Tampilkan postingan dengan label Ungkapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ungkapan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Februari 2011

Bro Masih Marah?

"Bro masih marah, ya?" Pertanyaan itu terlontar spontan dari mulut salah satu sahabat mudaku. Terhenyak...
"Marah? Dengan siapa?" tanyaku.
"Iya. Marah dengan kami," jawabnya.
"Oh! Iya! Aku masih marah," sahutku sambil berlalu dari depannya. Kemudian, seperti dengungan lebah karena di situ juga banyak kawan-kawannya, aku seperti mendengar ucapan, "Yaaaahhhhh......." Aku tetap berlalu.

Pertanyaan spontan sahabat mudaku itu masih saja mengikuti. Aku marah? Masih marah? Mengapa masih marah? Benarkah aku masih marah?

Jujur sajalah, bukan perasaan marah yang sebenarnya masih ada. Kecewa! Kecewa dan sedih. Kecewa karena aku tak tahu bagaimana mendampingi mereka itu. Sedih karena maksud baikku itu seperti "tersia-siakan".

Hal ini bukan berarti bahwa aku tidak menyadari siapa mereka dan siapa aku. Aku tahu, mereka adalah sosok-sosok muda yang masih mencari identitas. Sosok-sosok yang perlu didampingi. Masalahnya, mengapa aku tidak tahu cara yang tepat untuk bisa mendampingi mereka?

Sebenarnyalah, aku "muak" dengan berbagai metode pembelajaran yang sudah aku baca dan harus selalu aku kuasai. Metode itu memang memperlancar dalam upaya penyampaian bahan atau materi di kelas. Akan tetapi, aku benar-benar tak bisa menemukan bagaimana kaitan metode itu dengan perasaan mereka?

Kalau mereka sedang mengalami situasi patah semangat, bisakan salah satu cara pembelajaran itu kuterapkan? Mungkin ada yang bisa menjawab: Bisa! Nah, bagaimana caranya?

Barangkali, catatan ini lebih pada cetusan perasaan ketika aku kembali dihadapkan pada realitas. Hal yang aku pelajari, aku baca, ternyata tak sepenuhnya bisa diterapkan dalam hidup senyatanya ketika aku sudah benar-benar berdiri di hadapan sosok-sosok muda itu.

Hatiku sedih! Benar-benar sedih! Tak tahu dengan cara bagaimana aku bisa "melayani" sosok-sosok muda itu untuk belajar. Kalau aku berdiri di pihak mereka, rasanya tak mampu aku menjadi orang yang harus menguasai sekian banyak materi dengan tuntutan yang bermacam-macam yang berbeda-beda pula. Namun demikian, aku pun pernah seperti mereka. Aku pernah menjadi sosok-sosok goblok di masa sekolah yang bisanya hanya membuat ribut di kelas.

Barangkali, langkah awal yang tidak terlalu bijak untuk diriku adalah mengikuti ke mana arah mata angin sosok-sosok muda itu berhembus. Kemudian berusaha mengenali kapan desaunya sejuk dan kapan desaunya bagai topan. Barangkali, aku hanya mampu meraba dengan tongkat pengetahuanku yang pendek ini agar bisa merasakan kapan mereka mengatakan siap dan kapan mereka bilang tak mau. Barangkali, hanya bisa membuka telinga pada saat mereka mengadu tentang sulitnya pelajaran-pejaran lain yang mereka hadapi.

Atau....lebih baik aku mengandalkan mukjizat yang datang daripada-Nya?

Selasa, 18 Januari 2011

Mengelupas Kenangan

Tahu mengelupas 'kan? Kalau ada tambalan di pipi karena kena jerawat, trus kita ambil. Naa, itu mengelupas. Tapi, kalau mengelupas kenangan, gimana caranya?

Itulah yang sedang saya coba lakukan dengan kawan-kawan muda saya di kelas. Saya meminta mereka untuk menceritakan kembali pengalaman selama ini. Pengalaman liburan, boleh. Pengalaman masa sekolah, boleh. Pengalaman masuk sekolah, boleh. Pengalaman masa kecil, boleh!

Bercerita itu harus bagus. Kalau tidak bagus, orang lain tentu tak akan dapat menangkap isi cerita. Jelas itu! Oleh karena itu, saya selalu menyampaikan kepada mereka, ceritakanlah dengan baik. Kriteria cerita baik? Ya, alurnya runtut, jelas, kronologis. Terus, kalau disampaikan lisan, suaranya musti yang keras. Ekspresinya pun tampak. Kalau hendak menekankan sesuatu, tampakkan dengan gerakan anggota badan dan mimik wajah yang tepat. Itu baru bercerita. Kalau hendak disampaikan secara tertulis, tulisan musti yang siip! Sip itu bisa tulisannya tidak seperti cakar ayam. Susunan kalimatnya pun yang tepat. Gimana, ya? Yaaa, gitu deh! Pokoknya, gitu!

Kalau semua syarat terpenuhi, dijamin ceritanya bakal menarik. Bener lho! Banyak yang isinya menarik. Saya sangat suka. Kadang bikin saya tersenyum. Kadang memunculkan ide tertentu.

Misalnya, cerita salah satu kawan tentang kegiatan Pramuka. Runtut ceritanya. Mudah ditangkap. Cerita ini menumbuhkan ide untuk mendokumentasikan rekaman video kegiatan ekstra Pramuka. Sebenarnya, rekaman tahun lalu masih ada. Hanya belum diedit dengan baik. Nah, cerita ini memunculkan ide jalan cerita video yang sempat macet itu. Juga, cerita ini bisa sebagai narasi yang bagus. Tak harus sempurna. Paling tidak, yang diceritakan itu adalah murni buatan kawan muda saya itu.

Cerita lain yang membikin geli adalah pengalaman masa kecil kawan muda saya ini. Pengalaman masa sekolah dasar. Dia bisa bercerita tentang kenakalannya ketika harus mengikuti pelajaran di tempat salah seorang guru. Ih, degil! Itu kesan saya! Saya dapat membayangkan dia ini ketika masih kecil bersama kawan-kawannya, ribut di rumah guru itu. Lalu, guru itu marah. Yang menggelikan, dia mengatakan kalau kegiatan selama pelajaran tambahan itu simpel. Guru membuat soal, anak-anak mengerjakan, terus ditinggal tidur. Ha...ha...ha...! Nanti, bangun lagi kalau suara anak-anak itu ribut.

