Jumat, 05 Juni 2009

Dentingan Selembut Sutra

Ada pengalaman menarik saat aku pulang dari peliputan acara 50 tahun Sendang Ratu Kenya di Giriwoyo hari Minggu (24/5) yang lalu. Aku nebeng kendaraan saudaraku yang rumahnya Klaten. Rencananya, aku akan menginap di sana, agar perjalanan ke Semarang lebih dekat ketimbang aku masih bercokol di Giriwoyo. Meski, masih ada wayangan semalam suntuk. Ah, tak apalah untuk tidak nonton wayang kulit kali ini!

”Kalau gitu, nanti pulangnya lewat Solo Baru,” kata Mas Step. Akhirnya, karena akan melewati Solo Baru, perjalanan tentu membelah jantung kota Wonogiri. Perjalanan siang yang lumayan jauh dengan udara panas. Maklumlah, mobil sewaan murah, jadi tanpa pendingin udara. Panas plus lapar! Jadilan ngantuk! Penumpang lain seperti Mas Har, Mas Jito, Dik Djoko, termasuk aku, segera terbuai!

Selepas kota Wonogiri, tepatnya ketika melaju di Jalan RM. Said, aku memelekkan mata. Dik Djoko pun ternyata sudah bangun. Mas Step berceletuk, ”Mau mbakso, gak?” Tentu saja tawaran menggiurkan ini tak kulewatkan. “Mau! Kapan lagi kalau tidak sekarang,” jawabku cepat.

Beberapa saat, mendekat jalan pertigaan yang membagi arah antara terminal, arah Solo, dan kota Wonogiri, mas sopir membelokkan kendaraan ke sebuah warung. Hmm...warung bakso! Lewat Wonogiri, serasa tak lengkap tanpa masuk dan mencicipi bakso! Jamak! Di mana-mana, sering bertemu penjual bakso dari Wonogiri. Jika lewat Wonogiri tak langsung mencicipi, betapa ruginya! Itu menurutku.

Begitu mobil diparkir, aku segera keluar dan melihat warung bakso itu. Bakso Raksasa! Wah! Apa baksonya segede-gede gigi raksasa? Ato apa yang raksasa? Tak tahulah! Aku juga baru sekali itu diajak mampir!

Inilah pengalaman menarik itu! Bukan masalah bakso dan warungnya ternyata! Namun, ada adegan yang benar-benar berbeda! Di pintu masuk warung, yang terbagi dua ruangan, satu ruang lesehan dan satunya ruang meja kursi, duduk dua orang kakek-nenek. Mereka bukan pengemis! Sang Kakek berpeci. Jemarinya asyik bermain-main di atas benda yang kutahu itu sebuah alat musik. Sebuah siter, alat musik Jawa! Jempol dan jari-jemari lainnya dengan lincah memetik-metik dawai siter itu, sehingga mendentingkan nada-nada lembut nan menggoda telinga. Merayu kaki untuk segera masuk dan berleseh di hamparan karpet. Seakan menarik kepala untuk disenderkan di dinding warung sambil menunggu pesanan datang.

Di sebelahnya, duduk sang Nenek sambil melantunkan tembang-tembang Jawa. Raut tuanya tak menggoreskan lagu fals! Nada-nadanya pas dan indah, seiring dengan petikan dawai siter itu. Terdengar kompak, serasi!



Saat aku menikmati bakso pesanan dan minuman dingin, kudengar ”senggakan” dari sang Kakek. Beberapa saat, ketika dentingan berhenti sementara, suara sang Nenek pun terdengar lembut, merdu. Tembang Caping Gunung mengalun dari mulut keriputnya.

Ah, paduan nuansa yang tak pernah kubayangkan akan kutemui di tempat ini!

”Kurang lebihnya tiga tahun saya di sini,” jawab Mbah Soyo, sang pemetik siter itu saat kuajak berbincang sejenak. Sementara, sang Nenek, Mbah Siti Suwarni, menimpali dengan sebuah senyuman tipis.

Menurut Mbah Soyo, kebiasaan menghibur para pembeli itu tak hanya di Warung Bakso Raksasa. Mereka juga menghibur pembeli di Warung Pecel Bu Sum, sebuah warung nasi pecel yang letaknya tak begitu jauh dari Warung Bakso Raksasa ini.

