”Sorry aku baru ke kamar lagi. Tadi komputer kutinggalkan on karena ada mahasiswa yang curhat. Maaf beribu maaf, mungkin besok malam kita bisa curhat. Maaf, ya!” (3/27/2008)
Awalnya, malam itu aku hanya ingin melihat apakah dia sedang on line atau tidak. Maka, kubuka sarana chatting-ku dan kulihat dia sedang on line. Aku pun segera menuliskan satu baris ucapan padanya. Kubiarkan sebentar sambil aku browsing di internet. Beluma ada dua menit, tiba-tiba dia meninggalkan pesan padaku. Intinya, dia memang agak jarang untuk on line karena merasa tidak nyaman jika sedang on line ada beberapa sapaan lain yang masuk dan ini membuatnya ruwet. Kemudian ditinggalkannya pesan untuk lain kali menghubunginya.
Tiba-tiba saja, hatiku disergap rasa tersinggung. Rasa tersinggung yang tidak terlalu besar, namun cukup membuatku untuk segera mungkin memutuskan koneksi chatting-ku itu. Sepertinya, ketika aku on line, kehadiranku hanyalah menjadi salah satu dari pengganggu itu baginya. Mengapa bisa demikian? Aku tidak tahu.
Keesokan harinya, ketika aku iseng untuk melihat sarana chatting-ku lagi, kulihat beberapa baris pesan yang ditinggalkan kepadaku. Itulah pesan yang tertulis di atas!
Rasa tersinggungku belum sirna. Ada desakan dari dalam diriku untuk tidak mengacuhkannya. Meski dia mengajak untuk berbagi di lain waktu, aku tak ingin menanggapinya. Biar saja!
Di dalam hatiku, muncul dua kubu yang berperang. Satu kubu ingin mempertahankan perasaan tersinggungku. Satu kubu ingin memahami situasinya. Tak mudah. Perasaanku benar-benar terluka. Jujur saja, setelah lama aku tak berkontak dengannya, baru malam itu aku mencoba untuk menghubunginya. Itu pun tidak aku paksakan. Artinya, saat itu aku hanya menyampaikan sedikit ucapan. Terasa sekali, betapa tak diharapkannya sapaan dan kehadiranku baginya. Betapa tak berartinya kehadiranku malam itu baginya.
Sementara di sisi lain, setelah aku mengerti alasannya, aku berusaha untuk mengerti akan keberadaannya saat itu. Malam itu dia memang sedang diperlukan oleh sesama yang barangkali jauh lebih memerlukan dirinya. Itu artinya dia memiliki arti bagi sesama di sekitarnya.
Akan tetapi, entah mengapa aku masih sulit untuk bisa menerima itu. Mungkin pada saat kutuliskan ungkapan ini, perasaanku sedang larut dengan suasana ketiadaan arti dalam diriku sendiri. Barangkali aku masih dilingkupi rasa kecil karena memang tak mampu untuk hadir bagi sesama. Barangkali aku masih terkungkung dengan rasa iri akan talenta orang lain.
Dengan rendah hati, aku sungguh meminta maaf jika ungkapanku ini kemudian membuatnya merasa bersalah. Aku hanya ingin bersikap jujur atas perasaan yang tiba-tiba saja muncul.***
Semarang, 25 Maret 2009
Selasa, 24 Maret 2009
Barisan Kata-kata
Label:
cinta,
sakit hati,
sembilu,
ungkapan hati
Awan Untuk Denok
Aku berhenti di bibir jurang. Menghela nafas dan membuangnya dengan sekuat tenaga. Kemudian berbalik dan duduk di bawah pohon melinjo. Jurang ini bagian dari ladang milik Mbah Kakung. Berada di tepi sebelah selatan dan sekaligus menjadi batas. Batas segalanya. Batas milik dan juga batas pandangan! Karena di balik jurang itu tak akan ada lagi ladang milik orang lain. Di bawah jurang itu, sudah mengalir sebuah sungai.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
Jika aku berada di bibir jurang ini, aku bukan untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menyendiri. Menyendiri dan mengenang apa saja sambil berbaring di bawah rindangnya pohon melinjo yang tumbuh tak jauh dari bibir jurang itu. Mataku menatap arak-arakan awan yang seolah saling berkejaran. Awan putih bergelombang, bergulung, dan saling membaur satu sama lain. Kemudian menjadi bentuk yang beraneka ragam. Gumpalan-gumpalan itu bisa berbentuk binatang, pohon, orang. Pokoknya, sesuka mataku dalam memandangnya.
Tiba-tiba saja, segumpalan awan membentuk sosok manusia. Seakan berdiri, berkacak pinggang. Kok gendut ya? Lalu, sekelebat banyangan seraut wajah terlintas di benakku. Seraut wajah itu seakan-akan menempel di gumpalan itu. Wajah Denok!
Ah, mengapa harus wajah Denok yang tiba-tiba nongol di gumpalan awan itu? Mungkin karena Denok itu gendut. Atau mungkin karena aku masih ingat perbincanganku dengannya beberapa waktu lalu.
--00--
”Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Beberapa kali aku bertemu teman di sini. Mereka bilang, kita memang bisa terus saling kontak dan berbagi. Namun, waktu dan keadaan bicara lain. Ketika ada kenyataan bahwa setiap orang memiliki kepentingan dan kesibukan beda, pertemuan ini tinggal kenangan. Tak ada sentuhan, tak ada sapaan, tak ada apapun. Maka, aku hanya ingin berkata padamu, meski hari ini kamu berbincang dan bertemu aku, sadarilah bahwa tak akan pernah ada waktu yang sama, yang dapat mempertemukan kita lagi. Seandainya masih ada hari dan waktu, itu adalah keajaiban dari Sang Pemberi Waktu.”
”Apa maksud Mas?” tanyanya.
”Mengapa bingung?” tanya balikku.
”Tidak bingung. Jadi sedih dengernya...! Ya, aku tahu maksud Mas, tapi aku tidak bakalan begitu kok. Selama aku masih bisa....,” jawabnya pelan.
”Aku hanya ingin memaparkan kenyataan kepadamu....,” kataku.
”Mas setiap saat bisa bicara sama aku.”
”Sekarang kamu bisa bilang begitu....”
”Kan, orang harus bermimpi dulu untuk bisa memiliki cita-citanya. Tidak ada salahnya kalau kita optimis.”
”Tapi, cobalah mengerti, kita akan menemukan banyak hal yang sering tidak bisa diatasi....”
”Menurut aku, tidak ada salahnya kita memiliki keyakinan, Mas.”
”Aku bisa terima. Bisa! Sekaligus aku memberi kamu kenyataan-kenyataan yang akan terjadi...”
”Kalaupun kenyataan itu berbicara lain, toh kita sudah maksimal mengusahakan. Atau mungkin Mas yang tidak mau berbicara dengan aku lagi, ya? Menyesal kenal aku yang cerewetnya kayak nenek-nenek?”
”Lho? Kok bilang begitu? Tidak, tidak! Kamu baik kok!”
”Kalau bukan tidak mau, apa alasannya? Aku tidak suka dengan orang yang pesimistis. Hidup harus yakin dan optimis...”
