Jumat, 18 Februari 2011

Bro Masih Marah?

"Bro masih marah, ya?" Pertanyaan itu terlontar spontan dari mulut salah satu sahabat mudaku. Terhenyak...
"Marah? Dengan siapa?" tanyaku.
"Iya. Marah dengan kami," jawabnya.
"Oh! Iya! Aku masih marah," sahutku sambil berlalu dari depannya. Kemudian, seperti dengungan lebah karena di situ juga banyak kawan-kawannya, aku seperti mendengar ucapan, "Yaaaahhhhh......." Aku tetap berlalu.

Pertanyaan spontan sahabat mudaku itu masih saja mengikuti. Aku marah? Masih marah? Mengapa masih marah? Benarkah aku masih marah?

Jujur sajalah, bukan perasaan marah yang sebenarnya masih ada. Kecewa! Kecewa dan sedih. Kecewa karena aku tak tahu bagaimana mendampingi mereka itu. Sedih karena maksud baikku itu seperti "tersia-siakan".

Hal ini bukan berarti bahwa aku tidak menyadari siapa mereka dan siapa aku. Aku tahu, mereka adalah sosok-sosok muda yang masih mencari identitas. Sosok-sosok yang perlu didampingi. Masalahnya, mengapa aku tidak tahu cara yang tepat untuk bisa mendampingi mereka?

Sebenarnyalah, aku "muak" dengan berbagai metode pembelajaran yang sudah aku baca dan harus selalu aku kuasai. Metode itu memang memperlancar dalam upaya penyampaian bahan atau materi di kelas. Akan tetapi, aku benar-benar tak bisa menemukan bagaimana kaitan metode itu dengan perasaan mereka?

Kalau mereka sedang mengalami situasi patah semangat, bisakan salah satu cara pembelajaran itu kuterapkan? Mungkin ada yang bisa menjawab: Bisa! Nah, bagaimana caranya?

Barangkali, catatan ini lebih pada cetusan perasaan ketika aku kembali dihadapkan pada realitas. Hal yang aku pelajari, aku baca, ternyata tak sepenuhnya bisa diterapkan dalam hidup senyatanya ketika aku sudah benar-benar berdiri di hadapan sosok-sosok muda itu.

Hatiku sedih! Benar-benar sedih! Tak tahu dengan cara bagaimana aku bisa "melayani" sosok-sosok muda itu untuk belajar. Kalau aku berdiri di pihak mereka, rasanya tak mampu aku menjadi orang yang harus menguasai sekian banyak materi dengan tuntutan yang bermacam-macam yang berbeda-beda pula. Namun demikian, aku pun pernah seperti mereka. Aku pernah menjadi sosok-sosok goblok di masa sekolah yang bisanya hanya membuat ribut di kelas.

Barangkali, langkah awal yang tidak terlalu bijak untuk diriku adalah mengikuti ke mana arah mata angin sosok-sosok muda itu berhembus. Kemudian berusaha mengenali kapan desaunya sejuk dan kapan desaunya bagai topan. Barangkali, aku hanya mampu meraba dengan tongkat pengetahuanku yang pendek ini agar bisa merasakan kapan mereka mengatakan siap dan kapan mereka bilang tak mau. Barangkali, hanya bisa membuka telinga pada saat mereka mengadu tentang sulitnya pelajaran-pejaran lain yang mereka hadapi.

Atau....lebih baik aku mengandalkan mukjizat yang datang daripada-Nya?

Selasa, 18 Januari 2011

Mengelupas Kenangan

Tahu mengelupas 'kan? Kalau ada tambalan di pipi karena kena jerawat, trus kita ambil. Naa, itu mengelupas. Tapi, kalau mengelupas kenangan, gimana caranya?

Itulah yang sedang saya coba lakukan dengan kawan-kawan muda saya di kelas. Saya meminta mereka untuk menceritakan kembali pengalaman selama ini. Pengalaman liburan, boleh. Pengalaman masa sekolah, boleh. Pengalaman masuk sekolah, boleh. Pengalaman masa kecil, boleh!

Bercerita itu harus bagus. Kalau tidak bagus, orang lain tentu tak akan dapat menangkap isi cerita. Jelas itu! Oleh karena itu, saya selalu menyampaikan kepada mereka, ceritakanlah dengan baik. Kriteria cerita baik? Ya, alurnya runtut, jelas, kronologis. Terus, kalau disampaikan lisan, suaranya musti yang keras. Ekspresinya pun tampak. Kalau hendak menekankan sesuatu, tampakkan dengan gerakan anggota badan dan mimik wajah yang tepat. Itu baru bercerita. Kalau hendak disampaikan secara tertulis, tulisan musti yang siip! Sip itu bisa tulisannya tidak seperti cakar ayam. Susunan kalimatnya pun yang tepat. Gimana, ya? Yaaa, gitu deh! Pokoknya, gitu!