Ada juga cerita tentang kehidupan di kampungnya. Sebagai anak petani, dia harus turut membantu orang tuanya bekerja di sawah. Dia menjaga sawah di pinggir kampungnya dari serbuan burung pemakan padi. Susana kampung yang aman, tenteram, jauh dari kebisingan sangat mudah tertangkap oleh saya. Juga ketika kawan muda ini menceritakan kegemarannya pergi ke hutan untuk mencari berbagai buah hutan. Terasa sekali nuansa alamiahnya. Hutan yang bersahabat. Hutan yang memberikan rasa bahagia bagi manusia yang tinggal bersamanya.

Cerita relasi dengan orang tua pun banyak. Mereka menceritakan pengalaman bekerja dengan orang tuanya dan berlibur dengan orang tuanya. Segalanya bisa tertuang jelas dalam tulisan-tulisan tangan mereka. Ha...ha...! Mengasyikkan sebenarnya. Mau rasanya saya memindahkan beberapa tulisan mereka di blog saya ini. Akan tetapi, apakah mereka memperbolehkan?

Banyak cerita yang menarik. Cerita-cerita di atas itu sekedar contoh saja. Sebenarnya, kalau kita ini mau dan mampu bercerita tentang pengalaman masa lalu kita, semuanya akan bermakna bagi yang mendengar atau membacanya. Sama seperti ketika saya bisa membaca cerita dari kawan-kawan muda saya itu. Banyak hal bisa saya kagumi pada mereka. Saya masih menunggu cerita-cerita lain yang tentu tidak kalah menariknya dengan yang sudah saya baca.

Inilah yang saya sebut mengelupas kenangan. Tepat atau tidak ungkapan ini, saya kurang tahu. Pada dasarnya, kenangan itu bisa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Semuanya bisa saja kita tambal. Jika suatu saat, kita ingin membuka kenangan itu, tambalan itu tinggal kita kelupas. Apakah tidak akan hilang? Tidak! Kecuali memang yang sudah hilang. Ha...ha...ha...! Mengelupas dengan tuntas, tas, taaaasss! Wah, ini tak ada hubungannya dengan kenangan.***

Minggu, 02 Januari 2011

Salam di Tahun 2011

Di awal tahun ini, saya hanya ingin menyapa Anda. Barangkali, tak semua dari Anda membaca tulisan saya. Akan tetapi, baik Anda yang sempat tulisan saya atau pun tidak sempat membaca tulisan saya, sekali lag, saya ingin menyapa Anda.

Apa rencana Anda di tahun 2011? Ada? Tidak ada? Ah, saya tak ingin menggurui Anda (meskipun saya ini menyandang status guru-beneran) untuk memiliki rencana. Apa pun pilihan Anda. Apa pun keputusan Anda, tahun 2011 sudah berjalan. Siap atau tidak siap, Anda harus menjalani hidup Anda di tahun 2011.

(Lho, kok bahasa saya jadi ketularan Mamang yang ngisi acara "The Golden Ways" itu ya? Sebaiknya saya kembali ke diri saya saja).

Apa yang bisa aku kepadamu sebagai sapaan di awal tahun ini? Apa saja pun tak masalah kan? Kamu bisa saja menerima tulisan-tulisanku. Kamu bisa saja tak menerima tulisan-tulisanku.

Tahun itu akan selalu berjalan. Sama seperti aku yang masih bisa berjalan. Tak akan berhenti. Selama kaki masih bisa digunakan untuk berjalan, yaa...berjalan. Bahkan ketika kakiku (dan juga kakimu) tak bisa bergerak, tahun itu masih bisa berjalan. (Eh, jangan kaitkan dengan kiamat di tahun 2012).

Kini dan di sini. Aku selalu ingat kata-kata yang pernah aku dengar beberapa tahun lalu. Kini dan di sini. Ungkapan yang menunjukkan bahwa seseorang itu memang harus bisa menyadari adanya kekinian sebagai pribadi. Pribadi yang tak perlu berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Katanya, masa lalu dan masa depan itu juga berasal dari kini dan di sini. Jadi, jadilah manusia yang selalu bersikap riil tentang kini dan di sini.

(Waduuuhh...saya ini nulis apa? Pasti, kawan-kawan muda saya yang usianya masih 14, 15, 16, 17 tahun kurang begitu suka. Waduuuuhhh.... Ya, maaflah! Namanya juga sekedar sapaan. Jadi, apa saja bisa saya sampaikan sebagai sapaan, asal tidak jorok, tabu, fulgar!)

Hidupku telah sampai di awal 2011. Sangat mensyukuri bahwa masih bisa menghirup udara tahun 2011. Masih sama sih. Gak beda! Tapi tak usahlah dicari-cari perbedaan itu. Yang penting, sama! Lho, kalau sama, mengapa harus kutulis di sini? Ya, suka-suka aku lah yaaa! Apa saja kan bisa kutulis asal tidak menyinggung perasaan orang lain (yang membaca tulisanku ini).

Apalagi yang musti aku sampaikan kepadamu? Tentang rencana? Aku malu sebenarnya kalau membeberkan rencana. Karena itu sama saja dengan mengkhianati kata-kata "kini dan di sini" itu. Lho? Tapi aku toh memang belum mampu memegang kata-kata itu. Lagian, kan sedang berusaha.

Rencana. Memiliki rencana itu sebenarnya menggairahkan hidup. Terlebih rencana itu terasa matang. Manis. Indah. Siap. Pantas. Tentu saja, juga...hidup! Menjadikan hidup lebih hidup!

Ah, sudahlah.... Yang penting aku sudah menyapamu. Lain waktu, aku coba sapa kamu lagi dengan sapaan yang lain lagi.

Selasa, 25 Mei 2010

Pemain Opera Itu Telah Pergi


Selasa petang (25/5) sekitar pukul 18.00, Bu Hera datang ke tempat kami dengan mata sembab. Aku baru saja membuat minum, ketika beliau datang dan kemudian disambut oleh saudara-saudaraku yang lain. Melihat kedatangannya yang mendadak, tiba-tiba saja perasaanku sudah menduga hal yang tidak enak. Sesuatu yang kurang baik mungkin terjadi. Beberapa saat kemudian, aku keluar dari ruang makan dan mendatanginya.