--00--
Arak-arakan awan itu semakin menjauh. Bentuk orang gendut berkacak pinggang itu sudah tercerai-berai dan berubah bentuk bersama arak-arakan awan lain.
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Yakin! Optimis! Kuulang kata-kata Denok itu dalam hati! Aku hanya menghela nafas dengan lebih pelan. Bukan aku tidak mempercayai kata-kata Denok, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa betapa tak mudahnya menyembuhkan luka akibat kegagalan demi kegagalan yang pernah kualami.
Aku harus bagaimana? Kekecewaan demi kekecewaan itu masih saja menggores di ujung hatiku. Meninggalkan bekas yang belum bisa disentuh dengan jari-jari pengharapan.
Di ujung senja ini, di bibir jurang ini, sekelebat bayangan wajah Denok mampir kembali. Mungkin, kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah kata-kata pengingat kepadaku. Pengingat bahwa meski kekecewaan itu selalu ada dalam hidup, namun seseorang perlu untuk tetap bertahan dalam pengharapan. Meski untuk bertahan dan menggapai harapan itu, harus mempertaruhkan perasaan-perasaan sakit yang masih ada.
Kuusap ujung mataku. Ingin rasanya dari buliran air mata itu, aku mengusap hatiku yang masih menahan pedih kekecewaan. Ingin rasanya dari sentuhan jari ini, aku mencoba menyembuhkan pedih itu dengan kata-kata Denok. Yakin! Optimis!
Kubangkit dari berbaringku. Dengan masih menatap arak-arakan awan yang berada di bibir jurang, aku ingin berkata pada Denok. Kapan ya, aku bisa menorehkan kata-kata optimis itu agar bisa tetap menghidupi pengharapanku?
Ketika aku berjalan meninggalkan ladang Mbah Kakung, bayangan Denok masih saja mengikuti. Serasa dia berlari dan mengejarku, menangkap lenganku. Rengekan manja begitu saja keluar dari mulutnya. Hidung peseknya yang membuatku gemas itu ingin kucubit!
Di senja ini, meski tak akan bisa aku memapasnya di ujung waktu saat aku bertemu dengannya, aku ingin membawakan sesuatu untuk Denok. Ingin kukirim segumpal awan untuknya. Biarlah Denok menatapnya dari ujung sana; sambil tetap berkacak pinggang dengan roman muka lucu dan konyol yang selalu kurindukan! ***
Semarang, 24 Maret 2009
Label:
sahabat,
suport hidup,
ungkapan hati
Sabtu, 21 Maret 2009
Perenang Cilik Itu Menikah!
Di sebuah siang, aku sedang duduk-duduk di ruang baca. Kuambil sebuah majalah dari tebaran di atas meja. Kubuka sampul majalah itu dari belakang. Mataku tertumbuk pada lembaran iklan satu halaman penuh di sampul belakang dalam! Ah, iklan pernikahan sepasang muda-mudi. Iklan full color itu hampir saja tak membuatku terhenti, karena sudah biasa di majalah ini terpasang iklan berbagai macam. Akan tetapi, ketika mataku terpaku pada wajah si mempelai wanita, tiba-tiba sebuah ingatan datang sekejap. Ingatan akan seseorang. Dan....akhirnya aku semakin yakin tatkala aku membaca deretan nama-nama sepasang pengantin itu.
Ya....itulah kamu! Itu namamu! Dan mataku dengan nanar menatap adegan demi adegan yang tercetak di lembaran itu. Aku semakin yakin ketika aku pun membaca nama kedua orang tuamu dan adik perempuanmu. Itulah kamu!
Ingatanku kemudian melayang ke sebelas tahun lalu. Ke masa ketika aku mengenalmu untuk kali pertama dan barangkali untuk kali terakhir.
Di tahun 1997, aku mengenalmu sebagai seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tempatku bekerja waktu itu. Lambat laun, aku semakin tahu dirimu dari beberapa rekan kerjaku. Ternyata, kamu adalah salah seorang atlit renang cilik. Beberapa rekan kerjaku mengatakan bahwa dirimu telah berkali-kali menjuarai berbagai ajang kompetisi. Dari tuturan itulah, aku menjadi tahu dirimu yang atlit itu. Tidak hanya dirimu yang kukenal kemudian. Adikmu yang perempuan itu pun lama-lama juga semakin aku kenal, karena kalian berdua memang bersekolah di tempatku.
Hingga suatu saat, aku berkesempatan untuk sekedar tegur sapa dengan dirimu. Kadang hal-hal biasa menjadi bahan obrolan. Kemudian, tentang hobi renangmu pun menjadi bahan obrolan.
Suatu hari, aku memintamu untuk bercerita tentang pengalaman renangmu itu. Untuk apa? Aha, inilah aku! Aku senang menulis sesuatu untuk majalah. Ya, majalah yang sekarang ini memuat berita pernikahanmu itu! Jika kamu memperbolehkan, pengalaman renangmu itu akan kukirim ke majalah itu dan semoga saja dapat dimuat.
Rupanya, kamu tidak berkeberatan. Terkadang, saat-saat istirahat pelajaran, aku sempatkan untuk ngobrol dan bertanya-tanya padamu. Bahkan, kemudian kamu memberiku sederetan prestasimu yang telah kamu ketik rapi di lembaran kertas. Ya ampun! Banyak banget! Waduh....hebat bener, batinku waktu itu. Kau berikan pula dua lembar foto dirimu yang sedang berpose di antara piala dan medali-medali yang seabrek di atas meja. Kamu tahu tidak, satu lembar foto sampai sekarang masih aku simpan di album pribadiku.
Begitulah akhirnya! Lembaran naskah itu pun jadi dan kukirimkan bersama satu lembar fotomu itu. Beberapa waktu kemudian, dengan menunggu penuh harap, majalah itu kemudian memuatmu. Syukur, syukur, syukur!
Bagiku, bukanlah imbalan yang penting kudapat, melainkan naskah itu dapat diterima dan dimuat. Itulah yang utama. Aku sekedar mampu memberimu sesuatu yang sederhana: selembar naskah di salah satu edisi majalah itu.
Aku berterima kasih bahwa aku telah kamu beri kesempatan untuk menuliskan dirimu. Bahkan, aku pun berterima kasih bahwa di suatu hari, Mamamu datang dan mengucapkan terima kasih atas pemuatan naskah itu di majalah. Ah, apa yang hebat? Aku pun hanya mengatakan terima kasih pula diberi kesempatan untuk menuliskan tentang dirimu.
Tahun 1998, kamu lulus dari sekolah dasar. Sejak itu pula, aku tidak lagi berkontak dengan dirimu. Aku masih beberapa kali berkontak dengan adikmu. Bahkan di beberapa waktu, aku masih sempat mendampingi adikmu dalam pendampingan iman anak bersama seorang rekan guruku. Tahun 1999, aku mendapat tugas baru dan harus meninggalkan kotamu. Sejak itu pula, aku sudah tidak ada kontak denganmu. Akan tetapi, aku masih sempat pula mendengar bahwa beberapa waktu kemudian, aku lupa pastinya, engkau melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku pun sempat pula melihat sosok adikmu di majalah itu. Waktu itu, dia mendampingi Didik SSS. Oh, rupanya adikmu itu menjadi murid Didik SSS. Makanya, sebuah saksofon tampak tertiup di mulutnya. Itulah yang kulihat di sebuah edisi.
