Aku gak tau lagi gimana caranya menghubungimu. Aku kirim email, gak ada balasan. Aku ke tempatmu, gak ada. Aku telpon, kamu pergi. Apa aku benar-benar sudah kehilangan seseorang yang pernah dekat dengan aku. Yang selalu panggil aku ”Teteh...” Aku memang pernah meninggalkanmu waktu aku ke B dulu. Aku berharap tidak ada yang berubah meski aku jauh (saat itu). Tapi ternyata harapanku hanya tinggal harapan. Aku gak tau apa ini hanya perasaanku saja, tapi yang jelas aku merasa kamu semakin jauh. Dulu aku yang pergi jauh, tapi hati kita dekat. Sekarang jarak kita sudah dekat, tapi kenapa justru ada rasa yang jauuuh banget. Sekali lagi, apa aku benar-benar sudah kehilangan seorang sahabat, seorang yang pernah dekat di hati? Maafkan, kalau aku sudah mengganggu ketenanganmu.
Dear my beloved Bro. Your email make me love you more. I will love you always. I knew now, how much you hate me. I'm so sorry. Membaca tulisan Bro membuatku tersentak. Aku tersadar atas semua kekhilafanku. Entah kenapa, aku benar-benar tak bisa menahan emosi jiwa saat itu. Apa yang Bro tulis sangat aku butuhkan. Selama ini aku belum pernah bisa untuk mengaca. Aku selalu egois. Selalu memikirkan diriku sendiri. Once again, thank you. I love you more...
Dua email itu aku terima dalam waktu yang berbeda. Jaraknya pun sangat berjauhan. Kedua-duanya aku dapatkan dari dua temanku. Mereka pun dua teman yang kukenal berbeda waktu dan berbeda tempat. Akan tetapi, pertemuan dengan mereka itu bener-benar memberi bekas bagi diriku. Bekas yang mendalam. Ah, ah!
Pribadi yang menulis pertama itu, ketika aku membaca emailnya, jujur saja aku terkejut. Mengapa bisa memiliki dugaan seperti itu? Selama ini, aku tidak pernah memiliki pemikiran yang terlalu jauh tentang kedekatan ini. Dulu memang, ketika masih dalam masa kebersamaan, ada saat-saat menyenangkan bersamanya. Aku masih ingat persis, perhatiannya banyak banget. Lebih-lebih kalau saat makan. Apa saja disiapkan, ditanya mau makan apa, minum apa. Semua diambilkan. Wah, dimanja banget. Ya..., senang juga sih! Lambat laun, cerita demi cerita pun mengalir. Akhirnya kami begitu dekat. Setelah acara kebersamaan itu, beberapa waktu memang masih ada kontak, namun juga tidak terlalu sering. Hingga suatu saat, dia pindah ke B. Selama dia di B itu, kontak juga jarang. Sempat juga menghubunginya ketika dia ulang tahun. Tidak lama dia di B, balik lagi. Meski sudah satu kota lagi, kontak pun jarang.
Sedangkan pribadi yang satu lagi, itu baru saja aku kenal. Mengikuti sebuah training yang akhirnya mengharuskan menjadi satu kelompok dengan dia. Justru ketika satu kelompok itu, kedekatan selama proses training dan latihan jarang terjadi. Hanya pada saat-saat tertentu saja, aku berkontak dengan dia. Masalahnya, di akhir training, ketika mendekati selesai, ada tugas yang harus diselesaikan bersama, dirinya terlalu memikirkan perasaannya. Ada hal yang jauh lebih indah, sehingga banyak waktu yang dihabiskan diluar kelompok. Untuk hal ini pun, aku tidak terlalu menyalahkan karena aku sendiri belum tentu benar. Rasa kecewaku sebagai penanggung jawab tugas dalam kelompok itu dirasakan. Memang kecewa! Karena pada saat selesai training, aku pergi di hadapannya dengan rasa dingin. Dirasakan itu!
Beberapa hari, dia kemudian mengontakku. Aku sendiri masih menyimpan perasaan tidak nyaman. Jengkel yang belum longgar. Kesempatan itulah yang kugunakan untuk menyampaikan beban yang ada dalam pikiranku. Segalanya kusampaikan dengan terbuka, termasuk penilaianku atau perasaanku pada dirinya selamat proses pembuatan tugas terakhir training itu. Barangkali, karena keterusteranganku atau apa, dia kemudian membalas dengan email pendek seperti itu. Aku juga tidak menyangka bahwa dia bisa menanggapi sedemikian dalam.
Mengenal banyak orang itu mudah. Begitu aku mau membuka mulut untuk menyapa, akan hadir di depanku orang yang mau berkawan. Akan tetapi, mengenal hati orang yang mau berkawan denganku itu tidak mudah. Tidak setiap orang yang menjadi kawan, akan memiliki perasaan untuk mampu membuka hati di hadapanku. Mengapa aku harus menyia-nyiakan hati yang sudah terbuka untuk berbagi denganku? Mengapa anugerah pribadi yang unik ini tidak aku pupuk sebagai kekayaan di dalam membentuk persaudaran dengan orang lain? Terkadang, dengan bersembunyi pada kesibukan, aku telah melalaikan hati yang telah terbuka itu. Padahal, jika hati itu terluka, tak akan mudah untuk sembuh dan menerima kehadiranku lagi.***
Semarang, 28 Maret 2009
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 April 2009
Dua Email
Label:
kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Selasa, 31 Maret 2009
Surat Tak Sampai
Tahun 2003, saat aku masih kuliah, ada program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang harus kuikuti. Dalam KKN itu, aku bergabung dengan kawan-kawan dari berbagai jurusan. Jadilah satu kelompok dengan kawan baru. Yang lebih beruntung jika dalam kelompok itu, ada kawan yang memang sudah dikenal, meski berbeda jurusan. Namun bagiku tidak demikian. Aku sendirian dari jurusanku. Namun, begitu bisa gabung, aku pun dapat menemukan berbagai pengalaman yang memperkaya aku. Berbagai kegiatan dapat kulakukan dan kuselesaikan dengan kawan-kawan baru ini.
Di saat perjumpaan terakhir dan pembubaran kelompok, aku dan kawan-kawan sempat makan bersama-sama di sebuah rumah makan. Saat itulah, kuberikan ungkapan-ungkapanku kepada kawan-kawanku dalam bentuk tulisan. Sayang sekali, seorang kawan berhalangan hadir, sehingga dia tak sempat menerima coretan tanganku. Namanya biasa dipanggil Ani.
Sayangnya, aku tak pernah tahu kemana dirinya melanjutkan kariernya, setelah kami sama-sama lulus tahun 2004. Jika dia menemukan tulisanku ini, semoga dia bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Jika tidak, tulisan yang telah kupindah dalam blog ini, semoga tidak hilang.
Buat Ani
Salam hangat penuh persahabatan,
Rasanya tidak mungkin aku mengungkapkan kesanku kepadamu hanya dalam jangka waktu yang sedikit dan terbatas. Maka aku sempatkan untuk memberikan ungkapan kesan dan terima kasihku kepadamu melalui tulisan ini. Sebelumnya, aku minta maaf jika nanti ada kesan pribadiku yang ternyata tidak berkenan di hati.
