Selasa, 19 April 2011

Peri Kecil, Izinkan Aku...

Entahlah! Aku begitu menyukai wajahnya. Wajahnya yang bulat seakan memberikan kesan wajah anak-anak yang tanpa salah. Terlebih, aku suka pada kedua pipinya yang meranum, menyerupai buah apel segar kemerahan.

Jika aku menjadi Kevin, akan kugambar wajah bulat kemerahan itu di sampul bukuku atau di buku gambarku. Jika aku menjadi Hilda, akan kutorehkan puisi-puisi kekagumanku di lembaran-lembaran buku harianku. Jika aku menjadi Pania, akan kudendangkan lagu-lagu bernuansa cinta setiap saat. Jika aku menjadi Pak Amir, akan kuciptakan melodi indah yang menyentuh kalbu.

Namun...
Aku bukan mereka yang bisa menggambar, berpuisi, bernyanyi, atau bermelodi.
Aku hanyalah aku yang bisa menyukai wajah bulat dengan kedua pipi kemerahan itu.

Maka, aku menorehkan rasa-rasaku itu di halaman ini dengan segala ungkapan yang terbatas. Kurangkai kata demi kata dengan desakan rasa yang serba terbatas.

Ah, seandainya aku bisa...
Akan kugambar dia layaknya Peri Kecil yang terbang dengan sayap mungilnya
Akan kupuisikan dia layaknya Peri Kecil yang tersenyum ramah pada hewan-hewan di hutan kecil
Akan kunyanyikan dia sebuah lagu di antara rerimbunan pohon bunga melati
Akan kurangkai nada-nada menyentuh hati layaknya Daud merangkai Mazmur

Sayang...
Aku hanyalah aku
Yang hanya bisa memanggil "Peri Kecil" tanpa suara
Yang hanya bisa berbisik tanpa suara

"Peri Kecil, izinkan aku menyentuh kedua pipi ranummu itu sebelum ajal menjemputku..."

Rabu, 30 Maret 2011

Sate


Cak Jo berjalan keliling
Di pundaknya terpikul dua bakul
Satu bakul berisi pemanggang
Satu bakul berisi irisan daging
Cak Jo berjalan keliling
Menjajakan sate dari kampung ke kampung
Memang,
Cak Jo penjual sate madura

"Tee....Satee....!"
Teriaknya setiap lewat di depan rumah, di kerumunan orang, di perempatan, di lapangan, di bawah pohon, di depan toko
Di mana dia ada, Cak Jo berteriak!
"Tee....Satee...!"

Sate Cak Jo
Itu yang tertulis di sisi bakulnya
Sate ayam, ada
Sate kambing, ada
Kalau sate yang lain?
Janganlah ditanya!

Itu dia!
Cak Jo lewat di depan lapangan kampung
Tetapi, kenapa tak membawa pikulan satenya, Cak?
"Sate beserta pikulannya sudah laku dibeli orang, Dik," jawabnya.
"Lho? Terus, Cak Jo gimana?"
"He...he...he...! Aku tak mau jual te-sate lagi, takhiye!"
"Lho? Terus, Cak Jo mau apa?"
"He...he...he...! Aku mau kerja di penambangan! Biar kaya! Biar bisa beli mobil! Biar bisa beli hape! Biar bisa beli rumah gede!"
"Lho? Cak Jo kerja di mana itu?"
"Timah hitam, Dik"

Ooo...Cak, Cak!


22 Desember 2010

Bakmi Goreng


Adem, adem! Hawane adem! Wetenge ngelih! Dingin, dingin! Udara dingin, perut lapar!

Aku selalu berpikir...Jika lapar, lebih baik makan!
Tapi, kalau sedang lapar yang lewat gerobak bakmi goreng Bang Jo?
Ya, terus beli saja!

Ha...ha...ha...!
Bang Jo selalu tertawa sambil mendorong gerobaknya!
"Laku satu piring disyukuri, laku sepuluh piring disyukuri, Dik"
Begitu katanya setiap kutanya, "Laku berapa, Bang?"

Bakmi goreng Bang Jo
Terkenal karena halal!
Bener-bener halal!
Ayamnya, ayam kampung tulen! Asli ayam kampung! Wong aku yang nyediain ayamnya!
Tepung terigunya, terigu asli bikinan mamakku! Terigu tangan wong cilik!
Beli bumbunya, dari Pasar Sentap! Ke tempat Makayu Markonah! Asli Madura yang merantau ke Ketapang!
He...he...he...!
Bang Jo selalu tertawa!