Jika sekarang ini kamu sudah menikah, itu adalah berita baru bagiku. Aku menjadi sadar bahwa ternyata umur seseorang itu akan semakin berjalan mendekati masa-masa dewasa yang tak akan bisa dicegah. Barangkali, aku masih merasa baru kemarin mengenalmu. Akan tetapi, ternyata beritamu itu menandakan bahwa kita memang pernah berjumpa bertahun-tahun lalu. Bertahun-tahun lalu sampai sekarang yang menandakan bahwa aku pun beranjak pada masa yang tak muda lagi.
Akhirnya, selamat berbahagia untukmu. Semoga keluarga yang akan kamu bangun bersama suamimu itu akan tetap langgeng. Tetaplah enerjik seperti beberapa tahun lalu ketika aku masih menjumpaimu sebagai perenang cilik itu. Tetaplah kuat seperti waktu kamu dengan rasa canda memukul perutku (padahal, sakit sekali, karena tenagamu yang memang di luar anak-anak biasa itu).
Salam dari kejauhan! Aku yang masih mengenangmu sebagai perenang cilik yang andal....***
Semarang, 22 Maret 2009
Ya....itulah kamu! Itu namamu! Dan mataku dengan nanar menatap adegan demi adegan yang tercetak di lembaran itu. Aku semakin yakin ketika aku pun membaca nama kedua orang tuamu dan adik perempuanmu. Itulah kamu!
Ingatanku kemudian melayang ke sebelas tahun lalu. Ke masa ketika aku mengenalmu untuk kali pertama dan barangkali untuk kali terakhir.
Di tahun 1997, aku mengenalmu sebagai seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tempatku bekerja waktu itu. Lambat laun, aku semakin tahu dirimu dari beberapa rekan kerjaku. Ternyata, kamu adalah salah seorang atlit renang cilik. Beberapa rekan kerjaku mengatakan bahwa dirimu telah berkali-kali menjuarai berbagai ajang kompetisi. Dari tuturan itulah, aku menjadi tahu dirimu yang atlit itu. Tidak hanya dirimu yang kukenal kemudian. Adikmu yang perempuan itu pun lama-lama juga semakin aku kenal, karena kalian berdua memang bersekolah di tempatku.
Hingga suatu saat, aku berkesempatan untuk sekedar tegur sapa dengan dirimu. Kadang hal-hal biasa menjadi bahan obrolan. Kemudian, tentang hobi renangmu pun menjadi bahan obrolan.
Suatu hari, aku memintamu untuk bercerita tentang pengalaman renangmu itu. Untuk apa? Aha, inilah aku! Aku senang menulis sesuatu untuk majalah. Ya, majalah yang sekarang ini memuat berita pernikahanmu itu! Jika kamu memperbolehkan, pengalaman renangmu itu akan kukirim ke majalah itu dan semoga saja dapat dimuat.
Rupanya, kamu tidak berkeberatan. Terkadang, saat-saat istirahat pelajaran, aku sempatkan untuk ngobrol dan bertanya-tanya padamu. Bahkan, kemudian kamu memberiku sederetan prestasimu yang telah kamu ketik rapi di lembaran kertas. Ya ampun! Banyak banget! Waduh....hebat bener, batinku waktu itu. Kau berikan pula dua lembar foto dirimu yang sedang berpose di antara piala dan medali-medali yang seabrek di atas meja. Kamu tahu tidak, satu lembar foto sampai sekarang masih aku simpan di album pribadiku.
Begitulah akhirnya! Lembaran naskah itu pun jadi dan kukirimkan bersama satu lembar fotomu itu. Beberapa waktu kemudian, dengan menunggu penuh harap, majalah itu kemudian memuatmu. Syukur, syukur, syukur!
Bagiku, bukanlah imbalan yang penting kudapat, melainkan naskah itu dapat diterima dan dimuat. Itulah yang utama. Aku sekedar mampu memberimu sesuatu yang sederhana: selembar naskah di salah satu edisi majalah itu.
Aku berterima kasih bahwa aku telah kamu beri kesempatan untuk menuliskan dirimu. Bahkan, aku pun berterima kasih bahwa di suatu hari, Mamamu datang dan mengucapkan terima kasih atas pemuatan naskah itu di majalah. Ah, apa yang hebat? Aku pun hanya mengatakan terima kasih pula diberi kesempatan untuk menuliskan tentang dirimu.
Tahun 1998, kamu lulus dari sekolah dasar. Sejak itu pula, aku tidak lagi berkontak dengan dirimu. Aku masih beberapa kali berkontak dengan adikmu. Bahkan di beberapa waktu, aku masih sempat mendampingi adikmu dalam pendampingan iman anak bersama seorang rekan guruku. Tahun 1999, aku mendapat tugas baru dan harus meninggalkan kotamu. Sejak itu pula, aku sudah tidak ada kontak denganmu. Akan tetapi, aku masih sempat pula mendengar bahwa beberapa waktu kemudian, aku lupa pastinya, engkau melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku pun sempat pula melihat sosok adikmu di majalah itu. Waktu itu, dia mendampingi Didik SSS. Oh, rupanya adikmu itu menjadi murid Didik SSS. Makanya, sebuah saksofon tampak tertiup di mulutnya. Itulah yang kulihat di sebuah edisi.
Jika sekarang ini kamu sudah menikah, itu adalah berita baru bagiku. Aku menjadi sadar bahwa ternyata umur seseorang itu akan semakin berjalan mendekati masa-masa dewasa yang tak akan bisa dicegah. Barangkali, aku masih merasa baru kemarin mengenalmu. Akan tetapi, ternyata beritamu itu menandakan bahwa kita memang pernah berjumpa bertahun-tahun lalu. Bertahun-tahun lalu sampai sekarang yang menandakan bahwa aku pun beranjak pada masa yang tak muda lagi.
Akhirnya, selamat berbahagia untukmu. Semoga keluarga yang akan kamu bangun bersama suamimu itu akan tetap langgeng. Tetaplah enerjik seperti beberapa tahun lalu ketika aku masih menjumpaimu sebagai perenang cilik itu. Tetaplah kuat seperti waktu kamu dengan rasa canda memukul perutku (padahal, sakit sekali, karena tenagamu yang memang di luar anak-anak biasa itu).
Salam dari kejauhan! Aku yang masih mengenangmu sebagai perenang cilik yang andal....***
Semarang, 22 Maret 2009
Label:
sahabat,
ungkapan hati
Jumat, 20 Maret 2009
Rasa Sakit Itu…
Kamu pernah tersayat sembilu? Nanti dulu! Jangan terburu-buru kamu jawab: sudah! Kamu sudah tahu apa itu sembilu? Bagi yang belum tahu, tidak ada kelirunya bila kuberi tahu. Meski aku tidak bermaksud untuk menggurui. Sembilu itu kulit buluh yang dibuat tajam sebagai pisau yang bisa saja dipakai untuk meretas perut ayam, memotong tali pusat, atau membelah usus ayam. Nah, buluh itu sendiri adalah bambu. Sudah tidak terlalu bingung kan?