Waa..., ini dia temanku yang paling seger penuh tawa! Gimana, masih sanggup untuk tertawa panjang lagi sampe ujung barat dan timur mendengar, Dik? Ha...ha...ha...! Masih kuat ngisi TTS? Atau masih mau main kartu? Yah, mudah-mudahan semuanya masih menjadi hobi yang mengasyikkan di samping tugas-tugas lain, ya?
Ada beberapa hal yang dapat kutimba selama aku bergaul dengan dirimu selama KKN. Barangkali bagi kamu tidak, namun bagiku, ya! Aku pikir, pada waktu pertemuan pertama di kampus, kamu orangnya tidak banyak ketawa. Eh, tak tahunya? Ngakakmu itu nggak ada yang menandingi. Bahkan Bu Muji aja sempat terheran-heran. Kamu tahu tidak, apa kata teman-teman jika kamu sudah mulai bicara? ”Waa..., Gunung Merapi nih, mulai mengeluarkan semburannya!” Gitu mereka bilang! Ha...ha...ha...! Sorry, nggak nyinggung, kan?
Itulah keistimewaanmu yang dapat kutangkap selama kita kenal sebagai teman baru di Dusun Surodadi. Kupikir, ini anak kok enak banget segala sesuatu dianggap santai, ringan, tanpa beban. Ketawa-ketiwi tanpa henti! Namun, setelah sekain lama aku mengenal sisi itu, aku jadi tersadarkan bahwa aku memang mesti menerima pribadi lain yang hadir di sekelilingku dengan apa adanya. Itulah pribadimu yang kutangkap tampak santai, ringan, penuh tawa, dan enjoy saat bergaul dengan orang lain. Sikap dan sifatmu itu telah menunjukkan kepadaku bahwa ada kalanya segala sesuatu yang dihadapi itu harus dirasakan dengan ringan, dengan tawa! Hal ini yang sebenarnya berat, namun dapat saja dibawa dengan ringan, sehingga justru cepat selesai. Itulah yang kutangkap dari pribadimu. Santai! Penuh tawa!
Memang, aku juga menyadari bahwa selama kita bergaul, tidak banyak hal yang sering kita bicarakan secara mendalam. Tidak mengapa! Itu semua juga kamu sadari bahwa tidak setiap orang dapat cocok untuk berakrab-akrab ria. Bahkan aku pernah mengungkapkan suatu ganjalan kepadamu pada waktu kita melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman. Kamu dapat menerima dan menyadari itu dengan baik! Benar-benar aku menghargai sifatmu itu. Mungkin, latar belakang kehidupanmu yang berbeda dengan latar belakang kehidupanku atau teman lain, sedikit mengganjal pada saat harus hidup bersama. Mungkin, bagi dirimu tidak memengaruhi, namun bagiku atau teman lain memengaruhi. Nah, dalam situasi seperti ini, jika ada teman yang menegurmu, kamu mampu untuk menerimanya. Kamu tetap enjoy, tanpa tersinggung, dan kamu berusaha untuk memahami serta memperbaiki.
Barangkali kamu menilai bahwa hidup seseorang memang harus dijalani dengan keriangan. Ya, kalau memang itu yang kamu perjuangkan atau yang menjadi salah satu prinsip, itu pun aku hargai. Yang pasti, selama menjalin pertemanan dengan dirimu, aku belajar banyak hal. Belajar akan pentingnya sebuah relaksasi; belajar akan baiknya membawa sesuatu ke dalam keceriaan, dan pentingya menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sekiranya akan membantu dalam meniti masa depan.
Ani, terima kasih ya, atas kehadiranmu dalam kelompok kita. Aku menyadari sekarang bahwa pribadi sepertimu juga memberikan andil pada diriku. Aku semakin tahu bahwa tidak selamanya orang yang sedang memiliki tanggung jawab dan tugas harus diselesaikan dengan muka masam atau cemberut. Orang dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan ringan dan muka cerah. Bukankah ini lebih menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?
Mudah-mudahan apa yang kusampaikan ini tidak membikin kamu bingung! Inilah yang dapat kusampaikan, setelah nanti kita tidak bertemu lagi. Dari tujuh teman, kamulah yang paling jauh tempat tinggalnya. Kalau kamu sudah selesai dari Yogya, kembali ke Kalimantan, apakah mungkin dapat bersua kembali? Ya, akhirnya hanya doa yang dapat kusampaikan. Sukses ya, kamu menjalani hidup dan meraih masa depan! Baik-baiklah untuk berusaha! Akhirnya, selamat meniti karier yang cerah!
O, ya yang pasti tak akan pernah aku lupa bahwa ’lip balm-mu’ itu merupakan ingatan bagi diriku! Ha...ha...ha...! Nggak dapat barangnya, malah dapat pengalaman lucu! Aku minta maaf atas segala kesalahan, kekilafan, dan kekurangan yang membuatmu kecewa sebagai teman di Kelompok 57.
Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah kamu bagikan kepadaku. Panggilan namaku yang sudah akrab sebagai anggota Kelompok 57, pertahankan dan pakailah itu saat kapan saja jika masih sempat bertemu denganku. Kuanggap ini sebagai kenanngan.
Yogyakarta, Februari 2003
Doa dan dukunganku,
Hanya jejak-jejak inilah yang bisa kusampaikan. Entah, mungkin dia telah menggapai suatu cita yang dulu pernah diidamkannya. Aku tak pernah tahu...
Semarang, 30 Maret 2009
Di saat perjumpaan terakhir dan pembubaran kelompok, aku dan kawan-kawan sempat makan bersama-sama di sebuah rumah makan. Saat itulah, kuberikan ungkapan-ungkapanku kepada kawan-kawanku dalam bentuk tulisan. Sayang sekali, seorang kawan berhalangan hadir, sehingga dia tak sempat menerima coretan tanganku. Namanya biasa dipanggil Ani.
Sayangnya, aku tak pernah tahu kemana dirinya melanjutkan kariernya, setelah kami sama-sama lulus tahun 2004. Jika dia menemukan tulisanku ini, semoga dia bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Jika tidak, tulisan yang telah kupindah dalam blog ini, semoga tidak hilang.
Buat Ani
Salam hangat penuh persahabatan,
Rasanya tidak mungkin aku mengungkapkan kesanku kepadamu hanya dalam jangka waktu yang sedikit dan terbatas. Maka aku sempatkan untuk memberikan ungkapan kesan dan terima kasihku kepadamu melalui tulisan ini. Sebelumnya, aku minta maaf jika nanti ada kesan pribadiku yang ternyata tidak berkenan di hati.
Waa..., ini dia temanku yang paling seger penuh tawa! Gimana, masih sanggup untuk tertawa panjang lagi sampe ujung barat dan timur mendengar, Dik? Ha...ha...ha...! Masih kuat ngisi TTS? Atau masih mau main kartu? Yah, mudah-mudahan semuanya masih menjadi hobi yang mengasyikkan di samping tugas-tugas lain, ya?
Ada beberapa hal yang dapat kutimba selama aku bergaul dengan dirimu selama KKN. Barangkali bagi kamu tidak, namun bagiku, ya! Aku pikir, pada waktu pertemuan pertama di kampus, kamu orangnya tidak banyak ketawa. Eh, tak tahunya? Ngakakmu itu nggak ada yang menandingi. Bahkan Bu Muji aja sempat terheran-heran. Kamu tahu tidak, apa kata teman-teman jika kamu sudah mulai bicara? ”Waa..., Gunung Merapi nih, mulai mengeluarkan semburannya!” Gitu mereka bilang! Ha...ha...ha...! Sorry, nggak nyinggung, kan?
