Selasa, 31 Maret 2009

Surat Tak Sampai

Tahun 2003, saat aku masih kuliah, ada program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang harus kuikuti. Dalam KKN itu, aku bergabung dengan kawan-kawan dari berbagai jurusan. Jadilah satu kelompok dengan kawan baru. Yang lebih beruntung jika dalam kelompok itu, ada kawan yang memang sudah dikenal, meski berbeda jurusan. Namun bagiku tidak demikian. Aku sendirian dari jurusanku. Namun, begitu bisa gabung, aku pun dapat menemukan berbagai pengalaman yang memperkaya aku. Berbagai kegiatan dapat kulakukan dan kuselesaikan dengan kawan-kawan baru ini.

Di saat perjumpaan terakhir dan pembubaran kelompok, aku dan kawan-kawan sempat makan bersama-sama di sebuah rumah makan. Saat itulah, kuberikan ungkapan-ungkapanku kepada kawan-kawanku dalam bentuk tulisan. Sayang sekali, seorang kawan berhalangan hadir, sehingga dia tak sempat menerima coretan tanganku. Namanya biasa dipanggil Ani.

Sayangnya, aku tak pernah tahu kemana dirinya melanjutkan kariernya, setelah kami sama-sama lulus tahun 2004. Jika dia menemukan tulisanku ini, semoga dia bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Jika tidak, tulisan yang telah kupindah dalam blog ini, semoga tidak hilang.


Buat Ani

Salam hangat penuh persahabatan,
Rasanya tidak mungkin aku mengungkapkan kesanku kepadamu hanya dalam jangka waktu yang sedikit dan terbatas. Maka aku sempatkan untuk memberikan ungkapan kesan dan terima kasihku kepadamu melalui tulisan ini. Sebelumnya, aku minta maaf jika nanti ada kesan pribadiku yang ternyata tidak berkenan di hati.

Waa..., ini dia temanku yang paling seger penuh tawa! Gimana, masih sanggup untuk tertawa panjang lagi sampe ujung barat dan timur mendengar, Dik? Ha...ha...ha...! Masih kuat ngisi TTS? Atau masih mau main kartu? Yah, mudah-mudahan semuanya masih menjadi hobi yang mengasyikkan di samping tugas-tugas lain, ya?

Ada beberapa hal yang dapat kutimba selama aku bergaul dengan dirimu selama KKN. Barangkali bagi kamu tidak, namun bagiku, ya! Aku pikir, pada waktu pertemuan pertama di kampus, kamu orangnya tidak banyak ketawa. Eh, tak tahunya? Ngakakmu itu nggak ada yang menandingi. Bahkan Bu Muji aja sempat terheran-heran. Kamu tahu tidak, apa kata teman-teman jika kamu sudah mulai bicara? ”Waa..., Gunung Merapi nih, mulai mengeluarkan semburannya!” Gitu mereka bilang! Ha...ha...ha...! Sorry, nggak nyinggung, kan?

Itulah keistimewaanmu yang dapat kutangkap selama kita kenal sebagai teman baru di Dusun Surodadi. Kupikir, ini anak kok enak banget segala sesuatu dianggap santai, ringan, tanpa beban. Ketawa-ketiwi tanpa henti! Namun, setelah sekain lama aku mengenal sisi itu, aku jadi tersadarkan bahwa aku memang mesti menerima pribadi lain yang hadir di sekelilingku dengan apa adanya. Itulah pribadimu yang kutangkap tampak santai, ringan, penuh tawa, dan enjoy saat bergaul dengan orang lain. Sikap dan sifatmu itu telah menunjukkan kepadaku bahwa ada kalanya segala sesuatu yang dihadapi itu harus dirasakan dengan ringan, dengan tawa! Hal ini yang sebenarnya berat, namun dapat saja dibawa dengan ringan, sehingga justru cepat selesai. Itulah yang kutangkap dari pribadimu. Santai! Penuh tawa!