"Ada apa, Bu?" tanyaku sambil mendekat kepadanya yang duduk di ruang tamu kami.
"Anak kita (maksudnya, salah satu siswa di sekolah kami), meninggal. Reko..." sahutnya dengan suara tersendat.
"Reko?" tanyaku menegas.
"Iya. Anak kelas sebelas."
"Saya mendapat kabar dari Bu Kasih," lanjut Bu Hera, "ketika saya mengunjungi petang ini tadi. Katanya, Reko meninggal kena aliran listrik. Tapi saya belum tahu, apakah saat kerja di sekolah atau tidak. Anak ini memang sering membantu para guru kalau ada kesibukan di sekolah."

Deg! Aku langsung berdebar. Sekelebat, aku teringat pada seorang anak remaja yang sudah aku kenal. Reko! Reko yang aku kenal sama dengan kata-kata Bu Hera. Orangnya memang aktif dalam beberapa kegiatan, termasuk salah satunya kemarin baru saja mendukung acara pementasan "Opera Perjalanan Lima Sahabat".

"Sekarang masih di RS Fatima," lanjut Bu Hera. Aku masih diam. Seorang saudaraku datang dari ruang makan mengangsurkan segelas air putih untuk Bu Hera.
"Kita ke sana petang ini," kata Bu Hera setelah beberapa saat meneguk air putih untuk menghilangkan rasa shock yang menderanya.
"Baik, Bu," jawabku.

Bu Hera kemudian pamitan untuk lebih dahulu menuju ke RS Fatima. Aku pun bergegas berganti baju di kamar. Ketika keluar kamar, kulihat mendung makin tebal. Belum sempat menuju garasi motor, hujan turun. Aku kembali ke kamar mengambil mantol. Begitu mantol kupakai, aku segera men-stater sepeda motor dan kupacu membelah tetesan hujan yang makin deras. Langit gelap. Jalan A. Yani dan Sudirman agak lengang karena hujan yang deras tiba-tiba turun. Aku melajukan motor agak pelan karena kaca helm yang gelap.

Begitu masuk kompleks RS Fatima, aku segera menuju ke tempat parkir. Selesai menaruh sepeda motor dan mantol, Bu Hera menyongsongku.

"Reko meninggalnya tidak di sekolah, namun di rumah Pak Jani saat membantu membetulkan kabel listrik," katanya. Aku pun mengiyakan sambil bergegas menuju ke kamar jenazah.

Di sana, sudah ada beberapa teman sekelas Reko yang datang. Ada juga kawan-kawan di OMK yang kemarin sama-sama mementaskan opera itu. Aku menyibak kerumunan dan terus masuk ke ruang dalam. Di dalam, di atas bangku dengan terbungkus kain, seseorang yang kuduga telah kukenal itu terbaring. Aku mendekat dengan diiringi Bu Hera. Agak ragu aku membuka kain yang menutup kepala jenazah itu. Bagaimana kalau wajah ini benar-benar Reko yang aku kenal? Atau jika bukan, anak ini tetap salah satu siswaku. Bagaimana kalau wajah ini adalah Reko yang kemarin baru saja bersama-sama berpentas? Bagaimana jika wajah ini adalah Reko yang sedang menyiapkan kegiatan di bulan Juni nanti?

Aku masih menahan jari-jemariku untuk membuka kain itu. Ketika kulihat rambutnya, aku agak mulai yakin. Rambut yang agak berdiri. Rambut yang tidak bisa disisir lurus. Rambut itu persis milik Reko. Kulanjutkan untuk membuka kain itu ke bawah, sepasang alis mata, sepasang mata yang terpejam. Ah, debaran jantungku makin kencang. Luka kecil di pipinya tak mampu lagi menyamarkan bahwa wajah tanpa ekspresi dan sedang kuamati ini adalah Reko!

Aku terhenyak. Jariku agak gemetar menahan kain. Reko....! Ini sungguh Reko yang kukenal! Aku mengembalikan kain itu dengan pelan. Wajah yang kukenal itu tertutup lagi. Aku berpaling.

Di sekitar ruangan, beberapa kawan OMK sudah ada dan duduk di kursi. Aku mendekat ke mereka. Kurangkul Aten yang masih berdiri. Kudekati Jojo yang sedang duduk termangu di kursi.

"Aku kaget sekali," bisik Jojo setelah aku duduk di sampingnya. Aku hanya terdiam. Sepertinya, kenyataan ini benar-benar bukan suatu kenyataan. Aku teringat dengan tulisanku, "Antara pertemuan dan perpisahan itu berbatas tipis!" Tipis....

Sepertinya baru kemarin aku mengenal Reko. Akan tetapi, sekarang dia sudah terbaring tanpa helaan nafas. Terbaring dalam diam yang tak akan bisa lagi kutemui dalam kegiatan-kegiatan kami lagi.

Sambil duduk dan memandang tubuh Reko yang terbujur kaku, anganku melayang pada masa-masa aku mengenalnya. Dia adalah aktivis di OMK. Itu yang aku ingat. Setelah aku tahu dia aktivis di OMK, barulah aku kenal dia adalah siswa kelas XI di sekolah kami. Sebenarya, Reko saat ini sedang menyiapkan kegiatan baru. Bulan Juni nanti, OMK akan mengadakan acara "Ekspresi Ceria OMK" dan Reko menjadi ketua panitianya. Gambaran acara itu pun hinggap di benakku. Bagaimana kelanjutan acara ini? Hal yang akan terjadi adalah jika acara ini dapat dilangsungkan, ingatan akan selalu tertuju pada Reko. Selintas aku berpikir, jika acara itu terlaksana, aku ingin mengajak kawan-kawan di OMK mendedikasikan acara itu untuk Reko.

Ingatan yang tak bisa kuelakkan adalah peran Reko ketika dia menjadi salah satu pemain opera itu. Sangat jelas! Bahkan rekaman videonya pun ada! Gerak geriknya! Cara menanggapi ketika aku harus mengarahkan gayanya. Antusiasnya ketika latihan! Usulan-usulannya ketika kuajak mendiskusikan jalan cerita. Semuanya hinggap di benakku. Bulan April lalu, tanggal 25, pukul 18.00, kami mementaskan opera itu. Reko beraksi dengan ekspresif! Tampil maksimal dengan inisiatif gayanya yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Dia tampil bersama Jojo, Apri, Selvi, dan Vali.