Itulah keistimewaanmu yang dapat kutangkap selama kita kenal sebagai teman baru di Dusun Surodadi. Kupikir, ini anak kok enak banget segala sesuatu dianggap santai, ringan, tanpa beban. Ketawa-ketiwi tanpa henti! Namun, setelah sekain lama aku mengenal sisi itu, aku jadi tersadarkan bahwa aku memang mesti menerima pribadi lain yang hadir di sekelilingku dengan apa adanya. Itulah pribadimu yang kutangkap tampak santai, ringan, penuh tawa, dan enjoy saat bergaul dengan orang lain. Sikap dan sifatmu itu telah menunjukkan kepadaku bahwa ada kalanya segala sesuatu yang dihadapi itu harus dirasakan dengan ringan, dengan tawa! Hal ini yang sebenarnya berat, namun dapat saja dibawa dengan ringan, sehingga justru cepat selesai. Itulah yang kutangkap dari pribadimu. Santai! Penuh tawa!
Memang, aku juga menyadari bahwa selama kita bergaul, tidak banyak hal yang sering kita bicarakan secara mendalam. Tidak mengapa! Itu semua juga kamu sadari bahwa tidak setiap orang dapat cocok untuk berakrab-akrab ria. Bahkan aku pernah mengungkapkan suatu ganjalan kepadamu pada waktu kita melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman. Kamu dapat menerima dan menyadari itu dengan baik! Benar-benar aku menghargai sifatmu itu. Mungkin, latar belakang kehidupanmu yang berbeda dengan latar belakang kehidupanku atau teman lain, sedikit mengganjal pada saat harus hidup bersama. Mungkin, bagi dirimu tidak memengaruhi, namun bagiku atau teman lain memengaruhi. Nah, dalam situasi seperti ini, jika ada teman yang menegurmu, kamu mampu untuk menerimanya. Kamu tetap enjoy, tanpa tersinggung, dan kamu berusaha untuk memahami serta memperbaiki.
Barangkali kamu menilai bahwa hidup seseorang memang harus dijalani dengan keriangan. Ya, kalau memang itu yang kamu perjuangkan atau yang menjadi salah satu prinsip, itu pun aku hargai. Yang pasti, selama menjalin pertemanan dengan dirimu, aku belajar banyak hal. Belajar akan pentingnya sebuah relaksasi; belajar akan baiknya membawa sesuatu ke dalam keceriaan, dan pentingya menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sekiranya akan membantu dalam meniti masa depan.
Ani, terima kasih ya, atas kehadiranmu dalam kelompok kita. Aku menyadari sekarang bahwa pribadi sepertimu juga memberikan andil pada diriku. Aku semakin tahu bahwa tidak selamanya orang yang sedang memiliki tanggung jawab dan tugas harus diselesaikan dengan muka masam atau cemberut. Orang dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan ringan dan muka cerah. Bukankah ini lebih menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?
Mudah-mudahan apa yang kusampaikan ini tidak membikin kamu bingung! Inilah yang dapat kusampaikan, setelah nanti kita tidak bertemu lagi. Dari tujuh teman, kamulah yang paling jauh tempat tinggalnya. Kalau kamu sudah selesai dari Yogya, kembali ke Kalimantan, apakah mungkin dapat bersua kembali? Ya, akhirnya hanya doa yang dapat kusampaikan. Sukses ya, kamu menjalani hidup dan meraih masa depan! Baik-baiklah untuk berusaha! Akhirnya, selamat meniti karier yang cerah!
O, ya yang pasti tak akan pernah aku lupa bahwa ’lip balm-mu’ itu merupakan ingatan bagi diriku! Ha...ha...ha...! Nggak dapat barangnya, malah dapat pengalaman lucu! Aku minta maaf atas segala kesalahan, kekilafan, dan kekurangan yang membuatmu kecewa sebagai teman di Kelompok 57.
Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah kamu bagikan kepadaku. Panggilan namaku yang sudah akrab sebagai anggota Kelompok 57, pertahankan dan pakailah itu saat kapan saja jika masih sempat bertemu denganku. Kuanggap ini sebagai kenanngan.
Yogyakarta, Februari 2003
Doa dan dukunganku,
Hanya jejak-jejak inilah yang bisa kusampaikan. Entah, mungkin dia telah menggapai suatu cita yang dulu pernah diidamkannya. Aku tak pernah tahu...
Semarang, 30 Maret 2009
Label:
cinta,
doa,
doa kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Sabtu, 28 Maret 2009
Telepon dari Seberang
Saudaraku tiba-tiba bilang kalau aku diminta untuk menelepon Liani. Liani? Ah, mengapa harus nelpon? Sudah lama aku tidak berkontak dengannya. Tetapi mengapa aku harus meneleponya? ”Mungkin dia masih menyimpan masalah sama kamu,” kata saudaraku itu sambil tertawa. Sialan, kataku.
Liani itu kawan lama. Dia kukenal kira-kira empat tahun yang lalu di kota S. Waktu itu, ada sebuah kegiatan yang membuat aku bisa berjumpa dengan dirinya. Nah, yang membikin hal mengesan bukan Liani, melainkan diriku yang bergulat dengan masa laluku. Kok Liani bisa terlibat? Ceritanya, waktu mengikuti kegiatan itu, acapkali berjumpa dengan Liani, aku selalu tidak bisa saling berkomunikasi. Diam-diaman. Jika berpapasan dengannya tak ada sapaan hangat. Padahal, dia kawan baru, mestinya aku memberi sapa yang hangat. Namun itu tidak kulakukan. Aku juga heran dengan diriku ini. Ada apa sebenarnya?
Selang satu bulan (kegiatan itu dilakukan selama dua bulan dengan tinggal di asrama), aku mulai menemukan akar persoalan. Akar persoalan itu ternyata ada dalam dirku sendiri. Sosok Liani itu ternyata mirip dengan seseorang di masa laluku yang membikin aku sakit hati. Oh, itu yang membuat komunikasiku dengan Liani terhambat. Menyadari itu, aku berusaha untuk menyelesaikan. Ternyata tidak mudah! Aku mencoba mendekati untuk menyampaikan segala ganjalan yang ada.
Suatu siang, selesai makan siang, aku mengajaknya untuk berbicara. Kepadanya kuungkapkan bahwa aku meminta maaf jika ada perilakuku yang membuatnya tidak nyaman. Kusampaikan apa adanya tentang alam bawah sadarku yang membenci seseorang namun tersalurkan pada sosok dirinya. Liani bisa mengerti. Aku berusaha untuk mengolah luka ini.
Lambat namun pasti, aku mulai mampu untuk berkomunikasi dengan Liani. Meski masih sulit, aku tetap berusaha berkontak dengan Liani. Saat-saat lain, jika bertemu, aku menyapanya. Bahkan, aku berusaha untuk duduk sebangku di ruang pertemuan. Hingga pada akhirnya, segala kebekuan itu mencair. Obrolan sudah terjalin dan senda gurau pun tercipta. Di saat-saat pertemuan di kelas, aku tukar bolpointku dengan milik Liani.