Kalau semua syarat terpenuhi, dijamin ceritanya bakal menarik. Bener lho! Banyak yang isinya menarik. Saya sangat suka. Kadang bikin saya tersenyum. Kadang memunculkan ide tertentu.

Misalnya, cerita salah satu kawan tentang kegiatan Pramuka. Runtut ceritanya. Mudah ditangkap. Cerita ini menumbuhkan ide untuk mendokumentasikan rekaman video kegiatan ekstra Pramuka. Sebenarnya, rekaman tahun lalu masih ada. Hanya belum diedit dengan baik. Nah, cerita ini memunculkan ide jalan cerita video yang sempat macet itu. Juga, cerita ini bisa sebagai narasi yang bagus. Tak harus sempurna. Paling tidak, yang diceritakan itu adalah murni buatan kawan muda saya itu.

Cerita lain yang membikin geli adalah pengalaman masa kecil kawan muda saya ini. Pengalaman masa sekolah dasar. Dia bisa bercerita tentang kenakalannya ketika harus mengikuti pelajaran di tempat salah seorang guru. Ih, degil! Itu kesan saya! Saya dapat membayangkan dia ini ketika masih kecil bersama kawan-kawannya, ribut di rumah guru itu. Lalu, guru itu marah. Yang menggelikan, dia mengatakan kalau kegiatan selama pelajaran tambahan itu simpel. Guru membuat soal, anak-anak mengerjakan, terus ditinggal tidur. Ha...ha...ha...! Nanti, bangun lagi kalau suara anak-anak itu ribut.

Ada juga cerita tentang kehidupan di kampungnya. Sebagai anak petani, dia harus turut membantu orang tuanya bekerja di sawah. Dia menjaga sawah di pinggir kampungnya dari serbuan burung pemakan padi. Susana kampung yang aman, tenteram, jauh dari kebisingan sangat mudah tertangkap oleh saya. Juga ketika kawan muda ini menceritakan kegemarannya pergi ke hutan untuk mencari berbagai buah hutan. Terasa sekali nuansa alamiahnya. Hutan yang bersahabat. Hutan yang memberikan rasa bahagia bagi manusia yang tinggal bersamanya.

Cerita relasi dengan orang tua pun banyak. Mereka menceritakan pengalaman bekerja dengan orang tuanya dan berlibur dengan orang tuanya. Segalanya bisa tertuang jelas dalam tulisan-tulisan tangan mereka. Ha...ha...! Mengasyikkan sebenarnya. Mau rasanya saya memindahkan beberapa tulisan mereka di blog saya ini. Akan tetapi, apakah mereka memperbolehkan?

Banyak cerita yang menarik. Cerita-cerita di atas itu sekedar contoh saja. Sebenarnya, kalau kita ini mau dan mampu bercerita tentang pengalaman masa lalu kita, semuanya akan bermakna bagi yang mendengar atau membacanya. Sama seperti ketika saya bisa membaca cerita dari kawan-kawan muda saya itu. Banyak hal bisa saya kagumi pada mereka. Saya masih menunggu cerita-cerita lain yang tentu tidak kalah menariknya dengan yang sudah saya baca.

Inilah yang saya sebut mengelupas kenangan. Tepat atau tidak ungkapan ini, saya kurang tahu. Pada dasarnya, kenangan itu bisa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Semuanya bisa saja kita tambal. Jika suatu saat, kita ingin membuka kenangan itu, tambalan itu tinggal kita kelupas. Apakah tidak akan hilang? Tidak! Kecuali memang yang sudah hilang. Ha...ha...ha...! Mengelupas dengan tuntas, tas, taaaasss! Wah, ini tak ada hubungannya dengan kenangan.***

Minggu, 02 Januari 2011

Salam di Tahun 2011

Di awal tahun ini, saya hanya ingin menyapa Anda. Barangkali, tak semua dari Anda membaca tulisan saya. Akan tetapi, baik Anda yang sempat tulisan saya atau pun tidak sempat membaca tulisan saya, sekali lag, saya ingin menyapa Anda.

Apa rencana Anda di tahun 2011? Ada? Tidak ada? Ah, saya tak ingin menggurui Anda (meskipun saya ini menyandang status guru-beneran) untuk memiliki rencana. Apa pun pilihan Anda. Apa pun keputusan Anda, tahun 2011 sudah berjalan. Siap atau tidak siap, Anda harus menjalani hidup Anda di tahun 2011.