”Gantian harinya,” tambahnya sambil menghentikan permainan jemarinya di sela-sela barisan dawai siter dan menyambut uluran tanganku. Mbah Soyo kemudian menjelaskan hari-hari kapan dia berada di Warung Bakso Raksasa dan hari-hari kapan di Warung Pecel Bu Sum. Kuanggukkan kepala dengan timpalan sepotong-potong kata.

Aku hanya bisa menjabat tangan mereka dan hanya bisa menjatuhkan selembar uang seribuan di kotak yang ada di depan mereka. Sebenarnyalah, itu sungguh-sungguh bukan upah yang setimpal. Aku hanya bisa menambah dengan jabat tanganku.

Panas terik. Akan tetapi, dentingan siter itu serasa mengirimkan berlaksa angin segar dari puncak bukit hijau di punggung Pegunungan Seribu! Masih sampai kapan, Mbah Soyo dan Mbah Siti Suwarni bertahan untuk mendentingkan nada-nada jiwa selembut sutra itu? ***


Mei, 2009

Jumat, 29 Mei 2009

Sepinya Seorang Kawanku!


Seorang kawanku menuliskan demikian, ”mataku masih sembab”. Kemudian, dibalaslah ungkapan yang ditulis di dindingnya itu oleh beberapa kawan-kawannya dengan berbagai ungkapan.
”Cup, cup! Jangan nangis!”
”Wualah..! Gak usah ditangisi to, Mbak! Aku gak apa-apa koq...! Tuh, jadi sembab kan?”
”Wah, jangan-jangan, gara-gara dengar lagunya Olga yang berjudul ’Hancur hatiku’! Ya ta? He...he!”
”Jangan nangis mulu, ah! Udah gede juga!”
”Ini kok nangis melulu, to?”
Kemudian, kawanku itu membalas.
”Aku udah gak nangis kok, hanya kenapa mataku masih sembab.”
”Saat sepi ada dalam kalbu dan tak ada siapa pun yang bisa membuat sepi itu jadi ramai, yang terjadi hanya sebuah tetesan air mengalir. Miss u so much girl!”
”Aku kangen sama kamu! Ketemuan, yuk!”
”Entahlah...! Sepi atau ramai, perasaan ini sama saja. Hanya mukjizat yang mampu membuat semuanya menjadi indah, sehingga aku tak akan pernah menangis lagi!”
”Thanks for your care for me. GBU.”
Didera dan ditelikung kesepian itu benar-benar menyiksa. Ada keramaian di sekitarku, namun aku tak mampu larut dalam keramaian itu. Aku seperti tersingkir dalam arus deras keramaian. Tersingkir, tersisih, namun tak terasa jauh! Ketika mendengar suara tawa dari orang lain, yang muncul justru perasaan tertusuk pedih. Mengapa mereka dapat tertawa, sedangkan aku tak bisa?

Itulah sebabnya, aku begitu mudah lari dari kesepian ke keramaian. Meski, jik aku kembali berada dalam kesendirian, kesepian itu menyergap lagi. Apakah kesepian itu musti dihindari? Apakah kesepian itu musti hilang dari muka bumi ini?

Menurutku tidak, Kawan! Kesepian itu ada karena manusia telah mengalami sebuah perasaan yang akhirnya diberi nama kesepian. Kenyataan ini, mau tidak mau harus tetap diterima. Dari pengalaman, muncullah pernyataan bahwa seseorang yang mengalami “sesuatu seperti dicabut dari segala yang serba ramai” adalah kesepian!

Lainnya, kesepian memang tak harus hengkang karena dari situlah manusia bisa menyelam ke dalam dirinya. Manusia bisa benar-benar mengerti bahwa dirinya adalah makhluk yang seperti ini, ciptaan seperti itu, dan pribadi yang menjadi begini.

Terakhir, dengan kesepian, manusia bisa menerima kehadiran sesamanya. Thanks for your care! Perhatian! Sebuah perhatian akan begitu terasa berharga manakala manusia sedang disergap kesepian dan sesamanya mau peduli!

Kapan mukjizat itu bisa terjadi? Entah, Kawan! Aku tak pernah mengharapkan sebuah mukjizat, karena di setiap hariku, selalu ada banyak peristiwa yang pada akhirnya menggiringku untuk memahami bahwa itu semua ada mukjizat!***

Mei, 2009

Selasa, 12 Mei 2009

Rindu.... Seperti Apakah?