Ah, tiba-tiba saja sekarang dia memberi tahu saudaraku agar aku meneleponnya. Benarkah ada sesuatu masalah masa lalu yang belum selesai? Ah, mungkin bukan! Karena yang memiliki masalah adalah diriku, sementara Liani tidak ada masalah apa pun. Semuanya sudah berlalu!
Jam 20.45, aku hubungi Liani. Agak lama juga tersambung ke ponselnya. Sempat terputus. Ketika bisa tersambung, dengan ringan kusapa Liani.
”Haloo...met malam, met jumpa.”
”Hei! Pa kabar? Lama tidak kontak.”
”Ya begitulah....”
Obrolan pun terjalin. Ternyata benar! Bukan suatu masalah. Nyatanya, sampai 30 menit obrolan itu, segalanya berjalan dengan baik. Apa yang ingin disampaikan kepadaku? Sebuah undangan. Dia mengundangku untuk datang tanggal 8 September. Ada peristiwa yang sedang dirayakannya.
”Aduh, sori, aku tidak bisa kalau mendadak begini,” jawabku.
”Habisnya...., kamu tidak pernah berkirim kabar sama aku,” sahutnya.
”Iya maaf. Tapi nanti aku hubungi jika perayaan itu sudah selesai.”
”Bener lho! Aku tunggu.”
”Tapi aku tidak janji....”
”Lho, gimana sih? Pokoknya aku tunggu tanggal 8 malam telepon aku. Awas kalau tidak!” kata Liani.
Begitulah percakapan malam itu. Meski hanya bertukar kabar, perjumpaan dengan Liani lewat udara ini telah memberiku suatu pengalaman bahwa ada masa-masa ketika seseorang itu ternyata masih saling memerlukan. Paling tidak, saling menyapa. ***
September 2008
Liani itu kawan lama. Dia kukenal kira-kira empat tahun yang lalu di kota S. Waktu itu, ada sebuah kegiatan yang membuat aku bisa berjumpa dengan dirinya. Nah, yang membikin hal mengesan bukan Liani, melainkan diriku yang bergulat dengan masa laluku. Kok Liani bisa terlibat? Ceritanya, waktu mengikuti kegiatan itu, acapkali berjumpa dengan Liani, aku selalu tidak bisa saling berkomunikasi. Diam-diaman. Jika berpapasan dengannya tak ada sapaan hangat. Padahal, dia kawan baru, mestinya aku memberi sapa yang hangat. Namun itu tidak kulakukan. Aku juga heran dengan diriku ini. Ada apa sebenarnya?
Selang satu bulan (kegiatan itu dilakukan selama dua bulan dengan tinggal di asrama), aku mulai menemukan akar persoalan. Akar persoalan itu ternyata ada dalam dirku sendiri. Sosok Liani itu ternyata mirip dengan seseorang di masa laluku yang membikin aku sakit hati. Oh, itu yang membuat komunikasiku dengan Liani terhambat. Menyadari itu, aku berusaha untuk menyelesaikan. Ternyata tidak mudah! Aku mencoba mendekati untuk menyampaikan segala ganjalan yang ada.
Suatu siang, selesai makan siang, aku mengajaknya untuk berbicara. Kepadanya kuungkapkan bahwa aku meminta maaf jika ada perilakuku yang membuatnya tidak nyaman. Kusampaikan apa adanya tentang alam bawah sadarku yang membenci seseorang namun tersalurkan pada sosok dirinya. Liani bisa mengerti. Aku berusaha untuk mengolah luka ini.
Lambat namun pasti, aku mulai mampu untuk berkomunikasi dengan Liani. Meski masih sulit, aku tetap berusaha berkontak dengan Liani. Saat-saat lain, jika bertemu, aku menyapanya. Bahkan, aku berusaha untuk duduk sebangku di ruang pertemuan. Hingga pada akhirnya, segala kebekuan itu mencair. Obrolan sudah terjalin dan senda gurau pun tercipta. Di saat-saat pertemuan di kelas, aku tukar bolpointku dengan milik Liani.
Ah, tiba-tiba saja sekarang dia memberi tahu saudaraku agar aku meneleponnya. Benarkah ada sesuatu masalah masa lalu yang belum selesai? Ah, mungkin bukan! Karena yang memiliki masalah adalah diriku, sementara Liani tidak ada masalah apa pun. Semuanya sudah berlalu!
Jam 20.45, aku hubungi Liani. Agak lama juga tersambung ke ponselnya. Sempat terputus. Ketika bisa tersambung, dengan ringan kusapa Liani.
”Haloo...met malam, met jumpa.”
”Hei! Pa kabar? Lama tidak kontak.”
”Ya begitulah....”
Obrolan pun terjalin. Ternyata benar! Bukan suatu masalah. Nyatanya, sampai 30 menit obrolan itu, segalanya berjalan dengan baik. Apa yang ingin disampaikan kepadaku? Sebuah undangan. Dia mengundangku untuk datang tanggal 8 September. Ada peristiwa yang sedang dirayakannya.
”Aduh, sori, aku tidak bisa kalau mendadak begini,” jawabku.
”Habisnya...., kamu tidak pernah berkirim kabar sama aku,” sahutnya.
”Iya maaf. Tapi nanti aku hubungi jika perayaan itu sudah selesai.”
”Bener lho! Aku tunggu.”
”Tapi aku tidak janji....”
”Lho, gimana sih? Pokoknya aku tunggu tanggal 8 malam telepon aku. Awas kalau tidak!” kata Liani.
Begitulah percakapan malam itu. Meski hanya bertukar kabar, perjumpaan dengan Liani lewat udara ini telah memberiku suatu pengalaman bahwa ada masa-masa ketika seseorang itu ternyata masih saling memerlukan. Paling tidak, saling menyapa. ***
September 2008
Label:
sahabat,
ungkapan hati
Jumat, 27 Maret 2009
My Rumiyin!!!!!!!!!!!!!
Heran aku! Kai selalu memanggilku dengan kata-kata itu. Apa sih yang membuatnya selalu memanggilku dengan ”My Rumiyin, My Rumiyin” itu? Kalau diterjemahkan sesuai kata aslinya, bener-bener tak bakalan menjadi jelas, bahkan membingungkan. Apa coba, dengan maksud ”dulu-ku, dahulu-ku”.
”Apaan sih, my rumiyin, my rumiyin....,” tanyaku waktu itu.
”Lhah..., kan Bro emang my rumiyin. Piye toh?” jawabnya sekenanya.
”Kamu tahu artinya rumiyin?” lanjutku.
”Artinya: dulu, kan?” sahutnya dan lantas berlalu dari hadapanku.
Begitulah Kai. Penjelasan tentang ”My Rumiyin” itu tak pernah dia sampaikan kepadaku. Jika ngomong soal Kai, aku lalu ingat pertemuannya beberapa waktu lalu. Awal mulanya hanya karena persamaan tujuan untuk mengikuti suatu kegiatan di pinggiran kota Y. Bahkan ketika kegiatan itu aku jalani bersama teman baru lain, termasuk Kai, segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya bisa terjadi dengan baik, dan hasil kegiatan itu pun dapat kubawa pulang dengan baik pula. Sampai pada penghujung kegiatan, Kai membuat pengakuan di hadapanku.