(Lho, kok bahasa saya jadi ketularan Mamang yang ngisi acara "The Golden Ways" itu ya? Sebaiknya saya kembali ke diri saya saja).

Apa yang bisa aku kepadamu sebagai sapaan di awal tahun ini? Apa saja pun tak masalah kan? Kamu bisa saja menerima tulisan-tulisanku. Kamu bisa saja tak menerima tulisan-tulisanku.

Tahun itu akan selalu berjalan. Sama seperti aku yang masih bisa berjalan. Tak akan berhenti. Selama kaki masih bisa digunakan untuk berjalan, yaa...berjalan. Bahkan ketika kakiku (dan juga kakimu) tak bisa bergerak, tahun itu masih bisa berjalan. (Eh, jangan kaitkan dengan kiamat di tahun 2012).

Kini dan di sini. Aku selalu ingat kata-kata yang pernah aku dengar beberapa tahun lalu. Kini dan di sini. Ungkapan yang menunjukkan bahwa seseorang itu memang harus bisa menyadari adanya kekinian sebagai pribadi. Pribadi yang tak perlu berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Katanya, masa lalu dan masa depan itu juga berasal dari kini dan di sini. Jadi, jadilah manusia yang selalu bersikap riil tentang kini dan di sini.

(Waduuuhh...saya ini nulis apa? Pasti, kawan-kawan muda saya yang usianya masih 14, 15, 16, 17 tahun kurang begitu suka. Waduuuuhhh.... Ya, maaflah! Namanya juga sekedar sapaan. Jadi, apa saja bisa saya sampaikan sebagai sapaan, asal tidak jorok, tabu, fulgar!)

Hidupku telah sampai di awal 2011. Sangat mensyukuri bahwa masih bisa menghirup udara tahun 2011. Masih sama sih. Gak beda! Tapi tak usahlah dicari-cari perbedaan itu. Yang penting, sama! Lho, kalau sama, mengapa harus kutulis di sini? Ya, suka-suka aku lah yaaa! Apa saja kan bisa kutulis asal tidak menyinggung perasaan orang lain (yang membaca tulisanku ini).

Apalagi yang musti aku sampaikan kepadamu? Tentang rencana? Aku malu sebenarnya kalau membeberkan rencana. Karena itu sama saja dengan mengkhianati kata-kata "kini dan di sini" itu. Lho? Tapi aku toh memang belum mampu memegang kata-kata itu. Lagian, kan sedang berusaha.

Rencana. Memiliki rencana itu sebenarnya menggairahkan hidup. Terlebih rencana itu terasa matang. Manis. Indah. Siap. Pantas. Tentu saja, juga...hidup! Menjadikan hidup lebih hidup!

Ah, sudahlah.... Yang penting aku sudah menyapamu. Lain waktu, aku coba sapa kamu lagi dengan sapaan yang lain lagi.

Rabu, 15 September 2010

Kev

Aku mengenalnya satu tahun yang lalu karena dia termasuk salah satu anak didikku. Waktu belum mengenal, kurasa tidak ada yang istimewa dari dirinya. Satu yang masih kuingat, dia sempat kuberi sanksi karena tidak membawa buku pelajaran. Itu awalnya.

Lama kelamaan, ada sesuatu yang menarik perhatianku dari dirinya. Tanpa kusengaja, aku membaca sebuah buku milik salah satu kawannya. Di salah satu buku itu, terselip sebuah gambar tangan yang sangat bagus. Gambar Legolas, tokoh peri dalam serial buku "The Lord of The Ring". Benar-benar indah! Ketika kutanya pada kawannya itu, dia memberi tahu kalau gambar itu hasil buah tangan si Kev! Aha, spontan ada ide yang memantik keluar.

Di waktu yang lain, aku berbincang-bincang dengan salah guru. Guru itu adalah mantan guru si Kev di SMP. Saat berbincang di kantornya, tanpa kusengaja aku melihat gambar tangan terselip di balik kaca bening di meja kerjanya.

"Wah, gambarnya bagus, Pak. Gambar ini mirip Bapak. Siapa yang menggambar?" tanyaku pada rekan guru itu.

"Oh, ini kalau tak salah, yang menggambar Kev," jawabnya.

"Kev yang sekarang murid saya?" tanyaku.

"Iya, benar!" sahutnya.

Aha! Pantikan ide spontan yang dulu sempat muncul di benakku pun akhirnya semakin membesar. Seperti telah menyulut ujung lilin yang segera memancar dan membentuk pendaran cahaya.

