Sabtu, 04 Juni 2011

Air Mata Sahabat Mudaku-1

Apa yang bisa kubanggakan?
Itulah pertanyaan kekecewaan yang mengikutiku di hari Rabu, hari pertama di bulan Juni ini. Sebuah peristiwa yang benar-benar membuatku serasa ingin mengutuki bahwa aku bukanlah orang yang pantas menjadi mengajar, apalagi sebagai mendidik. Jauh sekali dari kesan itu.

Dua jam terakhir, aku memasuki kelas yang saat itu hendak kuajar. Kelas ini, selama aku mengajar, belum pernah "bermasalah" dengan diriku. Ada satu kejadian, namun masih merupakan hal yang wajar dan masih bisa kuatasi. Akan tetapi, entah mengapa, peristiwa yang tak menyenangkan terjadi di kelas ini. Terlebih, ini adalah minggu-minggu terakhir aku mengajar kelas ini karena minggu berikutnya sudah memasuki masa ujian akhir semester.

Sehari sebelumnya, Selasa, murid kelas ini sudah kuminta untuk mengumpulkan tugas dariku. Tugas tersebut telah kuberikan satu minggu yang lalu. Hari itu, aku bermaksud mengumpulkan tugas itu. Begitu masuk kelas, aku menyampaikan kepada mereka untuk menyiapkan tugas yang musti dikumpulkan. Sayangnya, separo lebih murid ternyata salah di dalam mengerjakan tugas. Ketika kertas demi kertas kuperiksa, aku merasa kecewa. Beberapa murid kupanggil ke depan dan kutanya tentang perintah atau instruksi yang kuberikan kepada mereka. Ternyata, tak ada kesamaan jawaban. Tak ada! Maka, aku memutuskan bahwa bagi murid yang salah mengerjakan tugas, mereka wajib mengganti tugas baru yang bahannya hendak kubagikan hari itu. Sedangkan murid yang benar mengerjakan tugas itu, mereka lolos dan kuanggap memenuhi tugas dengan baik.

Inilah titik awal "bencana" pada diriku di hari Rabu itu. Mungkin salah mereka, mungkin bukan salah mereka. Aku yang bersalah. Bisa jadi! Aku yang tidak dapat menjelaskan tugas itu kepada mereka, sehingga mereka tak mampu mengerjakan sesuai permintaanku. Permintaanku! Berarti mereka mengerjakan tugas tersebut sesuai dengan kekuasaanku. Benar kan?

Rabu siang itu, aku masuk ke kelas itu lagi. Sesuai dengan "kuasaku", aku kemudian mengundi tugas untuk murid-murid yang harus mengganti tugas mereka. Setelah masing-masing murid mendapatkan undian tugas, barulah aku menjelaskan tugas tersebut kepada mereka. Sampai di sini, tak ada masalah. Aku memberikan penjelasan kembali agar mereka tidak keliru. Mereka kuberi kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal teknis berkaitan dengan tugas mereka.

Ketika tak ada lagi yang bertanya, barulah aku menjelaskan materi-materi yang nantinya memperkaya mereka di dalam mengerjakan tugas mandiri. Selama proses itulah, menit demi menit aku merasakan suasana yang berbeda. Murid-murid yang biasanya bisa berkonsentrasi (konsentrasi atau terpaksa?) mendengarkan penjelasanku, siang itu tidaklah demikian. Di sudut sana, dua murid berbincang. Di sebelah sini, dua murid berbisik-bisik. Di sana, seorang murid sibuk dengan sesuatu di tangannya. Di situ, sono, sana, sini, hampir semua sudut, tampak murid berbincang. Tak ada yang peduli dengan aku!

Aku diam. Ingatan tentang kejadian sehari bahwa mereka keliru mengerjakan tugas itu terbayang lagi. Rahangku terkatup. Aku menahan diri.

Kemudian aku melangkah ke meja guru dan duduk. Kutunggu beberapa saat, namun suara dengungan bagai lebah itu masih menggema di kelas dan diseling suara "sstttt" dari beberapa murid yang mulai menyadari situasi.

Kuraih buku jurnal kelas dan kutandatangani. Kulirik arlojiku. Waktu mengajar jam terakhir ini masih menyisakan waktu 45 menit. Masih cukup lama, pikirku. Entahlah, perasaan kecewa, jengkel, tak mampu apa-apa, menyusup ke ruang dadaku. Terasa sesak.