Selama aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tau lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku, ku merindukanmu

Merindukanmu? Rasanya asing sekali kata itu hinggap di dalam hatiku. Merindukanmu? Bagaimana aku bisa merindukanmu? Sedang aku masih saja selalu sangsi apakah aku bisa mempunyai perasaan cinta? Kadang aku bertanya pada diri sendiri: Cinta yang seperti apa yang sebenarnya aku rindukan? Cinta yang senyata apa yang ingin aku rasakan?

Aku masih bernafas! Aku masih sanggup berjalan! Aku pun masih selalu memujamu. Memuja kelebihanmu! Memuja kekuatanmu! Memuja kepintaranmu! Meski aku tahu keberadaanmu! Meski aku tahu bahwa engkau berdiri di sana! Meski aku tahu engkau berjuang di sana! Namun...

Mengapa aku tak bisa merindukanmu?
Sering aku bercanda dengan malam. Hai malam, mengapa engkau selalu berwarna hitam? Malam hanya akan tertawa mendengar kata-kataku. Mungkin dia membatin: bodoh sekali pertanyaan itu! Kadang aku mengganggu goyangan dedaunan. Kubertanya: hai daun hijau, apakah kau rindu hujan? Daun itu hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Mungkin dia membatin: bodoh sekali pertanyaan itu!

Aku ingin merasakan rindu. Aku ingin merindukanmu! Namun..., rindu seperti apa yang yang sebenarnya aku rindukan?

Akan tetapi, aku benar-benar ingin tahu, rindu itu seperti apa? Mengapa aku tak bisa merasakan kerinduan itu?



Semarang, 12 Mei 2009 (titip rindu buat dia....)

Kamis, 30 April 2009

Kehilangan


Daun rontok dan meninggalkan ranting yang dulu erat menggenggamnya. Jatuh melayang. Berserakan di atas tanah. Kemudian, lambat laun akan menghilang di dalam tanah. Hilang!

Berjalan mengayuh langkah di bawah bayang-bayang pepohonan. Menari di antara perdu-perdu ilalang. Melompat di antara bebatuan terjal! Jika memang sudah saatnya kaki menapak, entah di atas lumpur atau di atas tanah, kaki akan menapak! Bisa membekas dan ataupun hilang. Jika kaki itu menapak di atas tanah basah, maka akan membekas! Akan tetapi, jika hinggap di atas aliran air, maka jejak itu akan sirna. Hilang!

Kehilangan itu terasa menyakitkan. Namun, kehilangan itu akan bisa berarti bila kau pernah merasa memilikinya. Jika kau ingin menggenggamnya selamanya, maka kehilangan itu semakin kuat untuk meninggalkanmu. Kamu tidak percaya? Aku tidak ingin memaksa! Berapa di antaramu yang sudah terlalu banyak kehilangan? Tak akan terhitung!

Jika kau pernah mengalami kehilangan, aku pun pernah. Jika kau pernah mengalami kehilangan, mereka pun pernah. Apakah jika aku dan kau mengalami kehilangan, kehidupan akan hilang pula! Tak akan! Yaa...hidupnya yang barangkali terasa hampa! Sepi! Kosong! Akan tetapi, apakah hidupmu akan terus kau korbankan hanya demi kehilangan itu? Sementara, kehilangan itu akan terus melayang dan terbang di antara manusia demi manusia untuk menebarkan racun-racun keputusasaan!

Aku mengertimu ketika kau mengatakan bahwa dia meninggalkanmu. Aku mendengarkanmu ketika kau mengatakan bahwa dia memutuskan dirimu. Aku memahamimu ketika kau mengatakan bahwa dia lebih memilih hati lain daripada hatimu. Dan kau akan merasa terlempar ke sudut kebinasaan! Tenggelam dalam rasa kehampaan yang sulit diisi oleh rasa berpengharapan yang baru.