Memang, aku juga menyadari bahwa selama kita bergaul, tidak banyak hal yang sering kita bicarakan secara mendalam. Tidak mengapa! Itu semua juga kamu sadari bahwa tidak setiap orang dapat cocok untuk berakrab-akrab ria. Bahkan aku pernah mengungkapkan suatu ganjalan kepadamu pada waktu kita melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman. Kamu dapat menerima dan menyadari itu dengan baik! Benar-benar aku menghargai sifatmu itu. Mungkin, latar belakang kehidupanmu yang berbeda dengan latar belakang kehidupanku atau teman lain, sedikit mengganjal pada saat harus hidup bersama. Mungkin, bagi dirimu tidak memengaruhi, namun bagiku atau teman lain memengaruhi. Nah, dalam situasi seperti ini, jika ada teman yang menegurmu, kamu mampu untuk menerimanya. Kamu tetap enjoy, tanpa tersinggung, dan kamu berusaha untuk memahami serta memperbaiki.

Barangkali kamu menilai bahwa hidup seseorang memang harus dijalani dengan keriangan. Ya, kalau memang itu yang kamu perjuangkan atau yang menjadi salah satu prinsip, itu pun aku hargai. Yang pasti, selama menjalin pertemanan dengan dirimu, aku belajar banyak hal. Belajar akan pentingnya sebuah relaksasi; belajar akan baiknya membawa sesuatu ke dalam keceriaan, dan pentingya menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sekiranya akan membantu dalam meniti masa depan.

Ani, terima kasih ya, atas kehadiranmu dalam kelompok kita. Aku menyadari sekarang bahwa pribadi sepertimu juga memberikan andil pada diriku. Aku semakin tahu bahwa tidak selamanya orang yang sedang memiliki tanggung jawab dan tugas harus diselesaikan dengan muka masam atau cemberut. Orang dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas dengan ringan dan muka cerah. Bukankah ini lebih menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?

Mudah-mudahan apa yang kusampaikan ini tidak membikin kamu bingung! Inilah yang dapat kusampaikan, setelah nanti kita tidak bertemu lagi. Dari tujuh teman, kamulah yang paling jauh tempat tinggalnya. Kalau kamu sudah selesai dari Yogya, kembali ke Kalimantan, apakah mungkin dapat bersua kembali? Ya, akhirnya hanya doa yang dapat kusampaikan. Sukses ya, kamu menjalani hidup dan meraih masa depan! Baik-baiklah untuk berusaha! Akhirnya, selamat meniti karier yang cerah!

O, ya yang pasti tak akan pernah aku lupa bahwa ’lip balm-mu’ itu merupakan ingatan bagi diriku! Ha...ha...ha...! Nggak dapat barangnya, malah dapat pengalaman lucu! Aku minta maaf atas segala kesalahan, kekilafan, dan kekurangan yang membuatmu kecewa sebagai teman di Kelompok 57.

Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah kamu bagikan kepadaku. Panggilan namaku yang sudah akrab sebagai anggota Kelompok 57, pertahankan dan pakailah itu saat kapan saja jika masih sempat bertemu denganku. Kuanggap ini sebagai kenanngan.


Yogyakarta, Februari 2003
Doa dan dukunganku,


Hanya jejak-jejak inilah yang bisa kusampaikan. Entah, mungkin dia telah menggapai suatu cita yang dulu pernah diidamkannya. Aku tak pernah tahu...

Semarang, 30 Maret 2009

Kangen!

"Aku jadi kangen waktu kulihat foto-foto itu. Nggak tahu, kapan aku ketemu kamu dan bagamana kalau ketemu? Aku masih lama di Flp, karena masih harus lanjut S2. Harapanku sih, kau datang ke Flp. Aku capek banget! Nggak tahu, mau gimana menorehkan perasaanku. Dulu aku bisa berlembar-lembar nulis ke kamu. Sekarang? Aku jarang nulis! Yang jelas, aku kangen ketemu kamu. Pengin ditemani nangis di depan pohon kita dulu. Meski aku yakin, situasi itu berubah. Ada hal yang aku rasa perlahan beranjak dari aku. Kenapa, ya? Aku masih bersikap manja dan sentimentil? Aku kangen kamu. Kangen hari-hari kita dulu. Nih lihat, air mataku jadi keluar, deh. Udah ya, nanti aku bisa nangis heboh lagi. Bye...."

