Selasa, 25 Mei 2010

Pemain Opera Itu Telah Pergi


Selasa petang (25/5) sekitar pukul 18.00, Bu Hera datang ke tempat kami dengan mata sembab. Aku baru saja membuat minum, ketika beliau datang dan kemudian disambut oleh saudara-saudaraku yang lain. Melihat kedatangannya yang mendadak, tiba-tiba saja perasaanku sudah menduga hal yang tidak enak. Sesuatu yang kurang baik mungkin terjadi. Beberapa saat kemudian, aku keluar dari ruang makan dan mendatanginya.

"Ada apa, Bu?" tanyaku sambil mendekat kepadanya yang duduk di ruang tamu kami.
"Anak kita (maksudnya, salah satu siswa di sekolah kami), meninggal. Reko..." sahutnya dengan suara tersendat.
"Reko?" tanyaku menegas.
"Iya. Anak kelas sebelas."
"Saya mendapat kabar dari Bu Kasih," lanjut Bu Hera, "ketika saya mengunjungi petang ini tadi. Katanya, Reko meninggal kena aliran listrik. Tapi saya belum tahu, apakah saat kerja di sekolah atau tidak. Anak ini memang sering membantu para guru kalau ada kesibukan di sekolah."

Deg! Aku langsung berdebar. Sekelebat, aku teringat pada seorang anak remaja yang sudah aku kenal. Reko! Reko yang aku kenal sama dengan kata-kata Bu Hera. Orangnya memang aktif dalam beberapa kegiatan, termasuk salah satunya kemarin baru saja mendukung acara pementasan "Opera Perjalanan Lima Sahabat".

"Sekarang masih di RS Fatima," lanjut Bu Hera. Aku masih diam. Seorang saudaraku datang dari ruang makan mengangsurkan segelas air putih untuk Bu Hera.
"Kita ke sana petang ini," kata Bu Hera setelah beberapa saat meneguk air putih untuk menghilangkan rasa shock yang menderanya.
"Baik, Bu," jawabku.

Bu Hera kemudian pamitan untuk lebih dahulu menuju ke RS Fatima. Aku pun bergegas berganti baju di kamar. Ketika keluar kamar, kulihat mendung makin tebal. Belum sempat menuju garasi motor, hujan turun. Aku kembali ke kamar mengambil mantol. Begitu mantol kupakai, aku segera men-stater sepeda motor dan kupacu membelah tetesan hujan yang makin deras. Langit gelap. Jalan A. Yani dan Sudirman agak lengang karena hujan yang deras tiba-tiba turun. Aku melajukan motor agak pelan karena kaca helm yang gelap.

Begitu masuk kompleks RS Fatima, aku segera menuju ke tempat parkir. Selesai menaruh sepeda motor dan mantol, Bu Hera menyongsongku.

"Reko meninggalnya tidak di sekolah, namun di rumah Pak Jani saat membantu membetulkan kabel listrik," katanya. Aku pun mengiyakan sambil bergegas menuju ke kamar jenazah.

Di sana, sudah ada beberapa teman sekelas Reko yang datang. Ada juga kawan-kawan di OMK yang kemarin sama-sama mementaskan opera itu. Aku menyibak kerumunan dan terus masuk ke ruang dalam. Di dalam, di atas bangku dengan terbungkus kain, seseorang yang kuduga telah kukenal itu terbaring. Aku mendekat dengan diiringi Bu Hera. Agak ragu aku membuka kain yang menutup kepala jenazah itu. Bagaimana kalau wajah ini benar-benar Reko yang aku kenal? Atau jika bukan, anak ini tetap salah satu siswaku. Bagaimana kalau wajah ini adalah Reko yang kemarin baru saja bersama-sama berpentas? Bagaimana jika wajah ini adalah Reko yang sedang menyiapkan kegiatan di bulan Juni nanti?