Sekarang, dia terbaring diam. Tanpa ekspresi dengan mata terpejam! Segalanya yang dia tampilkan sebulan lalu, petang ini hilang! Tepat! Tanggal 25 Mei! Persis satu bulan yang lalu dia tampil penuh gaya, saat ini dia tampil dalam diam!

Desis tangisan tertahan menyusup ke telingaku. Aku palingkan mukaku. Seorang kawan Reko baru saja menyibak kain penutup wajah Reko. Dengan tangisnya yang tertahan, dia berlari ke luar ruangan. Tangisnya pecah di luar ruangan. Aku menghela nafas. Antara pertemuan dan perpisahan ini berbatas tipis...

Lantas, ingatanku melayang ke sekolah. Saat-saat ketika aku mengetahui bahwa Reko memang siswa di sekolah kami. Kuingat salah satu kejadian ketika Riko dipanggila Bu Eka, salah satu rekan guruku yang menjadi wali kelasnya. Juga, kuingat perjumpaan dengannya di sudut dan halrey sekolah. "Selamat pagi, Bro!" atau "Selamat siang, Bro!" Sapaannya mengiang di telingaku. Aku menghela nafas kembali.

"Mohon keluar dari ruangan karena jenazah hendak dimandikan." Suara suster memecah keheningan dan membuyarkan lamunanku. Semua yang berada di ruangan pun bergegas keluar. Aku pun beranjak ke luar ruangan mengikuti langkah Jojo yang sudah lebih dahulu beranjak.

Di luar, kulihat kawan-kawan Reko makin banyak. Di sudut, beberapa kawan Reko sudah terisak dalam tangisan. Di sudut lain, beberapa guru dan orang tua yang kenal baik dengan Reko sedang membicarakan urusan selanjutnya.

Melihat situasi yang ada di sekitarku, aku hanya bisa berdiam. Isak tangis kawan-kawan Reko, semakin keras ketika teras ruang jenazah itu semakin penuh.

Tak ada yang bisa kusampaikan lebih banyak lagi. Yang ada adalah gambaran kehilangan. Kehilangan sahabat, kehilangan teman, kehilangan anak. Gambaran itu pecah dan menyatu bagai mozaik yang membuat nuansa malam itu makin kelam. Kilat menyambar di atap RS Fatima beberapa kali. Hujan deras pun turun dengan cepat. Hujan dan kilat itu tak menghentikan niat kawan-kawan Reko untuk berdatangan ke RS Fatima.

Hujan terus turun! Sepertinya, langit turut mengiringi kepergian seorang kawan yang benar-benar membekas. Selamat jalan, Reko! Kami akan mengenangmu sebagai seorang anak didik, seorang sahabat, seorang kawan, dan seorang pemain opera yang andal!***

Senin, 10 Mei 2010

Mereka Itu...

Hampir satu tahun aku "belajar mengajar" di sekolah ini. Perjalanan hampir satu tahun itu tentulah penuh dengan riak-riak yang membuat hamparan pengalamanku semakin bertambah luas. Sejujurnya dapat kukatakan bahwa "belajar mengajar" ini belum membuatku puas. Aku merasa masih banyak hal yang harus kuperbarui dan kuolah kembali. Aku tidak tahu, kapan semuanya akan menjadi lebih baik.

Terkadang, terbersit rasa enggan untuk melanjutkan "belajar" ini. Ada saja lubang-lubang kelemahan yang membuatku untuk memilih "mundur". Akan tetapi, jika aku melihat para seniorku yang telah berjuang sekian tahun masih tetap bertahan, rasanya malu jika aku yang memilih mundur. Aku berpikir, lebih baik segi lain sajalah yang mengharuskan aku berhenti dari belajar ini.

Rasanya lelah dan capai, jika mengingat beberapa tugas yang harus aku kerjakan. Aku dituntut untuk mempersiapkan bahan pembelajaran yang sepertinya tak pernah habis. Ini sudah jamak, umum! Setiap orang yang berposisi seperti diriku, pasti akan berbuat seperti itu. Entah senang atau tidak! Aku juga harus dituntut untuk bersikap dewasa menghadapi anak-anak muda yang baru menginjak masa-masa remaja ini. Tingkah dan perilaku mereka, terkadang membuatku harus berpikir: apa yang bisa aku perbuat untuk membantu mereka? Sementara, aku menyadari bahwa tak banyak bekal yang bisa aku berikan di dalam mendampingi mereka.

Jika di sela-sela aku menyelesaikan tugas, sambil mendengarkan alunan lagu-lagu, selalu saja terbersit dalam pikiranku suatu tanda tanya: Apa yang sudah kuperbuat bagi mereka itu?

Akan tetapi, jika hanya melihat sisi-sisi tugas yang seolah menjadi beban, aku sadar bahwa itu hanya akan mengurangi hariku dengan suasana muram dan tak memberi semangat. Berat pasti berat! Masalahnya, aku tidak mau mati konyol dengan segala keluhan yang spontan selalu muncul dari sisi lemahku. Aku ingin memberi warna dalam hidup ini. Sama seperti mereka itu yang tetap memiliki warna cemerlang meski harus menghadapi banyak hal yang belum jelas di hadapan mereka.

Sering aku harus berjibaku dengan perasaanku sendiri. Ketika aku harus menegakkan aturan di antara mereka, sementara aku sendiri adalah orang yang berjiwa bebas. Antara aku harus membiarkan segala kebebasan itu merekah di tengah jiwa-jiwa muda itu dan aku harus "membelenggu" dengan pasal-pasal yang mengatur mereka. Sudah bisakah aturan itu hidup dalam diriku juga?

Lepas dari itu semua, aku kembalikan diriku pada makna kedekatan hati yang pantas dibangun sebagai orang yang hidup di tengah riuhnya orang muda yang mencari identitas. Ketika mereka memprotes tindakanku, menyangkal kata-kataku, menyanggah penjelasanku, aku tersudut dalam ketidakmampuan. Akan tetapi, dalam satu kesempatan aku bisa menyadari bahwa di situlah letak hati itu. Ketika mereka memprotes, menyanggah, dan menyangkal, mereka "berbicara" denganku. Mereka menjalin hati denganku. Aku harus menyimpulkan ini. Aku harus melihat ini sebagai dasar bahwa mereka adalah sosok-sosok yang patut untuk memprotes, menyangkal, dan menyanggah. Hingga pada suatu saat, entah kapan, mereka akan tahu bahwa proses itu merupakan satu langkah keberhasilan mereka di dalam menapaki kehidupan.