"Hidup itu indah, kok Dik, jika disyukuri."
Maka, meski biaya gas tinggi, Bang Jo tetap tertawa
Meski, biaya sekolah Trindil dan Mindil, kedua anaknya, tinggi, Bang Jo tetap tertawa
Meski, rumah kontrakannya di jalan Matan setiap pasang tergenang air, Bang Jo tetap tertawa
Meski, kampungnya di hulu sana telah berubah jadi kebun sawit, Bang Jo tetap tertawa

"Yang membuat Bang Jo sedih apa e?"
"Tadak mah! Hidup te ndak perlu dibikin sedih akh!"

Justru aku yang sedih
Ketika tak lagi bisa menikmati Bakmi Goreng Bang Jo
Ketika Bang Jo meninggal mendadak
Kena malaria yang terlambat dibawa ke rumah sakit

"Mane kami ada biaya lah, Dik."
Bisik istri Bang Jo di sela tangisnya.

Ohh...


22 Desember 2010

Jumat, 18 Februari 2011

Bro Masih Marah?

"Bro masih marah, ya?" Pertanyaan itu terlontar spontan dari mulut salah satu sahabat mudaku. Terhenyak...
"Marah? Dengan siapa?" tanyaku.
"Iya. Marah dengan kami," jawabnya.
"Oh! Iya! Aku masih marah," sahutku sambil berlalu dari depannya. Kemudian, seperti dengungan lebah karena di situ juga banyak kawan-kawannya, aku seperti mendengar ucapan, "Yaaaahhhhh......." Aku tetap berlalu.

Pertanyaan spontan sahabat mudaku itu masih saja mengikuti. Aku marah? Masih marah? Mengapa masih marah? Benarkah aku masih marah?

Jujur sajalah, bukan perasaan marah yang sebenarnya masih ada. Kecewa! Kecewa dan sedih. Kecewa karena aku tak tahu bagaimana mendampingi mereka itu. Sedih karena maksud baikku itu seperti "tersia-siakan".

Hal ini bukan berarti bahwa aku tidak menyadari siapa mereka dan siapa aku. Aku tahu, mereka adalah sosok-sosok muda yang masih mencari identitas. Sosok-sosok yang perlu didampingi. Masalahnya, mengapa aku tidak tahu cara yang tepat untuk bisa mendampingi mereka?

Sebenarnyalah, aku "muak" dengan berbagai metode pembelajaran yang sudah aku baca dan harus selalu aku kuasai. Metode itu memang memperlancar dalam upaya penyampaian bahan atau materi di kelas. Akan tetapi, aku benar-benar tak bisa menemukan bagaimana kaitan metode itu dengan perasaan mereka?

Kalau mereka sedang mengalami situasi patah semangat, bisakan salah satu cara pembelajaran itu kuterapkan? Mungkin ada yang bisa menjawab: Bisa! Nah, bagaimana caranya?

Barangkali, catatan ini lebih pada cetusan perasaan ketika aku kembali dihadapkan pada realitas. Hal yang aku pelajari, aku baca, ternyata tak sepenuhnya bisa diterapkan dalam hidup senyatanya ketika aku sudah benar-benar berdiri di hadapan sosok-sosok muda itu.

Hatiku sedih! Benar-benar sedih! Tak tahu dengan cara bagaimana aku bisa "melayani" sosok-sosok muda itu untuk belajar. Kalau aku berdiri di pihak mereka, rasanya tak mampu aku menjadi orang yang harus menguasai sekian banyak materi dengan tuntutan yang bermacam-macam yang berbeda-beda pula. Namun demikian, aku pun pernah seperti mereka. Aku pernah menjadi sosok-sosok goblok di masa sekolah yang bisanya hanya membuat ribut di kelas.

Barangkali, langkah awal yang tidak terlalu bijak untuk diriku adalah mengikuti ke mana arah mata angin sosok-sosok muda itu berhembus. Kemudian berusaha mengenali kapan desaunya sejuk dan kapan desaunya bagai topan. Barangkali, aku hanya mampu meraba dengan tongkat pengetahuanku yang pendek ini agar bisa merasakan kapan mereka mengatakan siap dan kapan mereka bilang tak mau. Barangkali, hanya bisa membuka telinga pada saat mereka mengadu tentang sulitnya pelajaran-pejaran lain yang mereka hadapi.