Aku masih menahan jari-jemariku untuk membuka kain itu. Ketika kulihat rambutnya, aku agak mulai yakin. Rambut yang agak berdiri. Rambut yang tidak bisa disisir lurus. Rambut itu persis milik Reko. Kulanjutkan untuk membuka kain itu ke bawah, sepasang alis mata, sepasang mata yang terpejam. Ah, debaran jantungku makin kencang. Luka kecil di pipinya tak mampu lagi menyamarkan bahwa wajah tanpa ekspresi dan sedang kuamati ini adalah Reko!

Aku terhenyak. Jariku agak gemetar menahan kain. Reko....! Ini sungguh Reko yang kukenal! Aku mengembalikan kain itu dengan pelan. Wajah yang kukenal itu tertutup lagi. Aku berpaling.

Di sekitar ruangan, beberapa kawan OMK sudah ada dan duduk di kursi. Aku mendekat ke mereka. Kurangkul Aten yang masih berdiri. Kudekati Jojo yang sedang duduk termangu di kursi.

"Aku kaget sekali," bisik Jojo setelah aku duduk di sampingnya. Aku hanya terdiam. Sepertinya, kenyataan ini benar-benar bukan suatu kenyataan. Aku teringat dengan tulisanku, "Antara pertemuan dan perpisahan itu berbatas tipis!" Tipis....

Sepertinya baru kemarin aku mengenal Reko. Akan tetapi, sekarang dia sudah terbaring tanpa helaan nafas. Terbaring dalam diam yang tak akan bisa lagi kutemui dalam kegiatan-kegiatan kami lagi.

Sambil duduk dan memandang tubuh Reko yang terbujur kaku, anganku melayang pada masa-masa aku mengenalnya. Dia adalah aktivis di OMK. Itu yang aku ingat. Setelah aku tahu dia aktivis di OMK, barulah aku kenal dia adalah siswa kelas XI di sekolah kami. Sebenarya, Reko saat ini sedang menyiapkan kegiatan baru. Bulan Juni nanti, OMK akan mengadakan acara "Ekspresi Ceria OMK" dan Reko menjadi ketua panitianya. Gambaran acara itu pun hinggap di benakku. Bagaimana kelanjutan acara ini? Hal yang akan terjadi adalah jika acara ini dapat dilangsungkan, ingatan akan selalu tertuju pada Reko. Selintas aku berpikir, jika acara itu terlaksana, aku ingin mengajak kawan-kawan di OMK mendedikasikan acara itu untuk Reko.

Ingatan yang tak bisa kuelakkan adalah peran Reko ketika dia menjadi salah satu pemain opera itu. Sangat jelas! Bahkan rekaman videonya pun ada! Gerak geriknya! Cara menanggapi ketika aku harus mengarahkan gayanya. Antusiasnya ketika latihan! Usulan-usulannya ketika kuajak mendiskusikan jalan cerita. Semuanya hinggap di benakku. Bulan April lalu, tanggal 25, pukul 18.00, kami mementaskan opera itu. Reko beraksi dengan ekspresif! Tampil maksimal dengan inisiatif gayanya yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Dia tampil bersama Jojo, Apri, Selvi, dan Vali.

Sekarang, dia terbaring diam. Tanpa ekspresi dengan mata terpejam! Segalanya yang dia tampilkan sebulan lalu, petang ini hilang! Tepat! Tanggal 25 Mei! Persis satu bulan yang lalu dia tampil penuh gaya, saat ini dia tampil dalam diam!

Desis tangisan tertahan menyusup ke telingaku. Aku palingkan mukaku. Seorang kawan Reko baru saja menyibak kain penutup wajah Reko. Dengan tangisnya yang tertahan, dia berlari ke luar ruangan. Tangisnya pecah di luar ruangan. Aku menghela nafas. Antara pertemuan dan perpisahan ini berbatas tipis...

Lantas, ingatanku melayang ke sekolah. Saat-saat ketika aku mengetahui bahwa Reko memang siswa di sekolah kami. Kuingat salah satu kejadian ketika Riko dipanggila Bu Eka, salah satu rekan guruku yang menjadi wali kelasnya. Juga, kuingat perjumpaan dengannya di sudut dan halrey sekolah. "Selamat pagi, Bro!" atau "Selamat siang, Bro!" Sapaannya mengiang di telingaku. Aku menghela nafas kembali.