Kutata buku catatanku di meja. Dengan pelan, tanpa berkata, aku keluar kelas. Senyap. Aku melangkah di koridor sekolah. Gagal lagi, gagal lagi. Perasaan itulah yang kuat kurasakan.

Aku masuk ke ruanganku dan mulai mengerjakan tugas lain yang masih tersisa juga. Daripada omonganku tak mereka pedulikan, lebih baik aku mengerjakan tugas yang masih menumpuk ini. Harus membereskan administrasi pembelajaran, mengoreksi tugas, dan seabrek tugas lain.

Beberapa saat, kudengar ketukan di pintu. Beberapa murid sudah berdiri di sana dan siap masuk ke ruanganku. Aku sudah menduga, mereka adalah murid-murid yang datang dari kelas yang baru saja kuajar tadi. Pelan-pelan mereka masuk.

"Bro, maafkan kami. Kami tadi ribut. Kami mohon Bro mengajar di kelas lagi," kata salah seorang murid perempuan berambut panjang yang diikat di belakang, Lyanti.

"Iya, kami tahu, kami yang salah," sambung seorang murid perempuan gemuk murah senyum, Inez.

"Kami harap Bro ngajar lagi sekarang," tambah sang ketua kelas, Hansen. Aku masih terdiam. Kubiarkan mereka menyampaikan keinginannya. Ketika tak ada lagi yang berbicara, aku mulai bicara.

"Sudah? Kalian sudah selesai bicara?" tanyaku.

"Bro, jangan gitu. Masuk kelas lagi, ya?" sahut seorang murid berkacamata, Hellen. Kawan-kawannya yang lain pun menimpali. Aku menghela nafas.

"Kalau kalian sudah selesai berbicara, silakan masuk kelas," sahutku. Mereka masih tetap memintaku untuk masuk kelas lagi.

"Tidak," jawabku,"kalian sudah ada bahan yang bisa dipakai untuk belajar."

"Tapi kalau tidak diajari, nanti salah. Sedang kami diajari saja masih salah," sahut Lyanti yang memang paling banyak berbicara.

"Sudahlah. Masuk kelas sekarang," kataku tegas. Mereka berjalan keluar ruangan. Aku pun melanjutkan lagi membuka file pekerjaan di laptopku. Belum sempat aku membuka file yang ingin kukerjakan, pintu ruangan terdengar diketuk kembali. Mereka datang lagi. Lyanti, Hellen, dan sang juara kelas, Riestia.

"Broo....masuk kelas, ya?" suara Riestia mengawali kawan-kawannya. Kulirik wajah dengan pipi bulat itu masih menyisakan senyuman.

"Lho, kan tadi sudah kukatakan, tidak. Silakan kalian belajar lagi," sahutku.

"Yaaah, kami jadi merasa bersalah. Kami tadi memang tidak memperhatikan ketika Bro menjelaskan. Tapi, kami ingin Bro mengajar lagi," tambah Lyanti yang sejak awal paling keras untuk memintaku untuk masuk kelas. Pintar dan keras! Itulah yang kukenal tentang dia. Hellen masih belum berucap. Justru Riestia yang kembali berbicara.

"Jangan gitulah Bro. Masuk kelas, ya," mintanya pelan. Anak ini memang tak pandai berkata-kata banyak, namun otaknya yang encer mampu menutupi kekurangannya ini.

"Sudahlah, hari ini aku tidak masuk kelas. Termasuk nanti hari Jumat," kataku cepat. Mataku yang menatap file pekerjaan di laptop semakin menambah galau perasaan. Pekerjaan yang harus selesai kukerjaan secepatnya dan ditambah lagi dengan keributan di kelas mereka ini.

"Waaah, jangan! Masa Jumat juga tidak masuk," sahut Lyanti. Aku tidak mampu menahan senyum.

"Ihh, Bro bikin kami takut. Jangan marahlah," tambah Hellen.

"Hmm, gini aja. Bahan sudah ada di tangan kalian. Kalian bisa belajar sendiri. Jumat besok aku hanya ingin mengumpulkan tugas. Gitu ya? Jelas?" sahutku. Huh, aku ini memang kepala batu! Tak bergeming meski yang datang adalah murid-murid terbaik di kelas itu.

Lyanti dan Riestia hanya berpandangan saja. Bayangan kelegaan yang tadi sempat menyelinap di wajah mereka, hilang kembali. Senyumku tadi, rupanya bukan akhir dari semuanya.

Senyap. Tak ada lagi suara. Tiba-tiba bel jam terakhir berbunyi.