Ah, bagaimana bisa seperti itu? Jika pertanyaan ini kulandasi dengan nalar, tentulah bisa dijawab. Karena dia kangen. Titik. Itu saja. Namun, jika dikejar, mengapa masih kangen? Karena dia masih cinta kepadaku. Mengapa masih cinta? Karena aku sangat berkesan di hatinya. Mengapa berkesan? Karena.........

Aduuuuh........, bukan seperti itu kan memahami perasaan orang lain, terlebih seseorang yang pernah merasa dekat di hati? Memahami perasaannya, tidak perlu mencari alasan-alasan mengapa bisa seperti itu. Yang pasti, dia kangen kepadaku. Itu saja. Titik!

Ketika dia menuliskan ungkapan itu kepadaku, jujur saja, aku merasa bingung. Bingung karena yaitu tadi. Masih saja mencari banyak alasan mengapa dia masih kangen kepadaku. Padahal, aku sudah bilang kepadanya berkali-kali, konsentrasilah pada tugas. Jangan menghiraukan aku lagi. Namun....., hik, hik, hik! Memang, dia masih menyimpan perasaan itu, mau bagaimana? Ya....kangen kan?

Hati memang memiliki lemari rahasia yang sulit sekali dibuka. Banyak hal yang bisa tersimpan rapat dan rapi di dalamnya, termasuk perasaan. Perasaan apapun bisa disimpan di dalam hati. Bisa saja malu, kecewa, senang, bahagia, sedih, takut, kangen, dan juga cinta. Ah, tidak harus memaksa seorang tukang kunci untuk membuka lemari rahasia hati orang lain. Karena, jika sudah tiba saatnya, lemari itu akan dibuka dengan sendirinya. Dengan demikian, akan tahu perasaan apa yang tersimpan di dalamnya.

Jika aku tahu dia masih kangen kepadaku, berarti dia memang masih menyimpan perasaannya kepadaku. Perasaan apa? Ya....macam-macam! Yang jelas ya....kangen itu! Ah, tidak perlu diperpanjang. Sudahlah, dia memang kangen kepadaku.

Kemudian, jika dia kangen kepadaku, apa sekarang aku harus melarangnya? Perasaan itu kan miliknya? Bener kan? Dia bebas mengekspresikan segala perasaannya itu. Sementara, apa rugiku jika dia kangen kepadaku? Tidak ada! Justru sebenarnya, aku tersanjung dan bersyukur masih ada seseorang yang bilang kangen kepadaku. Itu artinya, diriku memiliki arti, minimal bagi dirinya.

Aku tidak mengagung-agungkan diri kok! Aku hanya ingin jujur. Apapun yang ditampakkan olehnya kepadaku, adalah nyata-nyata perasaan yang ada di dalam hatinya. Meskipun aku harus mengakui bahwa aku tidak kangen kepadanya, namun aku masih ingin menghargai perasaannya itu kepadaku.

Jika aku menatap puncak bukit di seberang kota S, di sana akan tampak sebatang pohon randu alas yang masih berdiri tegak. Ya..., pohon itu pula menjadi salah satu kenangan bersamanya. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan, karena jika aku mendekat, pohon itu masih tetap di sana dan aku juga sendirian. Aku tidak lagi bersamanya. Sama seperti dirinya yang sekarang jauh dariku. ***


September 2008

Minggu, 29 Maret 2009

Tiba-Tiba Saja Menangis!

