanya masih menjadi hobi yang mengasyikkan di samping tugas-tugas lain, ya?
Ada beberapa hal yang dapat kutimba selama aku bergaul dengan dirimu selama KKN. Barangkali bagi kamu tidak, namun bagiku, ya! Aku pikir, pada waktu pertemuan pertama di kampus, kamu orangnya tidak banyak ketawa. Eh, tak tahunya? Ngakakmu itu nggak ada yang menandingi. Bahkan Bu Muji aja sempat terheran-heran. Kamu tahu tidak, apa kata teman-teman jika kamu sudah mulai bicara? ”Waa..., Gunung Merapi nih, mulai mengeluarkan semburannya!” Gitu mereka bilang! Ha...ha...ha...! Sorry, nggak nyinggung, kan?
Itulah keistimewaanmu yang dapat kutangkap selama kita kenal sebagai teman baru di Dusun Surodadi. Kupikir, ini anak kok enak banget segala sesuatu dianggap santai, ringan, tanpa beban. Ketawa-ketiwi tanpa henti! Namun, setelah sekain lama aku mengenal sisi itu, aku jadi tersadarkan bahwa aku memang mesti menerima pribadi lain yang hadir di sekelilingku dengan apa adanya. Itulah pribadimu yang kutangkap tampak santai, ringan, penuh tawa, dan enjoy saat bergaul dengan orang lain. Sikap dan sifatmu itu telah menunjukkan kepadaku bahwa ada kalanya segala sesuatu yang dihadapi itu harus dirasakan dengan ringan, dengan tawa! Hal ini yang sebenarnya berat, namun dapat saja dibawa dengan ringan, sehingga justru cepat selesai. Itulah yang kutangkap dari pribadimu. Santai! Penuh tawa!
Memang, aku juga menyadari bahwa selama kita bergaul, tidak banyak hal yang sering kita bicarakan secara mendalam. Tidak mengapa! Itu semua juga kamu sadari bahwa tidak setiap orang dapat cocok untuk berakrab-akrab ria. Bahkan aku pernah mengungkapkan suatu ganjalan kepadamu pada waktu kita melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman. Kamu dapat menerima dan menyadari itu dengan baik! Benar-benar aku menghargai sifatmu itu. Mungkin, latar belakang kehidupanmu yang berbeda dengan latar belakang kehidupanku atau teman lain, sedikit mengganjal pada saat harus hidup bersama. Mungkin, bagi dirimu tidak memengaruhi, namun bagiku atau teman lain memengaruhi. Nah, dalam situasi seperti ini, jika ada teman yang menegurmu, kamu mampu untuk menerimanya. Kamu tetap enjoy, tanpa tersinggung, dan kamu berusaha untuk memahami serta memperbaiki.
Barangkali kamu menilai bahwa hidup seseorang memang harus dijalani dengan keriangan. Ya, kalau memang itu yang kamu perjuangkan atau yang menjadi salah satu prinsip, itu pun aku hargai. Yang pasti, selama menjalin pertemanan dengan dirimu, aku belajar banyak hal. Belajar akan pentingnya sebuah relaksasi; belajar akan baiknya membawa sesuatu ke dalam keceriaan, dan pentingya menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sekiranya akan membantu dalam meniti masa depan.
Ani, terima kasih ya, atas kehadiranmu dalam kelompok kita. Aku menyadari sekarang bahwa pribadi sepertimu juga memberikan andil pada diriku. Aku semakin tahu bahwa tidak selamanya orang yang sedang memiliki tanggung jawab dan tugas harus diselesaikan dengan muka masam atau cemberut. Orang dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan ringan dan muka cerah. Bukankah ini lebih menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?
Mudah-mudahan apa yang kusampaikan ini tidak membikin kamu bingung! Inilah yang dapat kusampaikan, setelah nanti kita tidak bertemu lagi. Dari tujuh teman, kamulah yang paling jauh tempat tinggalnya. Kalau kamu sudah selesai dari Yogya, kembali ke Kalimantan, apakah mungkin dapat bersua kembali? Ya, akhirnya hanya doa yang dapat kusampaikan. Sukses ya, kamu menjalani hidup dan meraih masa depan! Baik-baiklah untuk berusaha! Akhirnya, selamat meniti karier yang cerah!
O, ya yang pasti tak akan pernah aku lupa bahwa ’lip balm-mu’ itu merupakan ingatan bagi diriku! Ha...ha...ha...! Nggak dapat barangnya, malah dapat pengalaman lucu! Aku minta maaf atas segala kesalahan, kekilafan, dan kekurangan yang membuatmu kecewa sebagai teman di Kelompok 57.
Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah kamu bagikan kepadaku. Panggilan namaku yang sudah akrab sebagai anggota Kelompok 57, pertahankan dan pakailah itu saat kapan saja jika masih sempat bertemu denganku. Kuanggap ini sebagai kenanngan.
Yogyakarta, Februari 2003
Doa dan dukunganku,
Hanya jejak-jejak inilah yang bisa kusampaikan. Entah, mungkin dia telah menggapai suatu cita yang dulu pernah diidamkannya. Aku tak pernah tahu...