"Mohon keluar dari ruangan karena jenazah hendak dimandikan." Suara suster memecah keheningan dan membuyarkan lamunanku. Semua yang berada di ruangan pun bergegas keluar. Aku pun beranjak ke luar ruangan mengikuti langkah Jojo yang sudah lebih dahulu beranjak.

Di luar, kulihat kawan-kawan Reko makin banyak. Di sudut, beberapa kawan Reko sudah terisak dalam tangisan. Di sudut lain, beberapa guru dan orang tua yang kenal baik dengan Reko sedang membicarakan urusan selanjutnya.

Melihat situasi yang ada di sekitarku, aku hanya bisa berdiam. Isak tangis kawan-kawan Reko, semakin keras ketika teras ruang jenazah itu semakin penuh.

Tak ada yang bisa kusampaikan lebih banyak lagi. Yang ada adalah gambaran kehilangan. Kehilangan sahabat, kehilangan teman, kehilangan anak. Gambaran itu pecah dan menyatu bagai mozaik yang membuat nuansa malam itu makin kelam. Kilat menyambar di atap RS Fatima beberapa kali. Hujan deras pun turun dengan cepat. Hujan dan kilat itu tak menghentikan niat kawan-kawan Reko untuk berdatangan ke RS Fatima.

Hujan terus turun! Sepertinya, langit turut mengiringi kepergian seorang kawan yang benar-benar membekas. Selamat jalan, Reko! Kami akan mengenangmu sebagai seorang anak didik, seorang sahabat, seorang kawan, dan seorang pemain opera yang andal!***

Senin, 10 Mei 2010

Mereka Itu...

Hampir satu tahun aku "belajar mengajar" di sekolah ini. Perjalanan hampir satu tahun itu tentulah penuh dengan riak-riak yang membuat hamparan pengalamanku semakin bertambah luas. Sejujurnya dapat kukatakan bahwa "belajar mengajar" ini belum membuatku puas. Aku merasa masih banyak hal yang harus kuperbarui dan kuolah kembali. Aku tidak tahu, kapan semuanya akan menjadi lebih baik.

Terkadang, terbersit rasa enggan untuk melanjutkan "belajar" ini. Ada saja lubang-lubang kelemahan yang membuatku untuk memilih "mundur". Akan tetapi, jika aku melihat para seniorku yang telah berjuang sekian tahun masih tetap bertahan, rasanya malu jika aku yang memilih mundur. Aku berpikir, lebih baik segi lain sajalah yang mengharuskan aku berhenti dari belajar ini.

Rasanya lelah dan capai, jika mengingat beberapa tugas yang harus aku kerjakan. Aku dituntut untuk mempersiapkan bahan pembelajaran yang sepertinya tak pernah habis. Ini sudah jamak, umum! Setiap orang yang berposisi seperti diriku, pasti akan berbuat seperti itu. Entah senang atau tidak! Aku juga harus dituntut untuk bersikap dewasa menghadapi anak-anak muda yang baru menginjak masa-masa remaja ini. Tingkah dan perilaku mereka, terkadang membuatku harus berpikir: apa yang bisa aku perbuat untuk membantu mereka? Sementara, aku menyadari bahwa tak banyak bekal yang bisa aku berikan di dalam mendampingi mereka.

Jika di sela-sela aku menyelesaikan tugas, sambil mendengarkan alunan lagu-lagu, selalu saja terbersit dalam pikiranku suatu tanda tanya: Apa yang sudah kuperbuat bagi mereka itu?

Akan tetapi, jika hanya melihat sisi-sisi tugas yang seolah menjadi beban, aku sadar bahwa itu hanya akan mengurangi hariku dengan suasana muram dan tak memberi semangat. Berat pasti berat! Masalahnya, aku tidak mau mati konyol dengan segala keluhan yang spontan selalu muncul dari sisi lemahku. Aku ingin memberi warna dalam hidup ini. Sama seperti mereka itu yang tetap memiliki warna cemerlang meski harus menghadapi banyak hal yang belum jelas di hadapan mereka.