Anak itu benar-benar memiliki tangan yang indah. Mampu menggambar indah. Gambarnya benar-benar mengena. Aku menyukai gambarnya. Meski, yang kulihat baru dua contoh gambar. Angan-anganku waktu itu benar-benar terbang.

Di waktu-waktu yang senggang, di luar jam mengajarku, aku sempat ngobrol dengan Kev. Aku bertanya tentang kepandaiannya dalam mengolah jemarinya yang menghasilkan gambar-gambar sketsa orang dengan bagus. Gambar bentuk-bentuk kartun dan karikatur yang tentunya sangat menyenangkan bila bisa dikembangkan. Pada akhirnya, dia sanggup jika aku meminta tolong suatu saat untuk menggambarkan sesuatu yang nantinya bahannya akan kuberikan kepadanya.

Selang beberapa waktu, kesempatan itu pun tiba. Waktu itu, aku memberi tugas pada anak didikku untuk membuat laporan observasi. Waktu itu sudah memasuki tahun baru. Hal yang paling dekat pada bulan awal di tahun baru adalah hari raya Imlek. Beberapa kelompok siswaku mengumpulkan tugas dengan tema hari raya Imlek. Beragam hasil kubaca, hingga aku menemukan satu tulisan laporan yang sangat menarik. Isinya berupa cerita singkat asal mula hari raya Imlek. Sangat menarik. Tulisan itu kemudian aku ketik ulang dengan kuperbaiki sehingga membentuk sinopsis. Sangat bagus menurutku. Sinopsis itu telah kubagi menjadi beberapa paragraf. Nantinya, paragraf demi paragraf dapat dibuatkan ilustrasinya. Kev yang kuharapkan!

Setelah selesai, aku menemui Kev untuk membantuku. Aku memberikan sinopsis itu dan memintanya untuk membuatkan gambar ilustrasinya. Aku membayangkan, jika gambar itu selesai, gambar dapat ku-scann. Kemudian dapat kubuat menjadi urutan cerita menarik dengan diolah pada program video amatir seperti Window Movie Maker. Jika gambar itu jadi, kemudian disusun, diberi ilustrasi musik, kemudian ada rekaman narasinya, aduhaaiii.....! Aku membayangkan sebuah kolaborasi hasil karya anak didikku sendiri. Terus terang, bukan diriku. Aku sekedar memberi jalan saja. Dalam bayanganku, jika Kev ini berhasil, akan 'kupamerkan' di hadapan kawan-kawannya atau adik-adik kelasnya nanti. Ini hasil karya yang spektakuler yang telah dibuat oleh kakak kelas. Inilah impianku.

Kutunggu beberapa waktu dari Kev. Saat libur tiba, aku ingatkan agar gambar itu dibuat lebih cepat sehingga tidak mengganggunya. Kev menyanggupi. Aku dengan sabar menunggunya karena aku benar-benar berharap ilustrasi itu menjadi karya perdananya yang spektakuler bagiku.

Satu kesempatan, saat kutanyakan kembali hasil itu, dia tiba-tiba bilang, "Maaf, Bro. Tulisan yang Bro beri dulu ilang. Saya minta lagi, bisa?" Aku menarik nafas, "Bisa. Aku masih membawanya."

Aku berikan copy tulisan itu kepada Kev. Dengan harapan, tulisan baru itu sebagai pengganti dan nanti akan mempermudah pengerjaannya. Yah, bisa kumaklumi, dia anak muda yang memiliki kesibukan bermacam-macam. Siapa tahu, tulisan dariku dulu itu terselip dan dia tidak tahu entah di mana.

Saat ada perjumpaan di kelasnya, dia menemuiku di meja guru. "Bro, ini hasilnya. Tapi belum semua jadi. Gimana?" katanya sambil menyorongkan hasil gambarnya. Mataku mengerjap senang. Aha, akhirnya gambar itu jadi. Akan tetapi, gambar itu baru jadi beberapa lembar. Belum semua.

"Ah, tak harus tergesa-gesa. Kalau begitu, selesaikan saja. Oh, ya. Bisakan beberapa bagian kamu pertebal dengan warna merah?" sahutku.

"Bisa," jawabnya.

"Kalau demikian, selesaikan semuanya hingga nanti semua kelar. Begitu ya?" kataku penuh keyakinan. Dia mengangguk, kemudian mundur ke tempat duduknya sambil membawa hasil yang belum selesai.

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga ujian kenaikan kelas pun tiba. Masa-masa itu, aku tak begitu ingat karena siswa-siswi juga pasti konsentrasi pada ujian. Saat jumpa sebelum libur, setelah penerimaan raport, aku masih bertemu Kev.