Apa sih yang salah tentang Kai? Jika ingat pengakuannya, aku sebenarnya tidak ingin menyudutkan bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata adalah kesalahannya. Sebagai manusia, siapa yang tidak salah langkah karena kelemahan? Tak seorang pun bisa lepas dari kekeliruan.
Melihatnya bisa bergembira di pagi hari, bagiku sudah cukup untuk bisa memberinya kesejukan. Tak ada yang ingin kuminta banyak darinya. Jika dengan sentuhan udara dingin, basahnya tetesan embun, dan hangatnya sinar matahari pagi, Kai sudah bisa menikmati satu hari itu saja, itu adalah anugerah yang sangat besar bagiku. Meski aku hanya bisa mengajaknya menyusuri jalan-jalan setapak atau pematang-pematang sawah atau pinggiran sungai, itu adalah kesempatan yang sudah lebih dari cukup bagiku.
Sayangnya, aku begitu terganggu. Mengapa aku sulit untuk menerimanya? Apakah karena di dalam hatiku ada tuntutan agar dia tampil sebagai seorang Kai yang sempurna? Atau karena aku sendiri yang masih menipu diriku atas rasa cukup yang selama ini kupertahankan dalam diriku? Semestinya, ketika Kai berterus terang kepadaku atas segala tindakan yang menurutnya bodoh itu dilakukan, aku tak harus menyudutkannya.
”Waktu itu, entahlah. Aku gak tau...! Masih ingat sih perasaan aku saat itu. Amburadul banget! Ga tau aku juga kenapa...” katanya memulai percakapan.
”Trus ngapain harus ngajak ngomong aku dan akhirnya malah gak jadi?” tanyaku.
”Ah, Bro...! Aku juga ga tau...! Mungkin karena takut pisah sama Bro? Gak tau juga... Biasanya ada yang jagain aku... Terus sekarang gak ada! Gak tau...! Aku ngerasa salah sama kelompok karena gak ngapa-ngapain. Ngerasa.... ah...,” Kai terdiam.
Aku menunggu dia melanjutkan kata-katanya. Ini penting karena aku perlu mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan kepadaku. Itu semata-mata, agar aku bisa makin mengerti apa yang hidup dalam diri Kai saat itu. Kudengar, pelan Kai melanjutkan kata-katanya.
”Mungkin juga belum rela ninggalin acara jalan pagi yang begitu berarti untuk aku. Entahlah... Mungkin karena baru saat itu aku bisa bebas lepas, lepas berekspresi. Aku emang cengeng. Aku gak tau sebenernya aku kenapa? Kenapa? Makanya aku tanya Bro. Rasanya Bro udah kenal aku lebih dari aku sendiri. Aku ngerasa aman sama Bro karena yakin Bro gak akan suka orang lain ngapa-ngapain aku. I really need friend untuk ngobrol.”
Kai terisak. Berupaya untuk memahami gejolak perasaan Kai, bagiku adalah usaha yang tidak mudah. Bagaimana aku harus memahaminya, sedang dalam diriku bergejolak perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan. Akan tetapi, mengapa aku tak menyukainya, jika dia di hadapanku berterus terang atas segala kesalahan yang telah dia lakukan?
”Seingat aku, ”lanjut Kai, ”waktu itu aku masih panik, sedikit bingung. Aku ngerasa bersalah banget karena aku suka sama En dan rasa sukaku itu ganggu kerja kelompokku. Kerjaanku jadi gak karuan. Semuanya amburadul. Aku menyadarinya dan aku harus menyudahinya. Memang semestinya aku gak usah tarik tangan Bro saat itu. Karena gak penting banget Bro ikutan urusanku. Tapi aku ngerasa cuma punya temen Bro aja. Aku mau ceritanya ke Bro. Karena Bro ketua kelompok yang aku bikin acakadul. Yang lebih bikin aku nyaman, Bro gak akan pernah suka sama aku. Itu yang bikin aku comfortable untuk bicara sama Bro, walau akhirnya gak ada yang keluar. Tuh kan bener? Gak ada yang penting, makanya waktu itu gak ada yang keluar. Masa, masalah kayak gitu aku gak bisa atasi sendiri? Tapi nyatanya emang aku gak bisa ngatasi hal sepele macam itu. I really need you, Bro. Untuk nampar aku, untuk mengguncang bahuku, untuk menunjukkan semua kelakuanku. Susah banget melihat dari sudut pandang orang lain ke diri sendiri. Aku belum pernah merasa nyaman sama cowok, selain sama Bro. Maksudnya untuk berusaha berbicara, walau akhirnya gak jadi.”
Susah payah Kai menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela nafas. Terus mau apa sekarang? Jika Kai memanggilku, ”My Rumiyin......!” apakah aku juga harus tetap memalingkan wajahku ke arah lain dan meninggalkan cibiran kepadanya? Haruskah sebesar itu aku menghukum Kai, sementara dia telah membuat pengakuan di hadapanku?
Menghadapi Kai, bagiku adalah menghadapi pengalaman masa laluku. Aku harus berani mengakui dan menerima apa yang telah terjadi pada masa laluku. Kai bukanlah masa laluku. Dia adalah masa kini yang sedang memberiku sandungan-sandungan kecil pada ujung jari-jemari kaki dalam kancah jalan kehidupan ini. Ah, Kai. Kesalahan itu bukan hanya milikmu. Kesalahan itu tetap saja ada pada diriku. Bukan saja dirimu dan diriku, melainkan orang lain juga memilikinya.
Di ujung malam, aku hanya bisa membisikkan pada Kai, menyampaikan rasa salah dan maafku, karena sikap penyudutanku kepadanya. Seandainya dia bisa sedekat angin malam ini, akan kurengkuh dan kubisikan kata itu di dekat telinganya. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Mari berupaya bersama aku. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu menyayangimu.***
Agustus 2008
”Apaan sih, my rumiyin, my rumiyin....,” tanyaku waktu itu.
”Lhah..., kan Bro emang my rumiyin. Piye toh?” jawabnya sekenanya.
”Kamu tahu artinya rumiyin?” lanjutku.
”Artinya: dulu, kan?” sahutnya dan lantas berlalu dari hadapanku.
Begitulah Kai. Penjelasan tentang ”My Rumiyin” itu tak pernah dia sampaikan kepadaku. Jika ngomong soal Kai, aku lalu ingat pertemuannya beberapa waktu lalu. Awal mulanya hanya karena persamaan tujuan untuk mengikuti suatu kegiatan di pinggiran kota Y. Bahkan ketika kegiatan itu aku jalani bersama teman baru lain, termasuk Kai, segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya bisa terjadi dengan baik, dan hasil kegiatan itu pun dapat kubawa pulang dengan baik pula. Sampai pada penghujung kegiatan, Kai membuat pengakuan di hadapanku.
Apa sih yang salah tentang Kai? Jika ingat pengakuannya, aku sebenarnya tidak ingin menyudutkan bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata adalah kesalahannya. Sebagai manusia, siapa yang tidak salah langkah karena kelemahan? Tak seorang pun bisa lepas dari kekeliruan.