Sering aku harus berjibaku dengan perasaanku sendiri. Ketika aku harus menegakkan aturan di antara mereka, sementara aku sendiri adalah orang yang berjiwa bebas. Antara aku harus membiarkan segala kebebasan itu merekah di tengah jiwa-jiwa muda itu dan aku harus "membelenggu" dengan pasal-pasal yang mengatur mereka. Sudah bisakah aturan itu hidup dalam diriku juga?

Lepas dari itu semua, aku kembalikan diriku pada makna kedekatan hati yang pantas dibangun sebagai orang yang hidup di tengah riuhnya orang muda yang mencari identitas. Ketika mereka memprotes tindakanku, menyangkal kata-kataku, menyanggah penjelasanku, aku tersudut dalam ketidakmampuan. Akan tetapi, dalam satu kesempatan aku bisa menyadari bahwa di situlah letak hati itu. Ketika mereka memprotes, menyanggah, dan menyangkal, mereka "berbicara" denganku. Mereka menjalin hati denganku. Aku harus menyimpulkan ini. Aku harus melihat ini sebagai dasar bahwa mereka adalah sosok-sosok yang patut untuk memprotes, menyangkal, dan menyanggah. Hingga pada suatu saat, entah kapan, mereka akan tahu bahwa proses itu merupakan satu langkah keberhasilan mereka di dalam menapaki kehidupan.

Aku tersenyum geli. Aku harus mengakui ini. Aku tidak bermaksud untuk menindas mereka. Aku hanya ingin membuka hati kepada mereka. Dengan cara apakah aku bisa "berbicara" dengan mereka, kalau bukan dengan membuka mata dan telinga dari suara dan mulut mereka.

Mungkin aku hanya akan berkata kepada mereka itu, "Nak, berbicaralah! Aku akan 'belajar' mendengarkanmu!"

Selasa, 16 Februari 2010

Sedang Membuat Puisi!

Saya sedang memberi tugas pada anak-anak untuk menyiapkan puisinya sendiri-sendiri. Temanya masih saya batasi seputar dunia sekolah, guru, dan relasi mereka dengan orang tua. Saya pikir, dengan pembatasan ini, fokus pemaknaan akan jauh lebih mudah dikaji bersama.

Tak mudah sebenarnya buat saya mengajarkan puisi kepada mereka. Persoalannya, saya musti bisa memberi contoh pada mereka. Ya, contoh puisi-puisi saya. Ya, contoh bagaimana saya membawakan puisi-puisi saya.

Memang sih, saya berusaha untuk memberikan pengantar pada anak-anak itu tentang puisi. Intinya, menikmati puisi itu tidak sebatas pada teorinya saja. Puisi baru dapat dinikmati ketika seseorang bisa mengapreasiasikannya. Berekspresi dan membuat.

Berpuisi! Berpuisilah! Berpuisi adalah menyampaikan perasaan yang berangkat dari pengalaman diri. Puisi, puisi! Biasanya cinta adalah tema puisi yang paling banyak dipilih. Kira-kira kalau puisi seperti ini, apa ya cukup bagus....!

Nak, buatlah puisi tanpa cinta
Buatlah puisi tentang apa saja
Namun bukan puisi cinta!

Nak, menarilah tanpa cinta
Menarilah dengan apa saja
Namun, bukan tarian cinta

Aku ingin melihatmu membahana bukan dengan cinta
Aku ingin menatapmu melayang bukan dengan cinta
Aku ingin menyaksikanmu melambung bukan dengan cinta


Saya memang sedang belajar. Membuat puisi juga sedang belajar. Mengajarkan puisi juga sedang belajar! Apa saja sedang saya pelajari. Termasuk mengagumi seorang murid saya yang sangat pandai membuat puisi, menyusun puisi, membawakan puisi, dan menghayati puisi!