Semarang, 30 Maret 2009
Di saat perjumpaan terakhir dan pembubaran kelompok, aku dan kawan-kawan sempat makan bersama-sama di sebuah rumah makan. Saat itulah, kuberikan ungkapan-ungkapanku kepada kawan-kawanku dalam bentuk tulisan. Sayang sekali, seorang kawan berhalangan hadir, sehingga dia tak sempat menerima coretan tanganku. Namanya biasa dipanggil Ani.
Sayangnya, aku tak pernah tahu kemana dirinya melanjutkan kariernya, setelah kami sama-sama lulus tahun 2004. Jika dia menemukan tulisanku ini, semoga dia bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Jika tidak, tulisan yang telah kupindah dalam blog ini, semoga tidak hilang.
Buat Ani
Salam hangat penuh persahabatan,
Rasanya tidak mungkin aku mengungkapkan kesanku kepadamu hanya dalam jangka waktu yang sedikit dan terbatas. Maka aku sempatkan untuk memberikan ungkapan kesan dan terima kasihku kepadamu melalui tulisan ini. Sebelumnya, aku minta maaf jika nanti ada kesan pribadiku yang ternyata tidak berkenan di hati.
Waa..., ini dia temanku yang paling seger penuh tawa! Gimana, masih sanggup untuk tertawa panjang lagi sampe ujung barat dan timur mendengar, Dik? Ha...ha...ha...! Masih kuat ngisi TTS? Atau masih mau main kartu? Yah, mudah-mudahan semuanya masih menjadi hobi yang mengasyikkan di samping tugas-tugas lain, ya?
Ada beberapa hal yang dapat kutimba selama aku bergaul dengan dirimu selama KKN. Barangkali bagi kamu tidak, namun bagiku, ya! Aku pikir, pada waktu pertemuan pertama di kampus, kamu orangnya tidak banyak ketawa. Eh, tak tahunya? Ngakakmu itu nggak ada yang menandingi. Bahkan Bu Muji aja sempat terheran-heran. Kamu tahu tidak, apa kata teman-teman jika kamu sudah mulai bicara? ”Waa..., Gunung Merapi nih, mulai mengeluarkan semburannya!” Gitu mereka bilang! Ha...ha...ha...! Sorry, nggak nyinggung, kan?
Itulah keistimewaanmu yang dapat kutangkap selama kita kenal sebagai teman baru di Dusun Surodadi. Kupikir, ini anak kok enak banget segala sesuatu dianggap santai, ringan, tanpa beban. Ketawa-ketiwi tanpa henti! Namun, setelah sekain lama aku mengenal sisi itu, aku jadi tersadarkan bahwa aku memang mesti menerima pribadi lain yang hadir di sekelilingku dengan apa adanya. Itulah pribadimu yang kutangkap tampak santai, ringan, penuh tawa, dan enjoy saat bergaul dengan orang lain. Sikap dan sifatmu itu telah menunjukkan kepadaku bahwa ada kalanya segala sesuatu yang dihadapi itu harus dirasakan dengan ringan, dengan tawa! Hal ini yang sebenarnya berat, namun dapat saja dibawa dengan ringan, sehingga justru cepat selesai. Itulah yang kutangkap dari pribadimu. Santai! Penuh tawa!
Memang, aku juga menyadari bahwa selama kita bergaul, tidak banyak hal yang sering kita bicarakan secara mendalam. Tidak mengapa! Itu semua juga kamu sadari bahwa tidak setiap orang dapat cocok untuk berakrab-akrab ria. Bahkan aku pernah mengungkapkan suatu ganjalan kepadamu pada waktu kita melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman. Kamu dapat menerima dan menyadari itu dengan baik! Benar-benar aku menghargai sifatmu itu. Mungkin, latar belakang kehidupanmu yang berbeda dengan latar belakang kehidupanku atau teman lain, sedikit mengganjal pada saat harus hidup bersama. Mungkin, bagi dirimu tidak memengaruhi, namun bagiku atau teman lain memengaruhi. Nah, dalam situasi seperti ini, jika ada teman yang menegurmu, kamu mampu untuk menerimanya. Kamu tetap enjoy, tanpa tersinggung, dan kamu berusaha untuk memahami serta memperbaiki.
Barangkali kamu menilai bahwa hidup seseorang memang harus dijalani dengan keriangan. Ya, kalau memang itu yang kamu perjuangkan atau yang menjadi salah satu prinsip, itu pun aku hargai. Yang pasti, selama menjalin pertemanan dengan dirimu, aku belajar banyak hal. Belajar akan pentingnya sebuah relaksasi; belajar akan baiknya membawa sesuatu ke dalam keceriaan, dan pentingya menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sekiranya akan membantu dalam meniti masa depan.
Ani, terima kasih ya, atas kehadiranmu dalam kelompok kita. Aku menyadari sekarang bahwa pribadi sepertimu juga memberikan andil pada diriku. Aku semakin tahu bahwa tidak selamanya orang yang sedang memiliki tanggung jawab dan tugas harus diselesaikan dengan muka masam atau cemberut. Orang dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan ringan dan muka cerah. Bukankah ini lebih menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?