Lalu apa hubungan pertanyaanku dengan judul tulisanku ini. Ya....pasti kamu sudah paham. Yang kumaksudkan adalah perumpaan. Kita sering mendengar bahwa kalau kita sakit hati, sakitnya bagaikan tersayat sembilu. Sayangnya, aku belum pernah tersayat sembilu. Kamu sudah pernah? Jika kita belum pernah merasakan tersayat sembilu, bagaimana kita merasakan sakit hati yang teramat sakit itu? Apakah kita mesti mengiris kulit tangan kita dengan sembilu hanya untuk membandingkan rasa sakit hati dengan sakit diiris sembilu? Tidak perlu kan?
Kalau sakit hati, tentu kamu sudah pernah merasakan. Aku pun sudah pernah. Tidak perlulah kuberi contoh. Kamu tentu punya pengalaman sendiri. Tapi baik juga jika kamu mengingat petikan lagu milik Ungu berjudul ”Demi Waktu” berikut ini: Maafkan aku/Menduakan cintamu/Berat rasa hatiku/Tinggalkan dirinya/Dan demi waktu/Yang bergulir di sampingmu/Maafkanlah diriku/Sepenuh hatimu/Seandainya bila/Kubisa memilih.
Sekarang, apa yang kamu rasakan jika kekasihmu meminta maaf di hadapanmu karena kedapatan menduakan cintamu? Apakah dengan cepat kamu melupakan? Apa yang kamu rasakan? Bisakah maafmu bergulir kepada kekasihmu itu, sementara kekasihmu terang-terangan bilang berat meninggalkan rivalmu yang dia sayangi juga? Dan pada akhirnya, jika kekasihmu lebih memilih rivalmu itu, perasaan sakit apalagi yang akan kamu tanggung?
Jangan jawab pertanyaan-pertanyaanku ini jika memang kamu tidak mengalaminya. Cukuplah rasakan betapa sakitnya hatimu. Hatimu! Hati yang telah dengan tulus memberikan cinta, namun kekasihmu telah mengkhianatimu.
Sakit bukan? Sakitnya seperti apa? Apakah seperti diiris sembilu? Ya, tidak tahu! Kamu akan merasakan sakitnya seperti perasaanmu. Aku akan merasakan sakitnya seperti perasaanku. Perasaan sakit itu tidak bisa dibandingkan. Sulit rasanya! Sama halnya aku bertanya padamu yang belum pernah dikhianati kekasih hati. Tak akan bisa menjawab.
Dari pelukan malam, kusampaikan selamat merasakan rasa sakit itu. Semoga waktu demi waktu, sang rasa sakit itu memberikan kenikmatan demi mendapatkan rasa tak sakit yang lebih abadi. ***
Smg, 1 Mei 2007
Lalu apa hubungan pertanyaanku dengan judul tulisanku ini. Ya....pasti kamu sudah paham. Yang kumaksudkan adalah perumpaan. Kita sering mendengar bahwa kalau kita sakit hati, sakitnya bagaikan tersayat sembilu. Sayangnya, aku belum pernah tersayat sembilu. Kamu sudah pernah? Jika kita belum pernah merasakan tersayat sembilu, bagaimana kita merasakan sakit hati yang teramat sakit itu? Apakah kita mesti mengiris kulit tangan kita dengan sembilu hanya untuk membandingkan rasa sakit hati dengan sakit diiris sembilu? Tidak perlu kan?
Kalau sakit hati, tentu kamu sudah pernah merasakan. Aku pun sudah pernah. Tidak perlulah kuberi contoh. Kamu tentu punya pengalaman sendiri. Tapi baik juga jika kamu mengingat petikan lagu milik Ungu berjudul ”Demi Waktu” berikut ini: Maafkan aku/Menduakan cintamu/Berat rasa hatiku/Tinggalkan dirinya/Dan demi waktu/Yang bergulir di sampingmu/Maafkanlah diriku/Sepenuh hatimu/Seandainya bila/Kubisa memilih.
Sekarang, apa yang kamu rasakan jika kekasihmu meminta maaf di hadapanmu karena kedapatan menduakan cintamu? Apakah dengan cepat kamu melupakan? Apa yang kamu rasakan? Bisakah maafmu bergulir kepada kekasihmu itu, sementara kekasihmu terang-terangan bilang berat meninggalkan rivalmu yang dia sayangi juga? Dan pada akhirnya, jika kekasihmu lebih memilih rivalmu itu, perasaan sakit apalagi yang akan kamu tanggung?
Jangan jawab pertanyaan-pertanyaanku ini jika memang kamu tidak mengalaminya. Cukuplah rasakan betapa sakitnya hatimu. Hatimu! Hati yang telah dengan tulus memberikan cinta, namun kekasihmu telah mengkhianatimu.
Sakit bukan? Sakitnya seperti apa? Apakah seperti diiris sembilu? Ya, tidak tahu! Kamu akan merasakan sakitnya seperti perasaanmu. Aku akan merasakan sakitnya seperti perasaanku. Perasaan sakit itu tidak bisa dibandingkan. Sulit rasanya! Sama halnya aku bertanya padamu yang belum pernah dikhianati kekasih hati. Tak akan bisa menjawab.
Dari pelukan malam, kusampaikan selamat merasakan rasa sakit itu. Semoga waktu demi waktu, sang rasa sakit itu memberikan kenikmatan demi mendapatkan rasa tak sakit yang lebih abadi. ***
Smg, 1 Mei 2007
Label:
cinta,
sakit hati,
sembilu
Kamis, 19 Maret 2009
Menempuh Peziarahan Baru, Su...
Su, aku tidak tahu, sekarang ini kau sedang berada di mana dan sibuk dengan pekerjaan apa. Aku hanya mengingat tiga kali perjumpaan terakhir yang sempat aku rekam dalam benakku.
Perjumpaan pertama, ketika kau menginap di tempatku dan hendak berjumpa dengan pimpinan kita. Kita hanya sempat berbincang ringan. Rasanya, aku dan dirimu telah tahu akan situasi kita masing-masing. Aku tak mungkin mendesakmu untuk bercerita. Kau pun tahu bahwa pertemuan dengan pimpinan kita itu adalah titik awal suatu langkah yang hendak kau lalui. Itulah pertemuan terakhir kita dalam kebersamaan ini. Sejak itu, aku tahu bahwa pimpinan kita tak menghendaki dirimu untuk tetap bertahan bersama-sama aku. Kau, Su, akan menempuh peziarahan lagi.
Perjumpaan kedua, ketika kau datang ke tempatku untuk mengambil beberapa berkas penting milikmu. Waktu itu, aku sempat menjamu dirimu dengan makanan ala kadarnya dan minuman dingin air bening semata. Kita sempat bercerita tentang beberapa hal. Kutanyakan kabarmu dan kabar keluargamu. Kau jawab bahwa kau bertahan di Jawa untuk menemani adikmu sambil bekerja di tempat-tempat yang tak kau sebutkan. Kutanya pula keadaan beberapa kawan kita, namun dirimu tak mengetahuinya. Ya sudah! Mungkin memang kita tidak tahu kawan-kawan kita itu.
