Saya punya puisi. Puisi ini saya buat sejak saya mempunyai kawan di dunia maya. Sebelumnya, saya jarang sekali membuat puisi. Hal barangkali karena saya lebih suka menyampaikan maksud yang ada di dalam hati saya dengan segala keterusterangan tanpa harus dimanis-maniskan. Nah, sejak saya akrab dengan internet yang memberi fasilitas chating, blog, fesbuk, dan emel, saya tiba-tiba saja menjadi suka sekali beromantis ria! Berlebihan? Ah, tidak juga! Masalahnya, jika saya menyampaikan sesuatu kepada kawan saya dengan bahasa harian saya, tentu akan ditangkap dengan biasa pula. Padahal, ada kalanya saya ingin menyampaikan perasaan saya secara lebih mendalam. Dalam arti, agar kawan saya memahami benar bahwa kedekatan kami ini benar-benar ikhlas! Melalui tulisan inilah saya berusaha untuk membagi perasaan saya kepada kawan-kawan saya.
Satu pengalaman pernah saya alami. Dalam suatu masa, kawan di fesbuk saya itu menghilang. Dia tidak bilang ke mana perginya. Padahal sebelumnya, dia merupakan kawan saya berbincang tentang apa saja. Sering saya menikmati kebersamaan ini. Meski perjumpaan saya ini hanya difasilitas internet, namun saya bisa merasakan kesungguhan setiap berbincangan kami.
Saya menunggu! Lama! Tak ada juga kontak darinya. Maka, saya pun membuat puisi untuk mengungkapkan kerinduan saya kepadanya. Saya berharap, jika memang saya tak dapat berkontak lagi, masih ada kenangan atas perasaan yang pernah saya alami.
Inilah puisi itu!
Ketika di sebuah senja,
aku bertanya pada sekawanan burung bangau
yang terbang rendah di dahan pohon dekat rumahku.
"Burung, pernahkah kalian bertemu dengan kekasihku yang menghilang?"
Mereka tak memberi jawaban!
Ketika aku bertanya pada arak-arakan awan yang melayang di atap rumahku.
"Awan, pernahkah kau berjumpa dengan kekasihku yang menghilang?"
Mereka tak memberi anggukan
Sekarang...
Aku bertanya kepadamu!
Masih bisakah kau dengar bisikan angin dari tebing tinggi?
Bahwa aku menunggumu!
Bahwa aku merinduimu!
Ini salah puisi yang pernah saya buat untuk salah seorang kawan saya. Dari pengalaman ini, saya bisa belajar untuk mengungkapkan perasaan saya. Saya tidak bermaksud menghambur-hamburkan romantisme picisan yang tampak pasaran. Bukan! Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya dan membagikan kepada kawan saya. Melalui ungkapan itu, saya belajar untuk jujur pada diri saya. Saya berusaha jujur bahwa setiap pribadi memperkaya saya dan memberikan andil dalam kehidupan saya. Entah dengan cara bagaimana, pribadi-pribadi itu turut mengembangkan diri saya dan memupuk hati saya. Hati agar bisa lebih peka akan arti kehadiran sesama dalam segi kehidupan ini.***
Senin, 12 Oktober 2009
Puisi Saya Untuk Dia...
Sabtu, 03 Oktober 2009
Tak Pernah Ada Yang Tetap!

Sejak Juli 2009 yang lalu, aku mesti angkat koper dari Semarang. Surat keputusan yang kuterima dari pimpinan menetapkan agar aku bertugas di tempat baru dengan tugas yang baru pula. Sekolah dan sebagai guru! Meski tak tahu apa yang harus kupersiapkan, aku pun berangkat dengan barang-barang yang bisa kubawa.
Pergi dan datang pada sebuah tempat yang belum pernah hinggap dalam bayangan! Tak masalah! Yang penting, ada kesempatan untuk dapat melihat tempat itu. Apa yang musti kuperbuat? Tak perlu dipikirkan sulit-sulit! Datang, lihat, dan perbuatlah! Mungkin ini yang lebih baik! Meski, seolah-olah aku bagai datang tanpa membawa amunisi!
Berangkat dari Semarang hari Selasa malam (7 Juli) dengan travel menuju ke Jakarta. Mau menikmati pengalaman naik travel, sekaligus nanti hari Kamis pagi (9 Juli) akan menikmati udara dari Jakarta ke Pontianak! Yaa.....karena tak setiap saat akan mendapatkan perjalanan seperti itu!