Atau....lebih baik aku mengandalkan mukjizat yang datang daripada-Nya?

Selasa, 18 Januari 2011

Mengelupas Kenangan

Tahu mengelupas 'kan? Kalau ada tambalan di pipi karena kena jerawat, trus kita ambil. Naa, itu mengelupas. Tapi, kalau mengelupas kenangan, gimana caranya?

Itulah yang sedang saya coba lakukan dengan kawan-kawan muda saya di kelas. Saya meminta mereka untuk menceritakan kembali pengalaman selama ini. Pengalaman liburan, boleh. Pengalaman masa sekolah, boleh. Pengalaman masuk sekolah, boleh. Pengalaman masa kecil, boleh!

Bercerita itu harus bagus. Kalau tidak bagus, orang lain tentu tak akan dapat menangkap isi cerita. Jelas itu! Oleh karena itu, saya selalu menyampaikan kepada mereka, ceritakanlah dengan baik. Kriteria cerita baik? Ya, alurnya runtut, jelas, kronologis. Terus, kalau disampaikan lisan, suaranya musti yang keras. Ekspresinya pun tampak. Kalau hendak menekankan sesuatu, tampakkan dengan gerakan anggota badan dan mimik wajah yang tepat. Itu baru bercerita. Kalau hendak disampaikan secara tertulis, tulisan musti yang siip! Sip itu bisa tulisannya tidak seperti cakar ayam. Susunan kalimatnya pun yang tepat. Gimana, ya? Yaaa, gitu deh! Pokoknya, gitu!

Kalau semua syarat terpenuhi, dijamin ceritanya bakal menarik. Bener lho! Banyak yang isinya menarik. Saya sangat suka. Kadang bikin saya tersenyum. Kadang memunculkan ide tertentu.

Misalnya, cerita salah satu kawan tentang kegiatan Pramuka. Runtut ceritanya. Mudah ditangkap. Cerita ini menumbuhkan ide untuk mendokumentasikan rekaman video kegiatan ekstra Pramuka. Sebenarnya, rekaman tahun lalu masih ada. Hanya belum diedit dengan baik. Nah, cerita ini memunculkan ide jalan cerita video yang sempat macet itu. Juga, cerita ini bisa sebagai narasi yang bagus. Tak harus sempurna. Paling tidak, yang diceritakan itu adalah murni buatan kawan muda saya itu.

Cerita lain yang membikin geli adalah pengalaman masa kecil kawan muda saya ini. Pengalaman masa sekolah dasar. Dia bisa bercerita tentang kenakalannya ketika harus mengikuti pelajaran di tempat salah seorang guru. Ih, degil! Itu kesan saya! Saya dapat membayangkan dia ini ketika masih kecil bersama kawan-kawannya, ribut di rumah guru itu. Lalu, guru itu marah. Yang menggelikan, dia mengatakan kalau kegiatan selama pelajaran tambahan itu simpel. Guru membuat soal, anak-anak mengerjakan, terus ditinggal tidur. Ha...ha...ha...! Nanti, bangun lagi kalau suara anak-anak itu ribut.

Ada juga cerita tentang kehidupan di kampungnya. Sebagai anak petani, dia harus turut membantu orang tuanya bekerja di sawah. Dia menjaga sawah di pinggir kampungnya dari serbuan burung pemakan padi. Susana kampung yang aman, tenteram, jauh dari kebisingan sangat mudah tertangkap oleh saya. Juga ketika kawan muda ini menceritakan kegemarannya pergi ke hutan untuk mencari berbagai buah hutan. Terasa sekali nuansa alamiahnya. Hutan yang bersahabat. Hutan yang memberikan rasa bahagia bagi manusia yang tinggal bersamanya.

Cerita relasi dengan orang tua pun banyak. Mereka menceritakan pengalaman bekerja dengan orang tuanya dan berlibur dengan orang tuanya. Segalanya bisa tertuang jelas dalam tulisan-tulisan tangan mereka. Ha...ha...! Mengasyikkan sebenarnya. Mau rasanya saya memindahkan beberapa tulisan mereka di blog saya ini. Akan tetapi, apakah mereka memperbolehkan?