Aku tersenyum geli. Aku harus mengakui ini. Aku tidak bermaksud untuk menindas mereka. Aku hanya ingin membuka hati kepada mereka. Dengan cara apakah aku bisa "berbicara" dengan mereka, kalau bukan dengan membuka mata dan telinga dari suara dan mulut mereka.

Mungkin aku hanya akan berkata kepada mereka itu, "Nak, berbicaralah! Aku akan 'belajar' mendengarkanmu!"

Selasa, 01 Desember 2009

Mereka Tak Lagi Baru


Ingatanku sedang melayang pada pengalamanku. Rasanya, baru kemarin aku menginjakkan kaki di Tanah Kayong ini. Ternyata, bulan ini sudah memasuki bulan keenam. Itu sama dengan setengah tahun aku meninggalkan Tanah Jawa.

Kemudian, aku ingat wajah anak-anak didikku yang enam bulan lalu tampak culun dan polos. Saat itu, mereka masih memakai seragam Masa Orientasi Siswa Baru. Harus nurut disuruh kakak kelasnya. Harus bekerja ketika diminta membuat pekerjaan rumah. Harus...harus...ini dan itu!

Namun kini, semuanya telah berubah. Tak ada lagi sebuah perbedaan. Papan nama dari karton yang dulu disandang di dada mereka, telah lama hilang! Rambut mereka pun jauh lebih bergaya! Tak ada lagi kesan culun dan polos! Tak ada lagi segi pembatas antara kakak tingkat dan adik tingkat! Segalanya telah berubah. Mereka tak lagi tampak sebagai anak baru!

Tak ada yang abadi! Bahkan status sebagai siswa baru pun telah lama ditanggalkan! Kini, ketika ada kegiatan sekolah yang harus diikuti, semuanya terlibat. Tak lagi harus kakak tingkat yang unjuk gigi. Adik tingkat yang memang mampu pun akan terlibat. Bahkan, dalam kepengurusan OSIS pun, anak-anak yang enam bulan lalu masih menjadi "bulan-bulanan" kakak-kakaknya, kini telah turut ambil bagian!

Satu langkah seseorang akan mengawali seribu langkah seseorang. Satu detik di pagi hari akan membuka jutaan detik hari demi harinya. Satu hembusan nafas akan mengantar kehidupan dari satu helaan ke helaan berikutnya.

Anak-anak itu (lantas, apakah mereka masih pantas disebut anak-anak lagi sekarang?) telah menapaki masa baru dengan seragam putih abu-abunya. Setengah tahun, setahun, dua tahun, tiga tahun lagi mereka akan menjadi siswa senior di sekolah ini. Tak mencapai genap satu tahun, mereka harus menyiapkan diri untuk lulus dari sekolah ini. Akhirnya, seragam putih abu-abu itu mereka tanggalkan. Seragam itu itu tinggal kenangan. Sekolah ini hanyalah bagian dari masa ketika mereka menjajaki dunia baru. Sekolah ini hanya setitik dasar dari bekal hidup mereka selanjutnya.

Memang, tak ada yang abadi! Mereka itu, yang sering mereka sebut sebagai anak-anak remaja itu, tak lagi baru! Mereka telah menjadi bagian dari komunitas putih abu-abu. Apa pun yang terjadi, itu adalah satu langkah dari sekian langkah mereka untuk menjajaki dunia!

Jika saat istirahat tiba dan aku sesekali berdiri di ujung halaman sembali menatap riuhnya mereka di lorong sekolah dan sudut taman sekolah, aku hanya bisa menarik nafas! Segalanya berubah! Tak ada yang tetap!

Sabtu, 28 November 2009

Belajar Mengajar


Aku hanya menatap lembaran yang ada di tanganku. Lembaran pembagian tugas! Mengampu pelajaran Bahasa Indonesia kelas X! Seluruh kelas! Sebanyak 28 jam tatap muka!Mati!

Bukan hendak menolak! Bukan begitu! Hanya aku agak kaget saja! Masalahnya begini: sejak lulus kuliah tahun 2004 lalu, baru tahun 2009 ini aku masuk sekolah! Sebagai guru! Bagaimana akan memulai mengajar itu, sementara di masa-masa lalu, sudah banyak perubahan di dunia sekolah! Yang jelas kutahu dan sering sekali menjadi bahan perbincangan adalah kurikulum, termasuk di dalamnya KBK dan KTSP) dan segala macamnya!

Aku mulai dari mana? Aku hanya manggut-manggut ketika rekan baru yang mengampu pelajaran itu tahun lalu kemudian menunjukkan beberapa buku referensi yang harus aku gunakan. Setelah itu, aku harus menyiapkan silabus! Paling tidak menyusun ulang silabus tahun lalu yang sudah pernah dibuat oleh kawan guruku itu.

Ya, itulah! Mulai dari situ saja!Menyiapkan bahan dari buku! Mengenal siswa dan kemudian menyampaikan materi! Selesai!

Masalahnya, materi yang sebenarnya harus bisa disampaikan pada jam tatap muka tertentu itu ternyata melebihi target yang ada! Mati kedua lagi!Bagaimana ini? Ini terjadi karen aku terpaksa mengulang beberapa kali materi tertentu di hadapan anak-anak di kelas tertentu. Yaaaa....bagaimana tidak harus kuulang, ketika terjadi tanya jawab saja mereka hanya memandang bengong!Ini aku yang tidak bisa mengajar ataukah anak-anak itu yang tak memperhatikan penjelasanku?



Aku sempat duduk diam di kantor guru. Mendengarkan guru-guru senior memperbincangkan bahan yang hampir selesai atau bahkan sudah selesai! Gagal sudah! Baru mulai, materi yang mesti kusampaikan tak terkejar!

Ini perjalanan memang baru kumulai! Aku masih belum tahu, kendala apalagi yang hendak kutemui!