Di Jakarta, aku transit sehari semalam sekedar menunggu waktu keberangkatan ke Pontianak. Tak ada kegiatan yang banyak kulakukan, kecuali pergi ke toko dan...potong rambut! Ha...ha...ha...! Habis sudah rambut setahun, dipangkas gunting dalam seperempat jam!
Kamis pagi, aku benar-benar meninggalkan Jawa menuju ke tanah Borneo! Perjalanan hanya memerlukan waktu satu jam. Aku dan Tri transit sebentar di Bandara Supadio Pontianak, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang lebih kecil ke Bandara Rahadi Usman Ketapang!
Pukul 09.30, pesawat mendarat dan saudara-saudaraku sudah menjemput. Inilah tanah baru! Inilah tempat tugas baru! Inlah dunia baruku!
Segala sesuatu itu memang tak pernah tetap. Akan selalu berubah di saat manusia tak pernah dapat menebak kapan akan berubah. Temapt tugasku telah berubah. Tugasku telah berubah. Penampilanku pun harus berubah. Yaaa, meski tah harus mengubah total, namun inilah sebubah perubahan dalam perjalanan hidup! Perjalanan itu taka akan pernah bisa berhenti di suatu tempat. Jika harus berhenti, tempat perhentian itu hanyalah tempat singgah yang sebentar lagi akan ditinggalkan.
Perjalanan ini adalah peziarahan! Peziarahan itu sellau mengarah pada tujuan akhir yang tak akan pernah tahu ujungnya. Jika suatu saat aku berada di tempat ini, aku tak tahu sampai kapan. AKu tak akan pernah tahu dan tak perlu aku meraba-raba sampai kapan. Jika memang sudah sampai pada masanya, masa itu akan menunjukkan saat aku harus pergi! Tak pernah tetap! Suatu saat panjang dan suatu saat pendek. Seperti rambutku!!! Huaaaa.....!
Ketapang, 28 September 09
Jumat, 05 Juni 2009
Dentingan Selembut Sutra
Ada pengalaman menarik saat aku pulang dari peliputan acara 50 tahun Sendang Ratu Kenya di Giriwoyo hari Minggu (24/5) yang lalu. Aku nebeng kendaraan saudaraku yang rumahnya Klaten. Rencananya, aku akan menginap di sana, agar perjalanan ke Semarang lebih dekat ketimbang aku masih bercokol di Giriwoyo. Meski, masih ada wayangan semalam suntuk. Ah, tak apalah untuk tidak nonton wayang kulit kali ini!”Kalau gitu, nanti pulangnya lewat Solo Baru,” kata Mas Step. Akhirnya, karena akan melewati Solo Baru, perjalanan tentu membelah jantung kota Wonogiri. Perjalanan siang yang lumayan jauh dengan udara panas. Maklumlah, mobil sewaan murah, jadi tanpa pendingin udara. Panas plus lapar! Jadilan ngantuk! Penumpang lain seperti Mas Har, Mas Jito, Dik Djoko, termasuk aku, segera terbuai!
Selepas kota Wonogiri, tepatnya ketika melaju di Jalan RM. Said, aku memelekkan mata. Dik Djoko pun ternyata sudah bangun. Mas Step berceletuk, ”Mau mbakso, gak?” Tentu saja tawaran menggiurkan ini tak kulewatkan. “Mau! Kapan lagi kalau tidak sekarang,” jawabku cepat.
Beberapa saat, mendekat jalan pertigaan yang membagi arah antara terminal, arah Solo, dan kota Wonogiri, mas sopir membelokkan kendaraan ke sebuah warung. Hmm...warung bakso! Lewat Wonogiri, serasa tak lengkap tanpa masuk dan mencicipi bakso! Jamak! Di mana-mana, sering bertemu penjual bakso dari Wonogiri. Jika lewat Wonogiri tak langsung mencicipi, betapa ruginya! Itu menurutku.Begitu mobil diparkir, aku segera keluar
dan melihat warung bakso itu. Bakso Raksasa! Wah! Apa baksonya segede-gede gigi raksasa? Ato apa yang raksasa? Tak tahulah! Aku juga baru sekali itu diajak mampir!Inilah pengalaman menarik itu! Bukan masalah bakso dan warungnya ternyata! Namun, ada adegan yang benar-benar berbeda! Di pintu masuk warung, yang terbagi dua ruangan, satu ruang lesehan dan satunya ruang meja kursi, duduk dua orang kakek-nenek. Mereka bukan pengemis! Sang Kakek berpeci. Jemarinya asyik bermain-main di atas benda yang kutahu itu sebuah alat musik. Sebuah siter, alat musik Jawa! Jempol dan jari-jemari lainnya dengan lincah memetik-metik dawai siter itu, sehingga mendentingkan nada-nada lembut nan menggoda telinga. Merayu kaki untuk segera masuk dan berleseh di hamparan karpet. Seakan menarik kepala untuk disenderkan di dinding warung sambil menunggu pesanan datang.