Begitulah yang bisa kutahu tentang dirimu, Su. Hingga di suatu saat, aku mendengar kabar bahwa kau telah kembali ke tempat asalmu di seberang lautan. Kudengar, kau tinggal di rumah orang tuamu. Beberapa saudaraku pun mengabarkan keberadaanmu itu.
Perjumpaan ketiga, aku sempat datang ke daerahmu. Ada seorang kawan yang mengajakku untuk bersama-sama ke daerahmu. Ajakan yang tak kutolak. Maka, aku pun berangkat. Ketika kawanku itu selesai dengan tugasnya, aku ajak dia untuk menengok rumahmu. Aku belum tahu, seperti apakah rumah dan keadaanmu saat itu. Syukur, kita bisa bertemu, Su! Berjumpa dalam keadaan yang sudah berubah. Rasanya begitu kikuk untuk berbincang-bincang. Apa yang hendak kita perbicangkan? Hanya basa-basi saja yang sempat terlontar. Aku sungguh tak memiliki bahan perbincangan yang banyak, kecuali bertanya tentang keluargamu. Aku hanya bisa mengganti perbincangan itu dengan jepretan-jepretan pada dua keponakanmu, Desta dan David.
Itulah perjumpaan terakhir kita, Su. Setelah itu, kita tak pernah berjumpa lagi. Kau telah menempuh perjalanan dalam peziarahan hidupmu yang baru. Entah, kini jalan mana yang kau lalui, aku tak pernah tahu lagi. Aku hanya ingin mendengar kabarmu yang terbaik. Sayangnya, berjuta kabar burung yang nyasar ke telingaku membawa berita yang selalu saja kurang menyenangkan. Jika kau baca tulisan ini, bisakah kau berkirim kabar akan dirimu yang sesungguhnya?
Semarang, 18 Maret 2009
(berjalan di lautan mega)
Senin, 16 Maret 2009
Karena Cinta, Kita Harus Berpisah? (2)
+Krn+Cinta.jpg)
Aku tercenung ingat pengalaman lama itu. Pikirku, mengapa hal ini harus terjadi padaku dan pada dirinya? Apakah kehendak-Nya? Aku ragu. Aku tahu diri. Aku dan dia telah memilih jalan yang berbeda. Tetapi mengapa harus bertemu di tempat ini? Hujan sudah reda. Malam mulai larut. Situasi pun telah kembali di sini. Di ruang tamu kecil ini.
”Aku yakin kamu masih ingat awal jumpa kita. Baiklah kita saling mencintai sebagaimana awal kita kenal. Aku yakin Tuhan tak menginginkan selain kita saling mencinta dalam keadaan kita sebagai orang yang tak mungkin seterusnya bersama. Aku yakin itu. Sungguh, aku mencintaimu. Aku mendukungmu.”
Keheningan dipecahkan dengan suara lirihnya. ”Aku mencintaimu. Aku tahu hidup kita. Aku manusia!”
Dia memberontak pada dirinya. Tangannya tergenggam erat menahan perasaannya. Matanya memandang tajam kepadaku. Bibirnya bergetar. Tangisnya lirih terdengar olehku. Tiba-tiba, dia mendekapku. Aku tak kuasa menolaknya. Tubuhku terasa hangat. Kedua tangannya mendekap pundakku erat sekali. Dadaku dan dadanya bertemu. Jantungku berdegup kencang. Kencang sekali! Aku gemetar. Pipi halusnya menyapa pipi kiriku. Ini kali pertama aku merasakan.
”Kamu tidak sendirian. Cinta itu ada pada manusia. Manusia memilikinya. Karena memilikinya, manusia dapat memberikannya. Karena ada yang memberi dan menerima, itulah saling cinta. Kita juga begitu, kan? Bagaimana kita dapat berkata-kata tetang cinta dan bagaimana kita dapat mencintai orang-orang yang kita layani kalau kita tidak memiliki cinta. Milikilah cinta itu.”
Dia mengusap pipinya dengan sapu tangan. Matanya berkaca-kaca. Wajah cantiknya tidak layu karena tangis itu. Kini malam kian larut.
Aku dan dia bukan satu-satunya orang yang mempertanyakan dan meragukan hidup. Setidak-tidaknya, aku adalah temannya. Memang ada saat-saat tertentu yang sungguh mempertanyakan hidup ini. Saat cinta dua anak manusia yang mendalam dirasakan sebagai saat yang tepat untuk merencanakan hidup berkeluarga. Ini bisa dimengerti.
”Aku ingat ketika sore itu kita menjenguk pamanmu yang sakit. Dalam perjalanan, kita jatuh. Aku tak dapat menguasai motor sehingga oleng di belokan itu. Motorku remuk. Kita selamat. Luka pun tidak. Sungguh kita selamat. Coba kamu ingat! Lalu lintas sangat padat. Tapi kenpa kita tidak tertabrak kendaraan dari belakang kita? Mengapa kita terlempar ke tepi jalan? Mengapa kita selamat? Ini pertanyaan dari diriku yang selalu aku renungkan. Ternyata Tuhan sungguh mencintai dan mengasihi kita. Tuhan memperhatikan kita. Tuhan tidak menginginkan kita celaka. Kita masih harus hidup untuk mewartakan cinta dan kebaikan Tuhan itu. Inilah yang meyakinkan bahwa aku mencintaimu dalam hidup ini. Kamu masih dapat mendengarkan aku, kan?”
Dia membisu. Dia memandangiku dalam-dalam. Aku tak kuasa menolaknya. Kulihat dia menahan perasaan hatinya yang galau dan mungkin ruwet. Duduknya tak tenang.
”Aku tahu itu. Tuhan sungguh mencintai kita. Aku tidak meragukan-Nya. Peristiwa itu sudah kulupakan. Yang penting kita selamat. Bukankah begitu?” Aku tak menjawab. Aku menarik nafas panjang. Dia tak memahami maksudku.
”Aku harus menentukan pilihan. Doakan aku, ya.” Aku menghela nafas panjang dan menganggukkan kepala. Malam telah larut. Aku minta pamit. Dia mengantarku sampai di pintu gerbang.
Ini bulan Januari. Beberapa kali aku meneleponnya. Tetapi tidak ada tanggapan. Jauh hari yang lalu aku sudah merasa: Dia telah pergi dariku. Sementara itu, di sepanjang bulan Desember, doaku tiada hentinya buatnya. Kini sungguh terasa hambar. Dia terasa hambar di hati dan pikiranku. Rasanya sudah tiada lagi rohnya dalam diriku. Kehambaran itu semakin mendalam ketika kabar sampai di telingaku. Dia benar-benar telah pergi. Kini bukan lagi hambar, tetapi shock berat menimpaku. Kini dia telah pergi. Aku sadar walaupun aku dekat dengannya, ada banyak hal yang tidak aku mengerti pada dirinya. Aku yakin saja, dia telah memilih jalan yang tepat bagi hidupnya. Semoga bukan karena cinta itu, dia memilih pilihan hidupnya yang sekarang ini. Doaku untuknya dan keluarganya. (tamat)
”Aku yakin kamu masih ingat awal jumpa kita. Baiklah kita saling mencintai sebagaimana awal kita kenal. Aku yakin Tuhan tak menginginkan selain kita saling mencinta dalam keadaan kita sebagai orang yang tak mungkin seterusnya bersama. Aku yakin itu. Sungguh, aku mencintaimu. Aku mendukungmu.”