Saat aku sedang browsing -cari lagu-lagu yang kusuka- aku temukan lagu Dewa 19 berjudul “Selimut Hati”. Aku pernah mendengar lagu ini. Easy listening sih! Maka, kucari saja video klipnya. Aku masih bisa menyaksikan video klip itu dengan personil Dewa 19 (Tyo, Drummer-nya masih juga ikut) dan beberapa talent seperti Maia, Mulan, DJ Chatty. Spontan saja, sambil melihat itu, aku langsung saja mewek! Wee........kenapa ini?
Ah, ya ingat akan kenyataan sekarang ini. Antara video klip dengan situasi yang ada saat ini. Dalam video klip itu, tampak betapa kemesraan dan perhatian itu tergambar. Sekarang? Semuanya itu telah lenyap. Dhani berseteru dengan Maia. Mulan keluar dari Ratu. Tyo sudah tidak gabung lagi di Dewa 19. Siapa yang akan mengira bahwa kesuksesan dalam mendapatkan aplaus itu juga akan diikuti dengan kesuksesan dalam menjalani biduk rumah tangga? Tak ada yang bisa memperkirakan. Mungkin hanya peramal saja. Namun, ah, kali ini janganlah membicarakan peramal.

Ya, itulah! Suatu perasaan sepertinya bisa saja berubah hanya dalam jangka waktu ketukan jari! Kemarin benci, sekarang sudah cinta. Kemarin cinta, esok sudah musuhan! Apakah hanya sebatas itu sebuah perasaan itu bisa bertahan?

Aku selalu sadar bahwa menjalani hidup dengan sempurna itu tak mudah. Justru, kesempurnaan itu bisa nyata ketika segala hal terjadi. Seseorang bisa sempurna menjalani kehidupan, manakala dirinya berhasil. Namun, jika terus berhasil, itu bukanlah kesempurnaan hidup. Seseorang pun perlu juga merasakan kegagalan. Karena kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Tidaklah mungkin, seseorang mengejar keberhasilan terus-menerus. Jika toh ada orang lain menganggap sesama berhasil, itu pun belum tentu benar. Karena yang bersangkutan bisa merasa berbeda dari pandangan orang lain.

Kegagalan dalam mempertahankan hidup rumah tangga adalah kesempurnaan dalam menjalani kehidupan. Namun, apakah setiap orang harus selalu mengalami kegagalan yang sama? Tentu saja tidak! Terkadang, kegagalan orang lain bisa dijadikan cermin agar kegagalan dirinya tidak separah orang lain. Belajar dari pengalaman orang lain!

Semudah itukah? Nyatanya memang tidak mudah! Sedang seseorang yang berhasil menjalani kehidupan dan mendapatkan hal-hal yang penuh, ternyata bisa saja terperosok dalam kegagalan. Ya...paling tidak contoh yang kusampaikan di atas tadi.

Dalam ungkapan ini, aku tidak sedang mengomentari keadaan mereka itu. Aku hanya ingin melihat dan belajar dari kehidupan mereka itu. Tidak lebih dari itu. Meski mereka gagal, mereka pun memiliki keberhasilan. Antara keberhasilan dan kegagalan, sering berjalan seiring. Jika manusia tidak waspada, salah satunya bisa menjadi jalan tenggelamnya jiwa dalam keputusasaan. Apakah keberhasilan juga bisa menenggelamkan jiwa? Tentu saja bisa! Jika kegagalan itu mengantar pada sikap tidak rendah hati. Apakah kegagalan juga bisa menenggelamkan jiwa? Jelas! Karena kalau tidak segera bangkit, dirinya akan selalu terpuruk dan putus asa!

Tiba-tiba aku menangis! Namun, tangisan ini adalah tangisan bela rasa! Berbela dan berasa atas apa yang hendak kulihat dalam diriku sendiri!***


September 2008

Sabtu, 28 Maret 2009

Telepon dari Seberang

Saudaraku tiba-tiba bilang kalau aku diminta untuk menelepon Liani. Liani? Ah, mengapa harus nelpon? Sudah lama aku tidak berkontak dengannya. Tetapi mengapa aku harus meneleponya? ”Mungkin dia masih menyimpan masalah sama kamu,” kata saudaraku itu sambil tertawa. Sialan, kataku.