Di sebelahnya, duduk sang Nenek sambil melantunkan tembang-tembang Jawa. Raut tuanya tak menggoreskan lagu fals! Nada-nadanya pas dan indah, seiring dengan petikan dawai siter itu. Terdengar kompak, serasi!
Saat aku menikmati bakso pesanan dan minuman dingin, kudengar ”senggakan” dari sang Kakek. Beberapa saat, ketika dentingan berhenti sementara, suara sang Nenek pun terdengar lembut, merdu. Tembang Caping Gunung mengalun dari mulut keriputnya.
Ah, paduan nuansa yang tak pernah kubayangkan akan kutemui di tempat ini!
”Kurang lebihnya tiga tahun saya di sini,” jawab Mbah Soyo, sang pemetik siter itu saat kuajak berbincang sejenak. Sementara, sang Nenek, Mbah Siti Suwarni, menimpali dengan sebuah senyuman tipis.
Menurut Mbah Soyo, kebiasaan menghibur para pembeli itu tak hanya di Warung Bakso Raksasa. Mereka juga menghibur pembeli di Warung Pecel Bu Sum, sebuah warung nasi pecel yang letaknya tak begitu jauh dari Warung Bakso Raksasa ini.
”Gantian harinya,” tambahnya sambil menghentikan permainan jemarinya di sela-sela barisan dawai siter dan menyambut uluran tanganku. Mbah Soyo kemudian menjelaskan hari-hari kapan dia berada di Warung Bakso Raksasa dan hari-hari kapan di Warung Pecel Bu Sum. Kuanggukkan kepala dengan timpalan sepotong-potong kata.
Aku hanya bisa menjabat tangan mereka dan hanya bisa menjatuhkan selembar uang seribuan di kotak yang ada di depan mereka. Sebenarnyalah, itu sungguh-sungguh bukan upah yang setimpal. Aku hanya bisa menambah dengan jabat tanganku.
Panas terik. Akan tetapi, dentingan siter itu serasa mengirimkan berlaksa angin segar dari puncak bukit hijau di punggung Pegunungan Seribu! Masih sampai kapan, Mbah Soyo dan Mbah Siti Suwarni bertahan untuk mendentingkan nada-nada jiwa selembut sutra itu? ***
Ah, paduan nuansa yang tak pernah kubayangkan akan kutemui di tempat ini!
”Kurang lebihnya tiga tahun saya di sini,” jawab Mbah Soyo, sang pemetik siter itu saat kuajak berbincang sejenak. Sementara, sang Nenek, Mbah Siti Suwarni, menimpali dengan sebuah senyuman tipis.
Menurut Mbah Soyo, kebiasaan menghibur para pembeli itu tak hanya di Warung Bakso Raksasa. Mereka juga menghibur pembeli di Warung Pecel Bu Sum, sebuah warung nasi pecel yang letaknya tak begitu jauh dari Warung Bakso Raksasa ini.
”Gantian harinya,” tambahnya sambil menghentikan permainan jemarinya di sela-sela barisan dawai siter dan menyambut uluran tanganku. Mbah Soyo kemudian menjelaskan hari-hari kapan dia berada di Warung Bakso Raksasa dan hari-hari kapan di Warung Pecel Bu Sum. Kuanggukkan kepala dengan timpalan sepotong-potong kata.
Aku hanya bisa menjabat tangan mereka dan hanya bisa menjatuhkan selembar uang seribuan di kotak yang ada di depan mereka. Sebenarnyalah, itu sungguh-sungguh bukan upah yang setimpal. Aku hanya bisa menambah dengan jabat tanganku.
Panas terik. Akan tetapi, dentingan siter itu serasa mengirimkan berlaksa angin segar dari puncak bukit hijau di punggung Pegunungan Seribu! Masih sampai kapan, Mbah Soyo dan Mbah Siti Suwarni bertahan untuk mendentingkan nada-nada jiwa selembut sutra itu? ***
Jumat, 29 Mei 2009
Sepinya Seorang Kawanku!