Mudah-mudahan apa yang kusampaikan ini tidak membikin kamu bingung! Inilah yang dapat kusampaikan, setelah nanti kita tidak bertemu lagi. Dari tujuh teman, kamulah yang paling jauh tempat tinggalnya. Kalau kamu sudah selesai dari Yogya, kembali ke Kalimantan, apakah mungkin dapat bersua kembali? Ya, akhirnya hanya doa yang dapat kusampaikan. Sukses ya, kamu menjalani hidup dan meraih masa depan! Baik-baiklah untuk berusaha! Akhirnya, selamat meniti karier yang cerah!
O, ya yang pasti tak akan pernah aku lupa bahwa ’lip balm-mu’ itu merupakan ingatan bagi diriku! Ha...ha...ha...! Nggak dapat barangnya, malah dapat pengalaman lucu! Aku minta maaf atas segala kesalahan, kekilafan, dan kekurangan yang membuatmu kecewa sebagai teman di Kelompok 57.
Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah kamu bagikan kepadaku. Panggilan namaku yang sudah akrab sebagai anggota Kelompok 57, pertahankan dan pakailah itu saat kapan saja jika masih sempat bertemu denganku. Kuanggap ini sebagai kenanngan.
Yogyakarta, Februari 2003
Doa dan dukunganku,
Hanya jejak-jejak inilah yang bisa kusampaikan. Entah, mungkin dia telah menggapai suatu cita yang dulu pernah diidamkannya. Aku tak pernah tahu...
Semarang, 30 Maret 2009
Label:
cinta,
doa,
doa kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Minggu, 29 Maret 2009
Tiba-Tiba Saja Menangis!
Saat aku sedang browsing -cari lagu-lagu yang kusuka- aku temukan lagu Dewa 19 berjudul “Selimut Hati”. Aku pernah mendengar lagu ini. Easy listening sih! Maka, kucari saja video klipnya. Aku masih bisa menyaksikan video klip itu dengan personil Dewa 19 (Tyo, Drummer-nya masih juga ikut) dan beberapa talent seperti Maia, Mulan, DJ Chatty. Spontan saja, sambil melihat itu, aku langsung saja mewek! Wee........kenapa ini?
Ah, ya ingat akan kenyataan sekarang ini. Antara video klip dengan situasi yang ada saat ini. Dalam video klip itu, tampak betapa kemesraan dan perhatian itu tergambar. Sekarang? Semuanya itu telah lenyap. Dhani berseteru dengan Maia. Mulan keluar dari Ratu. Tyo sudah tidak gabung lagi di Dewa 19. Siapa yang akan mengira bahwa kesuksesan dalam mendapatkan aplaus itu juga akan diikuti dengan kesuksesan dalam menjalani biduk rumah tangga? Tak ada yang bisa memperkirakan. Mungkin hanya peramal saja. Namun, ah, kali ini janganlah membicarakan peramal.
Ya, itulah! Suatu perasaan sepertinya bisa saja berubah hanya dalam jangka waktu ketukan jari! Kemarin benci, sekarang sudah cinta. Kemarin cinta, esok sudah musuhan! Apakah hanya sebatas itu sebuah perasaan itu bisa bertahan?
Aku selalu sadar bahwa menjalani hidup dengan sempurna itu tak mudah. Justru, kesempurnaan itu bisa nyata ketika segala hal terjadi. Seseorang bisa sempurna menjalani kehidupan, manakala dirinya berhasil. Namun, jika terus berhasil, itu bukanlah kesempurnaan hidup. Seseorang pun perlu juga merasakan kegagalan. Karena kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Tidaklah mungkin, seseorang mengejar keberhasilan terus-menerus. Jika toh ada orang lain menganggap sesama berhasil, itu pun belum tentu benar. Karena yang bersangkutan bisa merasa berbeda dari pandangan orang lain.
Kegagalan dalam mempertahankan hidup rumah tangga adalah kesempurnaan dalam menjalani kehidupan. Namun, apakah setiap orang harus selalu mengalami kegagalan yang sama? Tentu saja tidak! Terkadang, kegagalan orang lain bisa dijadikan cermin agar kegagalan dirinya tidak separah orang lain. Belajar dari pengalaman orang lain!
Semudah itukah? Nyatanya memang tidak mudah! Sedang seseorang yang berhasil menjalani kehidupan dan mendapatkan hal-hal yang penuh, ternyata bisa saja terperosok dalam kegagalan. Ya...paling tidak contoh yang kusampaikan di atas tadi.
Dalam ungkapan ini, aku tidak sedang mengomentari keadaan mereka itu. Aku hanya ingin melihat dan belajar dari kehidupan mereka itu. Tidak lebih dari itu. Meski mereka gagal, mereka pun memiliki keberhasilan. Antara keberhasilan dan kegagalan, sering berjalan seiring. Jika manusia tidak waspada, salah satunya bisa menjadi jalan tenggelamnya jiwa dalam keputusasaan. Apakah keberhasilan juga bisa menenggelamkan jiwa? Tentu saja bisa! Jika kegagalan itu mengantar pada sikap tidak rendah hati. Apakah kegagalan juga bisa menenggelamkan jiwa? Jelas! Karena kalau tidak segera bangkit, dirinya akan selalu terpuruk dan putus asa!