Keheningan dipecahkan dengan suara lirihnya. ”Aku mencintaimu. Aku tahu hidup kita. Aku manusia!”
Dia memberontak pada dirinya. Tangannya tergenggam erat menahan perasaannya. Matanya memandang tajam kepadaku. Bibirnya bergetar. Tangisnya lirih terdengar olehku. Tiba-tiba, dia mendekapku. Aku tak kuasa menolaknya. Tubuhku terasa hangat. Kedua tangannya mendekap pundakku erat sekali. Dadaku dan dadanya bertemu. Jantungku berdegup kencang. Kencang sekali! Aku gemetar. Pipi halusnya menyapa pipi kiriku. Ini kali pertama aku merasakan.
”Kamu tidak sendirian. Cinta itu ada pada manusia. Manusia memilikinya. Karena memilikinya, manusia dapat memberikannya. Karena ada yang memberi dan menerima, itulah saling cinta. Kita juga begitu, kan? Bagaimana kita dapat berkata-kata tetang cinta dan bagaimana kita dapat mencintai orang-orang yang kita layani kalau kita tidak memiliki cinta. Milikilah cinta itu.”
Dia mengusap pipinya dengan sapu tangan. Matanya berkaca-kaca. Wajah cantiknya tidak layu karena tangis itu. Kini malam kian larut.
Aku dan dia bukan satu-satunya orang yang mempertanyakan dan meragukan hidup. Setidak-tidaknya, aku adalah temannya. Memang ada saat-saat tertentu yang sungguh mempertanyakan hidup ini. Saat cinta dua anak manusia yang mendalam dirasakan sebagai saat yang tepat untuk merencanakan hidup berkeluarga. Ini bisa dimengerti.
”Aku ingat ketika sore itu kita menjenguk pamanmu yang sakit. Dalam perjalanan, kita jatuh. Aku tak dapat menguasai motor sehingga oleng di belokan itu. Motorku remuk. Kita selamat. Luka pun tidak. Sungguh kita selamat. Coba kamu ingat! Lalu lintas sangat padat. Tapi kenpa kita tidak tertabrak kendaraan dari belakang kita? Mengapa kita terlempar ke tepi jalan? Mengapa kita selamat? Ini pertanyaan dari diriku yang selalu aku renungkan. Ternyata Tuhan sungguh mencintai dan mengasihi kita. Tuhan memperhatikan kita. Tuhan tidak menginginkan kita celaka. Kita masih harus hidup untuk mewartakan cinta dan kebaikan Tuhan itu. Inilah yang meyakinkan bahwa aku mencintaimu dalam hidup ini. Kamu masih dapat mendengarkan aku, kan?”
Dia membisu. Dia memandangiku dalam-dalam. Aku tak kuasa menolaknya. Kulihat dia menahan perasaan hatinya yang galau dan mungkin ruwet. Duduknya tak tenang.
”Aku tahu itu. Tuhan sungguh mencintai kita. Aku tidak meragukan-Nya. Peristiwa itu sudah kulupakan. Yang penting kita selamat. Bukankah begitu?” Aku tak menjawab. Aku menarik nafas panjang. Dia tak memahami maksudku.
”Aku harus menentukan pilihan. Doakan aku, ya.” Aku menghela nafas panjang dan menganggukkan kepala. Malam telah larut. Aku minta pamit. Dia mengantarku sampai di pintu gerbang.
Ini bulan Januari. Beberapa kali aku meneleponnya. Tetapi tidak ada tanggapan. Jauh hari yang lalu aku sudah merasa: Dia telah pergi dariku. Sementara itu, di sepanjang bulan Desember, doaku tiada hentinya buatnya. Kini sungguh terasa hambar. Dia terasa hambar di hati dan pikiranku. Rasanya sudah tiada lagi rohnya dalam diriku. Kehambaran itu semakin mendalam ketika kabar sampai di telingaku. Dia benar-benar telah pergi. Kini bukan lagi hambar, tetapi shock berat menimpaku. Kini dia telah pergi. Aku sadar walaupun aku dekat dengannya, ada banyak hal yang tidak aku mengerti pada dirinya. Aku yakin saja, dia telah memilih jalan yang tepat bagi hidupnya. Semoga bukan karena cinta itu, dia memilih pilihan hidupnya yang sekarang ini. Doaku untuknya dan keluarganya. (tamat)
30 Januari 2002
(disarikan dari file lain, 17 Desember 2002)
Jumat, 13 Maret 2009
Karena Cinta, Kita Harus Berpisah? (1)
+Krn+Cinta.jpg)
Aku ingat ketika kami bertemu. ”Inikah diri kita?” tanyanya kepadaku.
”Ya! Ini diri kita saat ini. Selanjutnya dapat berkembang,” jawabku. Dia berpikir keras dan merenung. Berkerutlah dahinya. Dia masih ragu. Sementara, aku melihatnya tak berkedip. Dan dia merasakan pandanganku. Dia menatapku. Kami saling tersenyum. Jarinya menunjuk ke mataku. Aku pun menunjuk ke wajahnya dengan jariku.
”Kamu nakal!” katanya.
”Kamu juga,” sahutku. Kami tertawa.
”Inikah kita?” tanyanya.
”Mungkin,” jawabku. Kami terdiam. Masing-masing menekuri diri sendiri. Sepi.
Ini sore hari. Tampaknya akan turun hujan. Kami duduk di ruang tamu kecil miliknya. Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Bertelepon pun tidak. Entahlah, pagi ini, aku merasa ada sesuatu dengan dirinya. Aku menelepon dan datang ke rumahnya. Kami terlibat dalam pembicaraan serius.
Dia harus membuat keputusan. Ini menyangkut kehidupan berikutnya. Masa depan harus dipikirkan. Aku merasa ikut bertanggung jawab atas masa depannya. Setidak-tidaknya, aku ikut membantu dalam menemukan jalan pemecahan yang lebih tepat. Aku sadar, keputusan sepenuhnya ada padanya. Bila aku merasa ikut bertanggung jawab dan terlibat, itu sebagai kawan akrab saja. Kami sampai pada pertanyaan, ”Siapakah aku ini?” Dari pertanyaan itu, kami berharap dapat menemukan jawaban yang benar dan baik buat dia.
Kilat sesekali menyambar. Hujan turun. Bau tanah menyebar ke ruang tamu. Petir menggelegar dan mengagetkan kami. Kami terbangun dari keterdiaman.
”Hujan,” kataku.
”Ya,” jawabnya pendek.
”Ini November. Sudah mulai musim penghujan,” sambungku yang seakan lebih berbicara pada diriku sendiri.