Sabtu, 03 Oktober 2009

Tak Pernah Ada Yang Tetap!


Sejak Juli 2009 yang lalu, aku mesti angkat koper dari Semarang. Surat keputusan yang kuterima dari pimpinan menetapkan agar aku bertugas di tempat baru dengan tugas yang baru pula. Sekolah dan sebagai guru! Meski tak tahu apa yang harus kupersiapkan, aku pun berangkat dengan barang-barang yang bisa kubawa.


Pergi dan datang pada sebuah tempat yang belum pernah hinggap dalam bayangan! Tak masalah! Yang penting, ada kesempatan untuk dapat melihat tempat itu. Apa yang musti kuperbuat? Tak perlu dipikirkan sulit-sulit! Datang, lihat, dan perbuatlah! Mungkin ini yang lebih baik! Meski, seolah-olah aku bagai datang tanpa membawa amunisi!

Berangkat dari Semarang hari Selasa malam (7 Juli) dengan travel menuju ke Jakarta. Mau menikmati pengalaman naik travel, sekaligus nanti hari Kamis pagi (9 Juli) akan menikmati udara dari Jakarta ke Pontianak! Yaa.....karena tak setiap saat akan mendapatkan perjalanan seperti itu!

Di Jakarta, aku transit sehari semalam sekedar menunggu waktu keberangkatan ke Pontianak. Tak ada kegiatan yang banyak kulakukan, kecuali pergi ke toko dan...potong rambut! Ha...ha...ha...! Habis sudah rambut setahun, dipangkas gunting dalam seperempat jam!



Kamis pagi, aku benar-benar meninggalkan Jawa menuju ke tanah Borneo! Perjalanan hanya memerlukan waktu satu jam. Aku dan Tri transit sebentar di Bandara Supadio Pontianak, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang lebih kecil ke Bandara Rahadi Usman Ketapang!



Pukul 09.30, pesawat mendarat dan saudara-saudaraku sudah menjemput. Inilah tanah baru! Inilah tempat tugas baru! Inlah dunia baruku!

Segala sesuatu itu memang tak pernah tetap. Akan selalu berubah di saat manusia tak pernah dapat menebak kapan akan berubah. Temapt tugasku telah berubah. Tugasku telah berubah. Penampilanku pun harus berubah. Yaaa, meski tah harus mengubah total, namun inilah sebubah perubahan dalam perjalanan hidup! Perjalanan itu taka akan pernah bisa berhenti di suatu tempat. Jika harus berhenti, tempat perhentian itu hanyalah tempat singgah yang sebentar lagi akan ditinggalkan. 

Perjalanan ini adalah peziarahan! Peziarahan itu sellau mengarah pada tujuan akhir yang tak akan pernah tahu ujungnya. Jika suatu saat aku berada di tempat ini, aku tak tahu sampai kapan. AKu tak akan pernah tahu dan tak perlu aku meraba-raba sampai kapan. Jika memang sudah sampai pada masanya, masa itu akan menunjukkan saat aku harus pergi! Tak pernah tetap! Suatu saat panjang dan suatu saat pendek. Seperti rambutku!!! Huaaaa.....!

Ketapang, 28 September 09

Jumat, 29 Mei 2009

Sepinya Seorang Kawanku!


Seorang kawanku menuliskan demikian, ”mataku masih sembab”. Kemudian, dibalaslah ungkapan yang ditulis di dindingnya itu oleh beberapa kawan-kawannya dengan berbagai ungkapan.
”Cup, cup! Jangan nangis!”
”Wualah..! Gak usah ditangisi to, Mbak! Aku gak apa-apa koq...! Tuh, jadi sembab kan?”
”Wah, jangan-jangan, gara-gara dengar lagunya Olga yang berjudul ’Hancur hatiku’! Ya ta? He...he!”
”Jangan nangis mulu, ah! Udah gede juga!”
”Ini kok nangis melulu, to?”
Kemudian, kawanku itu membalas.
”Aku udah gak nangis kok, hanya kenapa mataku masih sembab.”
”Saat sepi ada dalam kalbu dan tak ada siapa pun yang bisa membuat sepi itu jadi ramai, yang terjadi hanya sebuah tetesan air mengalir. Miss u so much girl!”
”Aku kangen sama kamu! Ketemuan, yuk!”
”Entahlah...! Sepi atau ramai, perasaan ini sama saja. Hanya mukjizat yang mampu membuat semuanya menjadi indah, sehingga aku tak akan pernah menangis lagi!”
”Thanks for your care for me. GBU.”
Didera dan ditelikung kesepian itu benar-benar menyiksa. Ada keramaian di sekitarku, namun aku tak mampu larut dalam keramaian itu. Aku seperti tersingkir dalam arus deras keramaian. Tersingkir, tersisih, namun tak terasa jauh! Ketika mendengar suara tawa dari orang lain, yang muncul justru perasaan tertusuk pedih. Mengapa mereka dapat tertawa, sedangkan aku tak bisa?

Itulah sebabnya, aku begitu mudah lari dari kesepian ke keramaian. Meski, jik aku kembali berada dalam kesendirian, kesepian itu menyergap lagi. Apakah kesepian itu musti dihindari? Apakah kesepian itu musti hilang dari muka bumi ini?

Menurutku tidak, Kawan! Kesepian itu ada karena manusia telah mengalami sebuah perasaan yang akhirnya diberi nama kesepian. Kenyataan ini, mau tidak mau harus tetap diterima. Dari pengalaman, muncullah pernyataan bahwa seseorang yang mengalami “sesuatu seperti dicabut dari segala yang serba ramai” adalah kesepian!

Lainnya, kesepian memang tak harus hengkang karena dari situlah manusia bisa menyelam ke dalam dirinya. Manusia bisa benar-benar mengerti bahwa dirinya adalah makhluk yang seperti ini, ciptaan seperti itu, dan pribadi yang menjadi begini.

Terakhir, dengan kesepian, manusia bisa menerima kehadiran sesamanya. Thanks for your care! Perhatian! Sebuah perhatian akan begitu terasa berharga manakala manusia sedang disergap kesepian dan sesamanya mau peduli!