"Gimana gambarnya? Tahun depan, aku sudah tidak mengajarmu lagi lho," kataku.

"Ah, tak masalah, Bro! Kan saya masih di sini juga," jawabnya.

Liburan tiba. Kupikir, selama libur gambar itu akan dia selesaikan. Dengan demikian, kalau selesai, gambar itu dapat aku olah di tahun ajaran baru untuk adik-adik kelasnya. Selama libur itu, aku sudah kurang begitu ingat karena ada tugas lain yang menyita perhatian yaitu penerimaan siswa baru.

Saat masuk tahun ajaran baru, aku tak begitu memikirkan pesananku itu pada Kev. Terlebih, ketika hari-hari perjumpaan di sekolah, Kev seolah sudah lupa dengan gambar yang kumintai itu. Pelan-pelan, aku tak lagi berusaha mengingatkan lagi padanya. Kev juga sudah memiliki perhatian lain di kelas yang baru ini. Gambar itu tak selesai!

Aku terlalu berandai-andai. Aku terlalu melambungkan mimpi. Memang, apa salahnya jika aku bermimpi, Kev suatu saat menggunakan keahliannya itu menjadi seorang pembuat "storyboard" film? Atau menjadi seorang kartunis yang hebat? Atau mungkin, dia memang tidak di bidang itu, namun masih menyempatkan waktunya untuk menggoreskan pensil dan pena warnanya di kertas?

Mungkin memang aku terlalu berandai-andai. Sedih sebenarnya. Jujur saja, aku tak bertujuan negatif dengan memanfaatkan Kev bagi diriku sendiri. Tidak! Bukan itu. Aku hanya ingin berusaha mengembangkan dirinya melalui salah satu bakat yang dia punya dan kebetulan aku tertarik pada bakatnya itu. Atau, barangkali enam batang coklat "Silverqueen" yang telah kusediakan baginya, jika gambar itu telah jadi, tak cukup untuk membangkitkan semangatnya.

Aku hanya tercenung membaca tulisannya di dinding "facebook"-ku, "Maaf, ya Bro, udah kukecewain." ***

Selasa, 25 Mei 2010

Pemain Opera Itu Telah Pergi


Selasa petang (25/5) sekitar pukul 18.00, Bu Hera datang ke tempat kami dengan mata sembab. Aku baru saja membuat minum, ketika beliau datang dan kemudian disambut oleh saudara-saudaraku yang lain. Melihat kedatangannya yang mendadak, tiba-tiba saja perasaanku sudah menduga hal yang tidak enak. Sesuatu yang kurang baik mungkin terjadi. Beberapa saat kemudian, aku keluar dari ruang makan dan mendatanginya.

"Ada apa, Bu?" tanyaku sambil mendekat kepadanya yang duduk di ruang tamu kami.
"Anak kita (maksudnya, salah satu siswa di sekolah kami), meninggal. Reko..." sahutnya dengan suara tersendat.
"Reko?" tanyaku menegas.
"Iya. Anak kelas sebelas."
"Saya mendapat kabar dari Bu Kasih," lanjut Bu Hera, "ketika saya mengunjungi petang ini tadi. Katanya, Reko meninggal kena aliran listrik. Tapi saya belum tahu, apakah saat kerja di sekolah atau tidak. Anak ini memang sering membantu para guru kalau ada kesibukan di sekolah."

Deg! Aku langsung berdebar. Sekelebat, aku teringat pada seorang anak remaja yang sudah aku kenal. Reko! Reko yang aku kenal sama dengan kata-kata Bu Hera. Orangnya memang aktif dalam beberapa kegiatan, termasuk salah satunya kemarin baru saja mendukung acara pementasan "Opera Perjalanan Lima Sahabat".

"Sekarang masih di RS Fatima," lanjut Bu Hera. Aku masih diam. Seorang saudaraku datang dari ruang makan mengangsurkan segelas air putih untuk Bu Hera.
"Kita ke sana petang ini," kata Bu Hera setelah beberapa saat meneguk air putih untuk menghilangkan rasa shock yang menderanya.
"Baik, Bu," jawabku.

Bu Hera kemudian pamitan untuk lebih dahulu menuju ke RS Fatima. Aku pun bergegas berganti baju di kamar. Ketika keluar kamar, kulihat mendung makin tebal. Belum sempat menuju garasi motor, hujan turun. Aku kembali ke kamar mengambil mantol. Begitu mantol kupakai, aku segera men-stater sepeda motor dan kupacu membelah tetesan hujan yang makin deras. Langit gelap. Jalan A. Yani dan Sudirman agak lengang karena hujan yang deras tiba-tiba turun. Aku melajukan motor agak pelan karena kaca helm yang gelap.