Melihatnya bisa bergembira di pagi hari, bagiku sudah cukup untuk bisa memberinya kesejukan. Tak ada yang ingin kuminta banyak darinya. Jika dengan sentuhan udara dingin, basahnya tetesan embun, dan hangatnya sinar matahari pagi, Kai sudah bisa menikmati satu hari itu saja, itu adalah anugerah yang sangat besar bagiku. Meski aku hanya bisa mengajaknya menyusuri jalan-jalan setapak atau pematang-pematang sawah atau pinggiran sungai, itu adalah kesempatan yang sudah lebih dari cukup bagiku.
Sayangnya, aku begitu terganggu. Mengapa aku sulit untuk menerimanya? Apakah karena di dalam hatiku ada tuntutan agar dia tampil sebagai seorang Kai yang sempurna? Atau karena aku sendiri yang masih menipu diriku atas rasa cukup yang selama ini kupertahankan dalam diriku? Semestinya, ketika Kai berterus terang kepadaku atas segala tindakan yang menurutnya bodoh itu dilakukan, aku tak harus menyudutkannya.
”Waktu itu, entahlah. Aku gak tau...! Masih ingat sih perasaan aku saat itu. Amburadul banget! Ga tau aku juga kenapa...” katanya memulai percakapan.
”Trus ngapain harus ngajak ngomong aku dan akhirnya malah gak jadi?” tanyaku.
”Ah, Bro...! Aku juga ga tau...! Mungkin karena takut pisah sama Bro? Gak tau juga... Biasanya ada yang jagain aku... Terus sekarang gak ada! Gak tau...! Aku ngerasa salah sama kelompok karena gak ngapa-ngapain. Ngerasa.... ah...,” Kai terdiam.
Aku menunggu dia melanjutkan kata-katanya. Ini penting karena aku perlu mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan kepadaku. Itu semata-mata, agar aku bisa makin mengerti apa yang hidup dalam diri Kai saat itu. Kudengar, pelan Kai melanjutkan kata-katanya.
”Mungkin juga belum rela ninggalin acara jalan pagi yang begitu berarti untuk aku. Entahlah... Mungkin karena baru saat itu aku bisa bebas lepas, lepas berekspresi. Aku emang cengeng. Aku gak tau sebenernya aku kenapa? Kenapa? Makanya aku tanya Bro. Rasanya Bro udah kenal aku lebih dari aku sendiri. Aku ngerasa aman sama Bro karena yakin Bro gak akan suka orang lain ngapa-ngapain aku. I really need friend untuk ngobrol.”
Kai terisak. Berupaya untuk memahami gejolak perasaan Kai, bagiku adalah usaha yang tidak mudah. Bagaimana aku harus memahaminya, sedang dalam diriku bergejolak perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan. Akan tetapi, mengapa aku tak menyukainya, jika dia di hadapanku berterus terang atas segala kesalahan yang telah dia lakukan?
”Seingat aku, ”lanjut Kai, ”waktu itu aku masih panik, sedikit bingung. Aku ngerasa bersalah banget karena aku suka sama En dan rasa sukaku itu ganggu kerja kelompokku. Kerjaanku jadi gak karuan. Semuanya amburadul. Aku menyadarinya dan aku harus menyudahinya. Memang semestinya aku gak usah tarik tangan Bro saat itu. Karena gak penting banget Bro ikutan urusanku. Tapi aku ngerasa cuma punya temen Bro aja. Aku mau ceritanya ke Bro. Karena Bro ketua kelompok yang aku bikin acakadul. Yang lebih bikin aku nyaman, Bro gak akan pernah suka sama aku. Itu yang bikin aku comfortable untuk bicara sama Bro, walau akhirnya gak ada yang keluar. Tuh kan bener? Gak ada yang penting, makanya waktu itu gak ada yang keluar. Masa, masalah kayak gitu aku gak bisa atasi sendiri? Tapi nyatanya emang aku gak bisa ngatasi hal sepele macam itu. I really need you, Bro. Untuk nampar aku, untuk mengguncang bahuku, untuk menunjukkan semua kelakuanku. Susah banget melihat dari sudut pandang orang lain ke diri sendiri. Aku belum pernah merasa nyaman sama cowok, selain sama Bro. Maksudnya untuk berusaha berbicara, walau akhirnya gak jadi.”
Susah payah Kai menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela nafas. Terus mau apa sekarang? Jika Kai memanggilku, ”My Rumiyin......!” apakah aku juga harus tetap memalingkan wajahku ke arah lain dan meninggalkan cibiran kepadanya? Haruskah sebesar itu aku menghukum Kai, sementara dia telah membuat pengakuan di hadapanku?
Menghadapi Kai, bagiku adalah menghadapi pengalaman masa laluku. Aku harus berani mengakui dan menerima apa yang telah terjadi pada masa laluku. Kai bukanlah masa laluku. Dia adalah masa kini yang sedang memberiku sandungan-sandungan kecil pada ujung jari-jemari kaki dalam kancah jalan kehidupan ini. Ah, Kai. Kesalahan itu bukan hanya milikmu. Kesalahan itu tetap saja ada pada diriku. Bukan saja dirimu dan diriku, melainkan orang lain juga memilikinya.
Di ujung malam, aku hanya bisa membisikkan pada Kai, menyampaikan rasa salah dan maafku, karena sikap penyudutanku kepadanya. Seandainya dia bisa sedekat angin malam ini, akan kurengkuh dan kubisikan kata itu di dekat telinganya. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Mari berupaya bersama aku. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu menyayangimu.***
Agustus 2008
Label:
kasih,
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Selasa, 24 Maret 2009
Awan Untuk Denok
Aku berhenti di bibir jurang. Menghela nafas dan membuangnya dengan sekuat tenaga. Kemudian berbalik dan duduk di bawah pohon melinjo. Jurang ini bagian dari ladang milik Mbah Kakung. Berada di tepi sebelah selatan dan sekaligus menjadi batas. Batas segalanya. Batas milik dan juga batas pandangan! Karena di balik jurang itu tak akan ada lagi ladang milik orang lain. Di bawah jurang itu, sudah mengalir sebuah sungai.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
--00--
”Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Beberapa kali aku bertemu teman di sini. Mereka bilang, kita memang bisa terus saling kontak dan berbagi. Namun, waktu dan keadaan bicara lain. Ketika ada kenyataan bahwa setiap orang memiliki kepentingan dan kesibukan beda, pertemuan ini tinggal kenangan. Tak ada sentuhan, tak ada sapaan, tak ada apapun. Maka, aku hanya ingin berkata padamu, meski hari ini kamu berbincang dan bertemu aku, sadarilah bahwa tak akan pernah ada waktu yang sama, yang dapat mempertemukan kita lagi. Seandainya masih ada hari dan waktu, itu adalah keajaiban dari Sang Pemberi Waktu.”
”Apa maksud Mas?” tanyanya.
”Mengapa bingung?” tanya balikku.
”Tidak bingung. Jadi sedih dengernya...! Ya, aku tahu maksud Mas, tapi aku tidak bakalan begitu kok. Selama aku masih bisa....,” jawabnya pelan.
”Aku hanya ingin memaparkan kenyataan kepadamu....,” kataku.
”Mas setiap saat bisa bicara sama aku.”
”Sekarang kamu bisa bilang begitu....”