Dia membetulkan posisi duduk. Dia tampak cantik sekali. Baju warna putih tampak cocok untuknya. Kulitnya sawo matang. Namun, aku malah menyebut kulitnya berwarna putih. Matanya tampak lembut. Selembut bibir dan wajahnya. Dirinya tampak kalem. Pembawaannya tenang dan halus. Namun, semangatnya tinggi dan berkemauan keras. Orang banyak sering menyebutnya ”gadis ayu”. Aku merasa memiliki dirinya. Perasaan, pemikiran, sikap, dan pembawaannya amat cocok denganku. Dia pun mengatakan begitu tentang aku.
Dulu, kami bertemu di dusunnya. Dia sedang liburan kerja dan aku live in di dusunnya. Suatu pertemuan yang luar biasa dan membawaku jatuh cinta serta membuatnya jatuh hati. Pada suatu malam, aku dan teman-teman yang sama-sama live in sedang bermain gamelan di rumah sebelah rumahnya. Tetangga-tetangga dekat berdatangan ingin melihat kebolehan kami. Di antara mereka itu, ada dirinya. Ini untuk kali ketiga aku melihat dia di antara tetangga-tetangga yang biasanya kutemui di dusun ini.
Waktu istirahat pun tiba. Beberapa gelas teh manis aku sikat. Aku tak mengerti kalau dia memperhatikan tingkahku yang serakah itu.
”Tambah lagi,” sapanya halus. Aku terkejut dan malu. Dadaku deg-degan! Aduh, ketahuan kalau aku serakah. Tapi aku sungguh haus. Kutata nafasku dan berusaha menjawabnya.
”Cukup, Mbak. Terima kasih,” kataku. Aku melihat ke arahnya. Kulihat matanya menatapku dengan tajam. Aku dibuat grogi. Aku berpikir keras, apa yang harus kulakukan? Sialan, umpatku dalam hati. Tatapannya luar biasa. Apalagi senyumnya itu. Sungguh luar biasa! Putri kahyangan turun ke bumi dan anjlok di dusun yang jauh dari keramaian ini.
”Namaku N,” katanya sambil memperkenalkan diri. Aku gelagapan tak karuan. Aku semakin grogi saja. Sungguh tak kusangka ini akan terjadi.
”Namaku...e...e...M,” jawabku. Tanganku gemetar menyambut tangannya. Halus. Sungguh halus.
”Yuk, ke rumahku,” ajaknya.
”Ke rumahmu? Eh, latihan ini belum selesai, Mbak,” jawabku kaget dan sekenanya.
”Kita lewat belakang saja,” lanjutnya. Waduh!
”Sebentar lagi, ya Mbak. Eh, eh...sudah akan selesai kok,” jawabku. Kulihat dia mengangguk. Aku sudah tak dapat berkonsentrasi dalam latihan gamelan. Pikiranku kacau. Kok tiba-tiba ada gadis yang begitu saja mengajakku ke rumahnya? Begitu latihan selesai, aku meninggalkan arena latihan. Aku pun pergi ke rumahnya tanpa harus lewat pintu belakang. Ah, duhhh....!
Aku duduk berhadapan dengan dia! Beberapa saat, kawan-kawanku pun datang ke rumahnya. Mungkin, mereka mencarinya. Tapi nasib baik jatuh padaku. Aku masih tak mengerti, apa maksudnya untuk mengajakku ke rumahnya, padahal ini pukul 21. 45.
”Rasanya kita sudah pernah bertemu,” katanya, ”tapi di mana, ya?” Aku berpikir keras untuk mencari kata yang tepat.
”Mungkin di dalam mimpi, Mbak,” sahutku beberapa saat. Dia hanya tersenyum.
”Kamu mirip teman karibku di kota M sana. Sungguh mirip. Kita bisa berteman, kan?” tanyanya. Aku tak paham dengan apa yang dikatakan olehnya.
”Temanmu? Mirip?” tanyaku menegaskan.
”Ya!” tegasnya. Aku terhenyak. Wajahku terasa panas.
”Kamu kaget, ya?” sahutnya. Mati aku! Dia tahu perubahan wajahku.
”Jadi, bisa kan kita bersahabat?” ulangnya.
”Mbak, aku bukan teman Mbak itu. Aku orang baru bagi Mbak. Jika Mbak menganggapku orang baru, aku tak keberatan,” kataku. Ah, aku telah menemukan diriku. Cerdas! Dia sesekali menatapku tajam. Dia lalu bercerita tentang temannya di kota M itu.
”Namanya Sxxxx. Kami akrab. Tetapi sekarang dia sudah menikah,” katanya. Kulihat dia menarik nafas dalam-dalam. Ada kenangan yang diingatnya.
”Menikah dengan siapa, Mbak?” tanyaku ingin tahu.
”Kekasihnya.”
”Lah....terus...Mbak ini?”
”Aku hanya teman biasa. Ia dinikahkan dengan pilihan orang tuanya.”
Oh, begitu! Aku melihat dalam-dalam ke wajahnya. Dia memang ayu. Aku menikmatinya. Tampaknya, dia berusaha melupakan kenangan dengan teman biasanya itu.
”Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kita bisa bersahabat, kan?”
”Saya kira, kita bisa bersahabat dengan siapa saja, Mbak. Tapi aku takut kalau Mbak menyamakan aku dengan teman Mbak itu. Nanti Mbak bisa kecewa. Aku yakin aku bukan dia. Aku orang baru bagi Mbak. Begitu pun Mbak bagiku.”
”Baiklah. Aku berjanji. Kamu orang baru bagiku. Kita bisa memulainya, kan?”
”Ya! Kita bisa berteman. Atau kita...eh...em...,” kata-kataku tak bisa kulanjutkan. Takut menyinggung perasaannya.
”Kita apa, hayo? Pacaran! Begitu?” sahutnya cepat sambil tertawa kecil
”Begitu juga kan maksudmu?” tanyaku tak ingin kalah.
”Mungkin....”
”Kok mungkin?
”Hei! Serius ya? Kamu kok ngejar?” sahutnya lagi. Aku malah menjadi penasaran. Aku tersipu malu. Tapi aku yakin, ini keinginannya yang sesungguhnya. Aku dibuatnya gelagapan. Penasaran! Ini rencananya! Ini skenarionya! Dia luar biasa cerdasnya!
(bersambung)
”Ya! Ini diri kita saat ini. Selanjutnya dapat berkembang,” jawabku. Dia berpikir keras dan merenung. Berkerutlah dahinya. Dia masih ragu. Sementara, aku melihatnya tak berkedip. Dan dia merasakan pandanganku. Dia menatapku. Kami saling tersenyum. Jarinya menunjuk ke mataku. Aku pun menunjuk ke wajahnya dengan jariku.
”Kamu nakal!” katanya.
”Kamu juga,” sahutku. Kami tertawa.
”Inikah kita?” tanyanya.
”Mungkin,” jawabku. Kami terdiam. Masing-masing menekuri diri sendiri. Sepi.
Ini sore hari. Tampaknya akan turun hujan. Kami duduk di ruang tamu kecil miliknya. Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Bertelepon pun tidak. Entahlah, pagi ini, aku merasa ada sesuatu dengan dirinya. Aku menelepon dan datang ke rumahnya. Kami terlibat dalam pembicaraan serius.