Tiba-tiba aku menangis! Namun, tangisan ini adalah tangisan bela rasa! Berbela dan berasa atas apa yang hendak kulihat dalam diriku sendiri!***
September 2008
Ah, ya ingat akan kenyataan sekarang ini. Antara video klip dengan situasi yang ada saat ini. Dalam video klip itu, tampak betapa kemesraan dan perhatian itu tergambar. Sekarang? Semuanya itu telah lenyap. Dhani berseteru dengan Maia. Mulan keluar dari Ratu. Tyo sudah tidak gabung lagi di Dewa 19. Siapa yang akan mengira bahwa kesuksesan dalam mendapatkan aplaus itu juga akan diikuti dengan kesuksesan dalam menjalani biduk rumah tangga? Tak ada yang bisa memperkirakan. Mungkin hanya peramal saja. Namun, ah, kali ini janganlah membicarakan peramal.
Ya, itulah! Suatu perasaan sepertinya bisa saja berubah hanya dalam jangka waktu ketukan jari! Kemarin benci, sekarang sudah cinta. Kemarin cinta, esok sudah musuhan! Apakah hanya sebatas itu sebuah perasaan itu bisa bertahan?
Aku selalu sadar bahwa menjalani hidup dengan sempurna itu tak mudah. Justru, kesempurnaan itu bisa nyata ketika segala hal terjadi. Seseorang bisa sempurna menjalani kehidupan, manakala dirinya berhasil. Namun, jika terus berhasil, itu bukanlah kesempurnaan hidup. Seseorang pun perlu juga merasakan kegagalan. Karena kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Tidaklah mungkin, seseorang mengejar keberhasilan terus-menerus. Jika toh ada orang lain menganggap sesama berhasil, itu pun belum tentu benar. Karena yang bersangkutan bisa merasa berbeda dari pandangan orang lain.
Kegagalan dalam mempertahankan hidup rumah tangga adalah kesempurnaan dalam menjalani kehidupan. Namun, apakah setiap orang harus selalu mengalami kegagalan yang sama? Tentu saja tidak! Terkadang, kegagalan orang lain bisa dijadikan cermin agar kegagalan dirinya tidak separah orang lain. Belajar dari pengalaman orang lain!
Semudah itukah? Nyatanya memang tidak mudah! Sedang seseorang yang berhasil menjalani kehidupan dan mendapatkan hal-hal yang penuh, ternyata bisa saja terperosok dalam kegagalan. Ya...paling tidak contoh yang kusampaikan di atas tadi.
Dalam ungkapan ini, aku tidak sedang mengomentari keadaan mereka itu. Aku hanya ingin melihat dan belajar dari kehidupan mereka itu. Tidak lebih dari itu. Meski mereka gagal, mereka pun memiliki keberhasilan. Antara keberhasilan dan kegagalan, sering berjalan seiring. Jika manusia tidak waspada, salah satunya bisa menjadi jalan tenggelamnya jiwa dalam keputusasaan. Apakah keberhasilan juga bisa menenggelamkan jiwa? Tentu saja bisa! Jika kegagalan itu mengantar pada sikap tidak rendah hati. Apakah kegagalan juga bisa menenggelamkan jiwa? Jelas! Karena kalau tidak segera bangkit, dirinya akan selalu terpuruk dan putus asa!
Tiba-tiba aku menangis! Namun, tangisan ini adalah tangisan bela rasa! Berbela dan berasa atas apa yang hendak kulihat dalam diriku sendiri!***
September 2008
Label:
kasih,
selimut hati,
suport hidup,
ungkapan hati
Jumat, 27 Maret 2009
My Rumiyin!!!!!!!!!!!!!
Heran aku! Kai selalu memanggilku dengan kata-kata itu. Apa sih yang membuatnya selalu memanggilku dengan ”My Rumiyin, My Rumiyin” itu? Kalau diterjemahkan sesuai kata aslinya, bener-bener tak bakalan menjadi jelas, bahkan membingungkan. Apa coba, dengan maksud ”dulu-ku, dahulu-ku”.
”Apaan sih, my rumiyin, my rumiyin....,” tanyaku waktu itu.
”Lhah..., kan Bro emang my rumiyin. Piye toh?” jawabnya sekenanya.
”Kamu tahu artinya rumiyin?” lanjutku.
”Artinya: dulu, kan?” sahutnya dan lantas berlalu dari hadapanku.
Begitulah Kai. Penjelasan tentang ”My Rumiyin” itu tak pernah dia sampaikan kepadaku. Jika ngomong soal Kai, aku lalu ingat pertemuannya beberapa waktu lalu. Awal mulanya hanya karena persamaan tujuan untuk mengikuti suatu kegiatan di pinggiran kota Y. Bahkan ketika kegiatan itu aku jalani bersama teman baru lain, termasuk Kai, segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya bisa terjadi dengan baik, dan hasil kegiatan itu pun dapat kubawa pulang dengan baik pula. Sampai pada penghujung kegiatan, Kai membuat pengakuan di hadapanku.
Apa sih yang salah tentang Kai? Jika ingat pengakuannya, aku sebenarnya tidak ingin menyudutkan bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata adalah kesalahannya. Sebagai manusia, siapa yang tidak salah langkah karena kelemahan? Tak seorang pun bisa lepas dari kekeliruan.
