Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2008

Bias


Jangan biarkan,
Genggamlah selagi dapat
Kebenaran dimisalkan dalam andaikan
Andaikan diumpamakan dalam remang-remang
Senja menanjak malam
Gelap
Kosong,
Tanganmu mendusta diri.

Jangan biarkan
Jeruji besi melingkari kebebasan
Mencampakkan kebenaran pada kekayaan
Menyerahkan hukum pada ketok palu yang tanpa nurani
Pada keadilan untumu yang mengerti rumahku reyot
Walau hukum, kebenaran, dan keadilan bias padamu.

Jangan,
Jangan gadaikan nurani demi mamon
Yang tanpan daya membangkitkanmu dari kubur
Anak cucumu remuk redam oleh warisan leluhur
Bias hukum, kebenaran, dan keadilan.
Tak terdefinisikan, satu pun tidak.

Cukupkan,
Ini untuk hari ini.
Hari esok ada waktunya sendiri.

16 Mei 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Merindukan Mimpi


: Ella

Dadaku yang berkata di antara detak jam pada detik dan menit,
pada gelisah yang menyayat: di pagi, di siang, di petang, di malam,
pada asa nirbatas.
Kapan mimpiku lahir?

Pada lalu dan sekarang tak berupa,
tersket pun tidak.

Detik berjuta
walau menulis puisi, mengerjakan PR, menyelesaikan tugas:
matamu bulat bola hitam
menggelinding indah di puisi-puisi Gibran,
bersinar surya di pagi dan di senja.
Alismu lebat hitam legam bersinar
menggantung di langit-langit matamu
beraura lembut menawan, bibirmu merah pucat bergetar arah
menyapa gairah yang berkelana.

Bergetaran
perasaan b
erhamburan, berkejaran.

Aku: Ella.
Siapa kau?
Lelaki?
Siapa lelaki?
Tenang.

Mimpiku belum lahir.


03 Mei 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)