Liani itu kawan lama. Dia kukenal kira-kira empat tahun yang lalu di kota S. Waktu itu, ada sebuah kegiatan yang membuat aku bisa berjumpa dengan dirinya. Nah, yang membikin hal mengesan bukan Liani, melainkan diriku yang bergulat dengan masa laluku. Kok Liani bisa terlibat? Ceritanya, waktu mengikuti kegiatan itu, acapkali berjumpa dengan Liani, aku selalu tidak bisa saling berkomunikasi. Diam-diaman. Jika berpapasan dengannya tak ada sapaan hangat. Padahal, dia kawan baru, mestinya aku memberi sapa yang hangat. Namun itu tidak kulakukan. Aku juga heran dengan diriku ini. Ada apa sebenarnya?

Selang satu bulan (kegiatan itu dilakukan selama dua bulan dengan tinggal di asrama), aku mulai menemukan akar persoalan. Akar persoalan itu ternyata ada dalam dirku sendiri. Sosok Liani itu ternyata mirip dengan seseorang di masa laluku yang membikin aku sakit hati. Oh, itu yang membuat komunikasiku dengan Liani terhambat. Menyadari itu, aku berusaha untuk menyelesaikan. Ternyata tidak mudah! Aku mencoba mendekati untuk menyampaikan segala ganjalan yang ada.

Suatu siang, selesai makan siang, aku mengajaknya untuk berbicara. Kepadanya kuungkapkan bahwa aku meminta maaf jika ada perilakuku yang membuatnya tidak nyaman. Kusampaikan apa adanya tentang alam bawah sadarku yang membenci seseorang namun tersalurkan pada sosok dirinya. Liani bisa mengerti. Aku berusaha untuk mengolah luka ini.

Lambat namun pasti, aku mulai mampu untuk berkomunikasi dengan Liani. Meski masih sulit, aku tetap berusaha berkontak dengan Liani. Saat-saat lain, jika bertemu, aku menyapanya. Bahkan, aku berusaha untuk duduk sebangku di ruang pertemuan. Hingga pada akhirnya, segala kebekuan itu mencair. Obrolan sudah terjalin dan senda gurau pun tercipta. Di saat-saat pertemuan di kelas, aku tukar bolpointku dengan milik Liani.

Ah, tiba-tiba saja sekarang dia memberi tahu saudaraku agar aku meneleponnya. Benarkah ada sesuatu masalah masa lalu yang belum selesai? Ah, mungkin bukan! Karena yang memiliki masalah adalah diriku, sementara Liani tidak ada masalah apa pun. Semuanya sudah berlalu!

Jam 20.45, aku hubungi Liani. Agak lama juga tersambung ke ponselnya. Sempat terputus. Ketika bisa tersambung, dengan ringan kusapa Liani.

”Haloo...met malam, met jumpa.”

”Hei! Pa kabar? Lama tidak kontak.”

”Ya begitulah....”

Obrolan pun terjalin. Ternyata benar! Bukan suatu masalah. Nyatanya, sampai 30 menit obrolan itu, segalanya berjalan dengan baik. Apa yang ingin disampaikan kepadaku? Sebuah undangan. Dia mengundangku untuk datang tanggal 8 September. Ada peristiwa yang sedang dirayakannya.

”Aduh, sori, aku tidak bisa kalau mendadak begini,” jawabku.

”Habisnya...., kamu tidak pernah berkirim kabar sama aku,” sahutnya.

”Iya maaf. Tapi nanti aku hubungi jika perayaan itu sudah selesai.”

”Bener lho! Aku tunggu.”

”Tapi aku tidak janji....”

”Lho, gimana sih? Pokoknya aku tunggu tanggal 8 malam telepon aku. Awas kalau tidak!” kata Liani.

Begitulah percakapan malam itu. Meski hanya bertukar kabar, perjumpaan dengan Liani lewat udara ini telah memberiku suatu pengalaman bahwa ada masa-masa ketika seseorang itu ternyata masih saling memerlukan. Paling tidak, saling menyapa. ***


September 2008

Jumat, 27 Maret 2009

My Rumiyin!!!!!!!!!!!!!