Saya ingin belajar padanya!

Sama seperti saya belajar pada tumbuhan di halaman sekolah yang ingin mengatakan, "Aku perlu siraman air."

Selasa, 01 Desember 2009

Mereka Tak Lagi Baru


Ingatanku sedang melayang pada pengalamanku. Rasanya, baru kemarin aku menginjakkan kaki di Tanah Kayong ini. Ternyata, bulan ini sudah memasuki bulan keenam. Itu sama dengan setengah tahun aku meninggalkan Tanah Jawa.

Kemudian, aku ingat wajah anak-anak didikku yang enam bulan lalu tampak culun dan polos. Saat itu, mereka masih memakai seragam Masa Orientasi Siswa Baru. Harus nurut disuruh kakak kelasnya. Harus bekerja ketika diminta membuat pekerjaan rumah. Harus...harus...ini dan itu!

Namun kini, semuanya telah berubah. Tak ada lagi sebuah perbedaan. Papan nama dari karton yang dulu disandang di dada mereka, telah lama hilang! Rambut mereka pun jauh lebih bergaya! Tak ada lagi kesan culun dan polos! Tak ada lagi segi pembatas antara kakak tingkat dan adik tingkat! Segalanya telah berubah. Mereka tak lagi tampak sebagai anak baru!

Tak ada yang abadi! Bahkan status sebagai siswa baru pun telah lama ditanggalkan! Kini, ketika ada kegiatan sekolah yang harus diikuti, semuanya terlibat. Tak lagi harus kakak tingkat yang unjuk gigi. Adik tingkat yang memang mampu pun akan terlibat. Bahkan, dalam kepengurusan OSIS pun, anak-anak yang enam bulan lalu masih menjadi "bulan-bulanan" kakak-kakaknya, kini telah turut ambil bagian!

Satu langkah seseorang akan mengawali seribu langkah seseorang. Satu detik di pagi hari akan membuka jutaan detik hari demi harinya. Satu hembusan nafas akan mengantar kehidupan dari satu helaan ke helaan berikutnya.

Anak-anak itu (lantas, apakah mereka masih pantas disebut anak-anak lagi sekarang?) telah menapaki masa baru dengan seragam putih abu-abunya. Setengah tahun, setahun, dua tahun, tiga tahun lagi mereka akan menjadi siswa senior di sekolah ini. Tak mencapai genap satu tahun, mereka harus menyiapkan diri untuk lulus dari sekolah ini. Akhirnya, seragam putih abu-abu itu mereka tanggalkan. Seragam itu itu tinggal kenangan. Sekolah ini hanyalah bagian dari masa ketika mereka menjajaki dunia baru. Sekolah ini hanya setitik dasar dari bekal hidup mereka selanjutnya.

Memang, tak ada yang abadi! Mereka itu, yang sering mereka sebut sebagai anak-anak remaja itu, tak lagi baru! Mereka telah menjadi bagian dari komunitas putih abu-abu. Apa pun yang terjadi, itu adalah satu langkah dari sekian langkah mereka untuk menjajaki dunia!

Jika saat istirahat tiba dan aku sesekali berdiri di ujung halaman sembali menatap riuhnya mereka di lorong sekolah dan sudut taman sekolah, aku hanya bisa menarik nafas! Segalanya berubah! Tak ada yang tetap!

Sabtu, 28 November 2009

Belajar Mengajar


Aku hanya menatap lembaran yang ada di tanganku. Lembaran pembagian tugas! Mengampu pelajaran Bahasa Indonesia kelas X! Seluruh kelas! Sebanyak 28 jam tatap muka!Mati!

Bukan hendak menolak! Bukan begitu! Hanya aku agak kaget saja! Masalahnya begini: sejak lulus kuliah tahun 2004 lalu, baru tahun 2009 ini aku masuk sekolah! Sebagai guru! Bagaimana akan memulai mengajar itu, sementara di masa-masa lalu, sudah banyak perubahan di dunia sekolah! Yang jelas kutahu dan sering sekali menjadi bahan perbincangan adalah kurikulum, termasuk di dalamnya KBK dan KTSP) dan segala macamnya!