Begitu masuk kompleks RS Fatima, aku segera menuju ke tempat parkir. Selesai menaruh sepeda motor dan mantol, Bu Hera menyongsongku.

"Reko meninggalnya tidak di sekolah, namun di rumah Pak Jani saat membantu membetulkan kabel listrik," katanya. Aku pun mengiyakan sambil bergegas menuju ke kamar jenazah.

Di sana, sudah ada beberapa teman sekelas Reko yang datang. Ada juga kawan-kawan di OMK yang kemarin sama-sama mementaskan opera itu. Aku menyibak kerumunan dan terus masuk ke ruang dalam. Di dalam, di atas bangku dengan terbungkus kain, seseorang yang kuduga telah kukenal itu terbaring. Aku mendekat dengan diiringi Bu Hera. Agak ragu aku membuka kain yang menutup kepala jenazah itu. Bagaimana kalau wajah ini benar-benar Reko yang aku kenal? Atau jika bukan, anak ini tetap salah satu siswaku. Bagaimana kalau wajah ini adalah Reko yang kemarin baru saja bersama-sama berpentas? Bagaimana jika wajah ini adalah Reko yang sedang menyiapkan kegiatan di bulan Juni nanti?

Aku masih menahan jari-jemariku untuk membuka kain itu. Ketika kulihat rambutnya, aku agak mulai yakin. Rambut yang agak berdiri. Rambut yang tidak bisa disisir lurus. Rambut itu persis milik Reko. Kulanjutkan untuk membuka kain itu ke bawah, sepasang alis mata, sepasang mata yang terpejam. Ah, debaran jantungku makin kencang. Luka kecil di pipinya tak mampu lagi menyamarkan bahwa wajah tanpa ekspresi dan sedang kuamati ini adalah Reko!

Aku terhenyak. Jariku agak gemetar menahan kain. Reko....! Ini sungguh Reko yang kukenal! Aku mengembalikan kain itu dengan pelan. Wajah yang kukenal itu tertutup lagi. Aku berpaling.

Di sekitar ruangan, beberapa kawan OMK sudah ada dan duduk di kursi. Aku mendekat ke mereka. Kurangkul Aten yang masih berdiri. Kudekati Jojo yang sedang duduk termangu di kursi.

"Aku kaget sekali," bisik Jojo setelah aku duduk di sampingnya. Aku hanya terdiam. Sepertinya, kenyataan ini benar-benar bukan suatu kenyataan. Aku teringat dengan tulisanku, "Antara pertemuan dan perpisahan itu berbatas tipis!" Tipis....

Sepertinya baru kemarin aku mengenal Reko. Akan tetapi, sekarang dia sudah terbaring tanpa helaan nafas. Terbaring dalam diam yang tak akan bisa lagi kutemui dalam kegiatan-kegiatan kami lagi.

Sambil duduk dan memandang tubuh Reko yang terbujur kaku, anganku melayang pada masa-masa aku mengenalnya. Dia adalah aktivis di OMK. Itu yang aku ingat. Setelah aku tahu dia aktivis di OMK, barulah aku kenal dia adalah siswa kelas XI di sekolah kami. Sebenarya, Reko saat ini sedang menyiapkan kegiatan baru. Bulan Juni nanti, OMK akan mengadakan acara "Ekspresi Ceria OMK" dan Reko menjadi ketua panitianya. Gambaran acara itu pun hinggap di benakku. Bagaimana kelanjutan acara ini? Hal yang akan terjadi adalah jika acara ini dapat dilangsungkan, ingatan akan selalu tertuju pada Reko. Selintas aku berpikir, jika acara itu terlaksana, aku ingin mengajak kawan-kawan di OMK mendedikasikan acara itu untuk Reko.

Ingatan yang tak bisa kuelakkan adalah peran Reko ketika dia menjadi salah satu pemain opera itu. Sangat jelas! Bahkan rekaman videonya pun ada! Gerak geriknya! Cara menanggapi ketika aku harus mengarahkan gayanya. Antusiasnya ketika latihan! Usulan-usulannya ketika kuajak mendiskusikan jalan cerita. Semuanya hinggap di benakku. Bulan April lalu, tanggal 25, pukul 18.00, kami mementaskan opera itu. Reko beraksi dengan ekspresif! Tampil maksimal dengan inisiatif gayanya yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Dia tampil bersama Jojo, Apri, Selvi, dan Vali.