Heran aku! Kai selalu memanggilku dengan kata-kata itu. Apa sih yang membuatnya selalu memanggilku dengan ”My Rumiyin, My Rumiyin” itu? Kalau diterjemahkan sesuai kata aslinya, bener-bener tak bakalan menjadi jelas, bahkan membingungkan. Apa coba, dengan maksud ”dulu-ku, dahulu-ku”.

”Apaan sih, my rumiyin, my rumiyin....,” tanyaku waktu itu.

”Lhah..., kan Bro emang my rumiyin. Piye toh?” jawabnya sekenanya.

”Kamu tahu artinya rumiyin?” lanjutku.

”Artinya: dulu, kan?” sahutnya dan lantas berlalu dari hadapanku.

Begitulah Kai. Penjelasan tentang ”My Rumiyin” itu tak pernah dia sampaikan kepadaku. Jika ngomong soal Kai, aku lalu ingat pertemuannya beberapa waktu lalu. Awal mulanya hanya karena persamaan tujuan untuk mengikuti suatu kegiatan di pinggiran kota Y. Bahkan ketika kegiatan itu aku jalani bersama teman baru lain, termasuk Kai, segalanya berjalan dengan lancar. Segalanya bisa terjadi dengan baik, dan hasil kegiatan itu pun dapat kubawa pulang dengan baik pula. Sampai pada penghujung kegiatan, Kai membuat pengakuan di hadapanku.

Apa sih yang salah tentang Kai? Jika ingat pengakuannya, aku sebenarnya tidak ingin menyudutkan bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata adalah kesalahannya. Sebagai manusia, siapa yang tidak salah langkah karena kelemahan? Tak seorang pun bisa lepas dari kekeliruan.

Melihatnya bisa bergembira di pagi hari, bagiku sudah cukup untuk bisa memberinya kesejukan. Tak ada yang ingin kuminta banyak darinya. Jika dengan sentuhan udara dingin, basahnya tetesan embun, dan hangatnya sinar matahari pagi, Kai sudah bisa menikmati satu hari itu saja, itu adalah anugerah yang sangat besar bagiku. Meski aku hanya bisa mengajaknya menyusuri jalan-jalan setapak atau pematang-pematang sawah atau pinggiran sungai, itu adalah kesempatan yang sudah lebih dari cukup bagiku.

Sayangnya, aku begitu terganggu. Mengapa aku sulit untuk menerimanya? Apakah karena di dalam hatiku ada tuntutan agar dia tampil sebagai seorang Kai yang sempurna? Atau karena aku sendiri yang masih menipu diriku atas rasa cukup yang selama ini kupertahankan dalam diriku? Semestinya, ketika Kai berterus terang kepadaku atas segala tindakan yang menurutnya bodoh itu dilakukan, aku tak harus menyudutkannya.

”Waktu itu, entahlah. Aku gak tau...! Masih ingat sih perasaan aku saat itu. Amburadul banget! Ga tau aku juga kenapa...” katanya memulai percakapan.

”Trus ngapain harus ngajak ngomong aku dan akhirnya malah gak jadi?” tanyaku.

”Ah, Bro...! Aku juga ga tau...! Mungkin karena takut pisah sama Bro? Gak tau juga... Biasanya ada yang jagain aku... Terus sekarang gak ada! Gak tau...! Aku ngerasa salah sama kelompok karena gak ngapa-ngapain. Ngerasa.... ah...,” Kai terdiam.

Aku menunggu dia melanjutkan kata-katanya. Ini penting karena aku perlu mengerti apa yang sebenarnya yang ingin dia sampaikan kepadaku. Itu semata-mata, agar aku bisa makin mengerti apa yang hidup dalam diri Kai saat itu. Kudengar, pelan Kai melanjutkan kata-katanya.

”Mungkin juga belum rela ninggalin acara jalan pagi yang begitu berarti untuk aku. Entahlah... Mungkin karena baru saat itu aku bisa bebas lepas, lepas berekspresi. Aku emang cengeng. Aku gak tau sebenernya aku kenapa? Kenapa? Makanya aku tanya Bro. Rasanya Bro udah kenal aku lebih dari aku sendiri. Aku ngerasa aman sama Bro karena yakin Bro gak akan suka orang lain ngapa-ngapain aku. I really need friend untuk ngobrol.”

