Tampilkan postingan dengan label Puisi Pratik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Pratik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2008

Menangkap Rasa


Suatu petang datang
menanyakan anak-anak manusia
Lihatlah dirimu!

Terdiam
menekuri jiwa yang hambar, remang dan kosong
Di langit dan di bumi
jauh amat jauh

Suatu petang menyapa suasan
me-Rohi anak-anak manusia
sedih tidak dan gembira pun tidak
ini mesti diselesaikan

Masa prapaska

Malam
teka-teki anak manusia melukis
angin dan menjaring cahaya
ini isyarat

Paska bukan menanti asa
Paska menangkap rasa.

12 Maret 2002 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Rabu, 12 November 2008

Milikilah Dirimu


(untuk sahabatku, Ane yang mencari jati diri)

Senandung kedamaian kulagukan dalam keheningan alam yang menyelimuti kesendiranku.
Aku bersama diriku. Aku memiliki aku.

Dalam angin yang berlalu dariku, kudengar salam perpisahanmu.
Aku harus pergi walau istana itu telah kubangun sejak lalu.
Harapan harus selalu tumbuh dan harapan itu masa depan.
Aku yakin suatu saat nanti kau akan mengerti ini. Asaku, kita mesti bertemu kembali.

Sahabat, keinginanmu bukan milikku.
Keinginanku bukan milikmu.
Sepenuhnya engkau adalah milikmu.
Yang kumengerti dunia ini tempat kita. Ia tak akan pernah lari.
Sahabat, sejak roh-Nya ada padamu engkau telah memulai dan merangkai kasihmu.
Tidakkah engkau mengenal kisahmu ini? Kini harus sadar, kisah itu milik kita.

Setialah, ya setialah. Aku melihat jalanmu berliku. Luruskanlah!
Tidakkah engkau akan membangun istana baru lagi?
Peganglah keyakinanmu dan berjuanglah! Hidupmu harus disusun di atas harapan dan keyakinan. Kencangkanlah perjuangan tanpa kenal lelah dan minumlah selalu air iman yang tiada pernah kering.
Dan, cintailah dirimu dan diri-Nya. Aku melihat, engkau terpuaskan oleh harapanmu dan harapan-Nya. Percayalah dirimu milikmu, bukan karena aku, tetapi karena Dia dan kamu.

Aku melihat nama kejayaan di setiap bidang dan ruang.
Dan, kini semuanya tergantung padamu.


Juli 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Rindu Sunyi (untuk Ella)


Menantang rindu semakin dalam
Di hati gelisah menyayat raga
menanti hari di pucuk senja
tumbuh asa esok pagi

Walau lalu telah mati
bekas masa tak terkubur
tumbuh seribu di hari-hari
masih berkata-kata sampai kini
mestilah jujur saat nanti
jangan pergi sampai mati

Nanti kunanti
dalam remang kuingin pasti
masih memegang kata tak terpegang
hati selalu berkata
kau ku nanti sampai mati

Dalam kesunyian
Aku menggambar engkau dalam bayang-bayang hati yang rindu
semakin menarik untuk dilirik
semakin kentara ketika kugantung di langit-langit
Duniaku dan duniamu di atas keinginan kita
Kita dalang dan wayang.

Maret 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Kutitipkan Pada-Mu (untuk sahabatku yang berkesusahan)


Nyanyian pujian para Santa Monica heningkan hati yang resah.
Berlutut suasana sembah.
Demi kedamaian.
Terbukalah tabir jiwa yang gundah.

Lesung pipi dan mata teduhmu menyirami hati kosongku
Dalam cinta yang terpendam dalam.
Kini redup dan pudar.
Untukmu saja dirimu kurang.

Nyanyian para Santa Monica mendayu merdu di bilik-bilik jantungmu
Mengalir teratur mengantar sujud di altar
Yesus tergantung menghujam diri
mencekik nurani dalam-dalam
dalam telut sujud merunduk tunduk kepedihan tak tersembunyikan.

Bila kupandang langit-langit gereja
kautulisi berlembar-lembar cerita tentang derita yang panjang.
Hati dan rega terlalu berat kubawa
Kutitipkan pada-Mu yang tergantung di salib
Peliharalah dan rawatlah
Suatu saat nanti kembalikan dan aku menjawab

Sejurus senyum adalah hari ini.
Hari esok kutitipkan
Pada-Mu yang tergantung di salib.


Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Kepalsuan Cinta


Wahai rembulanku
tutur sapa dan lembut lenggokmu,
membakar janjtun hatiku yang lama tiada bersua,
yang berharap penuh rindu kembalimu.

Hembus lembut angin malam,
mengipasiku yang lelah bersandar dalam bayang-bayang ilusi.
Bayang kemesraan,
cinta dan harapan musna dala tangan nuranimu.

Tutur sapa, lembuh lenggok, dan senyum renyahmu
hanyalah mimpi-mimpi dalam keremangan tidur malam
yang tak berupa
tersentuh pun tidak.

Rembulanku
janji, harapan, dan cinta,
hanyalah kata yang teruntai dalam jiwa-jiwa yang tanpa telut sujud pada sang Ilahi.
Kosong dan hampa. Telukis pun tidak.

Rembulan pujaanku siang dan malam,
atas nama cinta
dusta, benci, dan dendam
kau katakan ini surga kita.


Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Dengan Cinta


Senyum dan tawa adalah dunia
Lembah dan gurun pasir
menghijau dan bunga-bunga bermekaran
Musik dan lagu mengalun serasi
angin sepoi-sepoi kasih

Tetes-tetes embun mengalir
di musim kering kerontang
Kerinduan yang dalam berhembus di siang dan malam
Humor renyah dalam penderitaan dan kemelaratan
Pesta dalamt ujh hari tujh malam
Obat mujarab dalam segala
rupa kehidupan

Cahaya ilahi tertebar dalam segala penjuru
Yang tak mungkin
menjadi mungkin

Dan...
bangsa rukun dengan bangsa
masyarakt bangsa adalah satu saudara
bahasa kami adalah cinta dan kasih

Bangsa pun tanpa tentara


Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Tanpa Cinta


Benci
Dendam
Permusuhan
Peperangan
Pembunuhan
Kekacauan
Kehancuran
Kemusnahan
Pilu
Suram
Derita

Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Tanda Tangan Cinta


Kedamaian
Ketenteraman
Kesejahteraan
Kebersatuan
Keserasian
Persaudaraan
Kasih
Suka cita
Dan inilah tanda tangan cinta

Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)

Selasa, 11 November 2008

Cinta


Jawablah sapaan keringku
Mengerlinglah mata damaimu
Siramilah hati galauku
Terangilah lorong-lorong suram hidupku
Tuntunlah aku di hari akhirku

Cinta...
Jadilah hidupku

Februari 2001 (Cinta itu ada-Ku; Ia Sang Pengada)