"Sudahlah, kembali ke kelas. Hari ini 'kan kalian piket kebersihan kelas," kataku. Mereka meninggalkan ruanganku.

Aku menghela nafas. File yang baru saja kubuka kututup lagi. Aku ingin cepat-cepat pulang. Sesak, jenuh, membosankan! Tiba-tiba, pintu ruanganku diketuk kembali. (bersambung)

Selasa, 19 April 2011

Peri Kecil, Izinkan Aku...

Entahlah! Aku begitu menyukai wajahnya. Wajahnya yang bulat seakan memberikan kesan wajah anak-anak yang tanpa salah. Terlebih, aku suka pada kedua pipinya yang meranum, menyerupai buah apel segar kemerahan.

Jika aku menjadi Kevin, akan kugambar wajah bulat kemerahan itu di sampul bukuku atau di buku gambarku. Jika aku menjadi Hilda, akan kutorehkan puisi-puisi kekagumanku di lembaran-lembaran buku harianku. Jika aku menjadi Pania, akan kudendangkan lagu-lagu bernuansa cinta setiap saat. Jika aku menjadi Pak Amir, akan kuciptakan melodi indah yang menyentuh kalbu.

Namun...
Aku bukan mereka yang bisa menggambar, berpuisi, bernyanyi, atau bermelodi.
Aku hanyalah aku yang bisa menyukai wajah bulat dengan kedua pipi kemerahan itu.

Maka, aku menorehkan rasa-rasaku itu di halaman ini dengan segala ungkapan yang terbatas. Kurangkai kata demi kata dengan desakan rasa yang serba terbatas.

Ah, seandainya aku bisa...
Akan kugambar dia layaknya Peri Kecil yang terbang dengan sayap mungilnya
Akan kupuisikan dia layaknya Peri Kecil yang tersenyum ramah pada hewan-hewan di hutan kecil
Akan kunyanyikan dia sebuah lagu di antara rerimbunan pohon bunga melati
Akan kurangkai nada-nada menyentuh hati layaknya Daud merangkai Mazmur

Sayang...
Aku hanyalah aku
Yang hanya bisa memanggil "Peri Kecil" tanpa suara
Yang hanya bisa berbisik tanpa suara

"Peri Kecil, izinkan aku menyentuh kedua pipi ranummu itu sebelum ajal menjemputku..."

Rabu, 30 Maret 2011

Sate


Cak Jo berjalan keliling
Di pundaknya terpikul dua bakul
Satu bakul berisi pemanggang
Satu bakul berisi irisan daging
Cak Jo berjalan keliling
Menjajakan sate dari kampung ke kampung
Memang,
Cak Jo penjual sate madura

"Tee....Satee....!"
Teriaknya setiap lewat di depan rumah, di kerumunan orang, di perempatan, di lapangan, di bawah pohon, di depan toko
Di mana dia ada, Cak Jo berteriak!
"Tee....Satee...!"

Sate Cak Jo
Itu yang tertulis di sisi bakulnya
Sate ayam, ada
Sate kambing, ada
Kalau sate yang lain?
Janganlah ditanya!

Itu dia!
Cak Jo lewat di depan lapangan kampung
Tetapi, kenapa tak membawa pikulan satenya, Cak?
"Sate beserta pikulannya sudah laku dibeli orang, Dik," jawabnya.
"Lho? Terus, Cak Jo gimana?"
"He...he...he...! Aku tak mau jual te-sate lagi, takhiye!"
"Lho? Terus, Cak Jo mau apa?"
"He...he...he...! Aku mau kerja di penambangan! Biar kaya! Biar bisa beli mobil! Biar bisa beli hape! Biar bisa beli rumah gede!"
"Lho? Cak Jo kerja di mana itu?"
"Timah hitam, Dik"

Ooo...Cak, Cak!


22 Desember 2010

Bakmi Goreng


Adem, adem! Hawane adem! Wetenge ngelih! Dingin, dingin! Udara dingin, perut lapar!

Aku selalu berpikir...Jika lapar, lebih baik makan!
Tapi, kalau sedang lapar yang lewat gerobak bakmi goreng Bang Jo?
Ya, terus beli saja!

Ha...ha...ha...!
Bang Jo selalu tertawa sambil mendorong gerobaknya!
"Laku satu piring disyukuri, laku sepuluh piring disyukuri, Dik"
Begitu katanya setiap kutanya, "Laku berapa, Bang?"