Melihatnya bisa bergembira di pagi hari, bagiku sudah cukup untuk bisa memberinya kesejukan. Tak ada yang ingin kuminta banyak darinya. Jika dengan sentuhan udara dingin, basahnya tetesan embun, dan hangatnya sinar matahari pagi, Kai sudah bisa menikmati satu hari itu saja, itu adalah anugerah yang sangat besar bagiku. Meski aku hanya bisa mengajaknya menyusuri jalan-jalan setapak atau pematang-pematang sawah atau pinggiran sungai, itu adalah kesempatan yang sudah lebih dari cukup bagiku.
Sayangnya, aku begitu terganggu. Mengapa aku sulit untuk menerimanya? Apakah karena di dalam hatiku ada tuntutan agar dia tampil sebagai seorang Kai yang sempurna? Atau karena aku sendiri yang masih menipu diriku atas rasa cukup yang selama ini kupertahankan dalam diriku? Semestinya, ketika Kai berterus terang kepadaku atas segala tindakan yang menurutnya bodoh itu dilakukan, aku tak harus menyudutkannya.
”Waktu itu, entahlah. Aku gak tau...! Masih ingat sih perasaan aku saat itu. Amburadul banget! Ga tau aku juga kenapa...” katanya memulai percakapan.
”Trus ngapain harus ngajak ngomong aku dan akhirnya malah gak jadi?” tanyaku.
”Ah, Bro...! Aku juga ga tau...! Mungkin karena takut pisah sama Bro? Gak tau juga... Biasanya ada yang jagain aku... Terus sekarang gak ada! Gak tau...! Aku ngerasa salah sama kelompok karena gak ngapa-ngapain. Ngerasa.... ah...,” Kai terdiam.
Aku menunggu dia melanjutkan kata-katanya. Ini penting karena aku perlu mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan kepadaku. Itu semata-mata, agar aku bisa makin mengerti apa yang hidup dalam diri Kai saat itu. Kudengar, pelan Kai melanjutkan kata-katanya.
”Mungkin juga belum rela ninggalin acara jalan pagi yang begitu berarti untuk aku. Entahlah... Mungkin karena baru saat itu aku bisa bebas lepas, lepas berekspresi. Aku emang cengeng. Aku gak tau sebenernya aku kenapa? Kenapa? Makanya aku tanya Bro. Rasanya Bro udah kenal aku lebih dari aku sendiri. Aku ngerasa aman sama Bro karena yakin Bro gak akan suka orang lain ngapa-ngapain aku. I really need friend untuk ngobrol.”
Kai terisak. Berupaya untuk memahami gejolak perasaan Kai, bagiku adalah usaha yang tidak mudah. Bagaimana aku harus memahaminya, sedang dalam diriku bergejolak perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan. Akan tetapi, mengapa aku tak menyukainya, jika dia di hadapanku berterus terang atas segala kesalahan yang telah dia lakukan?
”Seingat aku, ”lanjut Kai, ”waktu itu aku masih panik, sedikit bingung. Aku ngerasa bersalah banget karena aku suka sama En dan rasa sukaku itu ganggu kerja kelompokku. Kerjaanku jadi gak karuan. Semuanya amburadul. Aku menyadarinya dan aku harus menyudahinya. Memang semestinya aku gak usah tarik tangan Bro saat itu. Karena gak penting banget Bro ikutan urusanku. Tapi aku ngerasa cuma punya temen Bro aja. Aku mau ceritanya ke Bro. Karena Bro ketua kelompok yang aku bikin acakadul. Yang lebih bikin aku nyaman, Bro gak akan pernah suka sama aku. Itu yang bikin aku comfortable untuk bicara sama Bro, walau akhirnya gak ada yang keluar. Tuh kan bener? Gak ada yang penting, makanya waktu itu gak ada yang keluar. Masa, masalah kayak gitu aku gak bisa atasi sendiri? Tapi nyatanya emang aku gak bisa ngatasi hal sepele macam itu. I really need you, Bro. Untuk nampar aku, untuk mengguncang bahuku, untuk menunjukkan semua kelakuanku. Susah banget melihat dari sudut pandang orang lain ke diri sendiri. Aku belum pernah merasa nyaman sama cowok, selain sama Bro. Maksudnya untuk berusaha berbicara, walau akhirnya gak jadi.”
Susah payah Kai menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela nafas. Terus mau apa sekarang? Jika Kai memanggilku, ”My Rumiyin......!” apakah aku juga harus tetap memalingkan wajahku ke arah lain dan meninggalkan cibiran kepadanya? Haruskah sebesar itu aku menghukum Kai, sementara dia telah membuat pengakuan di hadapanku?
Menghadapi Kai, bagiku adalah menghadapi pengalaman masa laluku. Aku harus berani mengakui dan menerima apa yang telah terjadi pada masa laluku. Kai bukanlah masa laluku. Dia adalah masa kini yang sedang memberiku sandungan-sandungan kecil pada ujung jari-jemari kaki dalam kancah jalan kehidupan ini. Ah, Kai. Kesalahan itu bukan hanya milikmu. Kesalahan itu tetap saja ada pada diriku. Bukan saja dirimu dan diriku, melainkan orang lain juga memilikinya.
Di ujung malam, aku hanya bisa membisikkan pada Kai, menyampaikan rasa salah dan maafku, karena sikap penyudutanku kepadanya. Seandainya dia bisa sedekat angin malam ini, akan kurengkuh dan kubisikan kata itu di dekat telinganya. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Mari berupaya bersama aku. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu menyayangimu.***
Agustus 2008
”Apaan sih, my rumiyin, my rumiyin....,” tanyaku waktu itu.