”Kan, orang harus bermimpi dulu untuk bisa memiliki cita-citanya. Tidak ada salahnya kalau kita optimis.”
”Tapi, cobalah mengerti, kita akan menemukan banyak hal yang sering tidak bisa diatasi....”
”Menurut aku, tidak ada salahnya kita memiliki keyakinan, Mas.”
”Aku bisa terima. Bisa! Sekaligus aku memberi kamu kenyataan-kenyataan yang akan terjadi...”
”Kalaupun kenyataan itu berbicara lain, toh kita sudah maksimal mengusahakan. Atau mungkin Mas yang tidak mau berbicara dengan aku lagi, ya? Menyesal kenal aku yang cerewetnya kayak nenek-nenek?”
”Lho? Kok bilang begitu? Tidak, tidak! Kamu baik kok!”
”Kalau bukan tidak mau, apa alasannya? Aku tidak suka dengan orang yang pesimistis. Hidup harus yakin dan optimis...”
--00--
Arak-arakan awan itu semakin menjauh. Bentuk orang gendut berkacak pinggang itu sudah tercerai-berai dan berubah bentuk bersama arak-arakan awan lain.
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Label:
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Sabtu, 21 Maret 2009
Perenang Cilik Itu Menikah!
Di sebuah siang, aku sedang duduk-duduk di ruang baca. Kuambil sebuah majalah dari tebaran di atas meja. Kubuka sampul majalah itu dari belakang. Mataku tertumbuk pada lembaran iklan satu halaman penuh di sampul belakang dalam! Ah, iklan pernikahan sepasang muda-mudi. Iklan full color itu hampir saja tak membuatku terhenti, karena sudah biasa di majalah ini terpasang iklan berbagai macam. Akan tetapi, ketika mataku terpaku pada wajah si mempelai wanita, tiba-tiba sebuah ingatan datang sekejap. Ingatan akan seseorang. Dan....akhirnya aku semakin yakin tatkala aku membaca deretan nama-nama sepasang pengantin itu.
Ya....itulah kamu! Itu namamu! Dan mataku dengan nanar menatap adegan demi adegan yang tercetak di lembaran itu. Aku semakin yakin ketika aku pun membaca nama kedua orang tuamu dan adik perempuanmu. Itulah kamu!
Ingatanku kemudian melayang ke sebelas tahun lalu. Ke masa ketika aku mengenalmu untuk kali pertama dan barangkali untuk kali terakhir.
Di tahun 1997, aku mengenalmu sebagai seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tempatku bekerja waktu itu. Lambat laun, aku semakin tahu dirimu dari beberapa rekan kerjaku. Ternyata, kamu adalah salah seorang atlit renang cilik. Beberapa rekan kerjaku mengatakan bahwa dirimu telah berkali-kali menjuarai berbagai ajang kompetisi. Dari tuturan itulah, aku menjadi tahu dirimu yang atlit itu. Tidak hanya dirimu yang kukenal kemudian. Adikmu yang perempuan itu pun lama-lama juga semakin aku kenal, karena kalian berdua memang bersekolah di tempatku.
Hingga suatu saat, aku berkesempatan untuk sekedar tegur sapa dengan dirimu. Kadang hal-hal biasa menjadi bahan obrolan. Kemudian, tentang hobi renangmu pun menjadi bahan obrolan.
Suatu hari, aku memintamu untuk bercerita tentang pengalaman renangmu itu. Untuk apa? Aha, inilah aku! Aku senang menulis sesuatu untuk majalah. Ya, majalah yang sekarang ini memuat berita pernikahanmu itu! Jika kamu memperbolehkan, pengalaman renangmu itu akan kukirim ke majalah itu dan semoga saja dapat dimuat.
Rupanya, kamu tidak berkeberatan. Terkadang, saat-saat istirahat pelajaran, aku sempatkan untuk ngobrol dan bertanya-tanya padamu. Bahkan, kemudian kamu memberiku sederetan prestasimu yang telah kamu ketik rapi di lembaran kertas. Ya ampun! Banyak banget! Waduh....hebat bener, batinku waktu itu. Kau berikan pula dua lembar foto dirimu yang sedang berpose di antara piala dan medali-medali yang seabrek di atas meja. Kamu tahu tidak, satu lembar foto sampai sekarang masih aku simpan di album pribadiku.
Begitulah akhirnya! Lembaran naskah itu pun jadi dan kukirimkan bersama satu lembar fotomu itu. Beberapa waktu kemudian, dengan menunggu penuh harap, majalah itu kemudian memuatmu. Syukur, syukur, syukur!
Bagiku, bukanlah imbalan yang penting kudapat, melainkan naskah itu dapat diterima dan dimuat. Itulah yang utama. Aku sekedar mampu memberimu sesuatu yang sederhana: selembar naskah di salah satu edisi majalah itu.
Aku berterima kasih bahwa aku telah kamu beri kesempatan untuk menuliskan dirimu. Bahkan, aku pun berterima kasih bahwa di suatu hari, Mamamu datang dan mengucapkan terima kasih atas pemuatan naskah itu di majalah. Ah, apa yang hebat? Aku pun hanya mengatakan terima kasih pula diberi kesempatan untuk menuliskan tentang dirimu.
Tahun 1998, kamu lulus dari sekolah dasar. Sejak itu pula, aku tidak lagi berkontak dengan dirimu. Aku masih beberapa kali berkontak dengan adikmu. Bahkan di beberapa waktu, aku masih sempat mendampingi adikmu dalam pendampingan iman anak bersama seorang rekan guruku. Tahun 1999, aku mendapat tugas baru dan harus meninggalkan kotamu. Sejak itu pula, aku sudah tidak ada kontak denganmu. Akan tetapi, aku masih sempat pula mendengar bahwa beberapa waktu kemudian, aku lupa pastinya, engkau melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku pun sempat pula melihat sosok adikmu di majalah itu. Waktu itu, dia mendampingi Didik SSS. Oh, rupanya adikmu itu menjadi murid Didik SSS. Makanya, sebuah saksofon tampak tertiup di mulutnya. Itulah yang kulihat di sebuah edisi.
Jika sekarang ini kamu sudah menikah, itu adalah berita baru bagiku. Aku menjadi sadar bahwa ternyata umur seseorang itu akan semakin berjalan mendekati masa-masa dewasa yang tak akan bisa dicegah. Barangkali, aku masih merasa baru kemarin mengenalmu. Akan tetapi, ternyata beritamu itu menandakan bahwa kita memang pernah berjumpa bertahun-tahun lalu. Bertahun-tahun lalu sampai sekarang yang menandakan bahwa aku pun beranjak pada masa yang tak muda lagi.
Akhirnya, selamat berbahagia untukmu. Semoga keluarga yang akan kamu bangun bersama suamimu itu akan tetap langgeng. Tetaplah enerjik seperti beberapa tahun lalu ketika aku masih menjumpaimu sebagai perenang cilik itu. Tetaplah kuat seperti waktu kamu dengan rasa canda memukul perutku (padahal, sakit sekali, karena tenagamu yang memang di luar anak-anak biasa itu).
Salam dari kejauhan! Aku yang masih mengenangmu sebagai perenang cilik yang andal....***
Semarang, 22 Maret 2009
Ya....itulah kamu! Itu namamu! Dan mataku dengan nanar menatap adegan demi adegan yang tercetak di lembaran itu. Aku semakin yakin ketika aku pun membaca nama kedua orang tuamu dan adik perempuanmu. Itulah kamu!