Banyak cerita yang menarik. Cerita-cerita di atas itu sekedar contoh saja. Sebenarnya, kalau kita ini mau dan mampu bercerita tentang pengalaman masa lalu kita, semuanya akan bermakna bagi yang mendengar atau membacanya. Sama seperti ketika saya bisa membaca cerita dari kawan-kawan muda saya itu. Banyak hal bisa saya kagumi pada mereka. Saya masih menunggu cerita-cerita lain yang tentu tidak kalah menariknya dengan yang sudah saya baca.

Inilah yang saya sebut mengelupas kenangan. Tepat atau tidak ungkapan ini, saya kurang tahu. Pada dasarnya, kenangan itu bisa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Semuanya bisa saja kita tambal. Jika suatu saat, kita ingin membuka kenangan itu, tambalan itu tinggal kita kelupas. Apakah tidak akan hilang? Tidak! Kecuali memang yang sudah hilang. Ha...ha...ha...! Mengelupas dengan tuntas, tas, taaaasss! Wah, ini tak ada hubungannya dengan kenangan.***

Minggu, 02 Januari 2011

Salam di Tahun 2011

Di awal tahun ini, saya hanya ingin menyapa Anda. Barangkali, tak semua dari Anda membaca tulisan saya. Akan tetapi, baik Anda yang sempat tulisan saya atau pun tidak sempat membaca tulisan saya, sekali lag, saya ingin menyapa Anda.

Apa rencana Anda di tahun 2011? Ada? Tidak ada? Ah, saya tak ingin menggurui Anda (meskipun saya ini menyandang status guru-beneran) untuk memiliki rencana. Apa pun pilihan Anda. Apa pun keputusan Anda, tahun 2011 sudah berjalan. Siap atau tidak siap, Anda harus menjalani hidup Anda di tahun 2011.

(Lho, kok bahasa saya jadi ketularan Mamang yang ngisi acara "The Golden Ways" itu ya? Sebaiknya saya kembali ke diri saya saja).

Apa yang bisa aku kepadamu sebagai sapaan di awal tahun ini? Apa saja pun tak masalah kan? Kamu bisa saja menerima tulisan-tulisanku. Kamu bisa saja tak menerima tulisan-tulisanku.

Tahun itu akan selalu berjalan. Sama seperti aku yang masih bisa berjalan. Tak akan berhenti. Selama kaki masih bisa digunakan untuk berjalan, yaa...berjalan. Bahkan ketika kakiku (dan juga kakimu) tak bisa bergerak, tahun itu masih bisa berjalan. (Eh, jangan kaitkan dengan kiamat di tahun 2012).

Kini dan di sini. Aku selalu ingat kata-kata yang pernah aku dengar beberapa tahun lalu. Kini dan di sini. Ungkapan yang menunjukkan bahwa seseorang itu memang harus bisa menyadari adanya kekinian sebagai pribadi. Pribadi yang tak perlu berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Katanya, masa lalu dan masa depan itu juga berasal dari kini dan di sini. Jadi, jadilah manusia yang selalu bersikap riil tentang kini dan di sini.

(Waduuuhh...saya ini nulis apa? Pasti, kawan-kawan muda saya yang usianya masih 14, 15, 16, 17 tahun kurang begitu suka. Waduuuuhhh.... Ya, maaflah! Namanya juga sekedar sapaan. Jadi, apa saja bisa saya sampaikan sebagai sapaan, asal tidak jorok, tabu, fulgar!)

Hidupku telah sampai di awal 2011. Sangat mensyukuri bahwa masih bisa menghirup udara tahun 2011. Masih sama sih. Gak beda! Tapi tak usahlah dicari-cari perbedaan itu. Yang penting, sama! Lho, kalau sama, mengapa harus kutulis di sini? Ya, suka-suka aku lah yaaa! Apa saja kan bisa kutulis asal tidak menyinggung perasaan orang lain (yang membaca tulisanku ini).

Apalagi yang musti aku sampaikan kepadamu? Tentang rencana? Aku malu sebenarnya kalau membeberkan rencana. Karena itu sama saja dengan mengkhianati kata-kata "kini dan di sini" itu. Lho? Tapi aku toh memang belum mampu memegang kata-kata itu. Lagian, kan sedang berusaha.

Rencana. Memiliki rencana itu sebenarnya menggairahkan hidup. Terlebih rencana itu terasa matang. Manis. Indah. Siap. Pantas. Tentu saja, juga...hidup! Menjadikan hidup lebih hidup!