”Lhah..., kan Bro emang my rumiyin. Piye toh?” jawabnya sekenanya.
”Kamu tahu artinya rumiyin?” lanjutku.
”Artinya: dulu, kan?” sahutnya dan lantas berlalu dari hadapanku.
Begitulah Kai. Penjelasan tentang ”My Rumiyin” itu tak pernah dia sampaikan kepadaku. Jika ngomong soal Kai, aku lalu ingat pertemuannya beberapa waktu lalu. Awal mulanya hanya karena persamaan tujuan untuk mengikuti suatu kegiatan di pinggiran kota Y. Bahkan ketika kegiatan itu aku jalani bersama teman baru lain, termasuk Kai, segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya bisa terjadi dengan baik, dan hasil kegiatan itu pun dapat kubawa pulang dengan baik pula. Sampai pada penghujung kegiatan, Kai membuat pengakuan di hadapanku.
Apa sih yang salah tentang Kai? Jika ingat pengakuannya, aku sebenarnya tidak ingin menyudutkan bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata adalah kesalahannya. Sebagai manusia, siapa yang tidak salah langkah karena kelemahan? Tak seorang pun bisa lepas dari kekeliruan.
Melihatnya bisa bergembira di pagi hari, bagiku sudah cukup untuk bisa memberinya kesejukan. Tak ada yang ingin kuminta banyak darinya. Jika dengan sentuhan udara dingin, basahnya tetesan embun, dan hangatnya sinar matahari pagi, Kai sudah bisa menikmati satu hari itu saja, itu adalah anugerah yang sangat besar bagiku. Meski aku hanya bisa mengajaknya menyusuri jalan-jalan setapak atau pematang-pematang sawah atau pinggiran sungai, itu adalah kesempatan yang sudah lebih dari cukup bagiku.
Sayangnya, aku begitu terganggu. Mengapa aku sulit untuk menerimanya? Apakah karena di dalam hatiku ada tuntutan agar dia tampil sebagai seorang Kai yang sempurna? Atau karena aku sendiri yang masih menipu diriku atas rasa cukup yang selama ini kupertahankan dalam diriku? Semestinya, ketika Kai berterus terang kepadaku atas segala tindakan yang menurutnya bodoh itu dilakukan, aku tak harus menyudutkannya.
”Waktu itu, entahlah. Aku gak tau...! Masih ingat sih perasaan aku saat itu. Amburadul banget! Ga tau aku juga kenapa...” katanya memulai percakapan.
”Trus ngapain harus ngajak ngomong aku dan akhirnya malah gak jadi?” tanyaku.
”Ah, Bro...! Aku juga ga tau...! Mungkin karena takut pisah sama Bro? Gak tau juga... Biasanya ada yang jagain aku... Terus sekarang gak ada! Gak tau...! Aku ngerasa salah sama kelompok karena gak ngapa-ngapain. Ngerasa.... ah...,” Kai terdiam.
Aku menunggu dia melanjutkan kata-katanya. Ini penting karena aku perlu mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan kepadaku. Itu semata-mata, agar aku bisa makin mengerti apa yang hidup dalam diri Kai saat itu. Kudengar, pelan Kai melanjutkan kata-katanya.
”Mungkin juga belum rela ninggalin acara jalan pagi yang begitu berarti untuk aku. Entahlah... Mungkin karena baru saat itu aku bisa bebas lepas, lepas berekspresi. Aku emang cengeng. Aku gak tau sebenernya aku kenapa? Kenapa? Makanya aku tanya Bro. Rasanya Bro udah kenal aku lebih dari aku sendiri. Aku ngerasa aman sama Bro karena yakin Bro gak akan suka orang lain ngapa-ngapain aku. I really need friend untuk ngobrol.”
Kai terisak. Berupaya untuk memahami gejolak perasaan Kai, bagiku adalah usaha yang tidak mudah. Bagaimana aku harus memahaminya, sedang dalam diriku bergejolak perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan. Akan tetapi, mengapa aku tak menyukainya, jika dia di hadapanku berterus terang atas segala kesalahan yang telah dia lakukan?
”Seingat aku, ”lanjut Kai, ”waktu itu aku masih panik, sedikit bingung. Aku ngerasa bersalah banget karena aku suka sama En dan rasa sukaku itu ganggu kerja kelompokku. Kerjaanku jadi gak karuan. Semuanya amburadul. Aku menyadarinya dan aku harus menyudahinya. Memang semestinya aku gak usah tarik tangan Bro saat itu. Karena gak penting banget Bro ikutan urusanku. Tapi aku ngerasa cuma punya temen Bro aja. Aku mau ceritanya ke Bro. Karena Bro ketua kelompok yang aku bikin acakadul. Yang lebih bikin aku nyaman, Bro gak akan pernah suka sama aku. Itu yang bikin aku comfortable untuk bicara sama Bro, walau akhirnya gak ada yang keluar. Tuh kan bener? Gak ada yang penting, makanya waktu itu gak ada yang keluar. Masa, masalah kayak gitu aku gak bisa atasi sendiri? Tapi nyatanya emang aku gak bisa ngatasi hal sepele macam itu. I really need you, Bro. Untuk nampar aku, untuk mengguncang bahuku, untuk menunjukkan semua kelakuanku. Susah banget melihat dari sudut pandang orang lain ke diri sendiri. Aku belum pernah merasa nyaman sama cowok, selain sama Bro. Maksudnya untuk berusaha berbicara, walau akhirnya gak jadi.”