Namun, setelah sekian detik kau bergulat dengan racun kehilangan itu, bisakah kau mengatakan, ”Aku ingin memiliki kehilangan itu!” Aku ingin memiliki rasa kehilangan itu sebagai bagian dari kehidupanku? Beranikah dirimu untuk menggandengnya dalam setiap langkahmu? Pasalnya, kehilangan ini tak akan pernah bisa melepasmu. Meski kau berusaha untuk menghindarinya. Karena, jika kau berkesan menghindarinya, dia akan bersorak gembira dan memenangkan pertempuran! Akan tetapi, jika kau berani menariknya mendekat, menggenggamnya, dan mendekat erat di dalam hatimu, dia akan menjadi bagian hidupmu dan tak akan menyakiti hatimu lagi. Karena di balik kehilangan itu ada rasa baru yang tumbuh dan memberimu kekuatan baru. ”Pernahkah kau mengira kalau dia akan sirna. Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa. Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memiliknya.”

Jika kau membuka matamu, kau akan melihat seorang malaikat kecil menyongsongmu di tengah padang bunga bakung. Dia berlari dan memeluk pinggangmu dengan erat. Ketika kau pandang bola matanya yang bening, kau akan melihat isi hatinya. Dia akan berkata kepadamu dengan jiwa penuh nyanyian.

”Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu kekuatan yang tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata. Aku ingin mendekapmu karena kuingin memberimu semangat di saat dan dan pikiranmu sedang galau. Aku ingin mendekapmu karena kau sungguh berarti. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk satu cinta yang tak pasti!”***

Untuk jiwa-jiwa yang telah terbang!
Pemuatan ulang dari tulisan yang sama pada blog yang lain.

Kamis, 16 April 2009

Ungkapan Nov


Seperti biasa, jika aku sedang browsing, kusempatkan untuk melihat halaman friendster-ku (ato facebook-ku). Barangkali, ada pesan atau komentar yang datang dari teman-temanku. Kulihat ada tulisan yang baru saja diposting dari Nov. Demikian dia menuliskannya:

Saat itu aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu, cinta itu, kita suka sama cowok yang kita kagumi. Tak terhitung berapa cowok yang pernah kusukai, tapi tak perah kumiliki karena rasa takut akan kata ”tolak”. Pada akhirnya, rasa suka itu terbalas dengan satu cowok yang sangat aku kagumi. Di situ, aku mulai kehidupan cintaku (020503).

Dia mengajari aku arti kesatuan. Walaupun di antara kami banyak perbedaan, tetapi dari perbedaan itu kami bisa menjadi satu. Dia mengajari aku apa arti sayang. Kehidupanku sangat indah yang selalu dipenuhi rasa kangen akan kehadirannya. Apakah ini yang disebut cinta pertama? Dia juga mengajari aku apa arti cinta. Cinta di mana kuterima dia apa adanya. Walaupun aku mencoba untuk mengubahnya, tetapi aku juga harus ingat kalau cinta tak harus mengubah dia menjadi apa yang kuinginkan.

Dia juga mengajari ku rasa sakit hati. Dia tak pernah melukaiku. Tetapi kadang pada suatu hubungan itu pasti ada bertengkarnya. Dia mengajari aku arti kejujuran. Saat kami menjalin hubungan, kata ”jujur” itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya.

Dia juga mengajari aku arti perpisahan. Di mana ada pertemuan, di situ pula ada perpisahan. Susah untuk menerima semua itu. Walaupun aku menjalin hubungan dengannya sangat singkat, tapi bagiku itu adalah seumur hidup. Dan pada akhirnya aku tahu kalau cinta itu tak harus memiliki (190904).

Akan tetapi, ada satu hal yang dia tidak tahu. Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu. So, sorry...

Aku sejenak membaca. Memaknai atas apa yang ditulis Nov. Mataku terpaku pada satu kalimatnya. "Saat kami menjalin hubungan, kata 'jujur' itu menjadi sangat penting. Tak pernah sedikit pun aku bohong kepadanya. "

Dalam situasi apa pun, sikap jujur itu tetap perlu dipertahankan. Bukan hanya karena demi cinta, sikap jujur tetap harus diperjuangkan. Apalagi cinta, untuk bekerja saja, seorang pimpinan selalu menekankan sikap jujur pada bawahannya. Jika sikap jujur itu sudah tak dihidupi oleh pimpinan, bagaimana bawahan mau mencontoh atau meneladan?

Kejujuran adalah bintang. Dia berada di awang-awang dan tak dapat diraih. Akan tetapi, taburannya yang berlaksa-laksa dan sinarnya yang berkerlap-kerlip, memberikan mozaik indah yang tak pernah bisa dilukis manusia.