Aku mulai dari mana? Aku hanya manggut-manggut ketika rekan baru yang mengampu pelajaran itu tahun lalu kemudian menunjukkan beberapa buku referensi yang harus aku gunakan. Setelah itu, aku harus menyiapkan silabus! Paling tidak menyusun ulang silabus tahun lalu yang sudah pernah dibuat oleh kawan guruku itu.

Ya, itulah! Mulai dari situ saja!Menyiapkan bahan dari buku! Mengenal siswa dan kemudian menyampaikan materi! Selesai!

Masalahnya, materi yang sebenarnya harus bisa disampaikan pada jam tatap muka tertentu itu ternyata melebihi target yang ada! Mati kedua lagi!Bagaimana ini? Ini terjadi karen aku terpaksa mengulang beberapa kali materi tertentu di hadapan anak-anak di kelas tertentu. Yaaaa....bagaimana tidak harus kuulang, ketika terjadi tanya jawab saja mereka hanya memandang bengong!Ini aku yang tidak bisa mengajar ataukah anak-anak itu yang tak memperhatikan penjelasanku?



Aku sempat duduk diam di kantor guru. Mendengarkan guru-guru senior memperbincangkan bahan yang hampir selesai atau bahkan sudah selesai! Gagal sudah! Baru mulai, materi yang mesti kusampaikan tak terkejar!

Ini perjalanan memang baru kumulai! Aku masih belum tahu, kendala apalagi yang hendak kutemui!

Senin, 12 Oktober 2009

Puisi Saya Untuk Dia...

Saya punya puisi. Puisi ini saya buat sejak saya mempunyai kawan di dunia maya. Sebelumnya, saya jarang sekali membuat puisi. Hal barangkali karena saya lebih suka menyampaikan maksud yang ada di dalam hati saya dengan segala keterusterangan tanpa harus dimanis-maniskan. Nah, sejak saya akrab dengan internet yang memberi fasilitas chating, blog, fesbuk, dan emel, saya tiba-tiba saja menjadi suka sekali beromantis ria! Berlebihan? Ah, tidak juga! Masalahnya, jika saya menyampaikan sesuatu kepada kawan saya dengan bahasa harian saya, tentu akan ditangkap dengan biasa pula. Padahal, ada kalanya saya ingin menyampaikan perasaan saya secara lebih mendalam. Dalam arti, agar kawan saya memahami benar bahwa kedekatan kami ini benar-benar ikhlas! Melalui tulisan inilah saya berusaha untuk membagi perasaan saya kepada kawan-kawan saya.

Satu pengalaman pernah saya alami. Dalam suatu masa, kawan di fesbuk saya itu menghilang. Dia tidak bilang ke mana perginya. Padahal sebelumnya, dia merupakan kawan saya berbincang tentang apa saja. Sering saya menikmati kebersamaan ini. Meski perjumpaan saya ini hanya difasilitas internet, namun saya bisa merasakan kesungguhan setiap berbincangan kami.

Saya menunggu! Lama! Tak ada juga kontak darinya. Maka, saya pun membuat puisi untuk mengungkapkan kerinduan saya kepadanya. Saya berharap, jika memang saya tak dapat berkontak lagi, masih ada kenangan atas perasaan yang pernah saya alami.

Inilah puisi itu!
Ketika di sebuah senja,
aku bertanya pada sekawanan burung bangau
yang terbang rendah di dahan pohon dekat rumahku.

"Burung, pernahkah kalian bertemu dengan kekasihku yang menghilang?"

Mereka tak memberi jawaban!

Ketika aku bertanya pada arak-arakan awan yang melayang di atap rumahku.

"Awan, pernahkah kau berjumpa dengan kekasihku yang menghilang?"

Mereka tak memberi anggukan

Sekarang...
Aku bertanya kepadamu!