Ingatanku kemudian melayang ke sebelas tahun lalu. Ke masa ketika aku mengenalmu untuk kali pertama dan barangkali untuk kali terakhir.
Di tahun 1997, aku mengenalmu sebagai seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tempatku bekerja waktu itu. Lambat laun, aku semakin tahu dirimu dari beberapa rekan kerjaku. Ternyata, kamu adalah salah seorang atlit renang cilik. Beberapa rekan kerjaku mengatakan bahwa dirimu telah berkali-kali menjuarai berbagai ajang kompetisi. Dari tuturan itulah, aku menjadi tahu dirimu yang atlit itu. Tidak hanya dirimu yang kukenal kemudian. Adikmu yang perempuan itu pun lama-lama juga semakin aku kenal, karena kalian berdua memang bersekolah di tempatku.
Hingga suatu saat, aku berkesempatan untuk sekedar tegur sapa dengan dirimu. Kadang hal-hal biasa menjadi bahan obrolan. Kemudian, tentang hobi renangmu pun menjadi bahan obrolan.
Suatu hari, aku memintamu untuk bercerita tentang pengalaman renangmu itu. Untuk apa? Aha, inilah aku! Aku senang menulis sesuatu untuk majalah. Ya, majalah yang sekarang ini memuat berita pernikahanmu itu! Jika kamu memperbolehkan, pengalaman renangmu itu akan kukirim ke majalah itu dan semoga saja dapat dimuat.
Rupanya, kamu tidak berkeberatan. Terkadang, saat-saat istirahat pelajaran, aku sempatkan untuk ngobrol dan bertanya-tanya padamu. Bahkan, kemudian kamu memberiku sederetan prestasimu yang telah kamu ketik rapi di lembaran kertas. Ya ampun! Banyak banget! Waduh....hebat bener, batinku waktu itu. Kau berikan pula dua lembar foto dirimu yang sedang berpose di antara piala dan medali-medali yang seabrek di atas meja. Kamu tahu tidak, satu lembar foto sampai sekarang masih aku simpan di album pribadiku.
Begitulah akhirnya! Lembaran naskah itu pun jadi dan kukirimkan bersama satu lembar fotomu itu. Beberapa waktu kemudian, dengan menunggu penuh harap, majalah itu kemudian memuatmu. Syukur, syukur, syukur!
Bagiku, bukanlah imbalan yang penting kudapat, melainkan naskah itu dapat diterima dan dimuat. Itulah yang utama. Aku sekedar mampu memberimu sesuatu yang sederhana: selembar naskah di salah satu edisi majalah itu.
Aku berterima kasih bahwa aku telah kamu beri kesempatan untuk menuliskan dirimu. Bahkan, aku pun berterima kasih bahwa di suatu hari, Mamamu datang dan mengucapkan terima kasih atas pemuatan naskah itu di majalah. Ah, apa yang hebat? Aku pun hanya mengatakan terima kasih pula diberi kesempatan untuk menuliskan tentang dirimu.
Tahun 1998, kamu lulus dari sekolah dasar. Sejak itu pula, aku tidak lagi berkontak dengan dirimu. Aku masih beberapa kali berkontak dengan adikmu. Bahkan di beberapa waktu, aku masih sempat mendampingi adikmu dalam pendampingan iman anak bersama seorang rekan guruku. Tahun 1999, aku mendapat tugas baru dan harus meninggalkan kotamu. Sejak itu pula, aku sudah tidak ada kontak denganmu. Akan tetapi, aku masih sempat pula mendengar bahwa beberapa waktu kemudian, aku lupa pastinya, engkau melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku pun sempat pula melihat sosok adikmu di majalah itu. Waktu itu, dia mendampingi Didik SSS. Oh, rupanya adikmu itu menjadi murid Didik SSS. Makanya, sebuah saksofon tampak tertiup di mulutnya. Itulah yang kulihat di sebuah edisi.
Jika sekarang ini kamu sudah menikah, itu adalah berita baru bagiku. Aku menjadi sadar bahwa ternyata umur seseorang itu akan semakin berjalan mendekati masa-masa dewasa yang tak akan bisa dicegah. Barangkali, aku masih merasa baru kemarin mengenalmu. Akan tetapi, ternyata beritamu itu menandakan bahwa kita memang pernah berjumpa bertahun-tahun lalu. Bertahun-tahun lalu sampai sekarang yang menandakan bahwa aku pun beranjak pada masa yang tak muda lagi.
Akhirnya, selamat berbahagia untukmu. Semoga keluarga yang akan kamu bangun bersama suamimu itu akan tetap langgeng. Tetaplah enerjik seperti beberapa tahun lalu ketika aku masih menjumpaimu sebagai perenang cilik itu. Tetaplah kuat seperti waktu kamu dengan rasa canda memukul perutku (padahal, sakit sekali, karena tenagamu yang memang di luar anak-anak biasa itu).
Salam dari kejauhan! Aku yang masih mengenangmu sebagai perenang cilik yang andal....***
Semarang, 22 Maret 2009
Label:
sahabat,
ungkapan hati
Minggu, 23 November 2008
Saudara Kerajaan Allah
+Saudara+KA.jpg)
(teruntuk bro Alo)
Kisah itu luas sehamparan cakrawala
Bayi merah amis lahir sabda pandita ratu
Pada suatu titik kepastian kini yang tak terukur oleh eksak
Kubertanya pada tongkatmu: ini kaki atau kompas,
Mata atau telinga, teman atau abdi, sahabat atau kekasih,
Atau sepotong kayu yang kau ambil dan kau pakai,
Kau pegang dan kau bawa berjalan,
Atau ini hidup?
Pada langkahmu di waktu senja
Menunjuk saat antara pasti dan kosong
Menekuni langkah yagn tak terhitung pada 57 tahun
Menunduk pasrah bertelud sujud
Menyatakan sembah yang dalam
Merengkuh adamu sabda pandita ratu
Lahir dari kedamaian dan kesunyian, ketenangan dan ketenteraman rahim ibu
Oek...ooeeek...aku lahir
Merah darah dan amis
Aku: saudara kerajaan Allah
13 Juni 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Kisah itu luas sehamparan cakrawala
Bayi merah amis lahir sabda pandita ratu
Pada suatu titik kepastian kini yang tak terukur oleh eksak
Kubertanya pada tongkatmu: ini kaki atau kompas,
Mata atau telinga, teman atau abdi, sahabat atau kekasih,
Atau sepotong kayu yang kau ambil dan kau pakai,
Kau pegang dan kau bawa berjalan,
Atau ini hidup?
Pada langkahmu di waktu senja
Menunjuk saat antara pasti dan kosong
Menekuni langkah yagn tak terhitung pada 57 tahun
Menunduk pasrah bertelud sujud
Menyatakan sembah yang dalam
Merengkuh adamu sabda pandita ratu
Lahir dari kedamaian dan kesunyian, ketenangan dan ketenteraman rahim ibu
Oek...ooeeek...aku lahir
Merah darah dan amis
Aku: saudara kerajaan Allah
13 Juni 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)
Langganan:
Postingan (Atom)