Bisakah seseorang berkata jujur jika pada kenyataannya kejujuran itu seperti bintang? Seperti kata Nov sendiri, pada saat dia menjalin hubungan, kata jujur itu sangat penting dan dia tak pernah sedikit pun berbohong pada kekasihnya. Akan tetapi, di tempat lain, Nov pun mengakui bahwa dia tak pernah bisa berkata sebenarnya tentang satu hal. Nov bilang, ”Aku menduakan cintanya. Aku menodai cinta kami yang suci itu”. Kejujuran itu menyakitkan.
Apakah aku sudah bisa mengedepankan kata jujur? Bisakah aku mengatakan kepada kekasihku, ”Meski aku berjalan bersamamu, jujur kuakui bahwa aku pun menduakan dirimu dengan orang lain.” Ah, siapa yang bisa mengatakan ini? Ah, siapa yang tahan akan rasa sakit hati. Siapa yang mau mendengar kata ”khianat, jahat, menodai” dan kata-kata lain yang akhirnya mengantar pada kata, ”selamat tinggal, selamat berpisah, selamat jalan, aku pergi”.

Kejujuran adalah landasan dalam hidup. Meski berat untuk meletakkan sebagai landasan sendi-sendi hati, namun manusia harus tetap memperjuangkannya. Nov tidak salah! Karena Nov, seperti aku juga, adalah manusia yang masih selalu berjuang untuk menebarkan kejujuran itu di hamparan permadai kehidupan.

Nov, jika kamu menyampaikan isi hatimu ini, kuanggap bahwa aku pun berkesempatan membawa ungkapanmu ini dalam perjalanan hidupku. Kuharap kamu masih tetap berjuang demi cinta dan kejujuran. ***


Semarang, 6 April 2009

Senin, 06 April 2009

Kejahatan Itu....


Sebuah email dikirim dalam milis yang kuikuti. Pengalaman bentuk kejahatan yang berbeda lagi. Inilah bunyi email itu!

Guyzzzzzzzzzzzzzz! Gw mo sharing kejadian yg gw alami sendiri kemarin malam. Semoga ga ada lagi yg jadi korban kejahatan ala TISSUE BASAH yg hampir menimpa gw.

Jadi, jam 21.30 gw naek bus dr UKI ke arah Blok M. Gw naek P 45 yang busnya mirip bus Jepang. Naaahh, waktu itu bus memang dlm keadaan agak sepi. Hanya beberapa orang saja di dalamnya, termasuk gw. Waktu bus sedang ngetem, naik seorang bapak dan dia sempat melihat keadaan sekeliling bus. Lalu dia duduk di samping gw. Di situ gw mulai curiga. Coz, sebenernya masih banyak tempat duduk kosong, tp yaahh gw no hard feeling lahhh.Awalnya emang ga ada apa-apa. Saat bus mulai jalan, dia mengeluarkan tissue basah merk yg lumayan terkenal. Dia gosok-gosokkan tissue itu ke telapak tangan dan lengannya, seolah mengelap keringat. Di situ gw mulai mencium bau agak aneh. Apalagi untuk gw yg memang sering pake tissue bassah merek itu. Baunya berbeda seperti bau aseton plus spritus bakar. Gw mulai mual. Pada saat itu emang posisi gw deket kaca dan kaca terbuka lebar. Lalu dia berkata,”Mbak, maaf kacanya boleh ditutup dikit, ya? Anginnya kenceng banget.” Lalu dia menutup kaca itu dan lengannya otomatis melewati hidung gw. Saat itu, bau aseton plus spritusnya makin menyengat hidung gw. Gw bener-bener pusing mendadak. Ketika dia melihat gw mual dan pucat, dia menawarkan tissue basah yg tadi digunakan. Langsung dia menyodorkan tissue itu di depan hidung gw dalam posisi setengah terbuka. Baunya langsung bikin mata gw kunang-kunang.Saat itu Tuhan masih baik sama gw. Seolah-olah otak gw sedikit disadarkan untuk segera turun dari bus itu. Dia berusaha mencegah dengan berpura-pura baik. ”Mbak gpp? Kok pucat?” Langsung gw tepis tangannya. Gw langsung berlari ke pintu keluar dan gw turun persis di depan patung Pancoran. Saat gw turun, gw bener-bener mual dan ga ngeliat tangga. Untung ditolong sama kondektur serta beberapa pengamen di situ. Saat itu gw dah pasrah karena gw dikerubutin pengamen-pengamen yg khawatir sama gw. Bahkan, salah satu dari mereka berpostur preman. Tapiii... dont judge a book from the cover. Gw malah ditolong sama mereka. Gw dikasih minyak angin sampe gw bener-bener muntah dan diberi air putih. Saat gw mulai baikan, gw cerita sama mereka. Mereka bilang itu memang kerap terjadi di bus P 45 jurusan Cililitan – Blok M. Biasanya incaran mereka adalah wanita yg duduk sendiri di dekat jendela. Sudah banyak yg jadi korban perampokan ala tissue basah dan memang benar dugaan gw tissue basah itu dicampur sama aseton dan alkohol 85%.