Seorang kawanku menuliskan demikian, ”mataku masih sembab”. Kemudian, dibalaslah ungkapan yang ditulis di dindingnya itu oleh beberapa kawan-kawannya dengan berbagai ungkapan.
”Cup, cup! Jangan nangis!”
”Wualah..! Gak usah ditangisi to, Mbak! Aku gak apa-apa koq...! Tuh, jadi sembab kan?”
”Wah, jangan-jangan, gara-gara dengar lagunya Olga yang berjudul ’Hancur hatiku’! Ya ta? He...he!”
”Jangan nangis mulu, ah! Udah gede juga!”
”Ini kok nangis melulu, to?”
Kemudian, kawanku itu membalas.
”Aku udah gak nangis kok, hanya kenapa mataku masih sembab.”
”Saat sepi ada dalam kalbu dan tak ada siapa pun yang bisa membuat sepi itu jadi ramai, yang terjadi hanya sebuah tetesan air mengalir. Miss u so much girl!”
”Aku kangen sama kamu! Ketemuan, yuk!”
”Entahlah...! Sepi atau ramai, perasaan ini sama saja. Hanya mukjizat yang mampu membuat semuanya menjadi indah, sehingga aku tak akan pernah menangis lagi!”
”Thanks for your care for me. GBU.”
Didera dan ditelikung kesepian itu benar-benar menyiksa. Ada keramaian di sekitarku, namun aku tak mampu larut dalam keramaian itu. Aku seperti tersingkir dalam arus deras keramaian. Tersingkir, tersisih, namun tak terasa jauh! Ketika mendengar suara tawa dari orang lain, yang muncul justru perasaan tertusuk pedih. Mengapa mereka dapat tertawa, sedangkan aku tak bisa?
Itulah sebabnya, aku begitu mudah lari dari kesepian ke keramaian. Meski, jik aku kembali berada dalam kesendirian, kesepian itu menyergap lagi. Apakah kesepian itu musti dihindari? Apakah kesepian itu musti hilang dari muka bumi ini?
Menurutku tidak, Kawan! Kesepian itu ada karena manusia telah mengalami sebuah perasaan yang akhirnya diberi nama kesepian. Kenyataan ini, mau tidak mau harus tetap diterima. Dari pengalaman, muncullah pernyataan bahwa seseorang yang mengalami “sesuatu seperti dicabut dari segala yang serba ramai” adalah kesepian!
Lainnya, kesepian memang tak harus hengkang karena dari situlah manusia bisa menyelam ke dalam dirinya. Manusia bisa benar-benar mengerti bahwa dirinya adalah makhluk yang seperti ini, ciptaan seperti itu, dan pribadi yang menjadi begini.
Terakhir, dengan kesepian, manusia bisa menerima kehadiran sesamanya. Thanks for your care! Perhatian! Sebuah perhatian akan begitu terasa berharga manakala manusia sedang disergap kesepian dan sesamanya mau peduli!
Kapan mukjizat itu bisa terjadi? Entah, Kawan! Aku tak pernah mengharapkan sebuah mukjizat, karena di setiap hariku, selalu ada banyak peristiwa yang pada akhirnya menggiringku untuk memahami bahwa itu semua ada mukjizat!***
Mei, 2009
Selasa, 12 Mei 2009
Rindu.... Seperti Apakah?
Selama aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tau lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku, ku merindukanmu
Merindukanmu? Rasanya asing sekali kata itu hinggap di dalam hatiku. Merindukanmu? Bagaimana aku bisa merindukanmu? Sedang aku masih saja selalu sangsi apakah aku bisa mempunyai perasaan cinta? Kadang aku bertanya pada diri sendiri: Cinta yang seperti apa yang sebenarnya aku rindukan? Cinta yang senyata apa yang ingin aku rasakan?
Aku masih bernafas! Aku masih sanggup berjalan! Aku pun masih selalu memujamu. Memuja kelebihanmu! Memuja kekuatanmu! Memuja kepintaranmu! Meski aku tahu keberadaanmu! Meski aku tahu bahwa engkau berdiri di sana! Meski aku tahu engkau berjuang di sana! Namun...
Mengapa aku tak bisa merindukanmu?
Sering aku bercanda dengan malam. Hai malam, mengapa engkau selalu berwarna hitam? Malam hanya akan tertawa mendengar kata-kataku. Mungkin dia membatin: bodoh sekali pertanyaan itu! Kadang aku mengganggu goyangan dedaunan. Kubertanya: hai daun hijau, apakah kau rindu hujan? Daun itu hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Mungkin dia membatin: bodoh sekali pertanyaan itu!