Masih bisakah kau dengar bisikan angin dari tebing tinggi?
Bahwa aku menunggumu!
Bahwa aku merinduimu!

Ini salah
puisi yang pernah saya buat untuk salah seorang kawan saya. Dari pengalaman ini, saya bisa belajar untuk mengungkapkan perasaan saya. Saya tidak bermaksud menghambur-hamburkan romantisme picisan yang tampak pasaran. Bukan! Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya dan membagikan kepada kawan saya. Melalui ungkapan itu, saya belajar untuk jujur pada diri saya. Saya berusaha jujur bahwa setiap pribadi memperkaya saya dan memberikan andil dalam kehidupan saya. Entah dengan cara bagaimana, pribadi-pribadi itu turut mengembangkan diri saya dan memupuk hati saya. Hati agar bisa lebih peka akan arti kehadiran sesama dalam segi kehidupan ini.***

Sabtu, 03 Oktober 2009

Tak Pernah Ada Yang Tetap!


Sejak Juli 2009 yang lalu, aku mesti angkat koper dari Semarang. Surat keputusan yang kuterima dari pimpinan menetapkan agar aku bertugas di tempat baru dengan tugas yang baru pula. Sekolah dan sebagai guru! Meski tak tahu apa yang harus kupersiapkan, aku pun berangkat dengan barang-barang yang bisa kubawa.


Pergi dan datang pada sebuah tempat yang belum pernah hinggap dalam bayangan! Tak masalah! Yang penting, ada kesempatan untuk dapat melihat tempat itu. Apa yang musti kuperbuat? Tak perlu dipikirkan sulit-sulit! Datang, lihat, dan perbuatlah! Mungkin ini yang lebih baik! Meski, seolah-olah aku bagai datang tanpa membawa amunisi!

Berangkat dari Semarang hari Selasa malam (7 Juli) dengan travel menuju ke Jakarta. Mau menikmati pengalaman naik travel, sekaligus nanti hari Kamis pagi (9 Juli) akan menikmati udara dari Jakarta ke Pontianak! Yaa.....karena tak setiap saat akan mendapatkan perjalanan seperti itu!

Di Jakarta, aku transit sehari semalam sekedar menunggu waktu keberangkatan ke Pontianak. Tak ada kegiatan yang banyak kulakukan, kecuali pergi ke toko dan...potong rambut! Ha...ha...ha...! Habis sudah rambut setahun, dipangkas gunting dalam seperempat jam!



Kamis pagi, aku benar-benar meninggalkan Jawa menuju ke tanah Borneo! Perjalanan hanya memerlukan waktu satu jam. Aku dan Tri transit sebentar di Bandara Supadio Pontianak, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang lebih kecil ke Bandara Rahadi Usman Ketapang!



Pukul 09.30, pesawat mendarat dan saudara-saudaraku sudah menjemput. Inilah tanah baru! Inilah tempat tugas baru! Inlah dunia baruku!

Segala sesuatu itu memang tak pernah tetap. Akan selalu berubah di saat manusia tak pernah dapat menebak kapan akan berubah. Temapt tugasku telah berubah. Tugasku telah berubah. Penampilanku pun harus berubah. Yaaa, meski tah harus mengubah total, namun inilah sebubah perubahan dalam perjalanan hidup! Perjalanan itu taka akan pernah bisa berhenti di suatu tempat. Jika harus berhenti, tempat perhentian itu hanyalah tempat singgah yang sebentar lagi akan ditinggalkan. 

Perjalanan ini adalah peziarahan! Peziarahan itu sellau mengarah pada tujuan akhir yang tak akan pernah tahu ujungnya. Jika suatu saat aku berada di tempat ini, aku tak tahu sampai kapan. AKu tak akan pernah tahu dan tak perlu aku meraba-raba sampai kapan. Jika memang sudah sampai pada masanya, masa itu akan menunjukkan saat aku harus pergi! Tak pernah tetap! Suatu saat panjang dan suatu saat pendek. Seperti rambutku!!! Huaaaa.....!

Ketapang, 28 September 09