Dia harus membuat keputusan. Ini menyangkut kehidupan berikutnya. Masa depan harus dipikirkan. Aku merasa ikut bertanggung jawab atas masa depannya. Setidak-tidaknya, aku ikut membantu dalam menemukan jalan pemecahan yang lebih tepat. Aku sadar, keputusan sepenuhnya ada padanya. Bila aku merasa ikut bertanggung jawab dan terlibat, itu sebagai kawan akrab saja. Kami sampai pada pertanyaan, ”Siapakah aku ini?” Dari pertanyaan itu, kami berharap dapat menemukan jawaban yang benar dan baik buat dia.
Kilat sesekali menyambar. Hujan turun. Bau tanah menyebar ke ruang tamu. Petir menggelegar dan mengagetkan kami. Kami terbangun dari keterdiaman.
”Hujan,” kataku.
”Ya,” jawabnya pendek.
”Ini November. Sudah mulai musim penghujan,” sambungku yang seakan lebih berbicara pada diriku sendiri.
Dia membetulkan posisi duduk. Dia tampak cantik sekali. Baju warna putih tampak cocok untuknya. Kulitnya sawo matang. Namun, aku malah menyebut kulitnya berwarna putih. Matanya tampak lembut. Selembut bibir dan wajahnya. Dirinya tampak kalem. Pembawaannya tenang dan halus. Namun, semangatnya tinggi dan berkemauan keras. Orang banyak sering menyebutnya ”gadis ayu”. Aku merasa memiliki dirinya. Perasaan, pemikiran, sikap, dan pembawaannya amat cocok denganku. Dia pun mengatakan begitu tentang aku.
Dulu, kami bertemu di dusunnya. Dia sedang liburan kerja dan aku live in di dusunnya. Suatu pertemuan yang luar biasa dan membawaku jatuh cinta serta membuatnya jatuh hati. Pada suatu malam, aku dan teman-teman yang sama-sama live in sedang bermain gamelan di rumah sebelah rumahnya. Tetangga-tetangga dekat berdatangan ingin melihat kebolehan kami. Di antara mereka itu, ada dirinya. Ini untuk kali ketiga aku melihat dia di antara tetangga-tetangga yang biasanya kutemui di dusun ini.
Waktu istirahat pun tiba. Beberapa gelas teh manis aku sikat. Aku tak mengerti kalau dia memperhatikan tingkahku yang serakah itu.
”Tambah lagi,” sapanya halus. Aku terkejut dan malu. Dadaku deg-degan! Aduh, ketahuan kalau aku serakah. Tapi aku sungguh haus. Kutata nafasku dan berusaha menjawabnya.
”Cukup, Mbak. Terima kasih,” kataku. Aku melihat ke arahnya. Kulihat matanya menatapku dengan tajam. Aku dibuat grogi. Aku berpikir keras, apa yang harus kulakukan? Sialan, umpatku dalam hati. Tatapannya luar biasa. Apalagi senyumnya itu. Sungguh luar biasa! Putri kahyangan turun ke bumi dan anjlok di dusun yang jauh dari keramaian ini.
”Namaku N,” katanya sambil memperkenalkan diri. Aku gelagapan tak karuan. Aku semakin grogi saja. Sungguh tak kusangka ini akan terjadi.
”Namaku...e...e...M,” jawabku. Tanganku gemetar menyambut tangannya. Halus. Sungguh halus.
”Yuk, ke rumahku,” ajaknya.
”Ke rumahmu? Eh, latihan ini belum selesai, Mbak,” jawabku kaget dan sekenanya.
”Kita lewat belakang saja,” lanjutnya. Waduh!
”Sebentar lagi, ya Mbak. Eh, eh...sudah akan selesai kok,” jawabku. Kulihat dia mengangguk. Aku sudah tak dapat berkonsentrasi dalam latihan gamelan. Pikiranku kacau. Kok tiba-tiba ada gadis yang begitu saja mengajakku ke rumahnya? Begitu latihan selesai, aku meninggalkan arena latihan. Aku pun pergi ke rumahnya tanpa harus lewat pintu belakang. Ah, duhhh....!
Aku duduk berhadapan dengan dia! Beberapa saat, kawan-kawanku pun datang ke rumahnya. Mungkin, mereka mencarinya. Tapi nasib baik jatuh padaku. Aku masih tak mengerti, apa maksudnya untuk mengajakku ke rumahnya, padahal ini pukul 21. 45.
”Rasanya kita sudah pernah bertemu,” katanya, ”tapi di mana, ya?” Aku berpikir keras untuk mencari kata yang tepat.
”Mungkin di dalam mimpi, Mbak,” sahutku beberapa saat. Dia hanya tersenyum.
”Kamu mirip teman karibku di kota M sana. Sungguh mirip. Kita bisa berteman, kan?” tanyanya. Aku tak paham dengan apa yang dikatakan olehnya.
”Temanmu? Mirip?” tanyaku menegaskan.
”Ya!” tegasnya. Aku terhenyak. Wajahku terasa panas.
”Kamu kaget, ya?” sahutnya. Mati aku! Dia tahu perubahan wajahku.
”Jadi, bisa kan kita bersahabat?” ulangnya.
”Mbak, aku bukan teman Mbak itu. Aku orang baru bagi Mbak. Jika Mbak menganggapku orang baru, aku tak keberatan,” kataku. Ah, aku telah menemukan diriku. Cerdas! Dia sesekali menatapku tajam. Dia lalu bercerita tentang temannya di kota M itu.
”Namanya Sxxxx. Kami akrab. Tetapi sekarang dia sudah menikah,” katanya. Kulihat dia menarik nafas dalam-dalam. Ada kenangan yang diingatnya.
”Menikah dengan siapa, Mbak?” tanyaku ingin tahu.
”Kekasihnya.”
”Lah....terus...Mbak ini?”
”Aku hanya teman biasa. Ia dinikahkan dengan pilihan orang tuanya.”
Oh, begitu! Aku melihat dalam-dalam ke wajahnya. Dia memang ayu. Aku menikmatinya. Tampaknya, dia berusaha melupakan kenangan dengan teman biasanya itu.
”Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kita bisa bersahabat, kan?”
”Saya kira, kita bisa bersahabat dengan siapa saja, Mbak. Tapi aku takut kalau Mbak menyamakan aku dengan teman Mbak itu. Nanti Mbak bisa kecewa. Aku yakin aku bukan dia. Aku orang baru bagi Mbak. Begitu pun Mbak bagiku.”
”Baiklah. Aku berjanji. Kamu orang baru bagiku. Kita bisa memulainya, kan?”
”Ya! Kita bisa berteman. Atau kita...eh...em...,” kata-kataku tak bisa kulanjutkan. Takut menyinggung perasaannya.
”Kita apa, hayo? Pacaran! Begitu?” sahutnya cepat sambil tertawa kecil
”Begitu juga kan maksudmu?” tanyaku tak ingin kalah.
”Mungkin....”
”Kok mungkin?
”Hei! Serius ya? Kamu kok ngejar?” sahutnya lagi. Aku malah menjadi penasaran. Aku tersipu malu. Tapi aku yakin, ini keinginannya yang sesungguhnya. Aku dibuatnya gelagapan. Penasaran! Ini rencananya! Ini skenarionya! Dia luar biasa cerdasnya!
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)