Bakmi goreng Bang Jo
Terkenal karena halal!
Bener-bener halal!
Ayamnya, ayam kampung tulen! Asli ayam kampung! Wong aku yang nyediain ayamnya!
Tepung terigunya, terigu asli bikinan mamakku! Terigu tangan wong cilik!
Beli bumbunya, dari Pasar Sentap! Ke tempat Makayu Markonah! Asli Madura yang merantau ke Ketapang!
He...he...he...!
Bang Jo selalu tertawa!

"Hidup itu indah, kok Dik, jika disyukuri."
Maka, meski biaya gas tinggi, Bang Jo tetap tertawa
Meski, biaya sekolah Trindil dan Mindil, kedua anaknya, tinggi, Bang Jo tetap tertawa
Meski, rumah kontrakannya di jalan Matan setiap pasang tergenang air, Bang Jo tetap tertawa
Meski, kampungnya di hulu sana telah berubah jadi kebun sawit, Bang Jo tetap tertawa

"Yang membuat Bang Jo sedih apa e?"
"Tadak mah! Hidup te ndak perlu dibikin sedih akh!"

Justru aku yang sedih
Ketika tak lagi bisa menikmati Bakmi Goreng Bang Jo
Ketika Bang Jo meninggal mendadak
Kena malaria yang terlambat dibawa ke rumah sakit

"Mane kami ada biaya lah, Dik."
Bisik istri Bang Jo di sela tangisnya.

Ohh...


22 Desember 2010

Jumat, 18 Februari 2011

Bro Masih Marah?

"Bro masih marah, ya?" Pertanyaan itu terlontar spontan dari mulut salah satu sahabat mudaku. Terhenyak...
"Marah? Dengan siapa?" tanyaku.
"Iya. Marah dengan kami," jawabnya.
"Oh! Iya! Aku masih marah," sahutku sambil berlalu dari depannya. Kemudian, seperti dengungan lebah karena di situ juga banyak kawan-kawannya, aku seperti mendengar ucapan, "Yaaaahhhhh......." Aku tetap berlalu.

Pertanyaan spontan sahabat mudaku itu masih saja mengikuti. Aku marah? Masih marah? Mengapa masih marah? Benarkah aku masih marah?

Jujur sajalah, bukan perasaan marah yang sebenarnya masih ada. Kecewa! Kecewa dan sedih. Kecewa karena aku tak tahu bagaimana mendampingi mereka itu. Sedih karena maksud baikku itu seperti "tersia-siakan".

Hal ini bukan berarti bahwa aku tidak menyadari siapa mereka dan siapa aku. Aku tahu, mereka adalah sosok-sosok muda yang masih mencari identitas. Sosok-sosok yang perlu didampingi. Masalahnya, mengapa aku tidak tahu cara yang tepat untuk bisa mendampingi mereka?

Sebenarnyalah, aku "muak" dengan berbagai metode pembelajaran yang sudah aku baca dan harus selalu aku kuasai. Metode itu memang memperlancar dalam upaya penyampaian bahan atau materi di kelas. Akan tetapi, aku benar-benar tak bisa menemukan bagaimana kaitan metode itu dengan perasaan mereka?

Kalau mereka sedang mengalami situasi patah semangat, bisakan salah satu cara pembelajaran itu kuterapkan? Mungkin ada yang bisa menjawab: Bisa! Nah, bagaimana caranya?

Barangkali, catatan ini lebih pada cetusan perasaan ketika aku kembali dihadapkan pada realitas. Hal yang aku pelajari, aku baca, ternyata tak sepenuhnya bisa diterapkan dalam hidup senyatanya ketika aku sudah benar-benar berdiri di hadapan sosok-sosok muda itu.

Hatiku sedih! Benar-benar sedih! Tak tahu dengan cara bagaimana aku bisa "melayani" sosok-sosok muda itu untuk belajar. Kalau aku berdiri di pihak mereka, rasanya tak mampu aku menjadi orang yang harus menguasai sekian banyak materi dengan tuntutan yang bermacam-macam yang berbeda-beda pula. Namun demikian, aku pun pernah seperti mereka. Aku pernah menjadi sosok-sosok goblok di masa sekolah yang bisanya hanya membuat ribut di kelas.

Barangkali, langkah awal yang tidak terlalu bijak untuk diriku adalah mengikuti ke mana arah mata angin sosok-sosok muda itu berhembus. Kemudian berusaha mengenali kapan desaunya sejuk dan kapan desaunya bagai topan. Barangkali, aku hanya mampu meraba dengan tongkat pengetahuanku yang pendek ini agar bisa merasakan kapan mereka mengatakan siap dan kapan mereka bilang tak mau. Barangkali, hanya bisa membuka telinga pada saat mereka mengadu tentang sulitnya pelajaran-pejaran lain yang mereka hadapi.