Ah, sudahlah.... Yang penting aku sudah menyapamu. Lain waktu, aku coba sapa kamu lagi dengan sapaan yang lain lagi.

Rabu, 15 September 2010

Kev

Aku mengenalnya satu tahun yang lalu karena dia termasuk salah satu anak didikku. Waktu belum mengenal, kurasa tidak ada yang istimewa dari dirinya. Satu yang masih kuingat, dia sempat kuberi sanksi karena tidak membawa buku pelajaran. Itu awalnya.

Lama kelamaan, ada sesuatu yang menarik perhatianku dari dirinya. Tanpa kusengaja, aku membaca sebuah buku milik salah satu kawannya. Di salah satu buku itu, terselip sebuah gambar tangan yang sangat bagus. Gambar Legolas, tokoh peri dalam serial buku "The Lord of The Ring". Benar-benar indah! Ketika kutanya pada kawannya itu, dia memberi tahu kalau gambar itu hasil buah tangan si Kev! Aha, spontan ada ide yang memantik keluar.

Di waktu yang lain, aku berbincang-bincang dengan salah guru. Guru itu adalah mantan guru si Kev di SMP. Saat berbincang di kantornya, tanpa kusengaja aku melihat gambar tangan terselip di balik kaca bening di meja kerjanya.

"Wah, gambarnya bagus, Pak. Gambar ini mirip Bapak. Siapa yang menggambar?" tanyaku pada rekan guru itu.

"Oh, ini kalau tak salah, yang menggambar Kev," jawabnya.

"Kev yang sekarang murid saya?" tanyaku.

"Iya, benar!" sahutnya.

Aha! Pantikan ide spontan yang dulu sempat muncul di benakku pun akhirnya semakin membesar. Seperti telah menyulut ujung lilin yang segera memancar dan membentuk pendaran cahaya.

Anak itu benar-benar memiliki tangan yang indah. Mampu menggambar indah. Gambarnya benar-benar mengena. Aku menyukai gambarnya. Meski, yang kulihat baru dua contoh gambar. Angan-anganku waktu itu benar-benar terbang.

Di waktu-waktu yang senggang, di luar jam mengajarku, aku sempat ngobrol dengan Kev. Aku bertanya tentang kepandaiannya dalam mengolah jemarinya yang menghasilkan gambar-gambar sketsa orang dengan bagus. Gambar bentuk-bentuk kartun dan karikatur yang tentunya sangat menyenangkan bila bisa dikembangkan. Pada akhirnya, dia sanggup jika aku meminta tolong suatu saat untuk menggambarkan sesuatu yang nantinya bahannya akan kuberikan kepadanya.

Selang beberapa waktu, kesempatan itu pun tiba. Waktu itu, aku memberi tugas pada anak didikku untuk membuat laporan observasi. Waktu itu sudah memasuki tahun baru. Hal yang paling dekat pada bulan awal di tahun baru adalah hari raya Imlek. Beberapa kelompok siswaku mengumpulkan tugas dengan tema hari raya Imlek. Beragam hasil kubaca, hingga aku menemukan satu tulisan laporan yang sangat menarik. Isinya berupa cerita singkat asal mula hari raya Imlek. Sangat menarik. Tulisan itu kemudian aku ketik ulang dengan kuperbaiki sehingga membentuk sinopsis. Sangat bagus menurutku. Sinopsis itu telah kubagi menjadi beberapa paragraf. Nantinya, paragraf demi paragraf dapat dibuatkan ilustrasinya. Kev yang kuharapkan!

Setelah selesai, aku menemui Kev untuk membantuku. Aku memberikan sinopsis itu dan memintanya untuk membuatkan gambar ilustrasinya. Aku membayangkan, jika gambar itu selesai, gambar dapat ku-scann. Kemudian dapat kubuat menjadi urutan cerita menarik dengan diolah pada program video amatir seperti Window Movie Maker. Jika gambar itu jadi, kemudian disusun, diberi ilustrasi musik, kemudian ada rekaman narasinya, aduhaaiii.....! Aku membayangkan sebuah kolaborasi hasil karya anak didikku sendiri. Terus terang, bukan diriku. Aku sekedar memberi jalan saja. Dalam bayanganku, jika Kev ini berhasil, akan 'kupamerkan' di hadapan kawan-kawannya atau adik-adik kelasnya nanti. Ini hasil karya yang spektakuler yang telah dibuat oleh kakak kelas. Inilah impianku.