Susah payah Kai menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela nafas. Terus mau apa sekarang? Jika Kai memanggilku, ”My Rumiyin......!” apakah aku juga harus tetap memalingkan wajahku ke arah lain dan meninggalkan cibiran kepadanya? Haruskah sebesar itu aku menghukum Kai, sementara dia telah membuat pengakuan di hadapanku?
Menghadapi Kai, bagiku adalah menghadapi pengalaman masa laluku. Aku harus berani mengakui dan menerima apa yang telah terjadi pada masa laluku. Kai bukanlah masa laluku. Dia adalah masa kini yang sedang memberiku sandungan-sandungan kecil pada ujung jari-jemari kaki dalam kancah jalan kehidupan ini. Ah, Kai. Kesalahan itu bukan hanya milikmu. Kesalahan itu tetap saja ada pada diriku. Bukan saja dirimu dan diriku, melainkan orang lain juga memilikinya.
Di ujung malam, aku hanya bisa membisikkan pada Kai, menyampaikan rasa salah dan maafku, karena sikap penyudutanku kepadanya. Seandainya dia bisa sedekat angin malam ini, akan kurengkuh dan kubisikan kata itu di dekat telinganya. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Mari berupaya bersama aku. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu menyayangimu.***
Agustus 2008
Label:
kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Enam Pertanyaan
Seorang kawan mengirimkan email kepadaku. Ketika kubuka, email itu berisi tentang suatu cerita. Demikian cerita lengkap itu.
Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan. Pertanyaan pertama demikian, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Orang tua", guru, teman, dan kerabatnya."Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Negara Cina", bulan, matahari, dan bintang-bintang."Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari."
”Semua jawaban itu benar.” kata Sang Guru, ”tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini. Jangan sampainafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).
Pertanyaan keempat, "Apa yang paling berat di dunia ini?"Di antara muridnya ada yang menjawab, "Baja", besi, dan gajah.""Semua jawaban hampir benar," kata Sang Guru, ”tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ..."Semua itu benar...", kata Sang Guru...tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".
Lalu pertanyaan keenam, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "PEDANG!""Hampir benar," kata Sang Guru, ”tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...senantiasa belajar dari MASA LALU...dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???
Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan. Pertanyaan pertama demikian, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Orang tua", guru, teman, dan kerabatnya."Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Negara Cina", bulan, matahari, dan bintang-bintang."Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari."
”Semua jawaban itu benar.” kata Sang Guru, ”tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini. Jangan sampainafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).
Pertanyaan keempat, "Apa yang paling berat di dunia ini?"Di antara muridnya ada yang menjawab, "Baja", besi, dan gajah.""Semua jawaban hampir benar," kata Sang Guru, ”tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ..."Semua itu benar...", kata Sang Guru...tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".
Lalu pertanyaan keenam, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "PEDANG!""Hampir benar," kata Sang Guru, ”tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...senantiasa belajar dari MASA LALU...dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???
Selasa, 24 Maret 2009
Awan Untuk Denok
Aku berhenti di bibir jurang. Menghela nafas dan membuangnya dengan sekuat tenaga. Kemudian berbalik dan duduk di bawah pohon melinjo. Jurang ini bagian dari ladang milik Mbah Kakung. Berada di tepi sebelah selatan dan sekaligus menjadi batas. Batas segalanya. Batas milik dan juga batas pandangan! Karena di balik jurang itu tak akan ada lagi ladang milik orang lain. Di bawah jurang itu, sudah mengalir sebuah sungai.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
--00--
”Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Beberapa kali aku bertemu teman di sini. Mereka bilang, kita memang bisa terus saling kontak dan berbagi. Namun, waktu dan keadaan bicara lain. Ketika ada kenyataan bahwa setiap orang memiliki kepentingan dan kesibukan beda, pertemuan ini tinggal kenangan. Tak ada sentuhan, tak ada sapaan, tak ada apapun. Maka, aku hanya ingin berkata padamu, meski hari ini kamu berbincang dan bertemu aku, sadarilah bahwa tak akan pernah ada waktu yang sama, yang dapat mempertemukan kita lagi. Seandainya masih ada hari dan waktu, itu adalah keajaiban dari Sang Pemberi Waktu.”
”Apa maksud Mas?” tanyanya.
”Mengapa bingung?” tanya balikku.
”Tidak bingung. Jadi sedih dengernya...! Ya, aku tahu maksud Mas, tapi aku tidak bakalan begitu kok. Selama aku masih bisa....,” jawabnya pelan.
”Aku hanya ingin memaparkan kenyataan kepadamu....,” kataku.
”Mas setiap saat bisa bicara sama aku.”
”Sekarang kamu bisa bilang begitu....”
”Kan, orang harus bermimpi dulu untuk bisa memiliki cita-citanya. Tidak ada salahnya kalau kita optimis.”
”Tapi, cobalah mengerti, kita akan menemukan banyak hal yang sering tidak bisa diatasi....”