Kai terisak. Berupaya untuk memahami gejolak perasaan Kai, bagiku adalah usaha yang tidak mudah. Bagaimana aku harus memahaminya, sedang dalam diriku bergejolak perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan. Akan tetapi, mengapa aku tak menyukainya, jika dia di hadapanku berterus terang atas segala kesalahan yang telah dia lakukan?

”Seingat aku, ”lanjut Kai, ”waktu itu aku masih panik, sedikit bingung. Aku ngerasa bersalah banget karena aku suka sama En dan rasa sukaku itu ganggu kerja kelompokku. Kerjaanku jadi gak karuan. Semuanya amburadul. Aku menyadarinya dan aku harus menyudahinya. Memang semestinya aku gak usah tarik tangan Bro saat itu. Karena gak penting banget Bro ikutan urusanku. Tapi aku ngerasa cuma punya temen Bro aja. Aku mau ceritanya ke Bro. Karena Bro ketua kelompok yang aku bikin acakadul. Yang lebih bikin aku nyaman, Bro gak akan pernah suka sama aku. Itu yang bikin aku comfortable untuk bicara sama Bro, walau akhirnya gak ada yang keluar. Tuh kan bener? Gak ada yang penting, makanya waktu itu gak ada yang keluar. Masa, masalah kayak gitu aku gak bisa atasi sendiri? Tapi nyatanya emang aku gak bisa ngatasi hal sepele macam itu. I really need you, Bro. Untuk nampar aku, untuk mengguncang bahuku, untuk menunjukkan semua kelakuanku. Susah banget melihat dari sudut pandang orang lain ke diri sendiri. Aku belum pernah merasa nyaman sama cowok, selain sama Bro. Maksudnya untuk berusaha berbicara, walau akhirnya gak jadi.”

Susah payah Kai menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela nafas. Terus mau apa sekarang? Jika Kai memanggilku, ”My Rumiyin......!” apakah aku juga harus tetap memalingkan wajahku ke arah lain dan meninggalkan cibiran kepadanya? Haruskah sebesar itu aku menghukum Kai, sementara dia telah membuat pengakuan di hadapanku?

Menghadapi Kai, bagiku adalah menghadapi pengalaman masa laluku. Aku harus berani mengakui dan menerima apa yang telah terjadi pada masa laluku. Kai bukanlah masa laluku. Dia adalah masa kini yang sedang memberiku sandungan-sandungan kecil pada ujung jari-jemari kaki dalam kancah jalan kehidupan ini. Ah, Kai. Kesalahan itu bukan hanya milikmu. Kesalahan itu tetap saja ada pada diriku. Bukan saja dirimu dan diriku, melainkan orang lain juga memilikinya.

Di ujung malam, aku hanya bisa membisikkan pada Kai, menyampaikan rasa salah dan maafku, karena sikap penyudutanku kepadanya. Seandainya dia bisa sedekat angin malam ini, akan kurengkuh dan kubisikan kata itu di dekat telinganya. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Mari berupaya bersama aku. Aku selalu mendukungmu. Aku selalu menyayangimu.***



Agustus 2008

Enam Pertanyaan

Seorang kawan mengirimkan email kepadaku. Ketika kubuka, email itu berisi tentang suatu cerita. Demikian cerita lengkap itu.

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan. Pertanyaan pertama demikian, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Orang tua", guru, teman, dan kerabatnya."Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.


Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab, "Negara Cina", bulan, matahari, dan bintang-bintang."Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari."
”Semua jawaban itu benar.” kata Sang Guru, ”tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini. Jangan sampainafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).


Pertanyaan keempat, "Apa yang paling berat di dunia ini?"Di antara muridnya ada yang menjawab, "Baja", besi, dan gajah.""Semua jawaban hampir benar," kata Sang Guru, ”tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ..."Semua itu benar...", kata Sang Guru...tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".

Lalu pertanyaan keenam, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "PEDANG!""Hampir benar," kata Sang Guru, ”tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...senantiasa belajar dari MASA LALU...dan tidak memperturutkan NAFSU...???

Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

Kamis, 26 Maret 2009

Bermain-main!

Asyiknya anak-anak! Bisa bermain sesukanya! Dari pagi sampai sore! Di sekolah, bermain! Di rumah, bermain! Barulah ketika bunda mereka datang dan mengajaknya untuk segera mandi, mereka menghentikan permainan yang seru itu. Bubar! Kemudian pulang ke rumah masing-masing! Asyiknya anak-anak yang bermain!

Ah, itu kan anak-anak yang bermain-main. Namun pernahkah ada permainan yang benar-benar tidak menyenangkan? Ada ya? Ada! Ya, tentu saja ada. Aku ingin bilang padamu bahwa permainan yang tidak menyenangkan ini biasanya yang melakukan adalah kita, orang yang sudah mengaku besar, gede, dewasa! Disadari atau tidak, permainan ini selalu ada, ada, dan ada! Apa yang ingin kusampaikan? Ya permainan yang tidak menyenangkan itu! Apa ya?

Main hati! Wa? Iya! Hati kok diajak main-main! Tapi ada yang mengalami lho! Coba aja simak!

...........
Tak pernah sebelumnya
Tak pernah kuduga

Kuakui ku main hati
Kutak bisa tuk memungkiri
Ku main hati
.........................................

Tahu, kan? Itu syair, aku ambil dari lagunya Andra & The Backbone berjudul “Ku Main hati” Tidak usah menunjuk-nunjuk, main hati itu nyatanya selalu berkait dengan hati, hati, hati, dan hati! Yang penting, diakui sajalah! Gitu.....

Pernahkah kita benar-benar masuk ke dalam permainan “hati” itu? Tidak ada yang bisa mengakui, apakah dirinya pernah bisa benar-benar masuk. Alasannya, sekedar sedikit main-main saja, lebih sering terasa tidak menyenankannya. Apalagi kalau masuk dalam permainan itu? Bisa-bisa hangus kebakar oleh hati itu sendiri! Wa....ha....ha...!

Sayangnya, permainan ini akan selalu ditemui dalam kehidupan. Karena, setiap dari kita masih memiliki hati. Hati inilah yang tak pernah bisa kita ajak untuk mengikuti pikiran kita. Hati memang ingin merasa senang, bahagia, gembira, puas! Karena hati yang tidak merasakan itu semua, lambat laun akan menjadi menciut dan bisa beku sendiri. Hati yang ingin merasa senang, bahagia, gembira, dan puas itu biasanya selalu mencari banyak cara. Salah satunya adalah bermain itu tadi!

Apakah salah untuk sekedar bermain? Tidak ada sih! Bahkan kita yang mengaku sudah besar, dewasa, gede pun tetap ingin melakukan permainan. Masalahnya, karena kita merasa seperti itu, antara permainan dan hati dijadikan satu dan bener-bener disrempet-srempetkan! Alhasil, permainan yang menyentuh hati, bisa membikin dua sisi. Bahagia dan sedih! Gembira dan susah! Puas dan kecewa! Itulah manusia dewasa!

Jika sudah demikian, seperti aku katakan di atas, permainan menjadi tidak menyenangkan. Permainan bisa menjadi licik, diam-diaman, tidak jujur, dan sebagainya! Hati siapa yang ingin merasa dikecewakan? Karena tak ingin kecewa, maka perlu diselubungi kelicikan dan ketidakjujuran! Alhasil, jika semua ini terbongkar, hancurlah semuanya! Permainan yang ingin dipakai sebagai pembuat rasa gembira, senang, bahagia, puas itu malah justru membuat sedih, kecewa, dan bisa saja patah! Iya, patah! Patah hati! Woooo.........!

Tapi, siapakah yang benar-benar mau masuk dalam permainan yang menggunakan ”hati” ini? Tak ada yang mengaku! Namun, namun, namun.........kita selalu saja bersinggungan dengan itu. Diakui atau tidak! Disadari atau tidak! ***


Semaranga, 26 Maret 2009 (di hari Raya Nyepi)