Dari situ, gw baru dicariin taksi Bluebird. Para pengamen itu bahkan sempat mencatat nomor taksi dan nama si pengemudi untuk memastikan gw aman. Gw sempet mo ngasih duit buat mereka, tapi mereka nolak. Mereka cuma kasian sama gw dan ikhlas bantu gw.
Jakarta oh Jakartaaaaaa! Kita bener-bener ga bisa nebak orang berdasarkan fisik. Orang yg keliatannya bejat malah mereka yg baik sama kita. So be carefull, girls! Itu bener-bener kejadian. Gw ngalamin sendiri. Selesai!

Masihkan aku harus memberi pendapat akan pengalaman ini?



Semarang, 7 April 2009

Sabtu, 04 April 2009

Goresan Buat ”Kak S”


Goresan Satu
Sepasang mata bening

Menatap penuh tanya
Pada sesosok wajah teduh
Yang berjongkok di depannya dengan senyum selapis menggurat tipis di bibir hitamnya

Sepasang mata bulat bening tak lepaskan tatapan
"Ayah, kenapa namaku pendek?"
"Ah, namamu itu sebuah nama yang cantik, Cah Ayu."
"Secantik apa?"
"Secantik bintang-bintang yang bertaburan di hamparan karpet biru negeri Italia..."

"Ah, Ayah..."
"Ya, Cah Ayu."
"Benarkah aku cantik?"
"Iya tentu saja."
"Tapi kenapa namaku pendek, Yah? Kenapa?"

Sepasang mata bening bulat tak lepaskan tatapannya
Sepasang mata tua meredup tak lepaskan selarit senyuman

"Nak, namamu pendek. Tetapi, jika kau bisa memberi cinta pada selaksa makhluk, kau akan menerima keharuman nama yang tak akan pernah lekang. Suatu saat, kau akan mengerti, mengapa aku beri kau nama yang pendek.

"Gadis kecil tertunduk kelu
Dengan desakan tanya penuh talu
Gadis kecil berlari ke kaki cakrawala...

Lelaki separuh baya tak pernah lepas dari harap dalam sanubarinya...
"Jadikan bumi penuh kecantikan, Cah Ayu"

Bisiknya pada angin, pada awan, pada pucuk-pucuk kamboja!


Goresan Dua
Sepasang tangan mungil

Menggenggam jemari rapuh
Yang terbaring lemah di bibir dipan

"Ayah..."
Raut wajah tua kelelahan. Terdiam dalam haribaan

"Ini aku ayah. Mengapa Ayah diam saja?"

Seutas senyum terjulur di bibir pucat tua
Seakan berkata penuh kasih sayang
"Aku selalu mendengarmu, Cah Ayu! Bicaralah!"

Seraut wajah mungil bersaput mendung
Sepasang mata bening bersaput telaga hijau
Hampir sudah bendungan rasa mendedah dada
Tak kuasa jiwa menahan gejolak
Hampir pecah kalbu menahan tangisan

"Ayah...Sampai kapan rasa ini terhimpit batu? Sementara Ayah terdiam tenang di peraduan abadi?"


Sepasang cicak bergerak perlahan. Tak ingin mendengar keluh kesah dari bibir mungkil kepucatan. Di angkasa, sepasang bangau terbang melintas dengan sunyi. Di ufuk barat, sebutir matamalam melayang pelan.


Semarang, 5 April 2009
(Perarakan Maut)