Atau....lebih baik aku mengandalkan mukjizat yang datang daripada-Nya?

Selasa, 18 Januari 2011

Mengelupas Kenangan

Tahu mengelupas 'kan? Kalau ada tambalan di pipi karena kena jerawat, trus kita ambil. Naa, itu mengelupas. Tapi, kalau mengelupas kenangan, gimana caranya?

Itulah yang sedang saya coba lakukan dengan kawan-kawan muda saya di kelas. Saya meminta mereka untuk menceritakan kembali pengalaman selama ini. Pengalaman liburan, boleh. Pengalaman masa sekolah, boleh. Pengalaman masuk sekolah, boleh. Pengalaman masa kecil, boleh!

Bercerita itu harus bagus. Kalau tidak bagus, orang lain tentu tak akan dapat menangkap isi cerita. Jelas itu! Oleh karena itu, saya selalu menyampaikan kepada mereka, ceritakanlah dengan baik. Kriteria cerita baik? Ya, alurnya runtut, jelas, kronologis. Terus, kalau disampaikan lisan, suaranya musti yang keras. Ekspresinya pun tampak. Kalau hendak menekankan sesuatu, tampakkan dengan gerakan anggota badan dan mimik wajah yang tepat. Itu baru bercerita. Kalau hendak disampaikan secara tertulis, tulisan musti yang siip! Sip itu bisa tulisannya tidak seperti cakar ayam. Susunan kalimatnya pun yang tepat. Gimana, ya? Yaaa, gitu deh! Pokoknya, gitu!

Kalau semua syarat terpenuhi, dijamin ceritanya bakal menarik. Bener lho! Banyak yang isinya menarik. Saya sangat suka. Kadang bikin saya tersenyum. Kadang memunculkan ide tertentu.

Misalnya, cerita salah satu kawan tentang kegiatan Pramuka. Runtut ceritanya. Mudah ditangkap. Cerita ini menumbuhkan ide untuk mendokumentasikan rekaman video kegiatan ekstra Pramuka. Sebenarnya, rekaman tahun lalu masih ada. Hanya belum diedit dengan baik. Nah, cerita ini memunculkan ide jalan cerita video yang sempat macet itu. Juga, cerita ini bisa sebagai narasi yang bagus. Tak harus sempurna. Paling tidak, yang diceritakan itu adalah murni buatan kawan muda saya itu.

Cerita lain yang membikin geli adalah pengalaman masa kecil kawan muda saya ini. Pengalaman masa sekolah dasar. Dia bisa bercerita tentang kenakalannya ketika harus mengikuti pelajaran di tempat salah seorang guru. Ih, degil! Itu kesan saya! Saya dapat membayangkan dia ini ketika masih kecil bersama kawan-kawannya, ribut di rumah guru itu. Lalu, guru itu marah. Yang menggelikan, dia mengatakan kalau kegiatan selama pelajaran tambahan itu simpel. Guru membuat soal, anak-anak mengerjakan, terus ditinggal tidur. Ha...ha...ha...! Nanti, bangun lagi kalau suara anak-anak itu ribut.

Ada juga cerita tentang kehidupan di kampungnya. Sebagai anak petani, dia harus turut membantu orang tuanya bekerja di sawah. Dia menjaga sawah di pinggir kampungnya dari serbuan burung pemakan padi. Susana kampung yang aman, tenteram, jauh dari kebisingan sangat mudah tertangkap oleh saya. Juga ketika kawan muda ini menceritakan kegemarannya pergi ke hutan untuk mencari berbagai buah hutan. Terasa sekali nuansa alamiahnya. Hutan yang bersahabat. Hutan yang memberikan rasa bahagia bagi manusia yang tinggal bersamanya.

Cerita relasi dengan orang tua pun banyak. Mereka menceritakan pengalaman bekerja dengan orang tuanya dan berlibur dengan orang tuanya. Segalanya bisa tertuang jelas dalam tulisan-tulisan tangan mereka. Ha...ha...! Mengasyikkan sebenarnya. Mau rasanya saya memindahkan beberapa tulisan mereka di blog saya ini. Akan tetapi, apakah mereka memperbolehkan?