”Menurut aku, tidak ada salahnya kita memiliki keyakinan, Mas.”
”Aku bisa terima. Bisa! Sekaligus aku memberi kamu kenyataan-kenyataan yang akan terjadi...”
”Kalaupun kenyataan itu berbicara lain, toh kita sudah maksimal mengusahakan. Atau mungkin Mas yang tidak mau berbicara dengan aku lagi, ya? Menyesal kenal aku yang cerewetnya kayak nenek-nenek?”
”Lho? Kok bilang begitu? Tidak, tidak! Kamu baik kok!”
”Kalau bukan tidak mau, apa alasannya? Aku tidak suka dengan orang yang pesimistis. Hidup harus yakin dan optimis...”
--00--
Arak-arakan awan itu semakin menjauh. Bentuk orang gendut berkacak pinggang itu sudah tercerai-berai dan berubah bentuk bersama arak-arakan awan lain.
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Label:
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Minggu, 23 November 2008
Katakan: Tuhan Masih Ada
+Katakan,+Tuhan.jpg)
Di kisah yang panjang gubuk ini istana kami
Pada tanah leluhur yang loh jinawi
Dan, pada cerita pendek istanaku tak berbentuk
Tinggal kenangan yang menyayat
Mimpi yang membunuh
Seng, karton, papan, genting, piring menyatu berserakan tak dapat dieja
Di kisah yang pendek dan pada suatu titik
Meremukkan jumpa yang tertinggal di antara peluh dan asa
Melumatkan kisah hari ini, ini nasi tanpa laut
Termangu pada bahtera Nuh
Mungkin hari ini tak pernah baru, air menggenang di sepanjang zaman
Hari ini sisa
Mungkin hidup dan mungkin mati
Katakan: Tuhan masih ada
Tanpa mengeja karton, seng, tanah, piring
Pada kedamaian akhir tak terbedakan
Ini suci
Namun,
Kau pastikan dirimu menabur benih di kawasan tanpa nama
Yang kau sebut milik yang punya nama
Pada buku dan meterai namamu tak tertulis, tercatat pun tidak
Engkau orang asing
Dan, beranilah
Pastikan padaku: Tuhan masih ada
10 Juni 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Pada tanah leluhur yang loh jinawi
Dan, pada cerita pendek istanaku tak berbentuk
Tinggal kenangan yang menyayat
Mimpi yang membunuh
Seng, karton, papan, genting, piring menyatu berserakan tak dapat dieja
Di kisah yang pendek dan pada suatu titik
Meremukkan jumpa yang tertinggal di antara peluh dan asa
Melumatkan kisah hari ini, ini nasi tanpa laut
Termangu pada bahtera Nuh
Mungkin hari ini tak pernah baru, air menggenang di sepanjang zaman
Hari ini sisa
Mungkin hidup dan mungkin mati
Katakan: Tuhan masih ada
Tanpa mengeja karton, seng, tanah, piring
Pada kedamaian akhir tak terbedakan
Ini suci
Namun,
Kau pastikan dirimu menabur benih di kawasan tanpa nama
Yang kau sebut milik yang punya nama
Pada buku dan meterai namamu tak tertulis, tercatat pun tidak
Engkau orang asing
Dan, beranilah
Pastikan padaku: Tuhan masih ada
10 Juni 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Kamis, 20 November 2008
Bias
+Bias.jpg)
Jangan biarkan,
Genggamlah selagi dapat
Kebenaran dimisalkan dalam andaikan
Andaikan diumpamakan dalam remang-remang
Senja menanjak malam
Gelap
Kosong,
Tanganmu mendusta diri.
Jangan biarkan
Jeruji besi melingkari kebebasan
Mencampakkan kebenaran pada kekayaan
Menyerahkan hukum pada ketok palu yang tanpa nurani
Pada keadilan untumu yang mengerti rumahku reyot
Walau hukum, kebenaran, dan keadilan bias padamu.
Jangan,
Jangan gadaikan nurani demi mamon
Yang tanpan daya membangkitkanmu dari kubur
Anak cucumu remuk redam oleh warisan leluhur
Bias hukum, kebenaran, dan keadilan.
Tak terdefinisikan, satu pun tidak.
Cukupkan,
Ini untuk hari ini.
Hari esok ada waktunya sendiri.
16 Mei 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Genggamlah selagi dapat
Kebenaran dimisalkan dalam andaikan
Andaikan diumpamakan dalam remang-remang
Senja menanjak malam
Gelap
Kosong,
Tanganmu mendusta diri.
Jangan biarkan
Jeruji besi melingkari kebebasan
Mencampakkan kebenaran pada kekayaan
Menyerahkan hukum pada ketok palu yang tanpa nurani
Pada keadilan untumu yang mengerti rumahku reyot
Walau hukum, kebenaran, dan keadilan bias padamu.
Jangan,
Jangan gadaikan nurani demi mamon
Yang tanpan daya membangkitkanmu dari kubur
Anak cucumu remuk redam oleh warisan leluhur
Bias hukum, kebenaran, dan keadilan.
Tak terdefinisikan, satu pun tidak.
Cukupkan,
Ini untuk hari ini.
Hari esok ada waktunya sendiri.
16 Mei 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Label:
mimpi,
suport hidup,
ungkapan hati
Langganan:
Postingan (Atom)