Kutunggu beberapa waktu dari Kev. Saat libur tiba, aku ingatkan agar gambar itu dibuat lebih cepat sehingga tidak mengganggunya. Kev menyanggupi. Aku dengan sabar menunggunya karena aku benar-benar berharap ilustrasi itu menjadi karya perdananya yang spektakuler bagiku.

Satu kesempatan, saat kutanyakan kembali hasil itu, dia tiba-tiba bilang, "Maaf, Bro. Tulisan yang Bro beri dulu ilang. Saya minta lagi, bisa?" Aku menarik nafas, "Bisa. Aku masih membawanya."

Aku berikan copy tulisan itu kepada Kev. Dengan harapan, tulisan baru itu sebagai pengganti dan nanti akan mempermudah pengerjaannya. Yah, bisa kumaklumi, dia anak muda yang memiliki kesibukan bermacam-macam. Siapa tahu, tulisan dariku dulu itu terselip dan dia tidak tahu entah di mana.

Saat ada perjumpaan di kelasnya, dia menemuiku di meja guru. "Bro, ini hasilnya. Tapi belum semua jadi. Gimana?" katanya sambil menyorongkan hasil gambarnya. Mataku mengerjap senang. Aha, akhirnya gambar itu jadi. Akan tetapi, gambar itu baru jadi beberapa lembar. Belum semua.

"Ah, tak harus tergesa-gesa. Kalau begitu, selesaikan saja. Oh, ya. Bisakan beberapa bagian kamu pertebal dengan warna merah?" sahutku.

"Bisa," jawabnya.

"Kalau demikian, selesaikan semuanya hingga nanti semua kelar. Begitu ya?" kataku penuh keyakinan. Dia mengangguk, kemudian mundur ke tempat duduknya sambil membawa hasil yang belum selesai.

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga ujian kenaikan kelas pun tiba. Masa-masa itu, aku tak begitu ingat karena siswa-siswi juga pasti konsentrasi pada ujian. Saat jumpa sebelum libur, setelah penerimaan raport, aku masih bertemu Kev.

"Gimana gambarnya? Tahun depan, aku sudah tidak mengajarmu lagi lho," kataku.

"Ah, tak masalah, Bro! Kan saya masih di sini juga," jawabnya.

Liburan tiba. Kupikir, selama libur gambar itu akan dia selesaikan. Dengan demikian, kalau selesai, gambar itu dapat aku olah di tahun ajaran baru untuk adik-adik kelasnya. Selama libur itu, aku sudah kurang begitu ingat karena ada tugas lain yang menyita perhatian yaitu penerimaan siswa baru.

Saat masuk tahun ajaran baru, aku tak begitu memikirkan pesananku itu pada Kev. Terlebih, ketika hari-hari perjumpaan di sekolah, Kev seolah sudah lupa dengan gambar yang kumintai itu. Pelan-pelan, aku tak lagi berusaha mengingatkan lagi padanya. Kev juga sudah memiliki perhatian lain di kelas yang baru ini. Gambar itu tak selesai!

Aku terlalu berandai-andai. Aku terlalu melambungkan mimpi. Memang, apa salahnya jika aku bermimpi, Kev suatu saat menggunakan keahliannya itu menjadi seorang pembuat "storyboard" film? Atau menjadi seorang kartunis yang hebat? Atau mungkin, dia memang tidak di bidang itu, namun masih menyempatkan waktunya untuk menggoreskan pensil dan pena warnanya di kertas?

Mungkin memang aku terlalu berandai-andai. Sedih sebenarnya. Jujur saja, aku tak bertujuan negatif dengan memanfaatkan Kev bagi diriku sendiri. Tidak! Bukan itu. Aku hanya ingin berusaha mengembangkan dirinya melalui salah satu bakat yang dia punya dan kebetulan aku tertarik pada bakatnya itu. Atau, barangkali enam batang coklat "Silverqueen" yang telah kusediakan baginya, jika gambar itu telah jadi, tak cukup untuk membangkitkan semangatnya.

Aku hanya tercenung membaca tulisannya di dinding "facebook"-ku, "Maaf, ya Bro, udah kukecewain." ***