Aku ingin merasakan rindu. Aku ingin merindukanmu! Namun..., rindu seperti apa yang yang sebenarnya aku rindukan?
Akan tetapi, aku benar-benar ingin tahu, rindu itu seperti apa? Mengapa aku tak bisa merasakan kerinduan itu?
Semarang, 12 Mei 2009 (titip rindu buat dia....)
Kamis, 30 April 2009
Kehilangan
Daun rontok dan meninggalkan ranting yang dulu erat menggenggamnya. Jatuh melayang. Berserakan di atas tanah. Kemudian, lambat laun akan menghilang di dalam tanah. Hilang!
Berjalan mengayuh langkah di bawah bayang-bayang pepohonan. Menari di antara perdu-perdu ilalang. Melompat di antara bebatuan terjal! Jika memang sudah saatnya kaki menapak, entah di atas lumpur atau di atas tanah, kaki akan menapak! Bisa membekas dan ataupun hilang. Jika kaki itu menapak di atas tanah basah, maka akan membekas! Akan tetapi, jika hinggap di atas aliran air, maka jejak itu akan sirna. Hilang!
Kehilangan itu terasa menyakitkan. Namun, kehilangan itu akan bisa berarti bila kau pernah merasa memilikinya. Jika kau ingin menggenggamnya selamanya, maka kehilangan itu semakin kuat untuk meninggalkanmu. Kamu tidak percaya? Aku tidak ingin memaksa! Berapa di antaramu yang sudah terlalu banyak kehilangan? Tak akan terhitung!
Jika kau pernah mengalami kehilangan, aku pun pernah. Jika kau pernah mengalami kehilangan, mereka pun pernah. Apakah jika aku dan kau mengalami kehilangan, kehidupan akan hilang pula! Tak akan! Yaa...hidupnya yang barangkali terasa hampa! Sepi! Kosong! Akan tetapi, apakah hidupmu akan terus kau korbankan hanya demi kehilangan itu? Sementara, kehilangan itu akan terus melayang dan terbang di antara manusia demi manusia untuk menebarkan racun-racun keputusasaan!
Aku mengertimu ketika kau mengatakan bahwa dia meninggalkanmu. Aku mendengarkanmu ketika kau mengatakan bahwa dia memutuskan dirimu. Aku memahamimu ketika kau mengatakan bahwa dia lebih memilih hati lain daripada hatimu. Dan kau akan merasa terlempar ke sudut kebinasaan! Tenggelam dalam rasa kehampaan yang sulit diisi oleh rasa berpengharapan yang baru.
Namun, setelah sekian detik kau bergulat dengan racun kehilangan itu, bisakah kau mengatakan, ”Aku ingin memiliki kehilangan itu!” Aku ingin memiliki rasa kehilangan itu sebagai bagian dari kehidupanku? Beranikah dirimu untuk menggandengnya dalam setiap langkahmu? Pasalnya, kehilangan ini tak akan pernah bisa melepasmu. Meski kau berusaha untuk menghindarinya. Karena, jika kau berkesan menghindarinya, dia akan bersorak gembira dan memenangkan pertempuran! Akan tetapi, jika kau berani menariknya mendekat, menggenggamnya, dan mendekat erat di dalam hatimu, dia akan menjadi bagian hidupmu dan tak akan menyakiti hatimu lagi. Karena di balik kehilangan itu ada rasa baru yang tumbuh dan memberimu kekuatan baru. ”Pernahkah kau mengira kalau dia akan sirna. Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa. Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memiliknya.”
Jika kau membuka matamu, kau akan melihat seorang malaikat kecil menyongsongmu di tengah padang bunga bakung. Dia berlari dan memeluk pinggangmu dengan erat. Ketika kau pandang bola matanya yang bening, kau akan melihat isi hatinya. Dia akan berkata kepadamu dengan jiwa penuh nyanyian.
”Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu kekuatan yang tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata. Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu semangat di saat dan dan pikiranmu sedang galau. Aku ingin mendekapmu karena kau sungguh berarti. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk satu cinta yang tak pasti!”***
Untuk jiwa-jiwa yang telah terbang!
Pemuatan ulang dari tulisan yang sama pada blog yang lain.