Sekarang, dia terbaring diam. Tanpa ekspresi dengan mata terpejam! Segalanya yang dia tampilkan sebulan lalu, petang ini hilang! Tepat! Tanggal 25 Mei! Persis satu bulan yang lalu dia tampil penuh gaya, saat ini dia tampil dalam diam!

Desis tangisan tertahan menyusup ke telingaku. Aku palingkan mukaku. Seorang kawan Reko baru saja menyibak kain penutup wajah Reko. Dengan tangisnya yang tertahan, dia berlari ke luar ruangan. Tangisnya pecah di luar ruangan. Aku menghela nafas. Antara pertemuan dan perpisahan ini berbatas tipis...

Lantas, ingatanku melayang ke sekolah. Saat-saat ketika aku mengetahui bahwa Reko memang siswa di sekolah kami. Kuingat salah satu kejadian ketika Riko dipanggila Bu Eka, salah satu rekan guruku yang menjadi wali kelasnya. Juga, kuingat perjumpaan dengannya di sudut dan halrey sekolah. "Selamat pagi, Bro!" atau "Selamat siang, Bro!" Sapaannya mengiang di telingaku. Aku menghela nafas kembali.

"Mohon keluar dari ruangan karena jenazah hendak dimandikan." Suara suster memecah keheningan dan membuyarkan lamunanku. Semua yang berada di ruangan pun bergegas keluar. Aku pun beranjak ke luar ruangan mengikuti langkah Jojo yang sudah lebih dahulu beranjak.

Di luar, kulihat kawan-kawan Reko makin banyak. Di sudut, beberapa kawan Reko sudah terisak dalam tangisan. Di sudut lain, beberapa guru dan orang tua yang kenal baik dengan Reko sedang membicarakan urusan selanjutnya.

Melihat situasi yang ada di sekitarku, aku hanya bisa berdiam. Isak tangis kawan-kawan Reko, semakin keras ketika teras ruang jenazah itu semakin penuh.

Tak ada yang bisa kusampaikan lebih banyak lagi. Yang ada adalah gambaran kehilangan. Kehilangan sahabat, kehilangan teman, kehilangan anak. Gambaran itu pecah dan menyatu bagai mozaik yang membuat nuansa malam itu makin kelam. Kilat menyambar di atap RS Fatima beberapa kali. Hujan deras pun turun dengan cepat. Hujan dan kilat itu tak menghentikan niat kawan-kawan Reko untuk berdatangan ke RS Fatima.

Hujan terus turun! Sepertinya, langit turut mengiringi kepergian seorang kawan yang benar-benar membekas. Selamat jalan, Reko! Kami akan mengenangmu sebagai seorang anak didik, seorang sahabat, seorang kawan, dan seorang pemain opera yang andal!***

Senin, 10 Mei 2010

Mereka Itu...

Hampir satu tahun aku "belajar mengajar" di sekolah ini. Perjalanan hampir satu tahun itu tentulah penuh dengan riak-riak yang membuat hamparan pengalamanku semakin bertambah luas. Sejujurnya dapat kukatakan bahwa "belajar mengajar" ini belum membuatku puas. Aku merasa masih banyak hal yang harus kuperbarui dan kuolah kembali. Aku tidak tahu, kapan semuanya akan menjadi lebih baik.

Terkadang, terbersit rasa enggan untuk melanjutkan "belajar" ini. Ada saja lubang-lubang kelemahan yang membuatku untuk memilih "mundur". Akan tetapi, jika aku melihat para seniorku yang telah berjuang sekian tahun masih tetap bertahan, rasanya malu jika aku yang memilih mundur. Aku berpikir, lebih baik segi lain sajalah yang mengharuskan aku berhenti dari belajar ini.

Rasanya lelah dan capai, jika mengingat beberapa tugas yang harus aku kerjakan. Aku dituntut untuk mempersiapkan bahan pembelajaran yang sepertinya tak pernah habis. Ini sudah jamak, umum! Setiap orang yang berposisi seperti diriku, pasti akan berbuat seperti itu. Entah senang atau tidak! Aku juga harus dituntut untuk bersikap dewasa menghadapi anak-anak muda yang baru menginjak masa-masa remaja ini. Tingkah dan perilaku mereka, terkadang membuatku harus berpikir: apa yang bisa aku perbuat untuk membantu mereka? Sementara, aku menyadari bahwa tak banyak bekal yang bisa aku berikan di dalam mendampingi mereka.

Jika di sela-sela aku menyelesaikan tugas, sambil mendengarkan alunan lagu-lagu, selalu saja terbersit dalam pikiranku suatu tanda tanya: Apa yang sudah kuperbuat bagi mereka itu?