Kapan mukjizat itu bisa terjadi? Entah, Kawan! Aku tak pernah mengharapkan sebuah mukjizat, karena di setiap hariku, selalu ada banyak peristiwa yang pada akhirnya menggiringku untuk memahami bahwa itu semua ada mukjizat!***

Mei, 2009

Kamis, 30 April 2009

Kehilangan


Daun rontok dan meninggalkan ranting yang dulu erat menggenggamnya. Jatuh melayang. Berserakan di atas tanah. Kemudian, lambat laun akan menghilang di dalam tanah. Hilang!

Berjalan mengayuh langkah di bawah bayang-bayang pepohonan. Menari di antara perdu-perdu ilalang. Melompat di antara bebatuan terjal! Jika memang sudah saatnya kaki menapak, entah di atas lumpur atau di atas tanah, kaki akan menapak! Bisa membekas dan ataupun hilang. Jika kaki itu menapak di atas tanah basah, maka akan membekas! Akan tetapi, jika hinggap di atas aliran air, maka jejak itu akan sirna. Hilang!

Kehilangan itu terasa menyakitkan. Namun, kehilangan itu akan bisa berarti bila kau pernah merasa memilikinya. Jika kau ingin menggenggamnya selamanya, maka kehilangan itu semakin kuat untuk meninggalkanmu. Kamu tidak percaya? Aku tidak ingin memaksa! Berapa di antaramu yang sudah terlalu banyak kehilangan? Tak akan terhitung!

Jika kau pernah mengalami kehilangan, aku pun pernah. Jika kau pernah mengalami kehilangan, mereka pun pernah. Apakah jika aku dan kau mengalami kehilangan, kehidupan akan hilang pula! Tak akan! Yaa...hidupnya yang barangkali terasa hampa! Sepi! Kosong! Akan tetapi, apakah hidupmu akan terus kau korbankan hanya demi kehilangan itu? Sementara, kehilangan itu akan terus melayang dan terbang di antara manusia demi manusia untuk menebarkan racun-racun keputusasaan!

Aku mengertimu ketika kau mengatakan bahwa dia meninggalkanmu. Aku mendengarkanmu ketika kau mengatakan bahwa dia memutuskan dirimu. Aku memahamimu ketika kau mengatakan bahwa dia lebih memilih hati lain daripada hatimu. Dan kau akan merasa terlempar ke sudut kebinasaan! Tenggelam dalam rasa kehampaan yang sulit diisi oleh rasa berpengharapan yang baru.

Namun, setelah sekian detik kau bergulat dengan racun kehilangan itu, bisakah kau mengatakan, ”Aku ingin memiliki kehilangan itu!” Aku ingin memiliki rasa kehilangan itu sebagai bagian dari kehidupanku? Beranikah dirimu untuk menggandengnya dalam setiap langkahmu? Pasalnya, kehilangan ini tak akan pernah bisa melepasmu. Meski kau berusaha untuk menghindarinya. Karena, jika kau berkesan menghindarinya, dia akan bersorak gembira dan memenangkan pertempuran! Akan tetapi, jika kau berani menariknya mendekat, menggenggamnya, dan mendekat erat di dalam hatimu, dia akan menjadi bagian hidupmu dan tak akan menyakiti hatimu lagi. Karena di balik kehilangan itu ada rasa baru yang tumbuh dan memberimu kekuatan baru. ”Pernahkah kau mengira kalau dia akan sirna. Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa. Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memiliknya.”

Jika kau membuka matamu, kau akan melihat seorang malaikat kecil menyongsongmu di tengah padang bunga bakung. Dia berlari dan memeluk pinggangmu dengan erat. Ketika kau pandang bola matanya yang bening, kau akan melihat isi hatinya. Dia akan berkata kepadamu dengan jiwa penuh nyanyian.

”Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu kekuatan yang tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata. Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu semangat di saat dan dan pikiranmu sedang galau. Aku ingin mendekapmu karena kau sungguh berarti. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk satu cinta yang tak pasti!”***

Untuk jiwa-jiwa yang telah terbang!
Pemuatan ulang dari tulisan yang sama pada blog yang lain.

Kamis, 16 April 2009

Ungkapan Nov


Seperti biasa, jika aku sedang browsing, kusempatkan untuk melihat halaman friendster-ku (ato facebook-ku). Barangkali, ada pesan atau komentar yang datang dari teman-temanku. Kulihat ada tulisan yang baru saja diposting dari Nov. Demikian dia menuliskannya:

Saat itu aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta itu, kita suka sama cowok yang kita kagumi. Tak terhitung berapa cowok yang pernah kusukai, tapi tak perah kumiliki karena rasa takut akan kata ”tolak”. Pada akhirnya, rasa suka itu terbalas dengan satu cowok yang sangat aku kagumi. Di situ, aku mulai kehidupan cintaku (020503).

Dia mengajari aku arti kesatuan. Walaupun di antara kami banyak perbedaan, tetapi dari perbedaan itu kami bisa menjadi satu. Dia mengajari aku apa arti sayang. Kehidupanku sangat indah yang selalu dipenuhi rasa kangen akan kehadirannya. Apakah ini yang disebut cinta pertama? Dia juga mengajari aku apa arti cinta. Cinta di mana kuterima dia apa adanya. Walaupun aku mencoba untuk mengubahnya, tetapi aku juga harus ingat kalau cinta tak harus mengubah dia menjadi apa yang kuinginkan.

Dia juga mengajari ku rasa sakit hati. Dia tak pernah melukaiku. Tetapi kadang pada suatu hubungan itu pasti ada bertengkarnya. Dia mengajari aku arti kejujuran. Saat kami menjalin hubungan, kata ”jujur” itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya.

Dia juga mengajari aku arti perpisahan. Di mana ada pertemuan, di situ pula ada perpisahan. Susah untuk menerima semua itu. Walaupun aku menjalin hubungan dengannya sangat singkat, tapi bagiku itu adalah seumur hidup. Dan pada akhirnya aku tahu kalau cinta itu tak harus memiliki (190904).

Akan tetapi, ada satu hal yang dia tidak tahu. Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu. So, sorry...

Aku sejenak membaca. Memaknai atas apa yang ditulis Nov. Mataku terpaku pada satu kalimatnya. "Saat kami menjalin hubungan, kata 'jujur' itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya. "

Dalam situasi apa pun, sikap jujur itu tetap perlu dipertahankan. Bukan hanya karena demi cinta, sikap jujur tetap harus diperjuangkan. Apalagi cinta, untuk bekerja saja, seorang pimpinan selalu menekankan sikap jujur pada bawahannya. Jika sikap jujur itu sudah tak dihidupi oleh pimpinan, bagaimana bawahan mau mencontoh atau meneladan?