Kamis, 16 April 2009
Ungkapan Nov
Seperti biasa, jika aku sedang browsing, kusempatkan untuk melihat halaman friendster-ku (ato facebook-ku). Barangkali, ada pesan atau komentar yang datang dari teman-temanku. Kulihat ada tulisan yang baru saja diposting dari Nov. Demikian dia menuliskannya:
Saat itu aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta itu, kita suka sama cowok yang kita kagumi. Tak terhitung berapa cowok yang pernah kusukai, tapi tak perah kumiliki karena rasa takut akan kata ”tolak”. Pada akhirnya, rasa suka itu terbalas dengan satu cowok yang sangat aku kagumi. Di situ, aku mulai kehidupan cintaku (020503).
Dia mengajari aku arti kesatuan. Walaupun di antara kami banyak perbedaan, tetapi dari perbedaan itu kami bisa menjadi satu. Dia mengajari aku apa arti sayang. Kehidupanku sangat indah yang selalu dipenuhi rasa kangen akan kehadirannya. Apakah ini yang disebut cinta pertama? Dia juga mengajari aku apa arti cinta. Cinta di mana kuterima dia apa adanya. Walaupun aku mencoba untuk mengubahnya, tetapi aku juga harus ingat kalau cinta tak harus mengubah dia menjadi apa yang kuinginkan.
Dia juga mengajari ku rasa sakit hati. Dia tak pernah melukaiku. Tetapi kadang pada suatu hubungan itu pasti ada bertengkarnya. Dia mengajari aku arti kejujuran. Saat kami menjalin hubungan, kata ”jujur” itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya.
Dia juga mengajari aku arti perpisahan. Di mana ada pertemuan, di situ pula ada perpisahan. Susah untuk menerima semua itu. Walaupun aku menjalin hubungan dengannya sangat singkat, tapi bagiku itu adalah seumur hidup. Dan pada akhirnya aku tahu kalau cinta itu tak harus memiliki (190904).
Akan tetapi, ada satu hal yang dia tidak tahu. Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu. So, sorry...
Aku sejenak membaca. Memaknai atas apa yang ditulis Nov. Mataku terpaku pada satu kalimatnya. "Saat kami menjalin hubungan, kata 'jujur' itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya. "
Dalam situasi apa pun, sikap jujur itu tetap perlu dipertahankan. Bukan hanya karena demi cinta, sikap jujur tetap harus diperjuangkan. Apalagi cinta, untuk bekerja saja, seorang pimpinan selalu menekankan sikap jujur pada bawahannya. Jika sikap jujur itu sudah tak dihidupi oleh pimpinan, bagaimana bawahan mau mencontoh atau meneladan?
Kejujuran adalah bintang. Dia berada di awang-awang dan tak dapat diraih. Akan tetapi, taburannya yang berlaksa-laksa dan sinarnya yang berkerlap-kerlip, memberikan mozaik indah yang tak pernah bisa dilukis manusia.
Bisakah seseorang berkata jujur jika pada kenyataannya kejujuran itu seperti bintang? Seperti kata Nov sendiri, pada saat dia menjalin hubungan, kata jujur itu sangat penting dan dia tak pernah sedikit pun berbohong pada kekasihnya. Akan tetapi, di tempat lain, Nov pun mengakui bahwa dia tak pernah bisa berkata sebenarnya tentang satu hal. Nov bilang, ”Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu”. Kejujuran itu menyakitkan.
Apakah aku sudah bisa mengedepankan kata jujur? Bisakah aku mengatakan kepada kekasihku, ”Meski aku berjalan bersamamu, jujur kuakui bahwa aku pun menduakan dirimu dengan orang lain.” Ah, siapa yang bisa mengatakan ini? Ah, siapa yang tahan akan rasa sakit hati. Siapa yang mau mendengar kata ”khianat, jahat, menodai” dan kata-kata lain yang akhirnya mengantar pada kata, ”selamat tinggal, selamat berpisah, selamat jalan, aku pergi”.
Kejujuran adalah landasan dalam hidup. Meski berat untuk meletakkan sebagai landasan sendi-sendi hati, namun manusia harus tetap memperjuangkannya. Nov tidak salah! Karena Nov, seperti aku juga, adalah manusia yang masih selalu berjuang untuk menebarkan kejujuran itu di hamparan permadai kehidupan.
Nov, jika kamu menyampaikan isi hatimu ini, kuanggap bahwa aku pun berkesempatan membawa ungkapanmu ini dalam perjalanan hidupku. Kuharap kamu masih tetap berjuang demi cinta dan kejujuran. ***
Semarang, 6 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)