Akan tetapi, jika hanya melihat sisi-sisi tugas yang seolah menjadi beban, aku sadar bahwa itu hanya akan mengurangi hariku dengan suasana muram dan tak memberi semangat. Berat pasti berat! Masalahnya, aku tidak mau mati konyol dengan segala keluhan yang spontan selalu muncul dari sisi lemahku. Aku ingin memberi warna dalam hidup ini. Sama seperti mereka itu yang tetap memiliki warna cemerlang meski harus menghadapi banyak hal yang belum jelas di hadapan mereka.

Sering aku harus berjibaku dengan perasaanku sendiri. Ketika aku harus menegakkan aturan di antara mereka, sementara aku sendiri adalah orang yang berjiwa bebas. Antara aku harus membiarkan segala kebebasan itu merekah di tengah jiwa-jiwa muda itu dan aku harus "membelenggu" dengan pasal-pasal yang mengatur mereka. Sudah bisakah aturan itu hidup dalam diriku juga?

Lepas dari itu semua, aku kembalikan diriku pada makna kedekatan hati yang pantas dibangun sebagai orang yang hidup di tengah riuhnya orang muda yang mencari identitas. Ketika mereka memprotes tindakanku, menyangkal kata-kataku, menyanggah penjelasanku, aku tersudut dalam ketidakmampuan. Akan tetapi, dalam satu kesempatan aku bisa menyadari bahwa di situlah letak hati itu. Ketika mereka memprotes, menyanggah, dan menyangkal, mereka "berbicara" denganku. Mereka menjalin hati denganku. Aku harus menyimpulkan ini. Aku harus melihat ini sebagai dasar bahwa mereka adalah sosok-sosok yang patut untuk memprotes, menyangkal, dan menyanggah. Hingga pada suatu saat, entah kapan, mereka akan tahu bahwa proses itu merupakan satu langkah keberhasilan mereka di dalam menapaki kehidupan.

Aku tersenyum geli. Aku harus mengakui ini. Aku tidak bermaksud untuk menindas mereka. Aku hanya ingin membuka hati kepada mereka. Dengan cara apakah aku bisa "berbicara" dengan mereka, kalau bukan dengan membuka mata dan telinga dari suara dan mulut mereka.

Mungkin aku hanya akan berkata kepada mereka itu, "Nak, berbicaralah! Aku akan 'belajar' mendengarkanmu!"

Selasa, 16 Februari 2010

Sedang Membuat Puisi!

Saya sedang memberi tugas pada anak-anak untuk menyiapkan puisinya sendiri-sendiri. Temanya masih saya batasi seputar dunia sekolah, guru, dan relasi mereka dengan orang tua. Saya pikir, dengan pembatasan ini, fokus pemaknaan akan jauh lebih mudah dikaji bersama.

Tak mudah sebenarnya buat saya mengajarkan puisi kepada mereka. Persoalannya, saya musti bisa memberi contoh pada mereka. Ya, contoh puisi-puisi saya. Ya, contoh bagaimana saya membawakan puisi-puisi saya.

Memang sih, saya berusaha untuk memberikan pengantar pada anak-anak itu tentang puisi. Intinya, menikmati puisi itu tidak sebatas pada teorinya saja. Puisi baru dapat dinikmati ketika seseorang bisa mengapreasiasikannya. Berekspresi dan membuat.

Berpuisi! Berpuisilah! Berpuisi adalah menyampaikan perasaan yang berangkat dari pengalaman diri. Puisi, puisi! Biasanya cinta adalah tema puisi yang paling banyak dipilih. Kira-kira kalau puisi seperti ini, apa ya cukup bagus....!

Nak, buatlah puisi tanpa cinta
Buatlah puisi tentang apa saja
Namun bukan puisi cinta!

Nak, menarilah tanpa cinta
Menarilah dengan apa saja
Namun, bukan tarian cinta

Aku ingin melihatmu membahana bukan dengan cinta
Aku ingin menatapmu melayang bukan dengan cinta
Aku ingin menyaksikanmu melambung bukan dengan cinta


Saya memang sedang belajar. Membuat puisi juga sedang belajar. Mengajarkan puisi juga sedang belajar! Apa saja sedang saya pelajari. Termasuk mengagumi seorang murid saya yang sangat pandai membuat puisi, menyusun puisi, membawakan puisi, dan menghayati puisi!

Saya ingin belajar padanya!

Sama seperti saya belajar pada tumbuhan di halaman sekolah yang ingin mengatakan, "Aku perlu siraman air."