Kejujuran adalah bintang. Dia berada di awang-awang dan tak dapat diraih. Akan tetapi, taburannya yang berlaksa-laksa dan sinarnya yang berkerlap-kerlip, memberikan mozaik indah yang tak pernah bisa dilukis manusia.

Bisakah seseorang berkata jujur jika pada kenyataannya kejujuran itu seperti bintang? Seperti kata Nov sendiri, pada saat dia menjalin hubungan, kata jujur itu sangat penting dan dia tak pernah sedikit pun berbohong pada kekasihnya. Akan tetapi, di tempat lain, Nov pun mengakui bahwa dia tak pernah bisa berkata sebenarnya tentang satu hal. Nov bilang, ”Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu”. Kejujuran itu menyakitkan.
Apakah aku sudah bisa mengedepankan kata jujur? Bisakah aku mengatakan kepada kekasihku, ”Meski aku berjalan bersamamu, jujur kuakui bahwa aku pun menduakan dirimu dengan orang lain.” Ah, siapa yang bisa mengatakan ini? Ah, siapa yang tahan akan rasa sakit hati. Siapa yang mau mendengar kata ”khianat, jahat, menodai” dan kata-kata lain yang akhirnya mengantar pada kata, ”selamat tinggal, selamat berpisah, selamat jalan, aku pergi”.

Kejujuran adalah landasan dalam hidup. Meski berat untuk meletakkan sebagai landasan sendi-sendi hati, namun manusia harus tetap memperjuangkannya. Nov tidak salah! Karena Nov, seperti aku juga, adalah manusia yang masih selalu berjuang untuk menebarkan kejujuran itu di hamparan permadai kehidupan.

Nov, jika kamu menyampaikan isi hatimu ini, kuanggap bahwa aku pun berkesempatan membawa ungkapanmu ini dalam perjalanan hidupku. Kuharap kamu masih tetap berjuang demi cinta dan kejujuran. ***


Semarang, 6 April 2009

Senin, 06 April 2009

Kejahatan Itu....


Sebuah email dikirim dalam milis yang kuikuti. Pengalaman bentuk kejahatan yang berbeda lagi. Inilah bunyi email itu!

Guyzzzzzzzzzzzzzz! Gw mo sharing kejadian yg gw alami sendiri kemarin malam. Semoga ga ada lagi yg jadi korban kejahatan ala TISSUE BASAH yg hampir menimpa gw.

Jadi, jam 21.30 gw naek bus dr UKI ke arah Blok M. Gw naek P 45 yang busnya mirip bus Jepang. Naaahh, waktu itu bus memang dlm keadaan agak sepi. Hanya beberapa orang saja di dalamnya, termasuk gw. Waktu bus sedang ngetem, naik seorang bapak dan dia sempat melihat keadaan sekeliling bus. Lalu dia duduk di samping gw. Di situ gw mulai curiga. Coz, sebenernya masih banyak tempat duduk kosong, tp yaahh gw no hard feeling lahhh.Awalnya emang ga ada apa-apa. Saat bus mulai jalan, dia mengeluarkan tissue basah merk yg lumayan terkenal. Dia gosok-gosokkan tissue itu ke telapak tangan dan lengannya, seolah mengelap keringat. Di situ gw mulai mencium bau agak aneh. Apalagi untuk gw yg memang sering pake tissue bassah merek itu. Baunya berbeda seperti bau aseton plus spritus bakar. Gw mulai mual. Pada saat itu emang posisi gw deket kaca dan kaca terbuka lebar. Lalu dia berkata,”Mbak, maaf kacanya boleh ditutup dikit, ya? Anginnya kenceng banget.” Lalu dia menutup kaca itu dan lengannya otomatis melewati hidung gw. Saat itu, bau aseton plus spritusnya makin menyengat hidung gw. Gw bener-bener pusing mendadak. Ketika dia melihat gw mual dan pucat, dia menawarkan tissue basah yg tadi digunakan. Langsung dia menyodorkan tissue itu di depan hidung gw dalam posisi setengah terbuka. Baunya langsung bikin mata gw kunang-kunang.Saat itu Tuhan masih baik sama gw. Seolah-olah otak gw sedikit disadarkan untuk segera turun dari bus itu. Dia berusaha mencegah dengan berpura-pura baik. ”Mbak gpp? Kok pucat?” Langsung gw tepis tangannya. Gw langsung berlari ke pintu keluar dan gw turun persis di depan patung Pancoran. Saat gw turun, gw bener-bener mual dan ga ngeliat tangga. Untung ditolong sama kondektur serta beberapa pengamen di situ. Saat itu gw dah pasrah karena gw dikerubutin pengamen-pengamen yg khawatir sama gw. Bahkan, salah satu dari mereka berpostur preman. Tapiii... dont judge a book from the cover. Gw malah ditolong sama mereka. Gw dikasih minyak angin sampe gw bener-bener muntah dan diberi air putih. Saat gw mulai baikan, gw cerita sama mereka. Mereka bilang itu memang kerap terjadi di bus P 45 jurusan Cililitan – Blok M. Biasanya incaran mereka adalah wanita yg duduk sendiri di dekat jendela. Sudah banyak yg jadi korban perampokan ala tissue basah dan memang benar dugaan gw tissue basah itu dicampur sama aseton dan alkohol 85%.

Dari situ, gw baru dicariin taksi Bluebird. Para pengamen itu bahkan sempat mencatat nomor taksi dan nama si pengemudi untuk memastikan gw aman. Gw sempet mo ngasih duit buat mereka, tapi mereka nolak. Mereka cuma kasian sama gw dan ikhlas bantu gw.
Jakarta oh Jakartaaaaaa! Kita bener-bener ga bisa nebak orang berdasarkan fisik. Orang yg keliatannya bejat malah mereka yg baik sama kita. So be carefull, girls! Itu bener-bener kejadian. Gw ngalamin sendiri. Selesai!

Masihkan aku harus memberi pendapat akan pengalaman ini?



Semarang, 7 April 2009