Banyak cerita yang menarik. Cerita-cerita di atas itu sekedar contoh saja. Sebenarnya, kalau kita ini mau dan mampu bercerita tentang pengalaman masa lalu kita, semuanya akan bermakna bagi yang mendengar atau membacanya. Sama seperti ketika saya bisa membaca cerita dari kawan-kawan muda saya itu. Banyak hal bisa saya kagumi pada mereka. Saya masih menunggu cerita-cerita lain yang tentu tidak kalah menariknya dengan yang sudah saya baca.

Inilah yang saya sebut mengelupas kenangan. Tepat atau tidak ungkapan ini, saya kurang tahu. Pada dasarnya, kenangan itu bisa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Semuanya bisa saja kita tambal. Jika suatu saat, kita ingin membuka kenangan itu, tambalan itu tinggal kita kelupas. Apakah tidak akan hilang? Tidak! Kecuali memang yang sudah hilang. Ha...ha...ha...! Mengelupas dengan tuntas, tas, taaaasss! Wah, ini tak ada hubungannya dengan kenangan.***

Minggu, 02 Januari 2011

Salam di Tahun 2011

Di awal tahun ini, saya hanya ingin menyapa Anda. Barangkali, tak semua dari Anda membaca tulisan saya. Akan tetapi, baik Anda yang sempat tulisan saya atau pun tidak sempat membaca tulisan saya, sekali lag, saya ingin menyapa Anda.

Apa rencana Anda di tahun 2011? Ada? Tidak ada? Ah, saya tak ingin menggurui Anda (meskipun saya ini menyandang status guru-beneran) untuk memiliki rencana. Apa pun pilihan Anda. Apa pun keputusan Anda, tahun 2011 sudah berjalan. Siap atau tidak siap, Anda harus menjalani hidup Anda di tahun 2011.

(Lho, kok bahasa saya jadi ketularan Mamang yang ngisi acara "The Golden Ways" itu ya? Sebaiknya saya kembali ke diri saya saja).

Apa yang bisa aku kepadamu sebagai sapaan di awal tahun ini? Apa saja pun tak masalah kan? Kamu bisa saja menerima tulisan-tulisanku. Kamu bisa saja tak menerima tulisan-tulisanku.

Tahun itu akan selalu berjalan. Sama seperti aku yang masih bisa berjalan. Tak akan berhenti. Selama kaki masih bisa digunakan untuk berjalan, yaa...berjalan. Bahkan ketika kakiku (dan juga kakimu) tak bisa bergerak, tahun itu masih bisa berjalan. (Eh, jangan kaitkan dengan kiamat di tahun 2012).

Kini dan di sini. Aku selalu ingat kata-kata yang pernah aku dengar beberapa tahun lalu. Kini dan di sini. Ungkapan yang menunjukkan bahwa seseorang itu memang harus bisa menyadari adanya kekinian sebagai pribadi. Pribadi yang tak perlu berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Katanya, masa lalu dan masa depan itu juga berasal dari kini dan di sini. Jadi, jadilah manusia yang selalu bersikap riil tentang kini dan di sini.

(Waduuuhh...saya ini nulis apa? Pasti, kawan-kawan muda saya yang usianya masih 14, 15, 16, 17 tahun kurang begitu suka. Waduuuuhhh.... Ya, maaflah! Namanya juga sekedar sapaan. Jadi, apa saja bisa saya sampaikan sebagai sapaan, asal tidak jorok, tabu, fulgar!)

Hidupku telah sampai di awal 2011. Sangat mensyukuri bahwa masih bisa menghirup udara tahun 2011. Masih sama sih. Gak beda! Tapi tak usahlah dicari-cari perbedaan itu. Yang penting, sama! Lho, kalau sama, mengapa harus kutulis di sini? Ya, suka-suka aku lah yaaa! Apa saja kan bisa kutulis asal tidak menyinggung perasaan orang lain (yang membaca tulisanku ini).

Apalagi yang musti aku sampaikan kepadamu? Tentang rencana? Aku malu sebenarnya kalau membeberkan rencana. Karena itu sama saja dengan mengkhianati kata-kata "kini dan di sini" itu. Lho? Tapi aku toh memang belum mampu memegang kata-kata itu. Lagian, kan sedang berusaha.

Rencana. Memiliki rencana itu sebenarnya menggairahkan hidup. Terlebih rencana itu terasa matang. Manis. Indah. Siap. Pantas. Tentu saja, juga...hidup! Menjadikan hidup lebih hidup!

Ah, sudahlah.... Yang penting aku sudah menyapamu. Lain waktu, aku coba sapa kamu lagi dengan sapaan yang lain lagi.